Monday, April 6, 2015

Cara Rasulullah Mendidik Keluarga

Oleh: Ahmad Supardi

Untuk menjelaskan bagaimana contoh ta’lim dan tarbiyat Rasululllah Saw kepada keluarga, saya akan sampaikan kutipan-kutipan Hazrat Mirza Masroor Ahmad yang beliau sampaikan melalui khutbah Jum’at, tanggal 2 Juli 2004 di Kanada, di dalam nya beliau menjelaskan tentang nasihat-nasihat Rasulullah Saw dalam hal memberi ta’lim dan tarbiyat kepada keluarga.

Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kesejukan mata (penyenang hati) dari isteri-isteri kami dan keturunan kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa". (Al-Furqan ayat 75)

akhlak rasulullah

Allah telah menciptakan potensi-potensi pria kuat dari segi fisik karena tanggungjawab-tanggungjawab dan kewajiban-kewajibannya lebih banyak daripada perempuan. Penunaian hak-hak dari pria lebih diharapkan. Di dalam ibadah-ibadah juga, bagi pria tersedia peluang-peluang yang lebih banyak ketimbang perempuan, karena itu dia meraih kedudukan sebagai kepala rumah tangga; sebagai suami juga sejumlah penting tanggungjawab-tanggungjawab diletakkan di atas pundaknya, dan dalam kapasitas sebagai bapak (ayah) juga terletak tanggungjawab-tangungjawab di atas pundaknya.

Tanggungjawab Kepala Keluarga


Banyak tanggung jawab yang ada, beberapa di antaranya akan saya sampaikan disini. Dan untuk memenuhi tanggungjawab-tanggungjawab itu Dia telah memerintahkan "supaya kalian tegak pada kebaikan-kebaikan, tegak pada ketakwaan dan untuk menegakkan keluarga kalian, istri-istri kalian dan anak-anak kalian pada ketakwaan jadilah kalian sendiri langsung yang menjadi contoh. Dan untuk itu mohonlah bantuan dari Tuhan kalian, dan menangislah di hadapan-Nya, merintih dan berdoalah kepada Allah Swt.: "Ya Allah, senantiasa jalankanlah kami pada jalan-jalan yang merupakan jalan-jalan keridhaan-Mu, jangan sampai tiba saat dimana kami sebagai kepala rumah tangga, sebagai seorang suami dan sebagai seoarang bapak, tidak dapat memunaikan hak-hak kewajiban kami sehingga sebagai dampaknya kami menjadi faktor kemarahan-Mu".

Jadi, apabila manusia memanjatkan doa ini dengan hati yang tulus dan dengan amalnya juga dia berupaya meraih standar itu, maka Allah Swt. tidak menghancurkan rumah tangga seperti itu, dan tidak pula istri-istri para suami seperti itu menjadi penyebab kedukaan mereka, dan tidak pula anak-anak mereka menjadi penyebab tercemarnya nama mereka. Dan seperti itu rumah akan menampilkan pemandangan surga.

Untuk meraih standar ini apa contoh yang Nabi Muhammad Mustafa Rasulullah saw. telah berikan kepada kita dan apa nasihat-nasihat yang beliau telah tekankan pada kita.

Abdullah bin Umar r.a meriwayatkan: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Setiap orang di antara kalian adalah pengawas dan setiap orang dari antara kalian akan ditanyakan (diminta pertanggungjawaban) berkait dengan tanggungjawabnya. Imam (pemimpin) adalah pengawas dan akan ditanyakan berkait dengan tanggungjawabnya. Dan pria adalah pengawas bagi keluarganya dan akan ditanya berkait dengan tanggungjawabnya. Dan istri adalah pengawas rumah suaminya dan akan ditanya berkait dengan tanggungjawabnya. Pelayan adalah pengawas harta benda majikannya dan akan ditanya padanya berkait dengan tanggungjawabnya".

Perawi berkata: Menurut saya Rasulullah saw. bersabda, "Pria adalah pengawas harta bapaknya dan kepadanya akan ditanyakan berkait akan tanggungjawabnya". Dan bersabda, "Setiap di antara kalian adalah pengawas dan dia akan ditanya terkait dengan tanggungjawabnya". (Bukhari kitabuljumu’ah fil qura walmudun)

Pemimpin Yang Baik


Jadi, di dalam riwayat ini disebutkan mengenai berbagai lapisan masyarakat bahwa mereka adalah pengawas dalam lingkungannya masing-masing. Tetapi karena pada saat ini saya tengah menyampaikan mengenai kaum pria maka berkenaan dengan itu sedikit saja saya akan terangkan.
Pada umumnya, kini sudah menjadi sebuah tradisi bahwa kaum pria mengatakan: "karena pada kami terdapat tanggung jawab di luar, karena kami sibuk dalam bisnis dan pekerjaan kami maka karena itu kami tidak dapat menaruh perhatian pada urusan rumah tangga, dan semua tanggung jawab pengawasan anak-anak adalah merupakan tugas perempuan (istri)". Maka ingatlah, dalam kapasitas sebagai kepala rumah tangga merupakan tanggung jawab pria (suami) bahwa dia juga harus menaruh perhatian pada lingkungan rumah-tangganya, dia harus menunaikan hak-hak istrinya dan juga hak anak-anaknya, berilah kepada mereka waktu, luangkanlah waktu bersama dengan mereka, kendatipun hanya untuk dua hari dalam seminggu, yang dikenal dengan akhir pekan. Jalinlah mereka dengan mesjid, bawalah mereka pada kegiatan-kegiatan agama, buatlah program hiburan bersama mereka, ikutlah berpartisipasi dalam kegemaran-kegemaran mereka supaya mereka dapat membagi masalah mereka (mengeluarkan isi hatinya) kepada kalian seperti layaknya seorang kawan. Tanyakanlah kepada istri berkenaan dengan masalah anak-anak dan lakukan upaya-upaya agar masalah mereka dapat menemukan solusinya. Kemudian baru Saudara-saudara akan mendapat status sebagai kepala rumah tangga. Sebab, pemimpin di tempat manapun jika tidak mengetahui kondisi lingkungan dan kondisi daerah kerjanya maka dia tidak dapat dikatakan pemimpin yang sukses. Karena itu pengawas/pemimpin terbaik adalah yang mengetahui akan masalah-masalah lingkungannya.

Kini layak dikhawatirkan bahwa lambat laun jumlah orang-orang seperti itu terus bertambah banyak, yakni yang ingin lari dari tanggungjawab dan ingin bebas dari daerah lingkungan pengawasannya atau mereka menutup mata tidak mau tahu. Dan mereka berusaha menjalani kehidupannya dengan hanyut dalam dunianya sendiri. Nah, sebagai seorang mukmin jangankan hubungan dekat, hubungan jauh sekalipun jangan hendaknya ada dengan hal serupa itu.

Untuk seorang mukmin terdapat perintah bahwa jangankan untuk perkara-perkara duniawi, andaikata untuk agama pun apabila kesibukan-kesibukan kalian sedemikian rupa, dalam keadaan beribadah kepada Tuhan kalian telah menjadikannya sebagai sesuatu yang permanent, atau telah menjadikannya sebagai hal rutin, yakni kalian tidak memikirkan sekeliling kalian, tidak menunaikan hak-hak anak istri kalian, tidak menunaikan hak-hak orang-orang yang berjumpa dengan kalian, tidak menunaikan tanggungjawab-tanggung jawab masyarakat, maka inipun juga merupakan hal yang salah. Sehingga standar ketakwaan tinggi tidak akan dapat tegak. Bahkan jika ingin meraih standar ini maka tunaikan juga hak-hak Allah dan juga hak-hak hamba-hamba-Nya.

Sebagai mana tertera dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Abdullah bin Umar bin Al-‘Ash r.a bahwa: Rasulullah saw. sambil melihat saya beliau bersabda, "Hai Abdullah, apakah benar apa yang diberitahukan kepada saya bahwa engkau berpuasa terus sepanjang hari lalu sepanjang malam kamu melakukan shalat?" Maka atas pertanyaan itu saya menjawab: Ya, Rasulullah saw.. Maka kemudian beliau bersabda, "Janganlah melakukan seperti itu, terkadang lakukanlah puasa dan terkadang tinggalkanlah. Pada malam hari lakukanlah shalat (tahajjud) dan terkadang ambillah kesempatan untuk beristirahat atau untuk tidur. Sebab fisikmu juga mempunyai hak padamu dan mata kamu juga mempunyai hak padamu dan istrimu juga mempunyai hak atas mu dan orang yang datang untuk melakukan ziarah padamu-pun mempunyai hak atasmu". (Bukhari kitabush-shaum baab haqquljismi fisshaum).

Suri Teladan Rasulullah saw.


Jadi, Rasulullah dalam kapasitas beliau sebagai pimpinan sebuah rumah tangga bagaimana beliau menunaikan tanggung jawab beliau pada keluarga beliau, Berkenaan dengan itu tertera sebuah riwayat Aswad r.a bahwa: Saya telah bertanya kepada 'Aisyah r.a bahwa apa yang Rasulullah saw. Biasa lakukan di rumah. Beliau berkata, "Beliau senantiasa sibuk dalam pengkhidmatan terhadap keluarga beliau, dan apabila tiba waktu shalat maka beliau pergi untuk melakukan shalat". (Bukhari kitabul-adzan).

Nah, siapa yang lebih sibuk dari beliau dan lebih tekun dari beliau dalam beribadah? Tetapi lihatlah, apa suri tauladan beliau, betapa tertariknya beliau membantu urusan rumahtangga, yakni pekerjaan rumah pun beliau lakukan dan dalam kesibukan-kesibukan yang lain pun beliau ambil bagian. Beliau biasa bersabda,

”Orang yang terbaik di atara kalian adalah orang yang paling baik perlakuannya terhadap keluarga/istrinya” dan beliau bersabda. ”Saya dari antara kalian adalah orang yang memperlakukan paling baik terhadap keluarganya”. (Tirmidzi Kitabulmanaaqib).

Kita harus mengintrospeksi diri kita sendiri bahwa apakah kita mengamalkan contoh yang indah atau suri tauladan baik itu? Terkadang diterima pengaduan bahwa seorang duduk di atas kursi tengah membaca suratkabar, bila kehausan maka lalu memanggil istri, "Ambilkan air atau jus dari kulkas lalu berikan kepada saya untuk diminum", padahal kulkas sendiri berada disampingnya, dia dapat mengeluarkan air sendiri dari itu lalu minum. Dan sang istri - kasihan – apabila akibat suatu pekerjaan atau karena kesibukan-kesibukannya atau karena suatu sebab dia terlambat memberikan maka dia mulai memarahi dan membentak.

Jadi, di satu sisi terdapat pengakuan "kami mencintai Rasulullah saw.", sementara di sisi lain pengamalan nihil. Akhlak serendah apapun tidak ditampilkan. Dan banyak sekali contoh-contoh seperti itu ditemukan, yang apabila ditanya maka akan mendapatkan jawaban bahwa di dalam Al-Quran terdapat izin untuk memarahi perempuan. Jadi jelas di dalam Al-Quran tidak ada izin seperti itu. Karena akhlak buruk kalian, jangan memburuk-burukkan Al-Quran seperti itu.

Berkaitan dengan kehidupan rumah tangga terdapat kesaksian 'Aisyah bahwa Rasulullah saw. adalah orang yang paling berkeperibadian lembut dari antara semua orang dan paling mulia dari semua orang, merupakan sosok yang tinggal di rumah tanpa basa basi, tidak pernah mengerutkan muka dan senantiasa tersenyum. Beliau berkata bahwa dalam sepanjang kehidupan beliau, beliau tidak pernah memukul istri-istri beliau dan tidak pernah pula memukul pelayan beliau. Dan kepada khadim juga beliau tidak pernah mengatakan sesuatu yang menyakitkan hati. (Syamaail Tirmidzi baab maajaa-a fi khuluqi Rasulillah saw.).

Lihatlah, dewasa ini karena hal-hal kecil istri dipukul. Padahal dimana terdapat izin memberikan hukuman disana terdapat beberapa persyaratan, tidak ada izin sekehendak hati. Bahkan izin disini memiliki beberapa persyaratan. Oleh karena itu daripada mencari alasan-alasan hendaknya para suami pahamilah tanggungjawabnya dan tunaikanlah hak-hak istri sebagaimana tertera dalam Al-Quran:

Laki-laki itu pelindung bagi perempuan-perempuan, karena Allah swt. telah melebihkan sebagian mereka di atas sebagian yang lain, dan disebabkan mereka membelanjakan sebagian dari harta mereka, Maka perempuan-perempuan saleh ialah yang taat dan menjaga rahasia- rahasia suami mereka dari apa-apa yang telah dilindungi Allah swt.. Dan, perempuan- perempuan yang kamu khawatirkan kedurhakaan mereka, maka nasihatilah mereka, dan jauhilah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka taat kepadamu, maka janganlah kamu mencari jalan menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah swt. Maha Tinggi, Maha Besar. (An-Nisa’ayat 34).

Jangan Mencari-cari Kelemahan istri


Jadi, Dia berfirman bahwa "Andaikata perempuan memperbaiki dirinya dari sikap pembangkangan itu maka tanpa sebab janganlah mencari alasan untuk menghukumnya. Ingatlah, jika karena kosong dari ketakwaan kalian mengambil tindakan serupa itu dan menyangka diri kalian adalah segala-galanya dan perempuan/isteri pada pandangan kalian sama sekali tidak ada artinya apa-apa, maka ingatlah bahwa Zat Tuhan adalah merupakan Zat yang akibat perilaku kalian itu Dia dapat menghukum kalian".

Oleh karena itu jalankanlah standar hukuman yang ditetapkan sesuai dengan itu; dan andaikata Saudara-saudara tidak melihat adanya perbaikan dan dalam perilaku istri serupa itu tidak terjadi perubahan maka terdapat perintah untuk memberikan hukuman. Bukannya karena hal-hal kecil lalu marah dan kemudian mengambil tindakan pemukulan atau mengangkat tongkat untuk memukul. Dan janganlah pula menjadi zhalim (aniaya) sedemikian rupa sehingga dengan mencari-cari alasan seorang perempuan (istri) yang saleh Saudara-saudara katagorikan dalam kategori orang yang pembangkang dan Saudara-saudara mulai memberikan hukuman.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menulis:

"Orang terbaik diantara kalian adalah orang yang perlakuannya paling baik terhadap keluarga/istrtinya.

Orang yang perilakunya tidak baik terhadap istrinya bagaimana mungkin terhadap masyarakat dia dapat baik. Baru dapat melakukan kebaikan kepada orang lain apabila berlaku baik terhadap istrinya. Yang nampak dari luar baik, di dalamnyapun terdapat banyak kekurangan-kekurangan, mereka yang tidak memperlakukan baik kepada istrinya dan keluarganya, masyarakat juga harus memikirkan matang-matang terhadap orang seperti itu. Janganlah karena hal-hal kecil lantas memukul. Peristiwa-peristiwa seperti itu ada terjadi bahwa seorang yang penuh emosi, karena hal-hal kecil memukul istri sampai cedera pada tempat yang sensitif hingga mati. Oleh karena itu Allah berfirman:

Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Ya, jika dia melakukan pekerjaan yang tidak benar maka memberikan peringatan merupakan hal yang penting” (Malfuzhat jilid awal hlm. 403 –404.)

Abaikan Hal-hal Yang Tidak Disukai Dari Pasangan Hidup


Dalam menasihatkan kepada suami-istri untuk mencari kebaikan di antara satu dengan yang lain Rasulullah saw. bersabda, "Jika di antara kalian terlihat aib (kekurangan) yang lainnya, atau ada prilakunya yang kalian tidak suka, maka mungkin banyak hal-hal lainnya yang kalian sukai, yang bagi kalian itu menarik." Maka setelah mengingat hal-hal yang disukai sambil memilih sisi pengorbanan hendaknya menciptakan suasana atau nuasa yang berselarasan atau situasi yang bersesuaian. Seyogianya menciptakan iklim yang damai di antara sesama (suami-istri).

Jadi ini merupakan nasihat bagi kedua suami istri, yaitu jika keduanya mengontrol gejolak-gejolak emosi mereka maka letupan-letupan perselisihan kecil dan cekcok kecil-kecil yang kerap terjadi, di rumah tidak terjadi dan anak-anak pun tidak hancur. Sebab hal-hal kecil terkadang mengambil bentuk yang sedemikian menyakitkan sehingga setelah memikirkan itupun seorang menjadi murung (sedih) bahwa orang-orang seperti itupun ada juga di dunia ini, yang disebut sebagai manusia tetapi prilaku lebih buruk dari hewan. (Muslim Kitaburridha bab alwashiyyatu binnisa.)

Setelah melewati masa panjang selama lima belas tahun bersama Rasulullah saw., kesaksian pertama yang Khadijah r.a berikan pada saat wahyu pertama, tatkala telah turun wahyu dan Rasulullah saw. sangat cemas mengenai apa yang telah terjadi, maka Khadijah berkata, "Demi Allah, Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan Tuan, sebab Tuan memperlakukan pada anak istri dengan baik dan memikul beban orang yang miskin dan orang-orang yang tidak berdaya, dan merupakan orang yang menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang telah hilang.”

Yakni kebaikan-kebaikan yang telah hilang beliau hidupkan kembali. Dan kendatipun konsekwensi berkata jujur muncul berbagai kesulitan-kesulitan beliau tetap senantiasa menjadi penolong dan pelindung kebenaran, yakni, hanya kata-kata yang benarlah yang beliau katakan. Dan beliau adalah seorang penerima tamu yang baik” Bukhari badaulwahyi.

Jadi, keistimewaan-keistimewaan yang seyogianya ada pada seseorang, khususnya, keistimewaan-keistimewaan yang harus ada dalam diri seorang pria yang dengan itu masyarakat yang suci dapat terwujud itulah yang Khadijah sebutkan berkait dengan akhlak-akhlak beliau saw., bahwa perhatian pada perlakuan baik terhadap anak istri dan keluarga, perhatian kepada keluarga, memperhatikan keperluan-keperluan mereka, adanya upaya menjauhkan kesusahan-kesusahan mereka.

Manfaat Kebengkokan Tulang Rusuk


Kemudian tertera sebuah riwayat yang bersumber dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Perlakukanlah perempuan-perempuan (istri-istri) dengan baik. Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk. Di bagian atas tulang rusuk adalah yang paling bengkok, jika kalian berusaha (memaksa) untuk meluruskannya maka kalian akan mematahkannya, dan jika kalian meninggalkannya (membiarkannya) itu akan tetap bengkok. Maka perlakukanlah dia dengan cara yang baik".

Tertera dalam sebuah riwayat bahwa "Perempuan itu adalah seperti tulang rusuk, jika kalian berusaha (memaksa) untuk meluruskannya maka kalian akan mematahkannya, dan jika kalian ingin mengambil faedah dari itu maka kendatipun bengkok namun kalian dapat mengambil faedah darinya". Bukhari kitabul anbiya’bab khalqi aadama wa dzurriyatihi.

Nah, lengkungan tulang rusuk atau bundarnya, apa saja, itulah justru letak kekuatannya. Dan organ paling lunak milik hewan manapun itu berada dalam lingkaran atau perlindungannya. Yakni, jantung dan bagian sejumlah organ-organ lainnya (berada di dalam lindungan tulang rusuk). Jadi, dari ciptaan Allah ini manusia telah mengambil faedah. Karena itu lihatlah bangunan-bangunan dan jembatan-jembatan dimana harus menjadikan itu supaya lebih kuat maka seperti itulah akan dijadikan bulat/melengkung. Jadi bersabda bahwa, "Terkait dengan karakter perempuan yang keras, jika ingin mengambil faedah dari itu maka janganlah berupaya menyesuaikannya sesuai dengan karakter diri sendiri, kalau tidak, bukannya mendatangkan faedah untuk kalian, bahkan tidak akan ada gunanya untuk pekerjaan kalian yang manapun (merugikan kalian)".

Tetapi sudah merupakan hal yang sudah terbukti kebenarannya bahwa Allah telah meletakkan banyak jiwa pengurbanan di dalam diri perempuan (istri). Jika dengan menjadi contoh Saudara-saudara memperlakukannya dengan baik maka dia sendiri (istri) akan siap setiap saat mengurbankan dirinya sendiri untuk keinginan-keinginan Saudara-saudara. Oleh karena itu dapat diambil banyak faedah darinya bukanlah dengan kekerasan bahkan dengan kasih-sayang.

Hak-hak Anak


Kemudian dari antara tanggung jawab suami terdapat juga hak-hak anak. Ibnu Umar meriwayatkan bahwa: Allah menyatakan orang-orang saleh sebagai orang-orang saleh karena mereka berlaku baik terhadap anak-anak dan kedua orang tua mereka. Sebagaimana hak bapakmu ada padamu demikian pula hak anak-anakmu ada padamu".(Al-Adaabul mufrad lil-Bukhari birrul abbi liwaladihi.)

Bersumber dari Abu Hurairah r.a. bahwa: Seorang hadir di hadapan Rasulullah saw. bersama seorang anaknya yang masih kecil, dia mendekap anak itu bersamanya. Melihat itu Nabi saw. bersabda, "Apakah engkau mengasihinya?" Maka dia menjawab, "Ya". Rasulullah saw. bersabda,, "Semoga Allah lebih mengasihi engkau lebih dari seberapa engkau mengasihinya, dan Tuhan adalah Yang Maha Pengasih dari yang pengasih". (Al-adabul mufrad lil-Bukhari baab rahmatul ‘iyal.)

Kemudian Ayyub lewat rujukan bapak dan kakeknya meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: "Tidak ada hadiah terbaik melebihi tarbiyat yang baik, yang seorang bapak dapat berikan kepada anak-anaknya".(Tirmidzi Abwaabulbirri wasshilah fi adaabilwalad.)

Jadi, pada zaman ini, khususnya pada lingkungan ini para orang tua mempunyai tanggung jawab yang sangat besar. Jangan hanya memenuhi tanggung jawab di luar semata, tanggung jawab rumahtangga juga ada. Dan fahamilah itu, sebab dari segenap penjuru, masyarakat dan lingkungan yang menghancurkan berdiri (siap menerkam) dengan mulut ternganga.

Mirza Ghulam Ahmad menulis: "Menurut saya memukul anak seperti itu adalah termasuk dalam katagori syirik. Terkadang sejumlah orang tua sangat gemar memberikan hukuman.
Seolah-olah orang yang bertabiat kasar dan suka memukul ingin menjadikan dirinya mempunyai andil dalam petunjuk dan Rabbubiyat (pemeliharaan atau penciptaan) Tuhan" – yakni ingin menjadikan dirinya memiliki andil dari hak Rabbubiyat Tuhan. "Seorang yang bertemperamen cepat emosi apabila memberikan hukuman karena suatu hal, maka dengan tambah lebih memucak dalam amarahnya itu akan berubah mengambil bentuk permusuhan dan dalam batas dosa menjadi melampaui bermil-mil dari hukuman yang seharusnya Jika seorang itu penyabar dan merupakan sosok yang dapat mengendalikan emosinya dan dapat bersabar sepenuhnya dan penuh santun dan penyabar serta tegar berwibawa maka hanya dia yang berhak bahwa pada saat waktu yang tepat dapat memberikan hukuman kepada anak sampai suatu batas tertentu, atau dia memaafkannya. Tetapi seorang yang dikuasai emosi, kasar, tidak ada gairat lagi dungu, tidak bijak maka sama sekali ia tidak layak menjadi orang yang dapat memberi hukuman dan menjadi penanggung jawab tarbiyat bagi anak-anaknya."

Daripada mengambil tindakan pemberian hukuman, alangkah baiknya mereka pun sibuk dalam doa-doa dan membiasakan mendoakan anak-anak mereka dengan penuh khusyuk, karena doa kedua orang tua untuk anak-anak mendapat tingkat pengabulan yang khas di sisi-Nya". (Malfuzhat jilid I hal 218 Edisi Baru.)

Sejumlah orang tidak hanya ingin memiliki andil dalam Rabbubiyat (sifat khas pemeliharaan yang hanya boleh dimiliki Tuhan) hanya sampai sebatas terhadap anak-anak mereka semata, bahkan dia pun ingin ikut campur pada urusan orang lain, dan dalam nizam juga lalu menganggap diri mereka unggul dari nizam.

Tertera sebuah riwayat bahwa Anas bin Malik r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Hormatilah anak-anak kalian dan berilah tarbiyat yang baik pada mereka". (Ibni Majah abwabul adab bab birrul waalid.)

Jadi, untuk menciptakan rasa harga diri pada anak-anak penting supaya dia dihormati, dia diajarkan sopan-santun, sedemikian rupa hendaknya diberikan tarbiyatnya sehingga dia pun menjadi orang yang menghormati orang lain. Janganlah memberikan tarbiyat kepadanya sehingga akibat kehormatan yang kalian berikan kepadanya dia sendiri menjadi sombong, mulai menjadi binasa, menganggap dirinya lebih tinggi dari orang lain dan menganggap anak yang lain lebih rendah dari mereka, dan penghormatan kepada yang besar pun tidak ada dalam hati mereka. Jadi tarbiyat seyogianya sedemikian rupa dilakukan sehingga sejalan dengan itu lahir akhlak mulia dalam diri anak-anak.

Perlakuan Baik Terhadap Anak-anak perempuan


Aisyah r.a meriwayatkan bahwa: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang Allah masukkan dalam ujian dengan perantaraan seorang anak perempuan lalu dia memperlakukannya dengan baik maka itu merupakan suatu sarana/langkah perlindungan untuknya dari neraka Jahannam". (Bukhari Kitabuladab.)

Jadi, perhatikanlah, betapa hadits ini merupakan khabar suka bagi orang-orang yang mempunyai anak-anak perempuan. Manusia adalah merupakan hamba yang tidak lepas dari dosa, dapat terjebak dalam ribuan sandungan. Tetapi Allah juga membuka berbagai macam jalan ampunan.

Jadi, bukannya menyatakan rasa menyesal terhadap (mempunyai) anak-anak perempuan, bagi yang di rumahnya ada anak-anak perempuan, mereka seyogianya bersyukur dan memberikan tarbiyat yang baik kepada mereka. Dan untuk mereka hendaknya memanjatkan doa-doa untuk nasib yang baik.

Akan tetapi terkadang terjadi perinstiwa-peristiwa yang menyakitkan di hadapan kita bahwa sejumlah orang menjatuhkan thalaq kepada istrinya, "karena kamu hanya melahirkan anak-anak
perempuan". Maka untuk itu hendaknya takut pada Tuhan, mana diketahui (jika dia menikah) bahwa pada pernikahan yang akan datangpun akan lahir juga anak-anak perempuan juga. Aisyah r.a. bersabda bahwa: Nabi saw. pada malam hari bangun untuk melaksanakan shalat tahajjud dan beliau melaksanakan ibadat. Tatkala tersisa waktu sedikit untuk shalat fajar maka beliau juga membangunkan saya dan beliau bersabda, "Engkau pun lakukanlah shalat dua rakaat". (Bukhari kitabush shalat baabusshalaati khalqil qaaim..)

Tugas Kepala Keluarga: Menjadi Orang Bertakwa


Jadi satu tanggung jawab suami dalam kapasitasnya sebagai kepala rumah-tangga adalah bahwa untuk menjadi orang bertakwa dan untuk menjadi seorang pemimpin keluarga yang muttaqi merekapun sendiri harus teratur dalam shalat. Bangunlah tengah malam atau sekurang-kurangnya harus bangun untuk menunaikan shalat subuh dan membangunkan juga anak istri.

Rumah yang penuh dengan orang-orang yang rajin melakukan ibadah seperti itu maka mereka akan menjadi orang yang dapat menarik karunia-karunia dan berkah-berkah Ilahi. Tetapi ingatlah bahwa upayapun baru akan berhasil, baru akan meraih kesuksesan-kesuksesan apabila upaya ini dibarengi dengan doa-doa. Tidak hanya dengan membangunkan lalu tergesa-gesa dalam shalat, bahkan terus meneruslah memanjatkan doa-doa untuk diri sendiri dan untuk anak istri Saudara-saudara. Oleh karena itu dalam shalat-shalat Saudara-saudara pun banyaklah memanjatkan doa-doa untuk anak-anak dan istri Saudara-saudara sekalian.

Allah mengajarkan doa dalam Al-Quran:

Berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan (perbaikan) kepada anak cucuku". (Al-Ahqaf 15)

Yakni perbaikilah anak istriku sejalan dengan perubahan suci di dalam diri sendiri dan sejalan dengan doa-doa seyogianya terus memanjatkan doa-doa untuk anak dan istri. Sebab kebanyakan fitnah yang menimpa manusia adalah kebanyakan akibat anak-anak dan kebanyakan karena istri. Walhasil karena merekalah banyak kesulitan-kesulitan dan malapetaka yang menimpa manusia maka seyogianya memberikan perhatian penuh kepada perbaikannya dan seyogianya terus menerus memanjatkan doa-doa untuk mereka juga". (Malfuzhat, jilid V:456-457 Edisi Baru.)

Rasulullah saw dan Pergaulan Sosial

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. (QS Ali-imran : 112)

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al-Hujurat :13)

kisah Rasulullah

Dua ayat yang saya bacakan diatas menekankan tentang esensi interaksi sosial atau yang lebih dikenal dengan istilah hablum-minannaas. Seorang mukmin sejati adalah dia yang beriman dengan keimanan yang teguh pada Keesaan Allah taala, dan bersaksi atas keimanannya dengan sesungguh-sungguhnya bahwa Nabi Muhammad saw. adalah hamba-Nya dan Utusan-Nya. Dengan persaksian tersebut, seorang mukmin akan senantiasa memperhatikan dua aspek penting dalam menjalankan keimanannya. Aspek pertama terkait penghambaan sejati kepada Allah taala, adapun aspek yang kedua terkait dengan tanggung-jawab relationshipnya terhadap masyarakat dan lingkungan.
Rasulullah saw. bersabda: “Ada dua perkara yang tidak bisa diungguli keutamaannya oleh orang lain, yaitu tatkala seseorang beriman kepada Allah dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Abu Hurairah r.a. Nabi Muhammad SAW., bersabda: "Barangsiapa yang melepaskan seorang mukmin dari satu kesusahan di dunia, niscaya Allah akan melepaskannya satu kesulitan dihari kiamat. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang susah, niscaya Allah akan mempermudah baginya didunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutup keaiban seorang muslim, niscaya Allah akan menutup keaibannya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selagi dia senantiasa menolong saudaranya. Barangsiapa yang melalui suatu jalan menuntut ilmu, niscaya Allah akan mempermudah baginya suatu jalan menuju ke surga. Suatu kaum tidak berkumpul dirumah Allah sambil mereka membaca Kitabullah dan mengkajinya bersama-sama, melainkan ketentraman dan ketenangan akan turun atas mereka, rahmat akan meliputi mereka dan mereka akan dikelilingi oleh para malaikat dan Allah akan memanggil mereka kepada orang-orang yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat dalam amalannya, niscaya keturunannya tidak akan mampu untuk mempercepatkannya." (HR. Muslim)

Memberikan Manfaat Kepada Orang Lain


Rasulullah saw. sangat menekankan modal utama dalam berinteraksi sosial, yakni terkait kualitas diri yang memberikan manfaat bagi orang lain. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda:

Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Rasulullah saw.. dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw.. menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia, dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau berikan kedalam diri seorang muslim

Betapa Rasulullah saw. menekankan esensi kualitas diri bagi kemanfaatan bagi orang lain dalam konteks kehidupan sosial. Rasulullah saw. mengingatkan kita sekalian agar senantiasa berjuang untuk menghindarkan diri termasuk diantara orang-orang yang MUFLIS (merugi). Dalam sebuah riwayat dikisahkan, tatkala Rasulullah saw. duduk-duduk bersama para sahabat lalu beliau bersabda:
“Tahukah kalian siapa yang dinyatakan sebagai orang yang merugi? Salah seorang sahabat menjawab: seseorang yang tiada memiliki harta dan dirham ya Rasulullah. Maka beliau saw. bersabda: “Sesungguhnya, orang yang merugi adalah seseorang yang datang dihari pembalasan dengan membawa pahala shalat, pahala puasa dan pahala zakat. Namun dia juga datang dengan membawa dosa kezaliman, dosa mencerca orang lain, dosa menuduh tanpa bukti kepada orang lain, dosa memakan harta orang lain, dosa menumpahkan darah orang lain, dan dosa memukul orang lain. Maka sebagai tebusan atas kezalimannya tersebut, diberikanlah pahala kebaikannya kepada setiap orang yang dia zalimi, hingga tatkala kebaikannya telah habis dibagikan, sementara semua kezalimannya belum tertebus maka diambillah kesalahan orang yang dizaliminya, lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan kedalam neraka.

Menanamkan Cinta dan Kepedulian


Selain kita memberikan manfaat untuk orang lain, Rasulullah saw. menekankan pentingnya memiliki cinta, simpati dan empati bagi orang lain dalam ranah pergaulan sosial.

Didalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda:

“Tidaklah seseorang diantara kalian dikatakan beriman, hingga dia mencintai sesuatu bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai sesuatu bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari Muslim)

Dalam sejarah kita melihat sepak terjang kemuliaan teladan Rasulullah saw. bahkan dimasa sebelum nubuwwat. Beliau dikenal orang sebagai pribadi yang jujur, dapat dipercaya, penuh cinta kasih terhadap sesama, menolong orang yang kesusahan, dll. Sungguh sebuah modal besar dalam kehidupan pergaulan sosial. Setelah masa nubuwwat berikut kesaksian Abu sufyan tentang kemulian akhlak Nabi Muhammad saw. yang disampaikan kepada Raja Romawi bernama Heraclius.
Terkisah, Heraclius menerima rombongan dagang Quraisy yang sedang mengadakan ekspedisi dagang ke Negeri Syam. Pertemuan tersebut terjadi pada saat berlakunya perjanjian antara Nabi Muhammad saw. dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy. Saat singgah didaerah Iliya' mereka menemui Heraclius atas undangannya untuk berdialog di majelisnya bersama para pembesar-pembesar Negeri Romawi.

Heraclius berbicara kepada mereka melalui penterjemah. Heraclius berkata;
"Siapa diantara kalian yang paling dekat hubungan keluarganya dengan orang yang mengaku sebagai Nabi itu?."
Abu Sufyan berkata; "Akulah yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan dia".
Heraclius berkata; "bagaimana kedudukan nasabnya ditengah-tengah kalian?"
Aku jawab: "Dia adalah dari keturunan baik-baik (bangsawan) ".
Heraclius: "Apakah bapaknya seorang raja?" Jawabku: "Bukan".
Heraclius : ”Apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang atau orang-orang yang rendah?" Jawabku: "Yang mengikutinya adalah orang-orang yang rendah".
Dia bertanya lagi: "Apakah bertambah pengikutnya atau berkurang?" Aku jawab: "Bertambah".
Dia bertanya lagi: "Apakah ada yang murtad disebabkan dongkol terhadap agamanya?" Aku jawab: "Tidak ada".
Dia bertanya lagi: "Apakah kalian pernah mendapatkannya dia berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang dikatakannya itu?" Aku jawab: "Tidak pernah".
Dia bertanya lagi: "Apakah dia pernah berlaku curang?" Aku jawab: "Tidak pernah. Ketika kami bergaul dengannya, dia tidak pernah melakukan hal itu".
Dia bertanya lagi: "Apakah kalian memeranginya?" Aku jawab: "Iya".
Dia bertanya lagi: "Bagaimana kesudahan perang tersebut?" Aku jawab: "Perang antara kami dan dia sangat banyak. Terkadang dia mengalahkan kami dan terkadang kami yang mengalahkan dia".
Dia bertanya lagi: "Apa yang diperintahkannya kepada kalian?" Aku jawab: "Dia menyuruh kami; 'Sembahlah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan tinggalkan apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian. 'Dia juga memerintahkan kami untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim".

Maka Heraclius berkata kepada penerjemahnya: "Katakan kepadanya, bahwa aku telah bertanya kepadamu tentang keturunan orang itu, kamu ceritakan bahwa orang itu dari keturunan bangsawan. Begitu juga laki-laki itu dibangkitkan di tengah keturunan kaumnya. Dan aku tanya kepadamu apakah pernah ada orang sebelumnya yang mengatakan seperti yang dikatakannya, kamu jawab tidak ada. Seandainya dikatakan ada orang sebelumnya yang mengatakannya tentu kuanggap orang ini meniru orang sebelumnya. Aku tanyakan juga kepadamu apakah bapaknya seorang raja, maka kamu jawab tidak. Aku katakan seandainya bapaknya raja, tentu orang ini sedang menuntut kerajaan bapaknya. Dan aku tanyakan juga kepadamu apakah kalian pernah mendapatkan dia berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang dikatakannya, kamu menjawabnya tidak. Sungguh aku memahami, kalau kepada manusia saja dia tidak berani berdusta apalagi berdusta kepada Allah. Dan aku juga telah bertanya kepadamu, apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang atau orang-orang yang rendah?" Kamu menjawab orang-orang yang rendah yang mengikutinya. Memang mereka itulah yang menjadi para pengikut Rasul.

Aku juga bertanya kepadamu apakah bertambah pengikutnya atau berkurang, kamu menjawabnya bertambah. Dan memang begitulah perkara iman hingga menjadi sempurna. Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah ada yang murtad disebabkan marah terhadap agamanya. Kamu menjawab tidak ada. Dan memang begitulah iman bila telah masuk tumbuh bersemi di dalam hati. Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah dia pernah berlaku curang, kamu jawab tidak pernah. Dan memang begitulah para Rasul tidak mungkin curang. Dan aku juga bertanya kepadamu apa yang diperintahkannya kepada kalian, kamu jawab dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan melarang kalian menyembah berhala, dia juga memerintahkan kalian untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim. Seandainya semua apa yang kamu katakan ini benar, pasti dia akan menguasai kerajaan yang ada di bawah kakiku ini. Sungguh aku telah menduga bahwa dia tidak ada diantara kalian sekarang ini, seandainya aku tahu jalan untuk bisa menemuinya, tentu aku akan berusaha keras menemuinya, hingga bila aku sudah berada di sisinya, pasti aku akan basuh kedua kakinya.

Selain itu sebuah kesaksian besar tentang diri Rasulullah saw. disampaikan tatkala Rasulullah saw. memberi izin hijrah beberapa sahabah ke Habsyah, yang terdiri dari 83 laki-laki dan 19 wanita.
Penguasa Habasyah adalah Najasyi. Seorang raja yang terkenal adil dan bijaksana, serta suka melindungi orang-orang yang lemah. Sesampainya di Habasyah, mereka mendapatkan perlindungan dari Najasyi, sehingga bisa leluasa dan lebih tenang dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi, ketenangan ini terusik. Yaitu tatkala orang-orang Quraisy meminta Raja Najasyi untuk menyerahkan kaum muslimin. Mendengar hal itu, Raja Najasyi marah, seraya berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mengembalikan mereka kepada kaumnya sampai aku menemui mereka. Sehingga aku bisa mengetahui, apakah yang telah dikatakan oleh dua orang ini benar? Kalau memang benar, maka akan aku kembalikan, mereka. Akan tetapi, kalau tidak, aku akan melindungi dan berbuat baik kepada mereka.”

Kemudian Raja Najasyi mengutus orang agar memanggil kami. Sebelum berangkat untuk menemuinya, kami berkumpul dan saling mengatakan, “Sesungguhnya Najasyi akan bertanya kepada kalian tentang agama kalian. Maka terangkanlah dengan apa yang telah kalian imani.” Dan kami bersepakat mengangkat Ja’far bin abi thalib sebagai juru bicaranya. Berangkatlah kami untuk menemuinya. Kami mendapatkan Raja Najasyi tengah duduk di antara para menterinya yang memakai pakaian kebesaran mereka. Kami juga mendapatkan Amru bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah telah ada di hadapan mereka.

Ketika semuanya telah siap, Najasyi menoleh kepada kami dan berkata, “Apakah agama yang kalian peluk, sehingga kalian meninggalkan agama kaum kalian dan tidak pula kalian masuk ke dalam agamaku atau agama yang lainnya?”

Maka berkatalah Ja’far bin Abi Thalib, “Wahai Raja, kami dahulu adalah orang-orang jahiliyah. Kami menyembah berhala, kami memakan bangkai, melaksanakan perbuatan keji, memutus silaturrahim, berbuat jelek kepada tetangga, yang kuat menekan yang lemah dan kami tetap berada dalam keadaan demikian, sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul yang kami mengetahui nasabnya, kejujurannya, keamanahannya dan sangat memelihara diri. Dia mengajak kami agar beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan patung-patung yang disembah oleh nenek moyang kami. Dia pun memerintahkan kepada kami agar jujur dalam berkata, menunaikan amanah, menyambung silaturrahmi, meninggalkan perbuatan keji, memelihara darah, dan melarang kami dari berkata dusta, melarang memakan harta anak yatim, melarang menuduh wanita yang shalihah dengan perbuatan zina serta memerintahkan kami agar mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan. Maka kami membenarkannya, beriman kepadanya, dan mengikuti apa yang dibawanya dari sisi Allah. Kami menghalalkan apa yang dihalalkannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya. Wahai Raja, ketika kaum kami mengetahui tentang apa yang kami lakukan, mereka memusuhi kami, menyiksa kami dengan siksaan yang berat dan berusaha mengembalikan kami kepada agama nenek moyang, dan agar kami kembali menyembah berhala. Maka tatkala mereka terus menekan kami, memaksa kami, akhirnya kami memilih engkau dari yang lainnya dan kami sangat berharap engkau berbuat baik kepada kami dan tidak menzalimi kami.”

Raja Najasyi kembali bertanya kepada Ja’far, “Apakah engkau memiliki apa yang dibawa oleh Nabimu dari Allah?” Ja’far menjawab, “Ya.” Maka Raja Najasyi memerintahkan, “Bacakanlah untukku!” Ja’far pun membaca surat Maryam.

Ketika mendengar ayat tersebut, menangislah Raja Najasyi, sehingga air matanya membasahi jenggotnya. Menangis pula para menterinya, sehingga basah buku-buku mereka. Dan Najasyi berkata, “Sesungguhnya, apa yang dibawa oleh Nabi kalian dan apa yang dibawa oleh Isa bin Maryam merupakan satu sumber.” Najasyi menoleh kepada Amru bin Ash dan berkata, “Pergilah kalian! Demi Allah, mereka tidak akan aku serahkan kepada kalian!”

Memberikan Teladan


Rasulullah saw. adalah pribadi yang senantiasa menunjukan perwujudan ahlak mulia dalam berinteraksi sosial, beliau tidak hanya sebatas menyampaikan sabdanya namun lebih dari itu beliau pun mencontohkan kemuliaan ahlak tersebut.

Pada suatu riwayat, Rasulullah saw. bersabda tentang kemuliaan memberi makan kepada orang lain dan memberi salam kepada orang yang dikenal maupun yang tidak. Beliau bersabda:

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ada seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai islam bagaimana yang baik. Beliau menjawab, “Memberikan makan (pada orang yang membutuhkan), serta mengucapkan salam pada orang yang dikenal dan yang tidak dikenal.” (HR. Bukhari no. 6236).

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa di sudut pasar Madinah ada seorang wanita tua pengemis Yahudi yang buta, yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya. Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW. mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW. menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW.. Rasulullah SAW. melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat. Setelah wafatnya Rasulullah SAW., tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW. yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah puteriya Aisyah RA. yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW. dan beliau bertanya kepada puterinya tersebut, wahai anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan? Aisyah RA menjawab,Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja. Apakah Itu?, tanya Abubakar RA. Setiap pagi Rasulullah SAW. senantiasa pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana, ujar Aisyah RA.. Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar ra mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, Siapakah kamu? Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, seru si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang makanan dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dia haluskannya makanan tersebut, setelah itu ia suapkan kedalam mulutku. Abubakar RA seketika itu mangis dan tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.. Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, dan berkata buruk tentang dirinya namun ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…lalu pengemis tersebut bersyahadat baiat kedalam agama Islam.

Hak-Hak Sesama Muslim


Rasulullah saw. pun sangat memperhatikan hak-hak muslim terhadap sesama muslim yang juga menjadi catatan bagi kita dalam bersosialisasi setiap hari. Beliau bersabda:


Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Hak seorang muslim terhadap sesama muslim itu ada enam, yaitu: (1) jika kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, (2) jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya, (3) jika ia meminta nasihat kepadamu maka berilah ia nasihat, (4) jika ia bersin dan mengucapkan: ‘Alhamdulillah’ maka do’akanlah ia dengan Yarhamukallah (artinya = mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepadamu), (5) jika ia sakit maka jenguklah dan (6) jika ia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya”. (HR. Muslim, no. 2162).

Keramahan dan Kebijaksanaan Rasulullah


Rasulullah saw. adalah seseorang yang sangat memahami makna komunikasi dengan orang lain. Beliau tidak hanya ramah kepada orang-orang yang beriman, namun juga ramah kepada setiap orang tanpa membedakan ras, warna kulit, jenis kelamin, strata sosial, agama dll. Di dalam kualitas komunikasinya beliau senantiasa menanamkan pesan-pesan Ilahi, dan dalam setiap ucapannya selalu mengandung kebijaksanaan dan cinta kasih, sehingga semua potensi panca indera orang-orang yang bergaul dengan beliau akan diliputi dengan kententraman batin dan kedamaian sejati.

Pada suatu hari fakir miskin Muhajirin datang menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan berkata: Orang-orang kaya telah pergi dengan derajat yang tinggi dan nikmat yang kekal. Rasulullah bertanya: Apa itu gerangan? Mereka menjawab: Mereka salat seperti kami salat, mereka puasa seperti kami puasa. Tetapi mereka bersedekah sedang kami tidak sanggup, mereka mampu memerdekakan budak sementara kami tidak mampu. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Maukah kalian aku ajarkan sesuatu yang dapat membuat kalian mengejar orang-orang yang mendahului kalian dan yang dapat membuat kalian mendahului orang-orang yang sesudah kalian? Tidak ada seorang pun di antara kalian yang lebih utama kecuali ia melakukan seperti yang engkau lakukan. Mereka menjawab: Tentu, ya Rasulullah. Rasulullah bersabda: Kalian baca tasbih (subhhaabnallah), takbir (Allahu akbar) dan tahmid (alhamdulillah) setiap selesai salat sebanyak tiga puluh tiga kali (HR Muslim)

Selain itu dalam konteks komunikasi Rasulullah saw. senantiasa menyampaikan dengan hikmah dan kebijaksanaan. Terkisah seorang Arab Badui datang kehadapan Rasulullah saw. dia menolak mengakui anak dari istrinya karena anaknya berkulit hitam. Lalu Rasulullah saw. menegaskan bahwa bayi itu adalah anaknya.

Menjaga Hubungan Baik


Dalam konteks hubungan personal, Rasulullah saw. senantiasa menjaga hubungan dengan baik. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa seorang Yahudi selalu bersiap diri setiap kali Rasulullah saw. melewati jalan dekat rumahnya. Jika Rasulullah saw. sudah terlihat, dia pun segera mengambil kotoran unta lalu melemparkannya ke tubuh Rasulullah saw. Mendapat perlakukan tersebut, Rasulullah saw. tidak pernah marah. Beliau hanya tersenyum dan segera membersihkan kotoran tersebut. Sekali waktu, Yahudi tersebut meludahi wajah Rasulullah saw.. Kejadian semacam ini terus berulang hingga beberapa lamanya. Selama waktu itu pula Rasulullah saw.. senantiasa sabar dan tidak memberi balasan, kutukan, atau pun ancaman.

Suatu hari, beliau melewati jalan itu lagi. Aneh bin ajaib, Yahudi itu tidak terlihat sehingga Rasulullah saw.. pun terbebas dari gangguannya. Namun demikian, Rasulullah saw.. malah penasaran. Beliau pun berusaha mencari tahu kemana Yahudi yang setiap hari melemparinya dengan ludah dan kotoran. Rupanya si Yahudi itu dikabarkan sakit keras sehingga tidak bisa keluar rumah.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, Rasulullah saw.. bergegas ke rumah si Yahudi untuk menjenguknya. Terkejutlah si Yahudi ketika tahu bahwa Muhammad saw.., orang yang setiap hari dia ganggu dan dia hina, menyambangi rumahnya ketika dia dalam keadaan tidak berdaya. Mukanya yang pucat terlihat semakin pucat. Setelah meminta izin kepada tuan rumah, Rasulullah saw.. menemui si Yahudi itu dengan baik-baik, menanyakan kabar, dan membawakan kepadanya sedikit buah tangan. Ketakutan yang menyelimuti tubuh yang tergolek karena sakit itu, sedikit demi sedikit memudar dan akhirnya hilang. Rasa benci yang menyeruak di dadanya perlahan berganti menjadi rasa cinta. Yahudi tua itu menangis tersedu-sedu. Dia merasa malu, menyesal, dan sangat bersalah karena perbuatannya selama ini, yang tidak senonoh kepada seorang manusia mulia. Kunjungan Rasulullah saw.. hari itu benar-benar telah mengubah hidupnya. Seseorang yang senantiasa dizaliminya justru menjadi orang pertama yang datang menjenguk ketika dia sakit. Sebagai tanda terima kasih dan pertobatannya, Yahudi itu pun mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Rasulullah saw.

Rasulullah saw.. adalah pribadi yang sangat menekankan hubungan baik dengan tetangga. Didalam Hadist kita temukan sabda mulia Rasulullah saw. yang berbunyi:

“Saya perintahkan kepadamu untuk memperlakukan tetangga dengan baik dan mendesak perlakuan baik mereka sedemikian rupa sehingga saya kira, Nabi saw. seolah-olah akan memberikan hak-hak waris kepada mereka. (at-Tabrani dengan sanad jayyid)

Perlakuan yang baik kepada tetangga dan penghindaran diri dari perilaku yang membahayakan dan merisaukan tetangga demikian penting, sampai Nabi menggambarkan hal ini sebagai satu dari tanda-tanda keimanan yang benar kepada Allah dan Hari Akhir. Beliau bersabda:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia memperlakukan tetangganya dengan baik; Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia memuliakan tamunya; Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia mengucapkan kata-kata yang baik atau diam.” (Muttafaq’alaih)

Cara-Cara Pergaulan Sosial


Rasulullah saw. benar-benar telah mengajarkan kepada kita tentang cara bersosialisasi yang baik, beliau mengajarkan beberapa hal penting diantaranya: (Seperti dikutip dari Ust Sihabuddin Muhaemin)

1. Menyatukan Kecintaan Dengan Orang Lain.

Jika seseorang mencintai orang lain, maka katakanlah bahwa dia mencintainya, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

"Jika seseorang mencinta saudaranya, maka hendaklah ia mengatakan rasa cintanya kepada saudaranya (karena Allah SWT)". (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

2. Saling Mendoakan Kebaikan Antara Keduanya.

Seseorang yang menjalinkan kasih sayang karena Allah SWT, maka bertemu dan berpisah nya pun karena Allah dan saling mendoakan kebaikan pada keduanya.

3. Jika Bertemu Saling Memberi Senyuman Ikhlas.

Seorang Muslim yang menjalin kasih sayang karena Allah akan menunjukkan kegembiraan jika bertemu dengan saudaranya sesama Muslim, dan saling menghadiahkan senyuman manis yang ikhlas kepada saudaranya. Rasulullah SAW. bersabda:

"Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun sekalipun hanya sekuntum senyuman kegembiraan yang kamu berikan kepada saudaramu ketika Bertemu. (HR. Muslim).

4. Saling Bejabat Tangan Jika Bertemu Dengan Sesama Muslim.

Rasulullah saw mengajar umatnya untuk saling berjabat tangan dengan sesama saudaranya yang Muhrim. Jika bertemu. Rasulullah saw bersabda:

"Tidak ada dua orang Muslim yang apabila bertemu saling berjabat tangan, kecuali Allah taala akan menggugurkan dosa keduanya sebelum tangan keduanya berpisah. (HR. Abu Daud).

5. Saling Menghubungkan Kasih Sayang Antara Sesama Saudaranya.

Bentuk kasih sayang yang perlu di jalinkan di antaranya dengan saling menziarahi saling memberi dan lainnya. Pemberian yang kita berikan kepada saudaranya aka dapat menjalinkan hubungan yang baik.

6. Memberi Salam Dan Mengucapkan Selamat Jika Bertemu Dengan Saudaranya.

Seorang saudara yang baik terhadap saudaranya. Akan memulai pertemuannya dengan mengucapkan salam terhadap saudaranya serta mengucapkan selamat kepada saudaranya. Rasulullah saw bersabda:

"Barang siapa berjumpa dengan saudaranya kemudian mengucapkan selamat kepada saudaranya di atas keberhasilan yang di capainya, maka Allah akan menggembirakannya nanti pada hari kiamat. (HR. Thabrani).

7. Memberi Hadiah Kepada Saudaranya.

Jika seorang Muslim mendapatkan keberhasilan maka saudara Muslim lainnya mengucapkan selamat dan memberi sedikit hadiah sebagai penghargaan atas keberhasilannya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

"Saling memberi hadiah lah kamu dengan sesama saudaramu, niscaya aku akan saling mencintai." (HR. at-Thabrani).

8. Saling Memberi Pertolongan Dengan Sesama Saudaranya.

Saling membantu saudaranya merupakan kewajiban seorang Muslim. Rasulullah SAW. bersabda:

Dan Allah akan sentiasa memberi pertolongan kepada hamba-Nya, jika membantu sesama saudaranya. (HR. Muslim).

9. Saling Memenuhi Hak Saudaranya.

Dalam mempererat persaudaraan maka setiap muslim wajib menunaikan hak-hak saudaranya, seperti menjenguk saudara yang, mendoakan ketika bersin, saling tolong-menolong dalam perkara kebaikan serta membanteras kejahatan dan kezaliman.

Kasih Sayang Rasulullah saw Terhadap Keluarga

Oleh: Saefullah Ahmad Faruq

Kondisi akhlak merupakan suatu keramat, yang tidak dapat diprotes oleh siapa pun. Itulah sebabnya kepada Nabi kita Rasulullah saw. mukjizat terbesar dan terkuat yang telah diberikan adalah akhlak. Sebagaimana difirmankan:

Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak berbudi pekerti yang agung” (Al-Qalām, 5).

Dalam segi kekuatan serta bukti, segala mukjizat Rasulullah saw. melampaui seluruh mukjizat para nabi lainnya. Akan tetapi mukjizat akhlaki beliau adalah yang paling unggul, dan sejarah dunia tidak dapat mengungkapkan serta memaparkan tandingannya.” (Malfuzat, jld. I, hlm. 141).

Rasulullah saw adalah teladan sempurna, (Al Ahzab ayat 22) salah satu keteladanan beliau adalah kasih sayang terhadap keluarga.

kasih sayang rasulullah

Sikap Rasulullah saw Terhadap Istri


Ribuan tahun yang silam, di Padang Arafah, di hadapan ratusan ribu umat Islam yang pertama, Rasulullah Saw menyampaikan khotbah perpisahan. Perhatikanlah apa yang diwasiatkanny a pada hari itu:

"Wahai manusia, takutlah kepada Allah akan urusan wanita. Sesungguhnya kamu telah mengam¬bil mereka sebagai istri dengan amanat Allah. Kami halalkan kehormatan mereka dengan kalimah Allah. Sesungguhnya kamu mempunyai hak atas istrimu, dan istrimu pun mempunyai hak atas kamu. Ketahuilah, aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik terhadap istri kalian. Mereka adalah penolong kalian. Mereka tidak memilih apa¬-apa untuk dirinya, dan kamu pun tidak memilih apa-apa dari diri mereka selain itu. Jika mereka patuh kepadamu, janganlah kamu berbuta aniaya terhadap mereka. " (H.R. Muslim dan Turmudzi)

"Ada dua dosa yang akan didahulukan Allah siksaannya di dunia ini juga, yaitu al-baghyu dan durhaka kepada orangtua. " (H.R. Turmudzi, Bukhari, dan Thabrani)

Al-Baghyu adalah berbuat sewenang-wenang, berbuat zalim dan menganiaya orang lain. Dan al-baghyu yang paling dimurkai Allah ialah berbuat zalim terhadap istri sendiri. Termasuk al-baghyu ialah menelantarkan istri, menyakiti hatinya, merampaskehangat cintanya, merendahkan kehormatannya, mengabaikannya dalam mengambil keputusan, dan mencabut haknya untuk memperoleh kebahagiaan hidup bersama anda. Karena itulah Rasulullah Saw mengukur tinggi-rendahnya martabat seorang laki¬laki dari cara ia bergaul dengan istrinya. Nabi Saw bersabda:

"Tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. Tidak merendahkan wanita kecuali laki¬laki yang rendah juga. " Rasulullah Saw adalah manusia paling mulia. Dan Aisyah ra. bercerita bagaimana Rasul memuliakannya;

"Di rumah," kata Aisyah, "Rasulullah melayani keperluan istrinya memasak, menyapu lantai, memerah susu, dan membersihkan pakaian." Dia memanggil istrinya dengan gelaran yang baik. Setelah Rasulullah Saw meninggal dunia, ada beberapa orang menemui Aisyah, memintanya agar menceritakan perilaku Nabi Saw. Aisyah sesaat tidak menjawab permintaan itu. Air matanya berderai. Kemudian, dengan nafas panjang, ia berkata, "Kana kullu amrihi ajaba. " (Ah... semua perilakunya indah.) Ketika didesak untuk menceritakan perilaku Rasul yang paling mempesona, Aisyah kemudian mengisahkan bagaimana Rasul yang mulia bangun di tengah malam dan meminta izin kepada Aisyah untuk salat malam.

"Izinkan aku menyembah Tuhanku," ujar Rasulullah Saw kepada Aisyah."

Bayangkan, Saudara, sampai untuk salat malam saja diperlukannya izin istrinya. Di situ berhimpun kemesraan, kesucian, kesetiaan, dan penghormatan.

Cara Rasulullah saw Menghormati Kaum Wanita


Menurut adat kebiasaan orang-orang Arab di masa lampau, suami seringkali memukul istri mereka. Rasulullah Saw mengetahuinya kemudian beliau bersabda kepada para suami: Perempuan adalah hamba sahaya (budak) Allah Ta’ala bukan hamba sahaya kalian. Ketika seorang sahabat ra bertanya kepada beliau saw, “Apakah hak-hak istri atas kami (para suami)?” Beliau saw bersabda: “Berilah dia makan dengan apa yang telah Tuhan berikan kepada kamu untuk makan, berilah dia pakaian dengan apa yang telah Tuhan berikan kepadamu untuk berpakaian. Janganlah memukul mukanya, janganlah mencaci-makinya dan jangan pula kamu mengusirnya dari rumah kamu.”

Rasulullah Saw bersabda: خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلي ‘Khairukum khairukum li ahlihi wa ana khairukum li ahlii.’ - “Orang terbaik diantara kamu adalah dia yang terbaik dalam hal berlaku baik terhadap ahli (penghuni) rumahnya dan aku adalah yang terbaik dari antara kalian dalam hal memperlakukan dengan baik terhadap keluarganya.”

Seperti telah disebutkan sebelumnya, dikarenakan kesibukan tugas-tugas pemerintahan dan tarbiyat (pendidikan), waktu beliau adalah sangat berharga. Beliau sibuk dalam ibadah-ibadah, namun, dalam keadaan demikian, beliau saw biasa membantu pekerjaan di rumah istri-istri beliau dengan baik sekali. Aisyah ra meriwayatkan, pada waktu manapun beliau saw ada di rumah, beliau saw selalu sibuk membantu menyelesaikan pekerjaan di rumah. Bila tidak ada tugas-tugas lainnya, beliau saw takkan kosong dari pekerjaan-pekerjaan di rumah. Beliau saw menambal sulam sendiri pakaian beliau yang sudah robek. Beliau saw sendiri yang memerah susu kambing. Jika terlambat tiba di rumah, beliau saw mempersiapkan makanan untuk beliau saw sendiri dan tidak membangunkan orang-orang di rumah.

Lembut dan Penuh Kasih


Rasulullah Saw. adalah seorang suami yang sangat meninggikan kedudukan para istrinya dan amat menghormati mereka. 'Aisyah bercerita tentang hal ini:

Sekelompok orang Habasyah masuk masjid dan bermain di dalamnya. Ketika itu Rasulullah Saw. berkata kepadaku, “Wahai Humayrâ`, apakah kamu senang melihat mereka?” Aku menjawab, “Ya.” Maka beliau berdiri di pintu rumah. Aku menghampirinya. Kuletakkan daguku di atas pundaknya dan kusandarkan wajahku ke pipinya. Di antara ucapan mereka (orang-orang Habasyah) waktu itu, ‘Abû al-Qâsim (Rasulullah) orang baik.’ Lalu Rasulullah berkata, “Cukup.” Aku berkata, “Ya Rasulullah, jangan tergesa-gesa.” Beliau pun berdiri lagi untukku. Kemudian beliau berkata lagi, “Cukup.” Aku berkata, “Jangan tergesa-gesa, ya Rasulullah.” Bukan melihat mereka bermain yang aku suka, melainkan aku ingin para perempuan tahu kedudukan Rasulullah bagiku dan kedudukanku dari beliau.”( HR.al-Nasâ`î, ).

Bayangkan seorang istri berdiri di belakang suaminya untuk melindunginya. Kemudian sang istri meletakkan dagunya di pundak sang suami, wajah sang istri menempel di pipi sang suami. Sang istri meminta sang suami berdiri lebih lama untuknya. Mereka berdiri di pintu rumah sambil memerhatikan orang-orang yang sedang bermain di masjid depan rumah. Kemudian sang istri bertutur, “Sesungguhnya bukan orang-orang yang sedang bermain itu yang menarik perhatianku. Bukan pemandangan itu yang membuatku ingin berlama-lama berdiri di sini bersama suami. Aku hanya ingin para istri tahu kedudukanku bagi suamiku dan kedudukan suamiku bagiku.” Bersama itu, sang suami dengan sabar memenuhi permintaan sang istri terkasih, demi cinta padanya dan guna menjaga perasaannya.

Betapa pun banyak dan beratnya tanggung jawab yang harus dipukul Sang Rasul, beliau tidak pernah lupa akan hak-hak para istrinya. Beliau memperlakukan mereka dengan amat lembut dan penuh kasih. Tidak pernah sedikit pun beliau mengurangi hak mereka. Beliaulah yang dalam salah satu haditsnya bersabda, “Kaum perempuan (para istri) adalah saudara kandung kaum laki-laki (para suami).”( HR. al-Baihaqi, al-Tirmidzî, Ahmad bin Hanbal, ).

Hadits ini menjadi dalil bahwa beliau tidak pernah menganggap kecil kedudukan para istrinya. Beliau menempatkan mereka pada kedudukan yang setara dengan beliau dan memposisikan mereka pada posisi yang agung. Bagaimana tidak, pada diri seorang istri tersandang sejumlah predikat mulia: ibu, istri, saudara perempuan, bibi, dan anak perempuan.

Pengakuan di Depan Publik


Pada saat banyak suami menganggap bahwa sekadar menyebut nama istri di depan orang lain dapat mengurangi harga diri, kita mendapati Rasulullah justru menampakkan cintanya pada para istrinya di depan umum. Shafiyah binti Huyay mendatangi Rasulullah saw. sewaktu beliau beri’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Kemudian ia berbincang dengan beliau beberapa waktu. Ia berdiri untuk pulang. Rasulullah pun ikut berdiri mengantarkan Shafiyah pulang. Ketika Shafiyah dan Rasulullah sampai di depan pintu Ummu Salamah, dua orang Anshâr lewat dan memberi salam kepada Rasulullah. Kepada dua orang Anshâr itu beliau bersabda, “Perhatikanlah baik-baik oleh kamu berdua, dia ini tidak lain Shafiyah binti Huyay.”( HR. al-Baihaqi, al-Bukhari, Ibnu Hibban ).

Tempat Bersandar di Kala Susah


Nabi Saw. adalah suami yang sangat memahami kondisi para istrinya, baik kondisi fisik maupun psikis. Dua kondisi ini dari satu waktu ke lainnya dapat berubah-ubah. Nabi Saw. sangat pandai memahami hal itu terhadap para istrinya. Maymûnah, salah satu istri Nabi, berkata, “Suatu kali Rasulullah mendatangi salah seorang dari kami. Salah seorang dari kami itu sedang haid. Maka beliau meletakkan kepalanya di dada istrinya yang sedang haid itu, lalu beliau membaca al-Qur`an.”( HR. Ahmad Ibn Hanbal, )

Pada kali lain, Rasulullah Saw. berupaya begitu rupa menenangkan salah satu istrinya yang sedang mengalami tekanan batin. Pada suatu hari, beliau mendatangi Shafiyah binti Huyay. Beliau menemukan Shafiyah sedang menangis. Kepadanya beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Shafiyah menjawab, “Hafshah berkata bahwa aku anak orang Yahudi.” Beliau berkata, “Katakan padanya, suamiku Muhammad, ayahku Hârûn, dan pamanku Mûsâ!” ( Muhammad bin Ahmad al-Qurthubî, Tafsîr al-Qurthubî, Kairo: Dâr al-Sya’b, cet. II, 1372 H, 16, hal. 326 ).

Terlihat bagaimana Baginda Nabi menyelesaikan masalah dengan kata-kata sederhana namun mengandung makna yang dalam.

Bermusyawarah Sebelum Mengambil Keputusan


Di kala banyak suami memandang istrinya kurang akal dan agama, Rasulullah yang mulia tidak pernah segan atau merasa keberatan mendengar serta mengambil pendapat istrinya. Ini terlihat ketika beliau meminta pendapat Ummu Salamah dalam perjanjian Hudaybiyah. Waktu itu beliau memerintahkan para sahabat untuk mencukur rambut dan menyembelih hewan kurban, namun mereka tidak mau melakukannya. Melihat respon para sahabat tersebut, Baginda Nabi masuk ke tenda Ummu Salamah. Begitu beliau menceritakan kepada Ummu Salamah apa yang beliau terima dari para sahabat, Ummu Salamah langsung mengajukan pendapat yang cerdas. Ia berkata: “Keluarlah, ya Rasulullah, kemudian engkau bercukur lalu potong hewan kurban lalu!” Beliau pun keluar dari tenda, bercukur lalu memotong kurban. Melihat hal itu, sontak para sahabat bangkit; mereka serempak bercukur lalu memotong hewan kurban”.( Muhammad bin Jarîr al-Thabarî, Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta`wîl Ayy al-Qur`ân, Beirut: Dâr al-Fikr, 1405 H., vol. 2, hal. 221 ).

Tetap Santun Meski Saat Marah


Di kala tidak sedikit para suami yang ringan tangan kepada para istri saat mereka melakukan kesalahan, kita mendapati Sang Nabi tetap bijak, lembut, dan santun dalam memperlakukan para istrinya saat terjadi silang-pendapat atau perselisihan antara beliau dan mereka. Ketika kemarahan beliau agak tinggi, maka pergi menjauhi istri untuk sementara waktu menjadi pilihannya. Tidak pernah beliau menampar satu pun dari istrinya. Beliau menjauhi para istrinya pada saat mereka mendesaknya menuntut nafkah.

Rasulullah Saw tidak pernah mendesak istrinya menyediakan makanan. Dalam satu riwayat diceritakan, suatu ketika, Rasulullah Saw pulang pada waktu pagi. Beliau pasti sangat lapar saat itu. Tetapi dilihatnya tidak ada apapun untuk sarapan, bahkan yang mentah pun tidak ada karena ‘Aisyah belum ke pasar. Maka beliau bertanya, “Belum ada sarapan ya Humaira?” Aisyah menjawab dengan agak serba salah, “Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.” Rasulullah Saw lantas berkata, “Jika begitu aku puasa saja hari ini.” tanpa sedikit pun tergambar raut kesal di muka beliau.

Sikap Kasih Sayang Beliau Kepada Anak-anak


Bagaimanakah contoh kasih-sayang beliau saw kepada anak-anak? Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pintu yang bernama Al Farah. Tidak seorang pun memasuki pintu itu kecuali orang-orang yang membuat anak-anak gembira.”

Dalam riwayat yang lain diceritakan, bahwa Rasulullah Saw biasa memanjatkan doa bagi anak-anak beliau sendiri dan bagi anak-anak lain yang tinggal bersama Beliau Saw, “Ya Allah ya Tuhanku! Aku mencintai mereka ini, Engkau juga cintailah mereka ini!” Beliau tidak pernah menghukum anak-anak, selalu mendidik mereka melalui sarana kasih sayang dan doa-doa. Terdapat juga banyak riwayat yang menyebutkan Beliau Saw berkenan bermain-main bersama anak-anak. Kebanyakan orang tua mencintai anak-anak mereka, namun ada juga orang tua yang menghukum anak-anak mereka sendiri tanpa sebab yang wajar. Banyak juga orang tua yang mencintai anak-anak kandung mereka sendiri namun tidak bisa menahan sabar terhadap anak-anak orang lain, tidak menaruh kasih-sayang kepada mereka. Contoh luhur Rasulullah saw adalah mencintai dan bersikap kasih-sayang kepada semua anak dari semua kalangan. Berikut ini adalah beberapa contoh tentang kecintaan Beliau Saw kepada anak-anak.

1. At-Tirmidzi dan lainnya meriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya:

Saya melihat Rasulullah Saw. sedang menyampaikan khutbah, maka datanglah Hasan dan Husain ra. yang mengenakan baju merah, berjalan dan lalu terjatuh. Kemudian Rasulullah saw. turun dari mimbar, dan mengambil keduanya, dan mele¬takkan bersamanya. Kemudian beliau bersabda, "Sesungguhnya harta dan anak-anakmu adalah cobaan. Aku melihat ke kedua anak kecil itu berjalan dan terjatuh, maka tidaklah aku sabar, sehingga aku memotong pembicaraanku dan mengangkat ke¬duanya".

2. An-Nasa'i dan Al-Hakim meriwayatkan:

"Ketika Rasulullah Saw. shalat mengimami para ma'mum, tiba-tiba datanglah Husain, dan menunggangi pundak Rasulullah saw. ketika beliau sujud. Maka beliau melamakan sujud, hingga para ma'mum mengira terjadi sesuatu. Setelah shalat usai berka¬talah mereka, 'Engkau telah memanjangkan sujud wahai Rasulul¬lah, hingga kami mengira telah terjadi sesuatu'. Rasulullah saw. menjawab, 'Anakku (cucuku) telah menjadikan aku sebagai tunggangan, maka aku tak suka mengganggu kesenangannya sehingga ia puas".

3. Dalam Al-Ishabah dikatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bermain-main dengan Hasan dan Husain ra. Rasulullah Saw. merangkak di atas kedua tangan dan lututnya, dan kedua cucu¬nya tersebut bergelantungan dari kedua sisinya, dan merangkak bersama keduanya, sambil bersabda:

الْعِدْ لاَنِ عْمنِ أَنْتُمَا وَ جَمَلُكُمَا الْجَمَلُ نِعْمَ Sebaik-baik unta adalah unta kamu berdua, dan sebaik-baik beban muatan adalah kamu berdua.

4. Dalam Shahihain, dari Anas ra. Rasulullah Saw. bersabda: ٬ بُكاَئِهِ مِنْ اُمِّهِ وَجْدِ مِنْ أَعْلَمُ مِمَّا خْتَصِرُ اَ أَيْ صَلاَتِيْ فِى فَأَتَجَوَّزُ الصَّبِيِّ بُكاَءَ فَأَسْمَعُ اِطَالَتَهَا أُرِيْدُ وَأَنَا الصَّلاَةِ فِي لأَدْخُلُ إِنِيْ

“Sungguh ketika aku telah mulai melaksanakan shalat, sedangkan aku ingin memanjangkannya. Namun aku kemudian mendengar tangisan anak kecil, maka saya pun mempercepat shalat karena saya tahu perasaan sedih ibunya disebabkan tangisan itu”

5. Ketika Rasulullah Saw. melewati rumah putrinya, yaitu sayyidah fatimah r.a., beliau mendengar Al-Husain sedang menangis, maka beliau berkata kepada Fatimah, “Apakah engkau belum mengerti bahwa menangisnya anak itu menggangguku.” Lalu beliau memangku Al-Husain di atas lehernya dan berkata, Ya Allah, sesungguhnya aku cinta kepadanya, maka cintailah dia. Ketika Rasulullah SAW. sedang berada di atas mimbar, Al-Hasan tergelincir. Lalu beliau turun dari mimbar dan membawa anak tersebut.

6. Al-Aqraa bin harits melihat Rasulullah Saw. mencium Al-Hasan r.a. lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi aku belum pernah mencium mereka.” Rasulullah bersabda, “Aku tidak akan mengangkat engkau sebagai seorang pemimpin apabila Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu. Barang siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang, niscaya dia tidak akan di sayangi.”


Sunday, April 5, 2015

Akhlak Kejujuran Nabi Muhammad saw

KA Jusmansyah

Kejujuran adalah ruh dari kerasulan. Tidak ada seorang Rasul yang telah dipilih oleh Allah taala sebelum ia memang telah terbukti sebagai seorang yang benar. Sebelum kebenaran dan kejujuran betul-betul terwujud dalam dirinya sungguh ia tidak laik untuk menjadi Rasul. Sifat-sifat ini bersifat mutlak, sebab jika tidak ada kejujuran dan amanah maka ia akan hancur dengan sendirinya.

akhlak Rasulullah Nabi Muhammad sawMaka dari kedua sifat inilah Rasulullah saw sudah sangat masyhur di mayarakat. Beliau selalu dikatakan sebagai seorang "Shiddiq' dan 'Amiin'. Seluruh tanah arab menjadi saksi bahwa tidak pernah lahir seorang anak yang melebihi beliau dalam hal kejujuran dan kebenaran, dan tidak pernah lahir seorang anak yang melebihi beliau dalam hal kejujuran dan menjaga amanah. Itulah sebabnya dari sejak kecil sampai dewasa, jauh sebelum beliau diangkat sebagai Rasul, Beliau telah dikenal di tanah Arab sebagai seorang yang benar dan jujur.

Kejujuran adalah elemen penting di dalam kehidupan, dalam lingkungan keluarga, masyarakat, dan bernegara. Apa jadinya politik yang dipenuhi dengan kedustaan, perdagangan yang penuh dengan dusta, keluarga yang penuh kebohongan dan masyarakat yang penuh dengan dusta? Akan hancur.

Mirza Tahir Ahmad menjelaskan bahwa bangunan keagamaan tidak dapat tegak tanpa terlebih dahulu mengadakan perbaikan akhlak. Pandangan yang beranggapan bahwa asalkan manusia itu telah beriman kepada Tuhan, sekalipun ia berakhlak buruk maka hal itu tidak apa, adalah pandangan yang sangat keliru. Oleh karena itu dalam membangun suatu jemaat keagaamaan yang sangat penting adalah memperbaiki akhlak. Salah satu perbaikan akhlak tersebut adalah menegakkan kejujuran. Di dunia saat ini penyebab utama terjadinya keburukan yang telah menyebar adalah disebabkan kedustaan. Bangsa-bangsa dan kaum yang mengklaim memiliki peradaban maju tetapi falsafah mereka berdasarkan dusta, landasan kehidupan mereka adalah kedustaan, ekonomi mereka dilandasi kedustaan.

Mengenai derajat kejujuran Allah taala berfirman:
Dan, barangsiapa taat kepada Allah swt. dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang yang kepada mereka Allah swt. memberikan nikmat, yakni : nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang saleh. Dan, mereka itulah sahabat yang sejati. (Annisa: 70)

Betapa tingginya derajat kejujuran. Semua berawal dari kejujuran, tidak ada orang yang bisa menjadi orang shaleh sebelum berkata benar. Jika kejujuran dapat diraih maka akan sangat mudah meraih tahapan-tahapan berikutnya. Sebaliknya jika kejujuran ternoda dengan kedustaan maka tahapan berikutnya maka akan hilanglah integritas seseorang.

“Siapa yang tidak memperhatikan kejujuran dalam hal-hal kecil ia tidak dapat dipercaya untuk hal-hal yang penting." (Albert Einstein)

Kejujuran Rasulullah

Para nabi merupakan orang-orang yang menyajikan bukti pengakuan secara keseluruhan kaumnya terhadap kesempurnaan kejujuran dirinya, lalu kepada musuh-musuhnya pun mereka melakukan tantangan, sebagaimana yang tertera dalam Al-Quran berkaitan dengan kejujuran Nabi Muhammad saw:
Katakanlah: "Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepada kalian dan Allah tidak pula memberitahukannya kepada kalian. Sesungguhnya aku telah tinggal bersama kalian beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kalian tidak memikirkannya?" (Yunus 17). 

Yakni, "Saya bukanlah orang yang berdusta dan mengada-ada. Lihatlah, saya selama 40 tahun telah tinggal di antara kalian. Apakah kalian telah membuktikan kedustaan saya atau saya sebagai orang yang mengada-ada? Kemudian apakah sedikitpun kalian tidak dapat mengerti, yakni timbul pemahaman bahwa seorang yang sampai hari ini tidak pernah berdusta dalam corak apapun, maka hari ini kenapa dia tiba-tiba mulai berdusta atas nama Tuhan?" (Barahin Ahmadiyah; Ruhani Khazain jilid I hlm. 107-108 Edisi Baru.)

Hal inilah yang menjadi landasan berimannya Abu Bakar r.a. terhadap kenabian Rasulullah saw. Abu Bakar r.a. adalah sahabat yang tumbuh besar bersama Nabi Muhammad saw, tahu betul bagaimana akhlak sahabatnya tersebut yang selalu berkata benar. Sehingga sama sekali tidak terbersit di hati beliau bahwa Nabi Muhammad saw akan berbohong.

Sebagaimana tertera dalam sebuah riwayat bahwa Abu Bakar r.a ketika mendengar pendakwaan Rasulullah sebagai nabi maka kendati berbagai penjelasan telah diberikan oleh Rasulullah saw., beliau r.a. tidak meminta argumentasi; sebab sepanjang hidup beliau r.a. inilah yang beliau saksikan bahwa beliau saw. senantiasa berkata jujur. Beliau hanya bertanya kepada Rasululah saw. bahwa apakah benar beliau telah mendakwakan diri sebagai nabi? Maka Rasulullah ingin terlebih dulu memberikan penjelasan, tetapi dalam setiap kali ingin memberikan keterangan, inilah yang beliau tanyakan bahwa "Berilah jawaban kepada saya ya atau tidak". Ketika Rasulullah saw menjawab iya, beliau mengatakan:
"Di hadapan saya terbentang seluruh kehidupan Tuan di masa lalu. Oleh karena itu bagaimana saya bisa dapat mengatakan bahwa seorang hamba Allah yang senantiasa berkata benar tiba-tiba menjadi orang yang berdusta kepada Tuhan?" (Dalaailunnubuwwah lil Baihaqi jilid 2 hlm. 164 darul kutub alilmiyyah Bairut)
Jalan pikiran ini juga yang ada dalam diri seorang Heraclius, ketika ia menanyakan tentang Nabi Muhammad saw kepada Abu Sufyan, “Apakah sebelum pendakwaannya kalian telah menuduh dia berkata dusta?” Abu Sufyan menjawab bahwa mereka tidak pernah menuduhnya berdusta. Maka Heraklius berkata bahwa ketika Abu Sufyan memberikan jawaban bahwa Muhammad (saw) bukan seorang pendusta maka ia dapat memahami bahwa dalam keadaan seperti itu tidak pernah terjadi dimana seseorang yang tidak pernah berdusta kepada siapapun tetapi tetapi kepada Tuhan dia berdusta. (Bukhari kitab babul wahyi nomor 7.)

Tetapi faktor hidayah saja yang membuat Heraclius tidak mengikuti jalan Abu Bakar r.a. yang berimana kepada kenabian Nabi Muhammad saw.

Tetapi lain halnya dengan Abu Jahal, yang mengakui kejujuran Nabi Muhammad saw, tetapi ia tidak mau beriman. Ali r.a meriwayatkan bahwa Abu Jahal berkata kepada Nabi saw:

"Kami tidak mengatakan engkau dusta. Namun, kami menganggap dusta ajaran yang engkau bawa".

Padahal jika Abu Jahal merenungkan dengan mendalam apakah seorang yang benar dapat mengajarkan ajaran yang dusta? Orang yang benar tentu yang pertama dilakukannya adalah berdiri melawan ajaran yang tidak benar.

Pengakuan Kejujuran Rasulullah saw

Beberapa riwayat diatas adalah diantara pengakuan terhadap kejujuran Rasulullah saw, berikuti akan kami sampaikan beberapa pengakuan lagi baik dari orang yang terdekat maupun musuh beliau sendiri.

Kejujuran di Masa Muda

Di masa muda, jauh sebelum pendakwaan beliau sebagai nabi, para pemuka Arab telah mengakui kejujuran Rasulullah saw dan menyebutnya sebagai al-amin. Hal itu dapat kita jumpai dalam peristiwa pemugaran Ka’bah, suku-suku berselisih tentang siapa yang paling berhak memindahkan Hajar Aswad, sampai akhirnya diambil kesimpulan bahwa siapa yang datang paling pertama kesokan harinya maka apapun keputusannya, itulah yang akan diterima. Keesokan harinya ternyata yang datang pertama kali adalah Nabi Muhammad saw. Maka mereka yang melihat Rasulullah saw yang datang pertama, mereka langsung mengatakan: – haa dzal amiin (ini adalah orang yang jujur), kita senang karena orangnya adalah Muhammad (saw.)". Tetapi dalam pelaksanaannya Nabi Muhammad saw tidak egois melainkan beliau menyuruh untuk membawa sehelai kain, yang mana setiap pemuka suku masing-masing memegang setiap sudut kain dan mengangkat Hajar Aswad secara bersama-sama. (Assiratunnabawiyyah li ibni Hisyam isyaaratu abi umayyata bitahkiimi awwali daakhilin fakaana Rasulullah saw.)

Kesaksian istri-istri Kemudian perhatikanlah akhlak Nabi muhammad Rasulullah saw di masa muda yang beliau jalani. Setelah Khadijah r.a mendengar perihal kebenaran tutur kata, kejujuran dan keluhuran budi pekerti beliau (saw) maka beliau (r.a.) mempercayakan kepada Nabi Muhammad saw untuk berniaga dengan menyerahkan hartanya kepada beliau saw. Dan karena keluhuran akhlak beliau itulah akhirnya beliau mengirim pinangan kepada Rasulullah saw.

Istri-istri adalah pemegang rahasia baik buruknya perilaku suami, merekalah yang dapat memberikan kesaksian akan kondisi rumah tangga dan urusan-urusan sehari-hari; kesaksian mereka itulah yang bisa dipegang dan memiliki nilai bobot yang dapat dijadikan standar. Dalam satu riwayat, ummul-mu’miniin, Aisyah ra dalam meriwayatkan tentang turunnya wahyu pertama kepada Rasulullah saw. Menyebutkan bahwa Rasulullah saw. Menumpahkan kerisauan beliau kepada Ummul Mu'minin Khadijah r.a. saat turunnya wahyu pertama. Maka seraya menghibur kepada beliau Khadijah r.a. berkata kepada beliau: "Tidaklah seperti apa yang Tuan Pikirkan. Selamat sejahtera atas Tuan. Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakan Tuan. Tuan menyambung tali ikatan silaturrahmi dan senantiasa berkata benar dan berperilaku dan berbudi pekerti baik. (kitabutta'biir awwalu bab maa bada'a bihi Rasulullaah saw minal wahyi arru'ya shaalihah. )

Kesaksian Musuh

Ketika perintah wa andzir ‘asyiira takalaqrabiin–" Dan berilah kepada kerabat-kerabat engkau yang terdekat, apa yang Allah telah turunkan kepada engkau". Maka Rasulullah saw. naik ke bukit Safa dan dengan suara lantang beliau memanggil nama-nama semua kabilah Quraisy. Ketika semua orang berkumpul maka beliau bersabda bahwa,
"Hai Quraisy! Jika saya memberitahukan kepada kalian bahwa di belakang gunung itu ada lasykar yang bersembunyi yang tidak lama lagi akan melakukan penyerangan terhadap kalian, apakah kalian akan meyakini kata-kata saya?"
Padahal ketinggian bukit tersebut tidak dapat memungkinkan untuk dijadikan sebagai tempat persembunyian, tetapi oleh sebab mereka mengetahui bahwa Nabi Muhammad (saw) tidak pernah berdusta, semua dengan suara bulat mengatakan ya, kami pasti akan mempercayainya, sebab kami senantiasa mendapatkan engkau sebagai orang yang selalu berkata benar. Maka beliau saw kemudian bersabda lagi,
"Kalau begitu dengarlah, saya memberitahukan kepada kalian bahwa lasykar azab Tuhan telah sampai kepada kalian, berimanlah kepada Tuhan dan hindarilah diri kalian dari azab Ilahi". (Sirat Khatamunnabiyyin Pengarang Hadhrat Mirza Basyir Ahmad MA hlm. 128. )
Kali ini setelah mendengar kata-kata ini orang-orang Quraisy meninggalkan tempat itu dan mereka mulai mengolok-olok dan mentertawakan ajaran beliau. Tetapi satu hal yang pasti mereka sama sekali tidak mengatakan bahwa beliau pendusta. Jika ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka maka itu adalah bahwa beliau senantiasa berkata benar dan sungguh beliau senantiasa berkata benar. Standar dan mutu kebenaran beliau sedemikian tinggi, jelas dan terang sehinga tidak mungkin timbul masalah bahwa ada yang bisa menuduh beliau berdusta, kendati secara isyarah sekalipun.

Di dalam hadits Timidzi diriwayatkan bahwa orang-orang kafir suka mengatakan bahwa: “Kami tidak pernah mengatakan engkau (Rasulullah saw) berdusta. Kami hanya mengatakan bahwa ajaran yang engkau bawa itulah yang tidak disetujui.” An Nazar bin Alharits adalah salah seorang musuh Rasulullah saw. Dia pun mengatakan: “Kami sekali-kali tidak bisa mengatakan bahwa Muhammad itu pendusta.” Pada suatu ketika orang-orang kafir bermusyawarah: “Bila orang-orang datang dari luar untuk melakukan haji dan bertanya kepada kita tentang Muhammad yang mengaku jadi nabi, bagaimana orangnya, lalu apa jawaban kita?” Dari mereka ada yang mengatakan: “Kita katakan saja dia pendusta”. Mendengar itu An Nazar bin Alharits berdiri dan dengan nada tinggi mengatakan: “Aku bersumpah bahwa dia bukan pendusta dan kami tidak akan terima beliau dikatakan pendusta.”

Begitu tingginya dampak akhlak Rasulullah saw yang diterima oleh masyarakat sekitarnya. Sehingga adalah kewajiban kita untuk merenungkan sudahkan kita berpegang teguh kepada teladan sempurna tersebut, menerapkan kejujuran yang sekecil-kecilnya di dalam semua sisi kehidupan kita.
Jika kita sendiri telah dikatakan sebagi umat terbaik, maka suatu keharusan juga kita menjadi yang terbaik dalam penerapan kejujuran.
“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.(H.R Muslim)

Saturday, April 4, 2015

Pengkhidmatan Rasulullah saw Untuk Islam

Muhammad Nurzaini

Kata Pengkhidmatan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diambil dari kata Khidmat yang berarti hormat, takzim dan tenang. Sedangkan Pengkhidmatan atau Berkhidmat mengandung arti berbuat khidmat atau tenang, memberikan rasa hormat atau bersikap sopan santun, mengabdi kepada sesuatu atau setia kepada sesuatu. Sehingga pengkhidmatan bermakna sesuatu pekerjaan atau perbuatan yang mampu mendatangkan manfaat serta menjadikan segala sesuatunya menjadi lebih dekat. Adapula padanan kata lain adalah Pengabdian yang memiliki arti tidak jauh berbeda dengan kata Pengkhidmatan.

Islam Agama Pengkhidmatan

Allah Swt berfirman didalam Surah Ali Imran 3:113
“Ditimpakan kepada mereka kehinaan dimana saja mereka ditemukan/berada kecuali mereka berpegang teguh kepada tali (janji) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia...
kaligrafi Nabi Muhammad
Dari ayat ini Allah Swt menjelaskan bahwa supaya manusia terhindar dari tertimpa suatu kehinaan dan menjadikan hidupnya selamat baik didunia ini maupun juga diakhirat, maka perlu untuk senantiasa menjalin hubungan yang baik dengan Allah Swt serta menjalin hubungan yang baik pula dengan sesama manusia.

Melakukan Hablumminallah diperlukan suatu pengkhidmatan atau pengabdian dari manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya kepada Allah Swt sebagai penciptanya. Inilah bagian dari Dimensi Teologis (Ritual) yang dalam Islam dikenal dengan nama ibadah dan Islam telah merangkumnya dalam Rukun Islam yang 5 (lima) Perkara. Karena ibadahlah yang sejatinya bisa menciptakan kedekatan antara manusia selaku hamba-Nya dengan Allah Swt sebagai Tuhannya. Prinsip ini pula yang seharusnya menurut Al-Quran menjadi dasar dari tujuan hidup manusia didunia. Sebagaimana Allah Swt berfirman didalam Surah Adz-Dzariyat 51:57:
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”
Hanya saja manusia selama hidup didunia, dituntut tidak hanya fokus pada Dimensi Teologis semata, yg berupa ibadah kepada Tuhan. Akan tetapi juga sangat dianjurkan adanya fokus terhadap Dimensi Sosiologis (Sosial) yakni segala bentuk pengkhidmatan kepada sesama umat manusia. Inilah yang dikenal dalam Islam dengan istilah Hablumminannaas. Jadi pengkhidmatan didalam Islam menjadi suatu keharusan bagi terwujudnya Hablumminallah dan Hablumminannaas yang baik.

Rasulullah saw dan Pengkhidmatan

Pribadi Rasulullah saw selain terkenal dengan kejujurannya sehingga beliau saw diberi julukan Al-Amin (sijujur), juga merupakan pribadi yang suka menolong atau membantu orang lain terutama orang-orang yang lemah. Mulai dari meringankan penderitaan orang-orang yang kesulitan, perhatian terhadap orang-orang miskin, perlakuan yang manusiawi terhadap para budak dan masih banyak lagi hal lain yang biasa beliau lakukan. Meskipun beliau saw lahir dari keturunan yang bisa dikatakan terpandang dijazirah Arab, tapi beliau saw senantiasa menyukai kehidupan yang sederhana. Dengan kata lain beliau saw adalah pribadi yang sangat suka berkhidmat, bahkan hal itu sudah menjadi kebiasaan atau tabiat beliau saw dari sejak usia kanak-kanak.

Padahal jika kita membaca sejarah hidup beliau saw dimasa kanak-kanak justru kita akan mendapatkan bagaimana kehidupan beliau saw ada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, seperti tidak adanya kehadiran ayahanda tercinta karena lebih dahulu dipanggil oleh yang Maha Kuasa sebelum beliau saw dilahirkan kedunia. Lalu dalam usia yang masih sangat belia ibunda beliau tercinta pun meninggal dunia, tapi semua itu tidak membuat beliau saw menjadi pribadi yang lemah dan putus asa dalam menjalani hidup. Bahkan beliau saw masih mampu menjadi pribadi yang bisa membangkitkan semangat hidup bagi orang lain apabila mengalami kondisi yang serupa.

Pengkhidmatan Rasulullah saw Untuk Islam

Allah Ta’ala dalam Al-Quran Surah Al-An’am 6:163 berfirman:
“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, pengorbananku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam”
Dari ayat ini Allah Swt ingin mengingatkan kepada manusia bahwa shalat atau ibadah, pengorbanan, hidup dan mati yang meliputi seluruh bidang amal perbuatan manusia didunia dapat dipersembahkan adalah semata hanya kepada Allah Swt. Ini pulalah yang diemban oleh Hadhrat Muhammad Mustofa saw ketika Allah Swt mengangkatnya menjadi Nabi dan Rasul ditengah bangsa atau masyarakat yang jahiliyah. Dimana kepada beliau saw diperintah untuk menyatakan bahwa semua amal ibadah beliau saw, semua pengorbanan yang dilakukan oleh beliau saw dan seluruh aspek kehidupan beliau saw dipersembahkan hanya untuk berbakti kepada-Nya, maka bila dijalan agama mendapatkan kematian, itupun guna meraih keridhaan-Nya.

Apalagi berbicara tentang pengkhidmatan Rasulullah saw untuk Islam tentu hal ini berkaitan erat dengan tugas besar beliau saw yang selama 23 tahun diamanatkan sebagai Nabi dan Rasul. Bahkan Allah Swt dalam Surat Al-Anbiya 21:108 berfirman bahwa Rasulullah saw adalah Utusan Tuhan yang Rahmatan Lil’Aalamiin“Dan tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai Rahmat bagi seluruh alam”. Oleh karenanya Rasulullah saw adalah pembawa rahmat untuk seluruh umat manusia, sebab amanat beliau saw tidak terbatas hanya kepada suatu negri atau kaum tertentu saja. Dan dengan perantaraan beliau saw, bangsa-bangsa dunia telah diberkati seperti belum pernah mereka diberkati sebelum itu.

Pengkhidmatan Rasulullah saw di Mekkah

23 tahun bukanlah waktu yang sebentar, ketika beliau saw mulai mendakwakan diri sebagai Nabi dan Rasul atas perintah-Nya, dalam upaya menyampaikan ajaran Agama Islam yang dibawanya beliau saw cukup banyak mendapatkan rintangan. Selain dari masyarakat yang kehidupannya sangat jahiliyah ada orang-orang musyrik yang senantiasa merintangi dan menghalang-halangi dakwah beliau saw, karena merasa dengan kedatangan beliau saw yang mengajarkan agama Islam, menjadi ancaman tersendiri bagi keyakinan mereka selama ini dalam menyembah berhala. Lalu orang-orang kafir yang tidak henti-hentinya mengancam keselamatan nyawa beliau saw, karena berfikir kedatangan beliau saw akan mengurangi wibawa dan kekuasaan mereka. Belum lagi ulah orang-orang munafik dengan berbagai manuvernya yang cukup membahayakan, sehingga tidak jarang jika beliau saw dan umat Islam terkadang mengalami kerugian berat baik fisik maupun mental.

Ketika beliau saw pertama kali mendapatkan amanat dari Allah Swt, keadaan beliau saw menjadi begitu sangat gelisah dengan wajah yang begitu muram. Atas pertanyaan istri beliau yaitu Khadijah ra, beliau saw terangkan seluruh pengalamannya tersebut: “Seorang lemah seperti aku ini, bagaimana aku dapat melaksanakan tugas yang Tuhan telah berkehendak meletakkannya pada pundakku?”. Istri beliau lalu menjawab: “Demi Allah, Dia tidak akan menurunkan Firman-Nya supaya tuan gagal dan terbukti tidak layak, lalu kemudian meninggalkan tuan. Bagaimana Tuhan dapat berbuat demikian, sedangkan tuan adalah orang yang baik dan ramah terhadap sanak saudara, menolong simiskin dan terlantar dengan meringankan bebannya? Tuan menghidupkan kembali sifat-sifat baik yang telah lenyap dari negri kita. Tuan memperlakukan tamu-tamu dengan penuh kehormatan dan membantu orang-orang yang dalam kesusahan. Dapatkah tuan dimasukkan oleh Tuhan dalam percobaan apapun?” (Bukhari)

13 tahun masa Kenabian beliau saw berada di Mekkah sudah mengalami ujian yang sangat berat, namun demikian hal tersebut tidak menyurutkan langkah beliau saw dalam melakukan pengkhidmatan untuk Islam demi Allah Swt. Sejak lama sekali bangsa Arab tidak lagi kedatangan Guru yang berpegang pada Tauhid dan sekali kemusyrikan menyelinap serta berakar dalam sesuatu masyarakat, menjadi tersebarlah kepercayaan itu seperti tanpa batas dan tepi. Bangsa Arab tahu benar bahwa Nabi Ibrahim as itu adalah Guru Agama yang berpegang pada Tauhid, berketuhanan Yang Maha Esa. Meskipun demikian mereka tetap saja berpegang pada Polytheisme (meyakini tuhan banyak) dan melakukan perbuatan-perbuatan yang musyrik. Mereka katakan bahwa Nabi Ibrahim as adalah orang suci dan mulia, beliau as dapat mencapai perhubungan dengan Tuhan tanpa perantara, tapi orang-orang Mekkah biasa tidak mungkin mencapai itu.

Untuk mencari dan mendapatkan perantaraan itu kaum Mekkah telah membuat patung beberapa orang suci dan mukhlis yang kemudian mereka sembah. Dalam catatan sejarah jumlah berhala sembahan mereka semacam itu setiap saat terus bertambah bahkan didalam Ka’bah telah mencapai 360 patung berhala. Menurut Islam, pendirian yang demikian itu adalah bodoh dan tidak masuk akal sehingga berdampak pada kebiasaan-kebiasaan buruk dalam keseharian hidup mereka. Adapun Rasulullah saw datang adalah untuk menghapuskan kebiasaan buruk tersebut lalu memberikan petunjuk agar mereka melangkah diatas jalan yang lurus.

Hal inilah yang kemudian memunculkan kemarahan dan kebencian beberapa kaum yang ada di Mekkah terhadap beliau saw, sehingga berbagai cara dan upaya dilakukan untuk menghentikan upaya Rasulullah saw tersebut. Perlawanan terus meningkat, pada waktu itu Rasulullah saw dan para pengikutnya terus menerus berusaha sekuat tenaga untuk menjelaskan ajaran Islam kepada kaum Mekkah. Ketika ajaran Islam disampaikan kepada kaum Mekah, ada orang-orang yang berwatak baik dan memperhatikan mulai terpengaruh. Pemuka-pemuka Mekkah mulai mengerti apa yang sedang terjadi. Mereka menjumpai paman Rasulullah saw (Abu Thalib) dan mengatakan kepadanya:

“Tuan adalah salah seorang dari pemimpin-pemimpin kami dan demi kepentingan tuan, kami telah membiarkan keponakan tuan yang bernama Muhammad hingga kini. Tetapi saatnya telah tiba untuk menghentikan keributan ini dikalangan kita. Kami menuntut agar ia menghentikan mencela berhala-berhala kami. Biarlah ia menyebarkan bahwa Tuhan itu satu, tetapi janganlah ia mencela berhala-berhala kami. Jika ia setuju, ketegangan dan permusuhan kita akan berhenti. Kami meminta supaya tuan menjelaskan ini kepadanya. Tetapi jika tuan tidak sanggup berbuat demikian, maka salah satu akan terjadi, yaitu tuan harus meninggalkan keponakan tuan atau kaum tuan akan meninggalkan tuan. (Hisyam)

Abu Thalib dihadapkan dengan pilihan yang berat, meninggalkan keponakannya adalah sangat berat, tetapi tidak kurang beratnya ditinggalkan oleh kaumnya sendiri. Orang Arab tidak begitu mengindahkan harta karena kehormatannya terletak pada kepemimpinan. Mereka berjuang untuk kaumnya dan kaumnya untuk mereka. Menghadapi situasi yang demikian Abu Thalib sangat gelisah, dipanggilnya Rasulullah saw dan menerangkan tuntutan-tuntutan pemuka Mekkah: “jika engkau tidak setuju, kata Abu Thalib dengan berlinang air mata. Maka aku harus meninggalkan engkau atau kaumku akan meninggalkan aku”.

Rasulullah saw sangat kasihan melihat pamannya dan dengan berlinang air mata beliau bersabda:
“Saya tidak meminta paman meninggalkan kaum paman. Saya tidak meminta paman melindungi saya. Bahkan sebaiknya tinggalkanlah saya dan berpihaklah kepada kaum paman. Tetapi Tuhan yang Tunggal menjadi saksi dan saya mengatakan, andaikata mereka meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku, saya tidak akan berhenti menyebarkan kebenaran akan ke-Esaan Tuhan. Saya harus berjuang sampai mati. Paman dapat menetapkan pilihan paman (Hisyam Zurqani)

Jawaban gagah, tegas dan sungguh-sungguh itu telah membuka mata Abu Thalib. Dia termenung beberapa saat. Walaupun tidak berani beriman, ia merasa beruntung dapat menyaksikan sesuatu yang agung, luhur dan rasa tanggung jawab atas kewajiban. Sambil memandang kepada Rasulullah saw ia berkata:
“Wahai keponakanku, silahkan teruskan tugasmu, laksanakanlah kewajibanmu. Biarlah kaumku meninggalkanku. Aku besertamu (Hisyam)

Dikarenakan keaniayaan demi keaniayaan banyak dialami oleh umat Islam, Rasulullah saw mengumpulkan para pengikutnya dan sambil menunjuk kebarat beliau mengatakan tentang suatu negri disebrang lautan yaitu Abessinia, dimana orang tidak dibunuh karena berganti agama, dimana mereka bisa berbakti kepada Tuhan tanpa dianiaya dan dimana ada seorang raja yang adil. Hijrah ke Abessinia ini sedikit jumlahnya dan sangat mengharukan.

Pengkhidmatan Rasulullah saw di Madinah

Islam telah meluas sampai Madinah melalui para peziarah yang datang ke Mekkah. Rasulullah saw menjumpai tiap-tiap rombongan orang yang ada dan menjelaskan kepada mereka tentang ke-Esaan Tuhan. Beberapa orang Madinah memperhatikan lalu menjadi tertarik masuk kedalam Islam meskipun terkadang kaum Mekkah mengusir orang-orang yang mau mendengarkan dakwah Rasulullah saw.

Ketika keaniayaan telah memuncak, makin lama makin keras dan tak terperikan beberapa orang Muslim telah meninggalkan Mekkah. Walaupun demikian mereka tidak menyimpang sedikitpun dari jalan yang mereka telah memilihnya, hatinya makin membaja, imannya kokoh dan kuat. Sampai akhirnya kaum Mekkah mengadakan musyawarah besar-besaran dan diputuskan untuk mengadakan pemboikotan menyeluruh terhadap orang-orang Muslim. Sampai akhirnya seluruh umat Islam yang ada di Mekkah hijrah ke Madinah.

Dalam beberapa hari kedatangan Rasulullah saw di Madinah, suku-suku penyembah berhala disana mulai tertarik kepada Islam dan bagian besar dari antara mereka masuk Islam. Beberapa orang yang dalam hatinya tidak tertarik, ikut masuk juga. Dengan demikian sebagian golongan menggabungkan diri, tetapi didalam hatinya mereka bukan Muslim. Anggota-anggota golongan inilah yang kemudian menjalankan siasat jahat dalam sejarah berikutnya. Jadi belum ada keamanan dan ketentraman yang pasti bagi kaum Muslimin. Di Madinah sendiri segolongan Arab hanya pada lahiriahnya saja masuk Islam tapi batinnya adalah musuh yang tidak kenal damai terhadap Rasulullah saw, disamping itu masih ada kaum Yahudi yang terus berkomplot terhadap beliau saw.

10 tahun Rasulullah saw berada di Madinah, berbagai upaya menyampaikan kebenaran agama Islam dilakukan terutama mengirimkan surat seruan atau ajakan untuk menerima Islam kepada berbagai Raja-raja dan para pemimpin yang ada dibeberapa negara. Sementara kondisi yang demikian buruk sampai akhirnya berbagai peperanganpun tidak dapat dihindari. Pasang surut berbagai peristiwa terjadi sampai akhirnya Rasulullah saw berhasi juga menaklukkan Mekkah. Ketika beliau saw berhasil menaklukkan Mekkah, yang pertama sekali beliau lakukan adalah membersihkan Ka’bah dari berhala-berhala yang ada didalamnya dan beliau memaafkan semua musuh-musuh beliau yang selama ini begitu sengit memusuhi bahkan berusaha untuk membunuh beliau saw.




 

Copyright © ISLAM DAMAI. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com