ISLAM AGAMA CINTA

Friday, August 19, 2016

Kemuliaan Alquran dan Isu-isu Kontemporer

Oleh : Iskandar Ahmad Gumay

“Hai manusia ! Sesungguhnya telah datang kepadamu suatu nasihat dari Tuhan-mu, dan penyembuh bagi apa yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang mukmin. (QS. Yunus: 58

Al-quran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata mengenai petunjuk dan furqan. (QS. Al-Baqoroh: 186)

pada kesempatan ini saya mendapatkan tugas untuk menyampaikan ceramah dengan judul Kemuliaan Alquran dan Isu-isu kontemporer.

Dalam ayat diatas, Allah swt. telah mensifati Alquran dalam berbagai sifat kemuliaan. Alquran disebut sebagai Muaizhah, Syifaa, Hudan, Bayyinah dan nama sifat kemuliaan lainnya. Dimana inti dari sifat-sifat mulia tersebut menunjukan bahwa Alquran mengandung ajaran-ajaran yang luhur bagi kemuliaan manusia.

Alquran adalah kulminasi puncak kebijaksanaan. Didalamnya hanya ada kebenaran haqiqi yang mengungkapkan segala hal. Ia adalah Nur diatas Nur, dan menjadi penyejuk bagi pikiran manusia. Adalah yang Maha Pengasih yang telah mengajarkan Al-Quran dengan mewahyukan Alquran sebagai Kitab yang berisi nilai kebenaran, dan sebagai neraca penimbang kebenaran. Kitab ini menjadi petunjuk bagi umat manusia serta mengandung rincian petunjuk tersebut. Alquran membedakan kebenaran dan kedustaan melalui logikanya serta menjadi makalah penentu dan terbebas dari segala bentuk keraguan.

Allah s.w.t. telah menurunkan Kitab ini sebagai pemutus dalam masalah-masalah yang menimbulkan perselisihan, agar mereka yang beriman mendapat petunjuk dan rahmat. Kitab Al-Quran merangkum keseluruhan kebenaran yang tersebar dalam Kitab-kitab samawi terdahulu. Kebatilan tidak dapat mendekatinya, baik dari depan atau pun belakang, karena didalamnya terkandung bukti-bukti nyata bagi manusia yang akan menjadi petunjuk dan rahmat bagi mereka yang beriman.

Kitab Suci Al-Quran merupakan mutiara yang langka. Bagian luarnya adalah Nur, bagian dalamnya pun Nur, begitu pula bagian atas dan bawahnya adalah Nur semata, serta Nur disetiap kata di dalamnya. Kitab ini merupakan taman ruhani yang rangkaian buahnya mudah dijangkau, dan melaluinya mengalir banyak sungai. Semua bentuk kemaslahatan dapat ditemukan di dalamnya dan setiap obor penunjuk jalan dinyalakan daripadanya. (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 545-546, London, 1984).

Kemaslahatan sesuatu hal dapat dilihat dengan cara apakah benda itu telah memenuhi tujuan diciptakannya?. Sebagai contoh, jika seekor lembu dibeli dengan tujuan untuk membajak, maka kebaikannya diukur dari kemampuan lembu itu melaksanakan fungsinya dalam meluku tanah. Begitu pula jelas kiranya bahwa tujuan dari sebuah Kitab samawi adalah untuk menyelamatkan para penganutnya dari kehidupan penuh dosa melalui ajaran-ajaran dan pengaruhnya. Kitab itu harus mampu memberikan kehidupan yang bersih kepada mereka, dan setelah mensucikannya lalu mengaruniakan wawasan yang sempurna guna mengenali Tuhan serta menciptakan hubungan kasih dan pengabdian di antara mereka dengan Wujud Maha Esa, lalu menjadi sumber mata air semua kegembiraan. Sesungguhnya kecintaan inilah yang menjadi sumber keselamatan dan yang menjadi surga, dimana semua keletihan, kegetiran, kesakitan dan siksaan dapat terobati. (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 305-309, London, 1984).

Dalam konteks kekinian Alquran hadir untuk memberikan guidance secara mendalam tentang bagaimana cara mencapai kemuliaan duniawi melalui penegakkan ajaran-ajaran rohani. Sejalan dengan pergerakan zaman yang demikian progresif, saat ini beragam permasalahan pun muncul dengan semakin kompleksnya, baik permasalahan yang datang dari kalangan intern maupun ekstern umat Islam. Saat ini kita tengah dihadapkan dengan berbagai isu yang berdampak buruk pada nilai-nilai kemanusiaan. Sebut saja isu Perang atas nama agama, Pembunuhan atas nama agama, Pendirian Negara Islam, Penegakkan Syariat Islam, Kudeta terhadap pemerintahan yang sah, Isu Gender, Eksploitasi terhadap perempuan, Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dll. Tentunya isu-isu ini memerlukan jawaban yang tepat, agar jangan terjadi kebuntuan dalam berpikir dan bertindak, yang dapat menjerumuskan umat manusia dalam lembah kehinaan dan kenistaan. Dalam kesempatan yang terbatas ini tentunya sulit untuk dapat menjawab isu-isu diatas secara mendalam, oleh karenanya hanya beberapa isu saja yang akan saya bahas dalam ceramah ini yang berdasar pada ajaran dari Hz. Masih Mau’ud as. dan para Khulafa beliau.

Peperangan Dalam Islam

Terkait Isu Perang dan pembunuhan yang dilakukan atas nama Agama, yang saat ini kerap diperagakan oleh kelompok radikal seperti ISIS. Telah menimbulkan dampak buruk bagi kemuliaan agama Islam dan mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Agama Islam sejatinya dengan tegas melarang segala bentuk agresi, adapun Perang yang diajarkan dalam Islam dilakukan semata-mata sebagai bentuk izin dari Allah swt. atas suatu kondisi-kondisi tertentu yang membahayakan keamanan, memperluas peperangan, lenyapnya kebebasan beragama, hilangnya usaha mencari kebenaran, dan perang diizinkan dalam rangka menegakkan perdamaian.

Dalam sejarah kita menyaksikan contoh peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. Selama di Mekkah, beliau dan para sahabat mengalami penderitaan yang luar biasa, namun sedikit pun beliau saw. tidak pernah melakukan agresi. Dan ketika beliau terpaksa harus hijrah ke Medinah, dan musuh tetap bertekad kuat untuk membinasakan Islam, maka atas izin Allah swt. beliau terpaksa menghadapi musuh dalam rangka membela kebenaran dan menegakkan kebebasan beragama.

Dalam Alquran surah Al-Haj (22) :40 — 42 kita jumpai:

Telah diperkenankan untuk mengangkat senjata bagi mereka yang telah diperangi, disebabkan mereka telah diperlakukan dengan aniaya dan sesungguhnya Allah berkuasa menolong mereka. Orang-orang yang telah diusir dari rumah mereka tanpa sebab yang benar, hanya karena mereka berkata, "Tuhan kami ialah Allah." Dan sekiranya Allah tidak menangkis sebagian orang dengan perantaraan sebagian yang lain, niscayalah biara-biara serta gereja-gereja Nasrani dan rumah-rumah ibadah Yahudi serta mesjid-mesjid yang di dalamnya nama Allah banyak disebut telah dibinasakan. Dan pasti Allah akan menolong siapa yang menolong Dia. Sesungguhnya Allah Mahakuasa, Mahaperkasa. Mereka yang, jika Kami teguhkan mereka di bumi ini, akan mendirikan sembahyang dan membayar zakat dan mengajak kepada kebajikan dan melarang dari kejahatan. Dan kepada Allah-lah terserah akibat dari segala urusan.
Ayat-ayat diatas bermaksud mengatakan, bahwa izin berperang telah diberikan kepada pihak yang menjadi korban agresi. Izin itu bijaksana, sebab jika Tuhan tidak mencegah si kejam melalui kemenangan orang yang bertakwa, maka tak akan ada kebebasan menganut agama dan ibadah di dunia. Tuhan harus menolong mereka yang menegakkan kemerdekaan dan ibadah. Oleh karena itu perang diizinkan jika suatu kaum telah lama menderita dari agresi yang buas, yang berusaha merintangi agama yang dianut oleh si korban. Kewajiban si korban selanjutnya ialah, jika dan bilamana ia meraih kekuasaan, maka ia harus menegakkan kebebasan beragama dan melindungi semua agama serta semua tempat keagamaan. Kekuasaannya harus dipergunakan bukan untuk kebesaran diri sendiri, melainkan untuk mengurus si miskin, menegakkan kesejahteraan bangsa dan mewujudkan kemajuan negara, lalu meningkatkan keamanan khalayak umum.

Ajaran ini demikian sempurna, jelas dan tegas. Ajaran ini mengumumkan kenyataan bahwa kaum Muslimin dimasa permulaan telah mengadakan peperangan semata-mata karena mereka terpaksa. Peperangan agresi dilarang oleh Islam. Kepada kaum Muslimin dijanjikan kekuasaan politik, tetapi diperingatkan bahwa kekuasaan itu tidak boleh dipergunakan untuk kebesaran dan keagungan sendiri, melainkan untuk memperbaiki nasib si miskin dan memelihara keamanan dan kemajuan masyarakat.

Dalam Alquran surah Al-Baqoroh (2) :191—194 kita jumpai:

Dan perangilah di jalan Allah, orang-orang yang memerangimu, namun jangan kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas. Dan bunuhlah mereka, yaitu pelampau-pelampau batas ini di mana pun mereka kamu dapati, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusirmu, dan fitnah itu lebih buruk daripada pembunuhan. Dan, janganlah kamu memerangi mereka di dekat Masjidilharam sebelum mereka memerangimu di sana. Tetapi, jika mereka memerangimu, maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. Tetapi, jika mereka berhenti, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan pergilah mereka sehingga tak ada gangguan lagi, dan agama itu dianut hanya untuk Allah. Tetapi, jika mereka berhenti, maka ingatlah bahwa tak boleh lagi ada permusuhan kecuali terhadap orang-orang aniaya.
Dalam mengkritisi perang yang dilakukan oleh ISIS, kita dapat melihat betapa bertolak-belakangnya konsep dan praktek perang yang mereka lakukan. Sejatinya perang hanya dilakukan oleh pihak yang saling bermusuhan. Secara kategoris ayat-ayat diatas mengajarkan peraturan-peraturan peperangan, diantaranya:

  1. Perang boleh ditempuh hanya semata-mata untuk Tuhan dan bukan untuk kepentingan pribadi, bukan untuk kebesaran sendiri atau untuk kemajuan kepentingan-kepentingan lain apa pun.
  2. Kita berperang hanya melawan siapa yang menyerang kita terlebih dahulu.
  3. Kita memerangi hanya pihak yang memerangi kita. Kita tidak boleh berperang dengan mereka yang tidak terlibat dalam peperangan.
  4. Bahkan sesudah musuh telah memulai lebih dahulu menyerang, tetap menjadi kewajiban kita untuk berperang dalam batas-batas norma. Memperluas peperangan, baik secara teritorial atau mengenai pemakaian senjata, adalah tidak benar.
  5. Kita boleh perang hanya dengan angkatan perang yang digerakkan oleh musuh. Kita tidak boleh memerangi orang-orang yang lainnya di pihak musuh.
  6. Dalam peperangan, kekebalan harus diberikan kepada segala upacara dan ibadah keagamaan. Jika musuh membiarkan aman tempat-tempat upacara keagamaan diadakan, maka kaum Muslimin juga harus berhenti berperang di tempat-tempat seperti itu.
  7. Jika musuh menggunakan tempat peribadatan sebagai pangkalan untuk melakukan serangan, maka kaum Muslimin diperkenankan membalas serangan itu. Jika kaum Muslimin berbuat demikian maka tidak akan dipersalahkan. Tidak diizinkan berperang bahkan di dekat tempat-tempat keagamaan. Serangan terhadap tempat-tempat agama dan membinasakannya atau memberi kemudaratan dalam bentuk apa pun terhadapnya sama sekali dilarang. Suatu tempat keagamaan yang dipergunakan sebagai pangkalan operasi-operasi boleh mendapat balasan. Pertanggung-jawaban terhadap kerusakan yang ditimpakan kepada tempat itu kemudian dilimpahkan kepada musuh, tidak kepada kaum Muslimin.
  8. Jika musuh mengetahui bahaya dan kekeliruan penyalahgunaan tempat keagamaan sebagai pangkalnya lalu memindahkan medan pertempuran, maka kaum Muslimin harus mengadakan penyesuaian terhadap perubahan itu. Kenyataan bahwa musuh memulai serangan dari suatu tempat keagamaan, ini tidak boleh dipakai sebagai alasan untuk menyerang tempat itu. Sebagai penghormatan, kaum Muslimin harus mengalihkan medan pertempuran segera sesudah musuh berbuat serupa.
  9. Peperangan dilangsungkan hanya selama gangguan terhadap agama dan gangguan terhadap kemerdekaan beragama masih berjalan. Jika agama telah bebas dan gangguan kepada agama tidak diperkenankan lagi dan musuh menyatakan dan mulai bertindak sesuai dengan itu, maka tidak boleh ada peperangan lagi, walaupun musuh yang memulai peperangan. (QS. 8:39—41 dan QS. 8 : 62—63)
  10. Alquran pun mengajarkan tentang tawanan perang : Tidak layak bagi seorang nabi mempunyai tawanan perang sebelum ia sungguh-sungguh berperang di muka bumi. Jika kamu mengambil tawanan selain dalam peperangan yang sungguh-sungguh, maka berarti bahwa kamu menginginkan harta benda duniawi, padahal Allah menghendaki akhirat bagimu; dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana (9:68). Tidak layak bagi seorang nabi membuat musuhnya jadi tawanan-tawanan, kecuali sebagai akibat perang yang membawa banyak pertumpahan darah. Cara kebiasaan menawan (menyandra) suku-suku musuh tanpa perang dan pertumpahan darah yang berlaku sampai — dan bahkan sesudah — Islam lahir, diharamkan dalam ayat ini. Yang boleh dijadikan tawanan-tawanan ialah perajurit-perajurit dan setelah pertempuran usai.
  11. Peraturan membebaskan tawanan-tawanan juga ditetapkan dalam QS. 47:5.
Selain poin-poin diatas, beberapa peraturan dari Rasulullah saw terkait peperangan.

  1. Kaum Muslimin sama sekali dilarang mencacati mayat (Muslim).
  2. Kaum Muslimin dilarang tipu-menipu (Muslim).
  3. Anak-anak tidak boleh dibunuh, begitu pula wanita (Muslim).
  4. Pendeta-pendeta dan pejabat-pejabat tugas keagamaan dan pemimpin-pemimpin keagamaan tidak boleh dicampur-tangani (Tahawi).
  5. Orang-orang tua dan lemah dan wanita-wanita dan anak-anak tidak boleh dibunuh. Kemungkinan damai senantiasa harus diperhatikan (Abu Daud).
  6. Jika kaum Muslimin masuk di daerah musuh, mereka tidak boleh berbuat sewenang-wenang terhadap khalayak penduduk. Mereka tidak boleh mengizinkan perlakuan tidak baik terhadap rakyat jelata (Muslim).
  7. Balatentara Muslim tidak diperkenankan berkemah di suatu tempat yang dapat menyebabkan timbul rasa gelisah pada khalayak umum. Apabila balatentara itu bergerak, hendaknya berhati-hati agar jangan membendung jalan, begitu pula jangan menyebabkan adanya keresahan pada pemakai-pemakai jalan lainnya.
  8. Mencacati muka orang tidak diperkenankan (Bukhari dan Muslim).
  9. Kerusakan dan kerugian yang ditimpakan kepada musuh harus ditekan sampai sekecil-kecilnya (Abu Daud).
  10. Jika tawanan-tawanan perang ada dalam penjagaan, keluargakeluarga dekat harus ditempatkan bersama-sama (Abu Daud).
  11. Tawanan-tawanan hendaknya hidup nyaman, kaum Muslimin harus lebih memperhatikan kenyamanan tawanan-tawanan mereka daripada kenyamanan mereka sendiri (Tirmidhi).
  12. Duta-duta atau delegasi-delegasi dari negeri-negeri lain harus dihormati. Kesalahan-kesalahan atau kekurangan tatakrama mereka harus dimaklumi (Abu Daud, Kitab A1-Jihad).
  13. Jika orang-orang Muslim berdosa memperlakukan dengan cara buruk seorang tawanan perang, penebusannya ialah harus membebaskan tawanan itu tanpa memungut uang tebusan.
  14. Jika seorang orang-Muslim menjamin hidup seorang tawanan perang, maka tawanan itu harus diberi makan dan pakaian yang sama seperti orang Muslim itu sendiri (Bukhari).
  15. Bangunan-bangunan umum dan pohon-pohon buah (dan tanaman-tanaman pangan) tidak boleh dibinasakan (Mu'atta – Hz. Abu Bakar Sidiq ra.)
Saat ini ketika kita melihat segala bentuk perang yang dilakukan oleh kelompok Radikal seperti ISIS, maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa tindakan ISIS sangat bertentangan dengan Ajaran Alquran dan contoh mulia Rasulullah saw. Serta dengan sederhana dapat kita katakan bahwa segala bentuk kekejian yang tengah dilakukan oleh ISIS, tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama Islam.

Namun disisi lain, muNcul beberapa kritikan terhadap agama Islam terkait dengan adanya izin perang dalam agama Islam. Tokoh dunia seperti Mahatma Ghandi mengajarkan bahwa sekalipun bila kita dipaksa berperang, maka kita tidak boleh berperang, kita tidak boleh berkelahi. Menyikapi kritikan ini, yang patut dipahami bahwa ajaran ini sama sekali belum pernah di-praktekkan di masa mana pun dalam sejarah dunia; belum pernah diuji atau dicoba. Oleh karenanya, kita tidak dapat mengetahui bagaimana nilai pelajaran ini dalam urusan peperangan dan perdamaian. Realitanya Ghandi telah berusia cukup panjang menyaksikan Pemerintahan India mencapai kemerdekaan politik. Walaupun demikian Pemerintah tidak juga membubarkan angkatan perangnya dan angkatan-angkatan bersenjata lainnya, bahkan Pemerintah merencanakan untuk mengangkat kembali opsir-opsir India yang membentuk diri menjadi Angkatan Bersenjata Nasional India. Pada tahap-tahap akhir Perang Dunia yang lalu. Ghandi sendiri, dalam beberapa peristiwa, telah memperdengarkan suaranya untuk membela kejahatan-kejahatan dan kekerasan, dan meminta dengan keras untuk membebaskan mereka yang melakukan kejahatan-kejahatan demikian. Hal itu sedikitnya memperlihatkan bahwa pelajaran Ghandi tidak dapat dipraktekkan dan bahwa Ghandi dan begitu juga semua pengikutnya mengetahui hal itu. Tidak ada contoh amal telah dikemukakan untuk membuktikan kepada dunia, bagaimana politik non-violence (anti kekerasan) dapat diterapkan jika perkelahian bersenjata timbul antara bangsa dan bangsa, dan negara dan negara, atau bagaimana politik non-violence dapat mencegah atau menghentikan perang. Mengajarkan suatu cara menghentikan peperangan, tetapi tak pernah mampu mengemukakan gambaran mengenai pengamalan cara itu, menunjukkan bahwa cara itu tak dapat dipraktekkan. Oleh karena itu, pengalaman dan kebijaksanaan manusia mengacu hanya kepada satu cara pencegahan atau penghentian perang; dan cara itu telah diajarkan dan diamalkan oleh Yang Mulia Hz. Rasulullah s.a.w.

Sistem Negara Islam

Isu selanjutnya adalah terkait dengan sistem pemerintahan suatu negara. Harus dengan sistem apakah sebuah negara menegakkan pemerintahannya? Apakah harus dengan sistem Negara Islam, sistem Demokrasi, Kerajaan atau sistem lainnya. Sejauh menyangkut politik nasional, kita perlu menelaah, apakah kegagalan suatu sistem politik menjadi penyebab kesengsaraan dan kemarahan rakyat, ataukah ada sebab lainnya?. Apakah sistemnya yang harus disalahkan atau mereka yang mengendalikan sistem tersebut?.

Islam sejatinya sangat menekankan nilai moralitas yang mutlak dalam semua aspek kegiatan manusia, termasuk di bidang politik. Dalam Islam tidak ada ditentukan suatu sistem politik sebagai sistem yang paling baik dibanding sistem yang lain. Memang benar bahwa Al-Quran mengemukakan sistem demokratis, dimana para pemimpin dipilih oleh rakyat, namun hal ini tidak merupakan satu-satunya sistem yang direkomendasikan oleh Islam. Juga tidak menjadi prerogatif dari suatu agama yang universal untuk memilih suatu bentuk sistem pemerintahan tanpa memperhatikan bahwa sulit menetapkan sistem tunggal yang berlaku bagi semua daerah dan masyarakat di dunia.
Islam tidak menolak suatu sistem politik apa pun di dunia ini, dan Islam menyerahkan hal tersebut kepada pilihan umat, serta tradisi yang secara historis berlaku di tiap negeri. Yang ditekankan oleh Islam bukanlah bentuk pemerintahannya, tetapi bagaimana pemerintah tersebut melaksanakan tugas-tugasnya. Sepanjang suatu sistem peraturan sejalan dengan idealisme Islam dalam pelaksanaan amanat rakyat, berbagai sistem pemerintahan seperti feodalisme, monarki, demokrasi dan lain-lain, dapat saja diakomodir dalam Islam.

Sistem monarki disebut beberapa kali dalam Al-Quran tanpa menyalahkannya sebagai suatu lembaga. (QS.2 Al-Baqarah: 248) (QS.5 A-Maidah: 21), dll.

Kerajaan yang diciptakan atau diperluas melalui penaklukan secara paksa tidak disukai sebagaimana dikemukakan dalam ayat tentang Ratu Sheba ketika mengingatkan para penasihatnya:
Berkatalah ia, ratu itu: ‘Sesungguhnya raja-raja apabila mereka memasuki suatu negeri, mereka merusakkannya dan penduduknya yang termulia mereka jadikan orang-orang paling hina. Dan demikianlah selalu mereka kerjakan.’ (QS.27 An-Naml: 35)

Raja-raja dapat bertabiat baik atau pun buruk, sama saja seperti perdana menteri atau presiden yang dipilih secara demokratis. Tetapi Al-Quran menyitir suatu kategori raja-raja yang memang ditunjuk oleh Tuhan. Mereka bukan saja sebagai raja seperti dalam pemahaman Yahudi dan Kristen tetapi juga sebagai Rasul menurut Al-Quran, sebagaimana contohnya Raja Sulaiman. Hal ini menggambarkan bahwa kadang-kadang fungsi kenabian dan kerajaan dapat diemban oleh satu orang dan ia adalah raja yang ditunjuk langsung oleh Tuhan.

Disisi lain asas demokrasi, yang sangat dibanggakan oleh bangsa Eropa, pertama kali ditetapkan oleh Alquran. Alquran menganjurkan adanya organisasi, disiplin dan ketaatan disatu pihak, dan pada pihak lain memerintahkan agar pejabat-pejabat pemerintah menjalankan kewajiban mereka dengan kejujuran dan kesetiaan.

Alquran adalah Kitab pertama yang telah membatasi kekuasaan para penguasa dan memaksa mereka tunduk kepada disiplin. Alquran tidak mengakui hak seseorang memegang kekuasaan mutlak terhadap masyarakat dan tidak pula mengakui peraturan dan tatalaksana pemerintahan sebagai kebaikan yang diperlihatkan oleh orang yang memerintah terhadap yang diperintah. Alquran menekankan prinsip bahwa kedaulatan itu ada di tangan rakyat dan bahwa orang yang memegang kekuasaan itu diamanati kekuasaan atas nama Tuhan (4:59).

Penggunaan wewenang pada saat-saat yang tepat dan dengan cara yang selaras bukanlah satu anugerah terhadap rakyat, tetapi merupakan amanat yang dibebankan kepada mereka yang diberi wewenang. Oleh karena itu Alquran menegaskan bahwa dalam menggunakan hak pilih hendaknya jangan dipengaruhi oleh pertimbangan kepentingan partai atau pribadi, tetapi satu-satunya tolok-ukur adalah harus adanya kecocokan si calon untuk melakukan dan memperjuangkan kewajiban-kewajiban yang akan diserahkan kepadanya. Hanya dengan cara demikian orang yang terpilih akan berada dalam keadaan sebaik-baiknya untuk melaksanakan tugas dengan cara yang paling memuaskan.

Alquran menuntut supaya patokan akhlak yang harus dipegang oleh perseorangan dan dipegang juga oleh pemerintah dan pejabat-pejabatnya. Alquran tidak menyetujui faham bahwa moral yang tinggi tidak perlu ditekankan pada pemerintah dan tata laksananya.

Demokrasi sendiri di negara yang paling maju belum mencapai tingkat penerapan sebagaimana visi politis para demokrat. Dengan bangkitnya kapitalisme dan pengembangan teknologi yang demikian maju di negeri-negeri kapitalis, pemilihan umum yang benar-benar demokratis belum dapat dilakukan. Belum lagi maraknya korupsi, munculnya kelompok Mafia dan kelompok penekan lainnya. Kita dapat menyimpulkan bahwa sistem demokrasi tidak berjalan aman bahkan di negeri yang katanya paling demokratis. Lalu bagaimana mungkin sistem ini cocok bagi Dunia Ketiga?
Jadi kalau ada yang mengatakan bahwa demokrasi Barat dapat berlaku di Afrika, Asia dan Amerika Latin atau negeri-negeri yang katanya negara Islam, sama saja dengan membuat pernyataan hampa dan tidak benar.

Sistem demokrasi pun tidak selalu menjadi pilihan yang paling benar. Dalam sistem demokrasi dapat saja terjadi mayoritas rakyat tidak dapat menemukan nilai-nilai pokok dari kepemimpinan seorang, dan akan memprotes jika yang bersangkutan dipaksakan dipilih sebagai pemimpin mereka. Berdasarkan semua kriteria politis, penunjukannya akan dianggap sebagai diktatorial. Mungkin untuk kepentingan publik yang bersangkutan memang baik tetapi opini umum tidak dapat menerimanya.
Kelemahan inheren dari pemilihan secara demokratis adalah kenyataan bahwa rakyat melakukan pilihannya berdasarkan kesan-kesan impresi permukaan dan kinerja terakhir dari si calon, sedangkan nilai-nilai kepemimpinan sehat yang seharusnya ada malah sulit diketahui.

Konsep demokrasi berfalsafah, pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Kata-kata itu merupakan klise yang amat menarik, namun jarang diterapkan seutuhnya di muka bumi ini.
Kalimat “untuk rakyat” definisinya sangat kabur dan dapat membahayakan. Apa yang dapat dideklarasikan secara pasti sebagai untuk rakyat? Dalam suatu sistem yang menganut pola mayoritas, seringkali terjadi bahwa apa yang dianggap untuk rakyat sebenarnya adalah untuk mayoritas rakyat dan tidak berlaku bagi sisa minoritasnya.

Dalam sistem demokrasi, dapat juga terjadi keputusan-keputusan yang sangat penting ditentukan oleh mayoritas absolut. Namun jika ditelaah dan dianalisis lebih lanjut data dan faktanya, ternyata sebenarnya apa yang diputuskan sejatinya berasal dari kelompok minoritas yang dilambungkan secara demokratis dan diterapkan pada mayoritas.

Kita juga menyadari bahwa konsep mengenai apa yang baik untuk rakyat nyatanya berubah dari masa ke masa. Jika keputusan tidak berdasarkan prinsip absolut maka apa yang dianggap baik untuk rakyat akan selalu mengalami pergeseran kebijakan dengan berjalannya waktu. Apa yang dianggap baik hari ini mungkin dianggap buruk keesokan harinya dan baik lagi lusanya.

Bagi orang awam keadaan ini menimbulkan situasi gamang. Eksprimen sistem komunisme dalam skala raksasa selama lebih dari setengah abad juga sebenarnya didasarkan pada slogan untuk rakyat. Adapun pemerintahan sosialis tidak semuanya bersifat diktatorial.

Islam tidak ada memberikan definisi hampa mengenai demokrasi. Agama ini hanya mengatur tentang prinsip-prinsip penting saja dan sisanya diserahkan kepada umat. Ikutilah dan kalian akan menerima manfaat, tinggalkan dan kalian akan dihancurkan. Konsep demokrasi menurut Islam, yaitu:

(1). Pemilihan umum secara demokratis harus didasarkan pada azas amanah dan kejujuran. Islam mengajarkan bahwa ketika kita memberikan suara dalam pemilihan umum, lakukanlah hal itu dengan kesadaran bahwa Tuhan mengawasi kita dan kita harus mempertanggung-jawabkan keputusan yang diambil. Pilihlah mereka yang paling mampu mengemban amanat nasional dan mereka adalah orang-orang yang dapat dipercaya.

(2). Pemerintah harus berfungsi atas dasar prinsip keadilan mutlak. Pilar kedua dari demokrasi menurut Islam ini mengatur bahwa apa pun keputusan yang diambil, lakukan dengan berlandas pada prinsip keadilan mutlak. Baik berkaitan dengan masalah politis, agama, sosial atau pun ekonomis, keadilan tidak boleh dikompromikan. Setelah terbentuknya pemerintahan, pemungutan suara di dalam partai pun harus selalu berorientasi pada keadilan. Dengan kata lain, tidak boleh mempengaruhi proses pengambilan keputusan karena kepentingan kelompok atau pertimbangan politis. Dalam jangka panjang, semua keputusan yang dilakukan dalam semangat ini akan benar-benar dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Bagian kedua dari definisi demokrasi menyangkut oleh rakyat. Hal ini dijelaskan dalam ayat:
Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu supaya menyerahkan amanat-amanat kepada yang berhak menerimanya . . . (S.4 An-Nisa: 59)

Berarti bahwa kapan saja kita menyatakan keinginan untuk memilih penguasa di atas kita, selalu tempatkan kepercayaan pada orang yang tepat.

Hak rakyat untuk memilih penguasanya disinggung juga tetapi secara insidentil. Tekanan utamanya adalah pada bagaimana seseorang melaksanakan haknya itu. Umat Muslim diingatkan bahwa bukan hanya masalah melaksanakan hak mereka dengan cara bagaimana, yang harus diperhatikan adalah amanat nasional. Dalam masalah pengembanan amanat, seseorang tidak mempunyai banyak pilihan. Kita harus melaksanakan amanah itu dengan kejujuran, integritas dan semangat tidak mementingkan diri sendiri. Amanah harus berada pada mereka yang berhak.

Menurut definisi Al-Quran, seorang pemilih bukanlah penguasa mutlak hak suaranya, melainkan sebagai pengemban amanat. Sebagai pengemban ia harus melaksanakan amanatnya secara adil dan tegas dimana dan kepada siapa yang berhak. Ia harus selalu awas dan menyadari bahwa ia akan mempertanggungjawabkan tindakannya itu kepada Tuhan-nya. Dalam pandangan konsep Islam demikian, kalau suatu partai politik telah menominasikan seorang calon sedangkan seorang anggota partai itu menganggap calon bersangkutan akan gagal mengemban amanat nasional, maka anggota tersebut sebaiknya keluar dari partainya daripada memberikan suaranya kepada seseorang yang tidak seharusnya diberi kepercayaan. Kesetiaan kepada partai tidak boleh mempengaruhi pilihannya itu. Selain itu berkaitan dengan kehidupan politis masyarakat Muslim, Alquran mengajarkan bahwa dalam masalah pemerintahan, keputusan-keputusan harus diambil secara musyawarah.
Saat ini bertambah populer di antara para pemikir politik Muslim yang mengatakan bahwa Tuhan adalah empunya kedaulatan tertinggi maka kerajaan absolut adalah milik Tuhan. Al-Quran menyimpulkan bidang kekuasaan-Nya dalam ayat:

Maka Mahaluhur Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Tiada tuhan selain Dia. Tuhan arasy yang sangat mulia. (S.23 Al-Muminum: 117)
Prinsip fundamental bahwa semua kekuasaan untuk memerintah pada akhirnya milik Tuhan dan Dia adalah Raja segalanya. Dalam menjalankan aktivitas politik, kerajaan Tuhan diekspresikan dalam dua cara:

(a). Hukum Shariah yang disusun berdasarkan Al-Quran dan sunah Rasulullah s.a.w. sebagaimana dirawikan oleh para Muslim awal, menduduki tempat tertinggi. Hukum ini berisi pedoman-pedoman pokok untuk legistatif, dan pemerintahan yang telah dipilih secara demokratis tidak boleh merobah Keputusan Tuhan.
(b). Tidak ada proses legislatif yang valid jika bertentangan dengan prinsip di atas.
Hanya sayangnya tidak ada kesatuan pendapat di antara para pemikir dari berbagai sekte dalam Islam mengenai apa yang disebut Shariah.

Agama dan penataan kenegaraan adalah dua dari sekian banyak roda kendaraan yang membawa masyarakat. Dalam kenyataan sebenarnya tidak relevan apakah rodanya dua, empat atau delapan, sepanjang roda-roda itu mantap orientasinya dan berputar dalam orbitnya masing-masing. Dalam hal seperti itu tidak akan ada masalah konflik atau pun konfrontasi.

Sejalan dengan ajaran-ajaran samawi sebelumnya, Al-Quran memperjelas tema ini dengan memberikan batasan pada ruang lingkup aktivitas tiap komponen masyarakat. Tidak berarti bahwa tidak ada titik temu atau landasan berpijak yang sama dimana negara dan agama dapat berbagi. Memang benar ada titik sentuh, tetapi sebatas semangat kerjasama di antara keduanya. Masing-masing tidak akan memonopoli yang lain.

Sebagai contoh, banyak sekali ajaran moral dalam tiap agama yang kemudian menjadi bagian integral dari perundang-undangan di semua negara di dunia. Di suatu negara, mungkin sebagian kecil, sedangkan di negara lain relatif banyak perundang-undangannya yang mengikuti ajaran agama panutan. Hukuman yang diberikan dapat saja ringan atau pun keras, tetapi kemarahan agama atas suatu kejahatan yang diganjar hukuman, tidak akan disebutkan sebagai rujukan dalam perundang-undangan mana pun. Kaum beragama dapat saja tidak sependapat dengan beberapa hukum sekuler, namun jarang sekali mereka memilih konfrontasi dengan pemerintah berkaitan dengan masalah tersebut.

Hal itu tidak saja berlaku pada umat Muslim dan Kristiani, tetapi juga pada semua agama di dunia. Kita tahu bahwa hukum agama Hindu yang murni yaitu MANUSMARTI sama sekali berbeda dengan perundang-undangan sekuler pemerintahan politis di India, namun nyatanya rakyat negeri itu dapat berkompromi menerimakan keadaannya.

Kalau saja hukum agama secara serius diberlakukan terhadap sistem politik di berbagai negara maka di dunia ini akan terjadi banjir darah. Syukurlah bagi umat manusia bahwa keadaannya tidak demikian.

Sepanjang menyangkut agama Islam, maka semestinya tidak akan ada masalah, karena prinsip utama dan yang tidak dapat ditawar dalam ajaran Islam adalah prinsip keadilan mutlak. Prinsip tersebut tetap bersifat sentral dan fundamental untuk semua bentuk pemerintahan yang mengklaim sebagai bersifat Islami. Namun sayangnya, titik tumpu yang paling pokok dalam pemahaman kenegarawanan Islami malah kurang sekali dimengerti oleh para pemikir Muslim. Mereka gagal melihat perbedaan antara aplikasi perundangan umum tentang kejahatan yang bersifat universal tanpa pengaruh agama dengan kejahatan-kejahatan yang memang berkaitan dengan agama tertentu.

Semua agama mempunyai tanggung-jawab untuk mengingatkan dewan legislatif terhadap masalah-masalah moral. Tetapi tidak berarti bahwa semua perundangan lalu dimasukkan dalam yurisdiksi agama. Melihat begitu banyaknya sekte-sekte agama dan perbedaan pandangan di antara sekte-sekte serta antar agama, jika dipaksakan maka yang akan muncul adalah kekacauan dan anarki. Sebagai contoh, hukuman tentang alkohol. Walaupun alkohol dilarang dalam Al-Quran, tetapi tidak ada disebutkan spesifikasi hukuman yang patut dikenakan. Ada yang bersandar pada hadist, namun kemudian ditentang oleh berbagai pandangan yurispridensi. Hukuman yang dikenakan di suatu lokalitas atau negeri nyatanya berbeda dengan di tempat lain.

Setiap pemeluk agama mana pun dapat mengamalkan kepercayaannya di bawah hukum yang bersifat sekuler. Ia dapat menjalankan kebenaran tanpa ada undang-undang negara yang mencampuri kebebasannya itu. Ia dapat melaksanakan sembahyang dan boleh mengerjakan ibadahnya tanpa harus menunggu perkenan khusus dari suatu perundang-undangan.

Masalah tersebut dapat juga ditinjau dari sudut menarik lainnya. Kalau ajaran Islam menyetujui suatu pemerintahan Muslim dimana umat Muslim merupakan mayoritas, maka berdasarkan azas keadilan mutlak seharusnya Islam juga membenarkan pemerintahan lain bertindak sesuai dengan pengaturan dari agama yang dianut mayoritas penduduknya. Contohnya, kalau Pakistan sebagai tetangga India, harus menerimakan penerapan hukum Hindu di negeri India maka hal itu akan menjadi malapetaka bagi seratus juta umat Muslim yang akan kehilangan hak hidupnya di India. Begitu juga, kalau India menjalankan Manusmarti, kenapa Israel tidak boleh mengatur penduduk Yahudi dan non-Yahudi menggunakan hukum Taurat? Kalau semua ini terjadi maka hidup akan menjadi sangat menyengsarakan, tidak saja bagi penduduk Israel tetapi juga sejumlah besar orang Yahudi sendiri.
Kalau misalnya Islam menekankan penggunaan hukum shariah berdasarkan undang-undang karena penduduknya mayoritas Muslim, maka mestinya juga dapat menerimakan konsep adanya berbagai negara keagamaan. Keadaan demikian akan menimbulkan situasi paradoks yang bersifat universal karena berdasarkan azas keadilan mutlak, maka negara mempunyai kedaulatan untuk memaksakan hukum menurut agama mayoritas. Akibatnya, setiap tindakan dari mereka yang termasuk kelompok minoritas akan dihukum berdasarkan peraturan agama yang tidak mereka yakini. Hal tersebut justru malah jadinya menyalahi konsep keadilan mutlak. Dilema seperti ini tidak pernah dibahas atau dicoba pecahkan oleh para penggagas hukum Islam di tempat yang katanya negeri-negeri Muslim.

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang menjadi penegak keadilan dan jadilah saksi karena Allah walaupun perkara itu bertentangan dengan dirimu sendiri atau ibu-bapak dan kaum kerabat. Baik ia yang terhadapnya kesaksian diberikan itu kaya atau miskin, maka Allah lebih memperhatikan kedua mereka itu daripada kamu. Karena itu janganlah menuruti hawa nafsu agar kamu dapat berlaku adil. Dan jika kamu menyembunyikan kebenaran atau mengelakkan diri, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui segala sesuatu yang kamu kerjakan. (S.4 An-Nisa: 136)

Islam menganjurkan pemerintahan sentral yang bersifat netral dimana semua permasalahan pemerintahan bersifat umum dan dapat diterapkan pada semua penduduk negeri dan dimana perbedaan agama tidak dimungkinkan berperan disini. Agama Islam selalu mengingatkan umat Muslim untuk mematuhi hukum dalam semua permasalahan duniawi:

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang yang memegang kekuasaan di antaramu. Dan jika kamu berselisih mengenai sesuatu maka kembalikanlah hal itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu memang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Hal demikian itu paling baik dan paling bagus akibatnya. (S.4 An-Nisa: 60)

Hanya saja sepanjang berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan Tuhan-nya, maka area itu eksklusiv masuk urusan agama dan negara tidak punya hak mencampurinya. Pikiran dan hati manusia harus merdeka sepenuhnya dalam hal urusan yang berkaitan dengan keimanan dan cara peribadatan. Adalah bagian dari hak azasi manusia untuk mempercayai apa pun yang dipilihnya dan menyembah Tuhan atau pun berhala sebagaimana suruhan agama atau keyakinannya.

Menurut Islam, dengan demikian agama pun tidak seharusnya mencampuri area yang eksklusiv bagi negara, sebagaimana negara tidak berhak mencampuri bidang-bidang yang bersinggungan di antara keduanya. Hak dan tanggungjawab sudah jelas didefinisikan dalam Islam sehingga permasalahan pertentangan antara keduanya tidak ada lagi. Banyak ayat yang sudah saya kutipkan mengenai hal ini dalam bagian kedamaian agama.

Sayangnya sekarang ini ada tendensi di antara banyak negara sekuler yang kadang-kadang memperluas bidang sekulernya keluar dari batas alaminya. Hal yang sama juga terjadi pada negara-negara theokratis atau negara yang dipengaruhi oleh hirarki keagamaan.

Islam dan Isu Gender

Terkait isu gender, Islam memiliki konsep yang jelas tentang bagaimana memposisikan wanita dalam nilai yang mulia. Rasulullah s.a.w. sangat berhasrat memperbaiki keadaan wanita di tengah masyarakat. Beliau menjamin mereka mendapat kedudukan terhormat dan perlakuan wajar lagi pantas. Islam adalah agama pertama yang memberikan hak waris kepada wanita. Alquran menjadikan anak-anak perempuan bersama-sama dengan anak-anak lelaki sebagai ahli waris kekayaan orang tua mereka. Demikian pula ibu menjadi ahli waris harta benda peninggalan anak laki-laki atau anak perempuan; dan seorang isteri jadi ahli waris harta-benda suaminya. Jika seorang saudara laki-laki menjadi ahli waris harta benda saudaranya yang meninggal, maka saudara perempuan juga jadi ahli waris harta-benda itu. Tidak ada agama sebelum Islam begitu jelas dan tegas dalam menjamin hak waris wanita dan hak memiliki harta kekayaan. Dalam Islam seorang wanita menjadi pemilik mutlak harta-bendanya sendiri dan suaminya tak dapat mempunyai hak sedikit pun mengendalikan harta-benda itu hanya semata-mata karena alasan ia suaminya. Seorang wanita bebas sepenuhnya bertindak atas harta-bendanya menurut kehendaknya sendiri.

Rasulullah s.a.w. begitu berhati-hati mengenai perlakuan terhadap wanita sehingga mereka di sekitar beliau, yang sebelumnya tidak biasa memandang kepada wanita sebagai kawan dan mitra, merasa sukar untuk menyesuaikan diri pada standar yang Rasulullah s.a.w. inginkan. Sayyidina Umar meriwayatkan, "Isteriku kadang-kadang berusaha mencampuri urusanku dengan memberi saran dan usul dan aku biasa memarahinya dengan mengatakan bahwa bangsa Arab tidak pernah mengizinkan isterinya mencampuri urusannya." Ia membantah, "Masa itu telah berlalu. Rasulullah s.a.w. mengizinkan isteri-isteri beliau memberi saran dan usul dalam urusan beliau dan beliau tidak melarangnya. Mengapa engkau tidak mengikuti contoh beliau?" Maka aku biasa menjawab: Mengenai Aisyah, Rasulullah s.a.w. sangat senang kepadanya, tetapi mengenai anakmu (Hafsah), jika ia berbuat demikian, pada suatu hari ia akan menderita oleh kelancangannya.

Telah terjadi bahwa sekali peristiwa Rasulullah s.a.w. marah, karena suatu sebab. memutuskan untuk hidup pisah dari isteri-isteri beliau, untuk sementara waktu. Ketika aku mengetahui itu kukatakan kepada isteriku: Apa yang kutakutkan telah terjadi. Kemudian aku pergi ke rumah anakku, Hafsah, dan mendapatkannya sedang menangis. Kutanyakan apa sebab-sebabnya, dan apakah Rasulullah s.a.w. telah menceraikan. Ia menjawab, "Aku tak tahu apa-apa tentang perceraian, tetapi Rasulullah s.a.w. telah memutuskan untuk hidup pisah, untuk sementara haktu, dari kami semua." Aku katakan kepadanya, "Bukankah aku telah sering mengatakan bahwa "kau jangan begitu lancang seperti Aisyah terhadap beliau, sebab Rasulullah s.a.w. sangat mencintai Aisyah, tetapi 'kau agaknya telah menerima akibat yang aku khawatirkan". Kemudian aku menghadap Rasulullah s.a.w. dan melihat beliau sedang berbaring di atas tikar kasar. Beliau pada waktu itu tidak memakai kemeja dan pada tubuh beliau nampak kesan tapak tikar. Aku duduk dekat beliau dan berkata, 'Ya Rasulullah! Kaisar dan Kisra tidak berhak menikmati karunia Ilahi sedikit pun, tetapi walaupun demikian, mereka hidup dalam kemewahan; sedangkan Anda, sebagai Rasul Allah, begitu sengsara. Rasulullah s.a.w. menjawab, "Itu tidak benar. Dari Utusan-utusan Allah tidak diharapkan akan menggunakan waktunya dalam kesenangan. Kehidupan demikian hanya pantas untuk raja-raja duniawi". Kemudian aku menyampaikan kepada Rasulullah apa yang terjadi antara isteriku dan anakku. Mendengar hal itu Rasulullah s.a.w. tertawa dan bersabda, 'Tidak benar aku telah menceraikan isteri-isteriku. Aku hanya memandang ada baiknya kalau hidup untuk sementara waktu pisah dari mereka" (Bukhari, Kitab al-Nikah).

Beliau begitu hati-hati mengenai perasaan wanita-wanita sehingga sekali peristiwa, ketika beliau memimpin sembahyang dan mendengar seorang anak menangis, beliau menyelesaikan salat secepat mungkin. Beliau menerangkan kemudian bahwa ketika beliau mendengar tangisan anak itu, beliau membayangkan bahwa ibu anak itu tentu amat gelisah, dan oleh karena itu beliau menyelesaikan salat itu dengan cepat sehingga ibu itu dapat pergi ke anaknya dan mengurusnya.

Jika dalam salah satu perjalanan beliau ada pula wanita-wanita ikut serta, beliau senantiasa memberi petunjuk supaya kafilah bergerak lambat dan berhenti-henti secara bertahap. Pada suatu kesempatan serupa itu ketika orang-orang mau sekali maju cepat, beliau bersabda, "Perhatikan kaca! Perhatikan kaca!" dengan maksud mengatakan bahwa ada wanita-wanita dalam rombongan dan bahwa jika unta-unta dan kuda-kuda berlari cepat, mereka itu akan menderita dari bantingan-bantingan binatang-binatang itu (Bukhari, Kitab al-Adab).

Pada suatu pertempuran timbul kekacauan di tengah barisan-barisan berkuda dan binatang-binatang itu pun tdak terkendalikan. Rasulullah s.a.h. jatuh dari kuda, begitu pula beberapa wanita jatuh dari tunggangan mereka. Seorang dari antara Sahabat-sahabat yang mengendarai unta dekat benar di belakang Rasulullah s.a.w., turun dengan meloncat dan berlari-lari kepada Rasulullah s.a.w. sambil berteriak. "Biarlah aku berkorban untuk Anda, ya Rasulullah." Kaki Rasulullah s.a.w. masih tersangkut di sanggurdi. Beliau melepaskan dengan segera kaki itu dan bersabda, "Jangan perdulikan aku, lekas tolong wanita-wanita itu."

Sesaat sebelum beliau wafat, salah satu dari perintah yang ditujukan kepada kaum Muslimin dan sangat ditekankan oleh beliau ialah, mereka hendaknya senantiasa memperlakukan wanita dengan baik dan kasih sayang. Beliau seringkali dan berulang-ulang mengatakan, jika seseorang mempunyai anak-anak perempuan dan ia telah berusaha agar mereka mendapat didikan dan ia berusaha keras memelihara mereka, Tuhan akan menyelamatkannya dari siksaan neraka (Tirmidhi).

Telah menjadi kebiasaan pada orang-orang Arab memberi siksaan jasmani kepada wanita atas tiap-tiap kesalahan kecil. Rasulullah s.a.w. mengajarkan bahwa wanita itu sama seperti pria selaku makhluk Tuhan dan bukan budak kaum pria dan tidak boleh dipukul. Tatkala wanita-wanita mengetahui hal itu, ulah mereka menjadi sama sekali terbalik dan mulai berani memban-tah kaum pria dalam segala hal, akibatnya ialah dalam beberapa rumah kedamaian dan ketenteraman rumah tangga senantiasa terganggu. Sayyidina Umar menerangkan hal itu kepada Rasulullah s.a.w., dan berkata bahwa kecuali jika kaum wanita kadang-kadang boleh dihukum, mereka akan menjadi susah diatur dan tidak ada yang mengendalikan lagi. Karena ajaran Islam bertalian dengan perlakuan terhadap wanita-wanita belum diturunkan Rasulullah s.a.w. bersabda bahwa jika seorang wanita bertindak melampaui batas, ia boleh dihukum. Hal itu pada gilirannya menjadikan kaum pria, dalam beberapa hal, kembali kepada kebiasaan kebiasaan Arab kuno. Sekarang datang lagi giliran kepada kaum wanita untuk mengeluh dan mereka membentangkan kesusahan kepada isteri-isteri Rasulullah s.a.w.. Akibatnya, Rasulullah s.a.w. menyesali kaum pria dan mengatakan kepada mereka bahwa siapa yang memperlakukan wanita-wanita secara tidak baik, tidak mungkin dapat menarik keridhaan Ilahi. Kemudian hak-hak wanita ditetapkan, dan untuk pertama kalinya wanita mulai diperlakukan sebagai pribadi-pribadi yang mandiri dengan hak mereka masing-masing (Abu Daud, Kitab al-Nikah).

Mu"ahiyah Al Qusyairi merihayatkan, "Aku menanyakan kepada Rasulullah s.a.w., hak apa isteriku dapat menuntut dari padaku?" dan beliau menjawab, "Berilah dia makan dari apa-apa yang Tuhan telah merezekikan kepadamu dalam urusan makan, dan berilah dia pakaian yang Tuhan telah menganugerahkannya kepadamu dalam urusan pakaian, dan janganlah menyiksa atau memaki-maki atau mengusirnya dari rumahmu."

Beliau begitu berhati-hati tentang perasaan wanita sehingga beliau senantiasa menganjurkan kepada orang-orang yang harus melakukan perjalanan supaya menyelesaikan urusan secepat-cepatnya dan pulang selekas mungkin sehingga wanita-wanita dan anak-anak mereka tidak akan menjadi resah karena pisah lebih daripada yang benar-benar diperlukan. Jika beliau pulang dari perjalanan, beliau biasa datang siang hari. Jika beliau kembali dari perjalanan sedang hari hampir malam, beliau biasa berkemah dahulu di luar Medinah pada malam itu sebelum masuk kota di haktu pagi esok harinya. Beliau mengatakan juga kepada para Sahabat bahwa jika mereka pulang dari suatu perjalanan, mereka hendaknya tidak pulang secara tiba-tiba tanpa memberi khabar lebih dahulu tentang kedatangan mereka kembali (Bukhari dan Muslim). Dalam memberikan petunjuk-petunjuk, beliau ingat akan kenyataan bahwa perhubungan antara dua jenis kelamin itu bagian besar dipengaruhi oleh perasaan. Dalam waktu suami tidak ada di rumah seorang wanita mungkin sering abai mengurus badan sendiri dan pakaiannya, dan jika suaminya tiba-tiba pulang tanpa diduga-duga, maka perasaan halus wanita mungkin akan tersinggung. Dengan memberi petunjuk bahwa jika seseorang pulang dari perjalanan hendaklah berusaha datang ke rumah pada siang hari dan lebih dahulu memberi kabar kepada anggota-anggota keluarga tentang kedatangannya, beliau meyakinkan bahwa anggota-anggota keluarga akan siap menerima anggota keluarga yang pulang itu dengan cara yang layak.

Sebutan Khataman Nabiyin yang dikenakan kepada Hazrat Rasulullah s.a.w. mengharuskan bahwa Kitab yang diwahyukan kepada beliau adalah juga kitab yang paling sempurna dibanding semua kitab-kitab samawi lainnya serta merangkum keseluruhan keluhuran ajaran ruhani. Ketentuannya adalah sebagaimana tingkat derajat kekuatan ruhani dan kesempurnaan batin dari sosok yang menerima wahyu Allah, begitu pulalah derajat kekuatan dan keagungan dari firman bersangkutan. Mengingat kekuatan ruhani dan kesempurnaan batin Hazrat Rasulullah s.a.w. adalah dari tingkat yang paling luhur, yang tidak akan mungkin disamai atau dilampaui oleh orang lain, demikian jugalah derajat Kitab Suci Al-Quran yang keluhurannya tidak akan dapat dicapai oleh Kitab-kitab samawi terdahulu. Kemampuan dan kekuatan ruhani Hazrat Rasulullah s.a.w. adalah yang tertinggi dari semuanya, dimana semua bentuk kesempurnaan telah mencapai puncaknya dalam diri beliau. Karena itu Kitab Suci Al-Quran yang diwahyukan kepada beliau adalah juga. Kitab yang sempurna dimana keluhuran daripada mukjizat firman mencapai titik tertinggi di dalamnya. (Malfuzat, vol. II, hal. 36-37).

Wa akhiru da’wanaa ‘anilhamdulillah.

ISLAM DAN TERORISME

Mln. Muhammad Syarif Hidayatullah

Materi yang akan saya sampaikan pada kesempatan ini adalah seputar Islam dan Terorisme. Dua kata yang sebenarnya sangat bertentangan. Tetapi pada saat ini terorisme seakan telah melekat ke tubuh agama Islam. Teroris adalah Islam dan Islam adalah teroris.

Tentu ini adalah kesan yang sangat salah, bertentangan dengan ajaran Islam, tetapi sayangnya, kesan negatif terhadap Islam ini dikuatkan oleh sebagian umat Islam sendiri, dimana mereka terlibat dalam tindakan-tindakan ekstremisme yang mengatasnamakan Islam, sebut saja yang terjadi baru-baru ini, penyerangan  Teroris di brusel, Belgia, Ankara Turky, kota Nice, Perancis, munchen Jerman dan bom di Kabul, Afghanistan .

Sungguh sangat disayangkan, bahwa Islam, yang merupakan agama damai, yang penuh ajaran kasih sayang, kebaikan dan persaudaraan telah ternodai oleh para pelaku terorisme dan ekstremisme yang kita saksikan di berbagai belahan dunia.

Definisi kata Islam dan Terorisme

Dalam kamus bahasa  Arab; Al-Misbah, kata Islam di serap dari kata, salamayaslamu-salaman-salamatan; yang berarti : selamat, aman, damai. (kamus Al-Misbah, hal. 199, penerbit bina iman Jakarta-Surabaya) Jadi Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, yang mengajarkan tentang, keselamatan, keamanan dan kedamaian.

Sedangkan kata teror berarti, usaha menciptakan ketakutan, kengerian dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. (hhtp://kamusbahasaindonesia.org/terror). Jadi kata terorisme berarti usaha untuk menciptakan ketakutan, kengerian dan kekejaman  oleh seseorang atau golongan untuk mencapai tujuan atau keinginan, terutama tujuan politik.

Islam Menentang Terorisme

Bicara Islam, tidak lepas dari pembawa ajaran Islam itu sendiri yaitu Rasulullah saw, karena beliau saw orang yang diutus sebagai pembawa ajaran Islam, apa yang di contohkan dan diamalkan Beliau itulah yang harus kita ikuti sebagai pengikut Beliau saw, (Al-Ahzhab :22),
Memang di dalam Islam terdapat perintah berperang, tetapi peperangan tersebut diizinkan hanya dalam bentuk peperangan depensif, karena keadaan yang memaksa mereka untuk berperang. Dalam riwayat bagaimana Nabi kita Muhammad saw, mulai mendapat izin dari Allah untuk melakukan peperangan, karena selama + 13 Tahun, setelah menerima mandat Kenabian dari Allah saw, dan da’wa beliau sampaikan kepada masyarakat di Mekah, beliau dan orang-orang yang menerima penda’waan beliau SAW, mendapat pertentangan dan  permusuhan disertai juga  tindakan-tindakan diskriminatif, melihat Islam yang mulai terus berkembang, para penentang Islam  berusaha menghambat lajunya kemajuan Islam bahkan mereka berusaha menghancurkan Islam dengan cara menangkap hidup atau mati pembawa ajaran Islam yaitu Rasulullah SAW, hingga akhirnya Beliau Hijrah ke Madinah, setelah hijrah ke madinah pun permusuhan tidak juga berhenti, mereka berusaha menghancurkan Islam dengan cara menyerang orang-orang Islam yang ada di Madinah, hingga turun ayat : 

“Telah diizinkan (berperang) bagi mereka yang telah diperangi, disebabkan mereka telah dianiaya Dan sesungguhnya Allah berkuasa untuk menolong mereka. Orang-orang yang telah diusir dari rumah-rumah mereka tanpa hak, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami adalah Allah.” Dan sekiranya Allah tidak menangkis (serangan) sebagian manusia oleh sebagian yang lain, maka akan hancurlah biara-biara serta gereja-gereja Nasrani dan rumah-rumah ibadah Yahudi serta masjid-masjid yang banyak disebut nama Allah di dalamnya. Dan pasti Allah akan menolong siapa yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Perkasa. (Q.S. Al-Hajj: 40-41)

Di dalam ayat ini izin untuk berperang diberikan karena keadaan yang terpaksa.  Di dalam ayat yang sama, Allah memerintahkan bahwa dalam peperangan tersebut adalah untuk menegakkan kebebasan untuk melakukan ibadah yang mana mereka telah dianiaya bertahun-tahun sehingga mereka tidak bisa bebas untuk menyatakan bahwa Tuhan mereka adalah Allah yang Esa. Dan dijelaskan juga bahwa peperangan tersebut bukan hanya untuk kepentingan Islam semata, melainkan untuk kepentingan agama-agama samawi, seperti yahudi dan Kristen, yang jika  mereka tidak melawan maka akan hancur semua Sinagog, Gereja, dan Masjid-masjid.

Peperangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, melahirkan peraturan-peraturan yang bernilai kebaikan universal, diantaranya: Jangan berkhianat, jangan bertindak secara berlebihan (melampaui batas), jangan ingkar jani, dilarang mencincang mayat, dilarang membunuh anak kecil, orang tua renta dan wanita; dilarang membakar dan menebang pohon; dilarang menyembelih binatang ternak kecuali untuk di makan, dan dilarang mengusik orang-orang Ahli Kitab yang sedang beribadah. (hadits Abu Daud, bab, perang, Sinar Islam, Vol. I, edisi ke 5, Juli 2014).

Bahkan dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW, tidak pernah membunuh musuh di medan perang, memang ada riwayat bahwa ada seseorang yang tewas dalam perang uhud yang bernama Ubay bin Khalaf, tetapi kematian Ubay bin Khalaf bukan terjadi di medan perang tetapi, beberapa hari setelahnya, yaitu saat perjalanan pulang menuju Makkah di suatu tempat yang bernama Saraf. Di kisahkan, dalam perang Uhud tahun 625 M, Ubay bin Khalaf dengan mengenakan pakaian perang lengkap sambil memegang pedang dan menunggangi kuda, di medan laga mencari Nabi Muhammad SAW, Ubay menunggangi kuda sambil berkata,”Jika Muhammad tidak di bunuh hari ini aku tidak akan selamat.” Kata-kata itu terus-menerus diteriakkan berulang-ulang. Pada akhirnya Ubay menemukan Nabi Saw, dan berusaha menyerangnya. Para sahabat memutuskan untuk menghabisi Ubay sebelum ia berusaha mendekati nabi, tetapi mereka dicegah oleh Nabi. Ketika Ubay mendekat, Nabi mengambil lembing dari salah satu sahabatnya yaitu Harits bin As-Shinmah, kemudian lembing itu di lempar tepat mengarah ke Ubay dan berhasil mengenai lehernya. Ubay terkejut dan jatuh bersimbah darah lalu berlari menuju pasukannya. Sambil menangis ubay bin khalaf berkata, “Demi Tuhan, Muhammad telah membunuh ku!”. Anak buahnya berusaha menghibur dan mengatakan itu hanya luka kecil dan tak perlu dikhawatirkan. Tetapi Ubay bin Khalaf mengatakan bahwa, “Muhammad telah berkata di Mekkah bahwa dialah yang akan membunuhku”.
Abu Sufyan yang pada masa itu masih aktif memerangi kaum muslimin, mengatakan jangan mempermalukan diri sendiri dengan menangis meraung-raung, hanya karena luka kecil. Ubay menjawab,”Tak tahukah kau yang mengakibatkan luka ini? Dia adalah Muhammad. Demi Latta dan Uzza! Jika penderitaan ini di sebarluaskan ke seluruh masyarakat Hijaaz, tidak satu pun akan  selamat. Sejak saat itu ia menyatakan bahwa ia akan membunuhku dan kematianku berada ditangan Muhammad. Jika saja di ,meludahi ku, pada saat ia berkata, aku pasti sudah mati.” Pada akhirnya Ubay bin Khalaf menghembuskan nafas terakhir saat perjalanan pulang menuju Makkah, tepatnya disebuah tempat bernama Saraf. (Sinar Islam, Vo. I, edisi 5, Juli 2014)

Peperangan di masa Nabi Saw, menjadi fakta penting bahwa perang yang dilakukan oleh Nabi Saw, bukan dilatarbelakangi oleh kebencian, nafsu barbar apalagi niatan membunuh manusia-manusia yang berbeda keyakinan. (Sinar Islam, Vo. I, edisi 5, Juli 2014)

Akan tetapi kenapa pelaku-pelaku terror umumnya orang Islam? Apakah mereka lupa dengan riwayat yang dialami oleh Rasulullah Saw?

Hadhrat Masih Mau’ud as menjawab atas pertanyaan ini:
 
“Filosofi dan sifat sejati dari Jihad adalah masalah yang kompleks dan halus. Kesalahan fatal telah dibuat baik dizaman kita dan diabad pertengahan karena orang gagal memahami masalah ini. Ini adalah cela yang teramat besar, saya terpaksa mengakui bahwa kesalahan-kesalahan yang berbahaya ini telah mencemari agama suci Islam, yang merupakan cermin dari hukum-hukum alam dan manisfestasi dari kemuliaan Allah Ta’ala, untuk dikritik-lawannya.” (The Brithis Government and Jihad,  Sinar Islam, vol.I, edisi 5, Juli 2014)

“Harus diingat bahwa ulama-ulama Islam hari ini (ulama-ulama garis keras, peny), benar-benar telah salah memahami Jihad dan salah dalam menjelaskan kepada masyarakat umum. Naluri kekerasan masyarakat mengakibatkan mereka meradang dan melucuti diri dari semua kebajikan mulia manusia. Ini adalah fakta dari apa yang sebenarnya terjadi. Saya tahu pasti bahwa para mulvi/mulla yang bertahan dalam menyebarkan faham/doktrin berlumuran darah ini sebenarnya bertanggung jawab terhadap pembunuhan yang dilakukan oleh orang bodoh, orang egois yang tidak tahu mengapa Islam di paksa berperang dalam sejarah awal”. “Semoga Allah membawa para Mauvi/mullah yang bodoh ini kembali kejalan yang benar. Mereka telah menyesatkan masyarakat/umat, untuk percaya bahwa kunci surga terletak pada keyakinan untuk melakukan penindasan,kekejaman dan tindakan-tindakan tidak bermoral. (The Brithis Government and Jihad,  Sinar Islam, vol.I, edisi 5, Juli 2014)

“Mereka menganggap jihad menjadi wajib dalam hati mereka ……. Mereka mematuhi begitu kuat doktrin mereka tentang Jihad, yang benar-benar sesat dan sepenuhnya bertentangan dengan ajaran Al-quran dan hadits, … label Dajjal, senantiasa mereka alamatkan dan menganjurkan pembunuhan kepada siapa saja yang menjadi objek. Sebuah fatwa semacam ini pernah dialamatkan kepada saya beberapa waktu lalu.” (The Brithis Government and Jihad,  Sinar Islam, vol.I, edisi 5, Juli 2014)

“mereka (para mullah) adalah sumber pemberontakan terhadap setiap pemerintah. Mereka memiliki kekuasaan atas masyarakat umum dan menciptakan kekacauan dengan mengubahnya kearah apapun yang mereka inginkan.” (The Brithis Government and Jihad,  Sinar Islam, vol.I, edisi 5, Juli 2014)

Bahkan dengan tegas Hadhrat Masih Mau’ud as menyatakan bahwa, para mullah yang meyakini ideoligi Jihad berdarah adalah musuh tersembunyi bagi pemerintah dan penjahat serta tidak mentaati perintah Allah T’ala. (The Brithis Government and Jihad,  Sinar Islam, vol.I, edisi 5, Juli 2014)

Jihad dalam pandangan Hadhrat Masih Mau’ud as

Beliau as bersabda:
”Didalam Al-Quran terdapat perintah jelas, janganlah mengangkat pedang untuk menyebarkan agama. Dan tampilkanlah keindahan-keindahan substansial agama. Dan tariklah orang-orang dengan suri tauladan yang baik. dan jangan berpikiran bahwa pada permulaan Islam telah dikeluarkan perintah mengangkat pedang. Sebab, pedang tersebut tidak dicabut untuk menyebarkan agama, melainkan untuk membela diri dari serangan-serangan musuh. Atau pedang itu di cabut untuk menegakkan keamanan. Namun tidak pernah dengan tujuan untuk melakukan pemaksaan bagi agama.”dari serangan-serangan musuh. Atau pedang itu di cabut untuk menegakkan keamanan. Namun tidak pernah dengan tujuan untuk melakukan pemaksaan bagi agama.” (Sitarah Qaishariyah, hal. 16, mahzarnamah, JAI, 2002)
“Orang-orang yang menyebut diri mereka Muslim, tapi menyakini bahwa Islam harus disebarkan dengan pedang, mereka tidak menyadari keunggulan Islam yang melekat pada Islam, dan tindakan mereka seperti tindakan binatang.” (Taryaqul-Qoluub, Ruhani Khazain, ol. 15, hal. 167, Sinar Islam, vol. I, edisi 5, Juli 2014)

Beliau as bersabda: ”Mereka yang memiliki penglihatan, membaca hadits dan merenungkan Al-Quran harus memahami dengan baik bahwa jenis jihad yang di peraktekkan oleh banyak orang-orang barbar saat ini bukanlah jihad Islam. Sebaliknya, kegiatan sesat yang menyebar diantara   umat Islam adalah hasutan Nafs-Amarah (nafsu yang manghasut kejahatan) atau nafsu hewani untuk meraih surga.”(the British Government and jihad, Sinar Islam, vol.I, edisi 5, Juli 2014)

“Tradisi umum dikalangan kaum Muslim yang menyerang orang-orang dari agama lain, yang mereka sebut dengan jihad, bukanlah jihad agama Ilahi (syariat), sebaliknya itu adalah dosa besar dan pelanggaran terhadap instruksi yang jelas dari Allah dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad Saw. ((The Brithis Government and Jihad,  Sinar Islam, vol.I, edisi 5, Juli 2014)

“Mereka harus ingat bahwa pemahaman mereka tentang jihad sama sekali tidak benar dan simpati kepada manusia itu adalah yang utama. (the British Government and jihad, Sinar Islam, vol.I, edisi 5, Juli 2014)

Hadhrat Masih Mau’ud as, bersabda :
”Apakah itu tidak memalukan, ada orang asing harus tewas dengan cara tidak adil hingga menciptakan kesusahan urusan rumah tangga sehari-hari, menjadikan istrinya seorang janda, membuat anak-anaknya yatim piatu, dan mengubah rumahnya menjadi rumah duka ? hadits atau ayat dari Al-Quran yang mana yang memberikan kewenangan perilaku seperti itu ? Apakah ada mullah atau ulama yang dapat menjawab pertanyaan in ? Orang bodoh mendengar kata jihad dan dia menjadikan alasan untuk pemenuhan keinginan ego mereka sendiri. Atau mungkin itu adalah kegilaan belaka yang condong menuju pertumpahan darah.” (the British Government and jihad, Sinar Islam, vol.I, edisi 5, Juli 2014)
“Dizaman sekarang ini, dimana kita hidup didalamnya, tidak ada kebutuhan dan kebutuhan mutlak untuk melakukan peperangan lahiriyah, melainkan di akhir zaman ini yang dikehendaki adalah memperlihatkan contoh peperangan non-lahiriah. Dan yang menjadi perhatian adalah perlawanan rohani. Sebab pada saat ini sarana-sarana dan persenjataan untuk menyebarluaskan kemurtadan rohani dan penyimpangan agama telah banyak di buat. Oleh karena itu untuk melawannya juga diperlukan senjata semacam itu. Sebab, sekarang adalah zaman yang aman dan damai. Dan kita memperoleh segala macam kemudahan serta keamanan. Setiap orang bebas dapat melakukan penyebaran dan pertablighan agama masing-masing, …. Islam yang merupakan pendukung sejati terhadap keamanan bahkan secara hakiki hanya Islamlah penyebar keamanan, ketentraman dan kedamaian. Bagaimana mungkin pada zaman sekarang ini Islam dapat menyukai untuk memperlihatkan contoh pertama iu yaitu peperangan lahiriah dalam kondisi aman dan bebas? Jadi, pada masa sekarang ini yang dikehendaki adalah contoh kedua, yaitu peperangan rohani.” (Malfuzhat, jld.I, hal. 58, Mahzarnamah, JAI, 2002)

“Pada masa permulaan Islam, peperangan bela diri dan pertempuran jasmani memang diperlukan saat itu karena jawaban yang diberikan kepada para pelaku da’wa Islam bukanlah dalil-dalil dan argumentasi, melainkan di balas dengan pedang. Oleh karena itu, tanpa pilihan lain dalam menghadapinya terpaksa digunakan dengan pedang. Namun, sekarang tanggapan tidak dilakukan dengan pedang, melainkan serangan kecaman-kecaman dilakukan terhadap Islam melalui pena dan dalil-dalil. Itulah sebabnya pada zaman ini Allah Ta’ala telah menghendaki agar fungsi pedang digantikan oleh pena. Dan agar dilakukan perlawana melalui tulisan , sehingga penentang dikalahkan. Oleh karena itu sekarang tidak pantas  bagi siapapun untuk menjawab pena dengan menggunakan pedang.” (malfuzhaat, jld. I, hal. 58-59, Mahzarnamah, JAI, 2002)  
 

Generalisasi tentang ayat-ayat Alquran

Para penentang Islam dan sebagian umat Islam dalam memahami sumber-sumber Islam memaknainya secara parsial dan tidak menyeluruh. Misalnya mereka memilih sumber-sumber asli yang terkait dengan peperangan Rasulullah saw dan berdasarkan itu mereka membuat generalisasi pada keseluruhan hidup dan ajaran Rasulullah saw dan mengabaikan ayat-ayat lain yang yang lebih memberikan gambaran yang akurat.

Misalnya dalam upaya mereka membuktikan Rasulullah saw telah menyerukan pembunuhan terhadap orang kafir mereka mengambil ayat Al-Qur’an yang nyata-nyata keluar dari konteksnya. Salah satu ayat yang sering dikutip adalah:

 “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti.” (47:5)
Dengan ayat ini orang-orang dapat memiliki pandangan negatif terhadap Islam dan umat Islam sendiri menjadi terinspirasi melakukan semangat yang sama. Tetapi yang sebenarnya dalam memahami ayat ini jangan dibaca sepotong saja dengan mengabaikan konteks dan latar belakang sebenarnya.

Ayat ini turun saat umat Islam sedang menghadapi orang-orang Mekkah dalam Perang Badar. Jumlah orang Islam pada waktu itu sebanyak 313 orang sedangkan kaum Mekkah berjumlah lebih dari 1000 orang. Kaum Quraisy memiliki senjata yang lebih lengkap dibandingkan umat Islam. Kaum Quraisy sudah siap untuk menghabisi umat Islam. Ayat ini diturunkan dalam konteks ini.

Jika kita berpikir secara rasional tentang ayat ini maka pengertiannya adalah di dalam perang umat Islam diizinkan untuk membunuh, sebagaimana pasukan Amerika atau pasukan lainnya di dunia mengajarkan para tentaranya untuk membunuh selama peperangan terjadi yang jika tidak demikian mereka sendiri yang akan dibunuh. Bagian kedua ayat ini berbunyi bahwa ‘apabila kamu telah mengalahkan mereka, maka perkuatlah belenggu mereka’. Bagian ini dengan jelas menunjukkan bahwa pembunuhan itu diperbolehkan di masa peperangan tetapi saat kalian telah menundukkan tentara musuh, perkuatlah ikatannya sehingga ia tidak bisa melarikan diri dan ia dapat bergabung kembali dengan musuh. Setelah perang berakhir kalian dapat membebaskan mereka sebagai bentuk kebaikan atau untuk tebusan.

Wa’akhiru da’wana anilhamduillah rabbil a’lamin




Internalisasi Rahmatan lil ‘alamin Dalam Kehidupan Seorang Ahmadi

Irfan Rafid

Sebagai agama yang diturunkan oleh Allah Ta’ala, zat yang maha sempurna bahwa Islam diturunkan untuk menjadi Rahmat bagi alam semesta. Sebagaimana firman AllahTa’ala

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) Rahmat bagi semesta alam.(QS: Al-Anbiya 107)

Ayat diatas menjelaskan bahwa Rahmat itu menjadi tujuan dari pengutusan Rasulullah saw dengan membawa risalah Islam. Karena itu Rahmat Islam bagi alam semesta merupakan konsekuensi logis dari penerapan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Rahmat Islam tidak akan terwujud jika Islam hanya diambil sebagai simbol, slogan, aksesoris dan pelengkap “penderita” yang lain. Rahmat Islam juga tidak akan ada jika Islam hanya diambil ajaran spiritual dan ritualnya saja, sementara ajaran huququl ‘ibad mereka abaikan.

Memahami arti Rahmatan lil alamin


Sebelum memasuki pembahasan Rahmatan lil alamin, maka perlu bagi kita semua untuk memahami arti kata Rahmat itu sendiri, sehingga akan lebih memudahkan kita dalam mewujudkan Rahmatan lil alamin dalam kehidupan kita.

Dalam Lisanul Arab dijelaskan bahwa secara bahasa, Rahmat artinya ar-rifqu wath-tha’athuf; yang artinya adalah kelembutan yang berpadu dengan rasa iba. Atau dengan kata lain Rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang. Jadi, diutusnya Nabi Muhammad saw adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia.

Kata al-rahmah adalah mashdar dari kata kerja rahima, dan ia berkedudukan sebagai tujuan pengutusannya (maf’ûl li ajlihi) atau sebagai keterangan (hâl) bahwa Muhammad saw adalah al-rahmah yang menguatkan kedudukan beliau (mubâlaghah), dan dalam konteks penggunaan istilah ini kata Rahmat terkadang berkonotasi al-riqqah (kelembutan) atau berkonotasi al-ihsân (kebajikan). Atau al-khayr (kebaikan) dan al-ni’mah (kenikmatan). Maka ia termasuk satu lafazh yang berserikat di dalamnya lebih dari satu makna (lafzh musytarak) yang pemaknaannya ditentukan indikasi lainnya.

Lunturnya Penerapan Rahmatan lil Alamin pada Umat Islam

Bagai buih di lautan, begitulah ucapan nabi kita Rasulullah saw yang menggambarkan kondisi umat Islam di akhir zaman. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Thauban ra bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah meskipun jumlah mereka sangat ramai namun tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan  musuh mereka ibarat buih dilautan” sahabat bertanya, mengapa seramai itu tapi tidak berguna?” Rasulullah saw bersabda, “Karena ada dua penyakit yaitu mereka ditimpa penyakit Wahan yaitu cinta akan dunia dan takut akan kematian."

Kefasikan Berleluasa

Dari Abu Hurairah r.a, bahawasanya Rasulullah saw bersabda
“Bersegeralah kamu beramal sebelum menemui fitnah (ujian berat) seumpama malam yang sangat gelap. Seseorang yang masih beriman pada waktu pagi, kemudian pada waktu petang dia sudah menjadi kafir, atau seseorang yang masih beriman pada waktu petang, kemudian pada keesokan harinya dia sudah menjadi kafir. Dia telah menjual agamanya dengan sedikit harta benda dunia” (HR Muslim).
Namanya Saja Islam 

Dari Ali bin Abi Thalib r.a. Beliau berkata, telah bersabda Rasulullah saw,
"Telah hampir tiba suatu zaman, di mana tidak ada lagi dari Islam kecuali hanya namanya, dan tidak ada lagi dari Al-Quran kecuali hanya tulisannya. Masjid-masjid mereka indah, tetapi kosong daripada hidayah. Ulama mereka adalah sejahat-jahat makhluk yang ada di bawah langit. Daripada merekalah keluar fitnah, dan kepada mereka jua fitnah itu akan kembali ” (HR Al-Baihaqi)

Penyakit Umat Islam Masa Kini

Dari Abu Hurairah r.a. Katanya, aku mendengar Rasulullah sawa bersabda
“Umatku akan ditimpa penyakit -penyakit yang pernah menimpa umat-umat terdahulu” Sahabat bertanya “Apakah penyakit-penyakit umat-umat terdahulu itu?” Nabi SAW menjawab “Penyakit-penyakit itu adalah, 1.Terlalu sombong, 2.Terlalu mewah, 3.Mengumpulkan harta sebanyak mungkin, 4.Tipu menipu dalam merebut harta benda dunia, 5.Saling memarahi, 6.Dengki-mendengki sehingga menjadi zalim menzalimi” (HR Hakim)


Islam Akan Pudar Secara Perlahan-Lahan

Dari Huzaifah bin al-Yaman r.a. Beliau berkata, Rasulullah saw bersabda
“Islam akan lenyap seperti hilangnya corak pada pakaian, sehingga orang tidak mengerti apakah yang dimaksudkan dengan puasa, apakah yang dimaksudkan dengan shalat, apakah yang dimaksudkan dengan nusuk (ibadah), dan apakah yang dimaksudkan dengan sedekah. Al-Quran akan hilang semuanya pada suatu malam saja, maka tidak ada yang tertinggal di permukaan bumi ini darinya walaupun hanya satu ayat. Sesungguhnya yang ada hanya beberapa kelompok manusia, di antaranya orang tua, lelaki dan perempuan. Mereka hanya dapat berkata, Kami sempat menemui nenek moyang kami mengucapkan kalimat LAILAHAILLALLAH, lalu kami pun mengucapkannya juga” (HR Ibnu Majah)

Setiap Ahmadi Harus Mewujudkan Rahmatan lil Alamin

Allah Ta’ala telah memberikan karunia dan ihsan yang teramat besar kepada para Ahmadi bahwa Allah Ta’ala tidak hanya telah menciptakan kita pada zamannya, tetapi telah juga memberikan taufik kepada kita untuk menerimanya. Maka taufik yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita ini, yakni kita telah beriman kepada Imam Zaman, menuntut beberapa hal dari kita, yang hendaknya kita perhatikan benar. Tidak cukup bagi kita hanya sekedar menerima utusan yang datang dari-Nya sesuai dengan janji-Nya, melainkan penting bagi kita untuk memperindah iman kita dengan memenuhi harapan-harapan yang Imam Zaman - Masih Mau’ud- telah harapkan dari kita.

Saat ini saya akan mengemukakan beberapa hal yang diharapkah oleh Hadhrat Masih Mau’ud as dari kita. Pada suatu tempat beliau bersabda:
“Jemaatku, jika mereka ingin menjadi Jemaat [sejati] maka hendaklah mereka menempuh suatu maut. Menghindar dari perkara-perkara nafsu dan kehendak-kehendak nafsu, dan mendahulukan AllahTa’ala dari segala sesuatu. Banyak sekali orang hancur karena riya dan hal yang sia-sia.”Hanya ikrar beriman melalui mulut belumlah menunaikan tuntutan keimanan, selama kita tidak menjadi contoh ketaatan melalui amalan.
Demikian pula keburukan-keburukan yang lain. Baik itu keburukan yang biasa-biasa ataupun yang besar, jika manusia melakukan hal ini dan melupakan AllahTa’ala, maka ini juga disebut sebagai dikuasai oleh kehendak-kehendak nafsu. Memperlihatkan hal itu [berarti] tidak mendahulukan Allah Ta’ala dari kehendak nafsu. Sabda Hadhrat Masih Mau’ud ini, “Jika Jemaatku ingin menjadi Jemaat [yang sejati] maka hendaklah ia menempuh suatu maut”, menuntut perhatian dari setiap anggota Jemaat. Jemaat terdiri dari orang per orang, selama ishlaah perorangan dalam Jemaat tidak terjadi, maka Jemaat juga sebagai suatu kesatuan tidak dapat dikatakan memperoleh ishlaah secara sempurna. Dalam Jemaat pun nampak kekosongan.

Jika terdapat keburukan pribadi seseorang, bagaimana bisa hal itu menjadikan buruk nama baik Hadhrat Masih mau’ud as? Jika diperhatikan dengan seksama, maka keburukan pribadi kita dapat menjadi sebab jatuhnya nama baik Hadrat Masih Mau’ud as. Para penentang kita mencela kita,

“Kalian menyatakan bahwa kalian telah meyakini dan memperlihatkan keimanan kepada Imam zaman, tetapi keburukan-keburakan mendasar ini masih ada dalam diri kalian. Kebohongan, penipuan, dan ketidakjujuran. Mahdi datang tentu membawa perubahan, menyucikan jiwa-jiwa, katakan kepada kami, perubahan apa yang telah diciptakan oleh baiat kalian itu?” Maka dari itu, perbuatan keliru dan buruk seorang anggota Jemaat tidak hanya menimpakan bala bencana bagi pondasi Jemaat bahkan menimbulkan tuduhan-tuduhan buruk bagi ta’lim (ajaran) Hadhrat Masih Mau’ud as.

Mewujudkan Rahmatan lil alamin dengan menjalankan syarat baiat

Syarat baiat yang 1: Orang yang baiat akan senantiasa menjauhi syirik perbuatan menjauhi syirik tidak hanya untuk laki-laki bahkan para perempuan kita juga bisa memperlihatkan derajat tinggi. Contoh teladan dalam menegakkan syarat baiat yang ini hingga jika melihatnya hati dipenuhi pujian kepada AllahTa’ala, yang membuat revolusi keruhanian telah terjadi dalam diri mereka.

Syarat baiat ke 2: Senantiasa akan menghindarkan diri dari segala perbuatan buruk,  fasik, kejahatan, aniaya khianat, mengadakan huru-hara dan memberontak serta tidak akan dikalahkan oleh hawa nafsunya.Setelah baiat setiap ahmadi harus bisa menjaga gejolak hawa nafsunya, bersamaan dengan itu mereka juga harus membuang rangkaian tradisi dan adat kebiasaan kotor sebelumnya. Di dalam jiwa hendaknya terjadi perubahan- perubahan suci seakan-akan keburukan ini sama sekali tidak ada pada diri mereka.

Syarat baiat ke 3: Senantiasa akan melaksanakan shalat lima waktu dan berusaha keras untuk mendirikan tahajjud serta mengirimkan shalawat pada nabi Muhammad saw.Saya menginginkan orang-orang yang baiat kepadaku hari demi hari bertambah maju dalam kebaikan dan ketaqwaan. Setelah berhari-hari mubahalah seakan-akan di jemaat kita telah tercipta satu lagi alam yang baru. Saya banyak melihat orang-orang menangis dalam sujud dan berkeluh kesah dalam tahajjud.
Menurut saya, hal yang cukup untuk memperkirakan ikatan manusia dengan Tuhannya ialah dengan melihat seberapa rajin, jujur dan tulus shalatnya. Saya sedemikian yakin orang yang penuh disiplin, tekun dan teliti mengerjakan shalat dan keadaan takut, sakit dan keadaan menghadapi cobaan tidak menghentikannya melakukan shalat, tidak dirugakan lagi adalah pemilik iman yang benar pada AllahTa’ala. Tetapi keimanan seperti ini AllahTa’ala berikan kepada orang-orang miskin, sangat sedikit orang-orang kaya mendapat nikmat harta ini.

Syarat baiat yang ke 4: Tidak mendatangkan kesusahan pada orang lain, karena dorongan hawa nafsunya baik dengan lisan, tangan atau dengan cara apapun juga.Pada syarat  baiat ini hendaknya setiap ahmadi mengamalkan apa yang menjadi sabda masih mauud as, bahwa beliau bersabda kalau dari ku tidak ada nasihat bersabar bagi jemaatku dan kalau saja sejak awal aku tidak menyiapkan kesabaran itu, yakni bersabarlah dalam mengahadapi perkataan buruk itu, maka medan jalsah itu akan dipenuhi darah. Inilah ajaran kesabaran yaitu mereka menghentikan hawa nafsu kemarahan.

Syarat baiat ke 5: Akan tetap setia pada AllahTa’ala dalam keadaan susah ataupun senang, suka duka, nikmat dan musibah pendeknya akan ridha terhadap putusan AllahTa’ala.Kondisi apapun yang terjadi pada setiap ahmadi, baik keadaan susah maupun senang, dalam keadaan ditimpa bencana maupun musibah, ditimpa derita kehinaan maupun dicemarkan nama baik tidak akan mengeluh pada Tuhan dan akan terus-menerus memohon karunia-Nya diiringi tekad akan tetap ridha pada kehendakNya.

Syarat baiat ke 6: Akan berhenti dari adat kebiasaan buruk dan menuruti hawa nafsu dan menjunjung tinggi perintah al-qur’an suci atas dirinya.Hazrat masih mau’ud menghendaki supaya orang yangbergabung dalam jemaat beliau mengamalkan ajaran-ajaran al-qur’an atau sekurang-kurangnya merupakan orang-orang yang berupaya mengamalkannya dan mengimaninya. Jika tidak mengimani satu perintah sekalipun, sabda beliau “ maka dia tideak ada ikatan dengan saya”.

Syarat baiat ke 7: Betul-betul akan meninggalkan takabur dan bangga diri, akan hidup merendahkan diri, beradat lemah lembut dan sopan santun.kebanyakan orang-orang semacam inilah yang mengimani para nabi Allah yaitu orang-orang yang halus budi pekertinya dan berkarakter sederhana. Dalam hal inilah terdapat rahasia dan intisari kemajuan jemaat-jemaat ilahi yaitu seberapa banyak Nampak orang-orang yang rendah hati, orang-orang yang sederhana yang menunjukkan contoh kerendahan hati yang luhur dan kesederhanaan yang tinggi, sebanyak itulah derap kemajuan menjadi bertambah lebih cepat, dan orang-orang yang mengimani para nabi pun adalah orang-orang yang serupa itu. Apabila pandangan para nabi menerpa kalbu-kalbu yang seperti itu dan mereka mengadakan jalinan dengan para nabi, maka itu akan memberikan mereka keindahan dan kecermalangan yang lebih.

Syarat baiat ke 8:  Akan mendahulukan agama dan kehormatan agama dan mencintai Islam lebih dari jiwa, harta bendanya, anak-anaknya dan dari segala yang dicintainya.Dalam jemaat ini dengan karunia Allah senantiasa terus menerus Nampak kepada kita pemandangan mendahulukan agama diatas dunia. ibu-ibu mempersembahkan anak-anak mereka dan para bapak dalam mengamalkan sunnah Ibrahim, membawa anak-anak mereka sambil memegang jari-jari tangan mereka seraya berkata “sekarang ini adalah milik jemaat”. Bilamana saja diinginkan, jemaat silahkan mengambil pengorbannya. Dan anak-anak pun merupakan sosok kader yang siap menyerahkan diri mereka untuk pengorbanan.kami pun seperti islmail siap memberikan pengorbanan jiwa.

Syarat baiat ke 9: Akan selamanya menaruh belas kasihan terhadap makhluk Allah umumnya dan medatangkan faedah kepada umat manusia. Jemaat ini dalam berbagai himbauan demikian menekankan pengkhidmatan social dan khidmat khalaq (pengkhidmatan terhadap umat manusia) setia warga jemaat, baik yang kaya maupun yang miskin sesuai dengan kemampuan masing-masing dengan segera berupaya agar dapat meraih peluang melaksanakan pekerjaan khidmat khalaq demi mencari ridha ilahi. sebab kenapa hati ahmadi demikian tulus dalam pekerjaan-pekerjaan mulia semacam itu ialah karena manus telah melupakan ajaran indah Islam yaitu jika ingin mereaih kecintaan AllahTa’ala maka bersikap baiklah terhadap makhlukNya dan perhatikan pula keperluan-keperluan mereka.

Syarat baiat ke 10: akan menjaga tali persaudaraan dengan hamba ini semata-mata karena Allah dengan segala ketaatan yang ma’ruf.

Dengan menjalankan 10 syarat ini maka dengan sendirinya setiap ahmadi juga mewujudkan Islam sebagai Rahmatan lil alamin dalam kehidupannya, selain itu setiap ahmadi juga menjadi seorang yang amanah karena telah menepati janji baiatnya kepada Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala beri taufiq dan karunia kepada kita semua, sehingga kita menjadi ahmadi yang mukhlis dan sejati.



Thursday, April 14, 2016

Sekiranya Tuhan Adalah Ruang, Akan Dia Akan Musnah

Menanggapi Tulisan Dedy Ibmar

[Foto: belasasih.files.wordpress.com]
Manusia adalah mahluk yang termulia di muka bumi ini karena terlahir dengan potensi akal pikiran. Pikiran merupakan tahta singgasana luhur dari kesadaran manusia. Logika deduktif merupakan salah satu fitrat pikiran yang amat menakjubkan.
Pikiran pun mempunyai kemampuan merenungi masalah-masalah metafisika dan konseptual yang berkaitan dengan ketidak-terbatasan dan kekekalan. Pikiran memiliki kemampuan memecahkan teka-teki dari suatu rangkaian kausa sebab akibat yang tidak berujung.
Pikiran manusia merupakan entitas paling luhur dari kehidupannya. Pikiran mampu menerima dan mengolah semua pesan yang disampaikan kepadanya melalui semua indera. Pikiran bukanlah nama lain dari otak. Pikiran jauh lebih luhur dari otak karena justru dialah yang berfungsi sebagai penggeraknya. (Hazrat Mirza Tahir Ahmad, 1998)
Meski demikian, pikiran manusia pun memiliki keterbatasan. Sebuah pembelajaran dapat diambil ketika Galileo di abad ke-16 melihat alam di luar bumi menggunakan teleskopnya yang sederhana, ia demikian terpesona dengan temuannya. Dengan bangga ia menyatakan telah berhasil memperluas cakrawala penglihatan manusia lebih dari seratus kali.
Namun tanpa disadarinya, tidak lama setelah itu datang suatu hari bagi manusia di mana alam semesta ini terlihat seratus juta kali lebih besar dan lebih luas dibanding apa yang dilihatnya pada waktu itu. Ia hanya bisa membandingkan temuannya itu dengan keadaan di masa sebelum dirinya saja. Sudah berulang kali terjadi, betapa semunya lonjakan kegembiraan manusia atas hasil temuannya.
Apa yang kita ketahui di masa sekarang mungkin sudah bermilyar kali lebih luas dibanding keadaan seribu tahun yang lalu. Dan apa yang akan diketahui umat manusia seribu tahun mendatang, bisa jadi bermilyar kali lebih canggih dibanding keadaan sekarang. Hal ini membuktikan bahwa adanya percepatan dari upaya penjelajahan area baru, terasa sekali betapa terbatasnya kapasitas indera yang dimiliki manusia.
Suatu spektrum kehidupan dan suara yang sangat luas masih berada di luar jangkauan persepsi yang normal. Kalau kita mampu memperbaiki kemampuan persepsinya maka kita akan mampu melihat lebih banyak warna dan mendengar lebih banyak suara.  
Bentuk dan warna yang kita lihat nyatanya amat berbeda di mata beberapa jenis hewan. Daya penglihatan dari dunia material, persepsi mengenai warna, bau dan rasa, nyatanya amat berbeda sehingga yang namanya realitas berubah menjadi suatu realitas relatif. Fitrat pikiran manusia memiliki keterbatasan, terutama dalam mencapai kebenaran pada wilayah atau domain yang melampaui ruang dan waktu.
Terkait ruang, secara matematika dapat dibuktikan bahwa ruang yang kita huni dan semesta yang ada tidak mungkin bersifat kekal terkait masa lalunya, dan tidak mungkin abadi terkait masa depannya. Guna menjelaskan bahasan ini kita memerlukan definisi ilmiah yang disebut sebagai ‘entropi.’
Entropi mengandung makna bahwa alam material ini dalam bentuk apa pun eksistensinya secara berkesinambungan akan kehilangan sebagian dari massanya, di mana energi yang menghilang tak mungkin dipulihkan kembali.
Paul Davies seorang Professor di bidang Filsafat Alam di Universitas Adelaide yang juga pemenang penghargaan Templeton Prize menyatakan dalam bukunya, God and the New Physics (1990) bahwa:
 Para ahli fisika telah menemukan suatu kuantitas matematika yang disebut sebagai entropi untuk mengukur kadar kerancuan, dimana banyak dari eksperimen yang dilakukan secara hati-hati telah membuktikan bahwa total entropi merupakan sistem yang tidak pernah menyurut. 
Dalam hal ini, alam semesta hanya memiliki keteraturan yang terbatas dan selalu merosot secara irreversible ke arah kerancuan, yang berakhir pada ekuilibrium thermodinamika.
Ada dua kesimpulan yang bisa ditarik. Pertama, alam ini akan mati, terbenam di dalam entropinya. Hal ini disebut sebagai ‘kematian kehangatan’ (heat death) oleh para ahli fisika di dunia. Kedua, alam semesta ini tidak mungkin kekal selamanya, kalau tidak maka alam ini sudah mencapai akhir ekuilibriumnya pada waktu tidak terbatas di masa lalu. Kesimpulannya, alam ini tidak selamanya ada.
Dalam reaksi sederhana bila hidrogen dibakar dalam sebuah tabung yang penuh oksigen dengan cara menyemprotkan hidrogen menyala ke dalamnya, maka ia hanya akan terbakar selama oksigen masih ada. Apa yang tertinggal dari proses itu adalah air.
Suatu benda panas secara berangsur suhunya akan mendingin. Jika benda itu menjadi sama dingin dengan suhu di sekelilingnya, berarti ia telah mencapai suatu ekuilibrium. Arus hangat dari benda yang panas kepada atmosfir yang dingin tidak akan berbalik arahnya. Selalu suhu panas yang mengalir ke arah dingin.Ketika reaksi kimia ini sedang berlangsung, terjadilah pelepasan energi. Guna mengkonversi air agar kembali menjadi hidrogen dan oksigen, hanya mungkin jika jumlah energi yang dilepas saat sintesa air tersebut dipasok kembali untuk memisahkan komponen air, yaitu oksigen dan hidrogen tadi.
Ketika keseluruhan panas dari alam semesta telah habis dan telah mencapai titik ekuilibrium, tidak akan ada lagi pertukaran panas yang dimungkinkan dan tidak akan ada lagi reaksi kimiawi yang bisa terjadi. Keadaan inilah yang oleh para ilmuwan dikatakan sebagai ‘kematian kehangatan’ (heat death) dari alam semesta.
Quantum (kuantita) dari energi alam yang dikonsumsi akan terus meningkat sedangkan quantum dari energi yang bisa dibakar di alam semesta akan terus menurun.
Dengan demikian, akan tiba suatu masa nanti, meski mungkin masih lama sekali, ketika seluruh alam semesta akan terbenam dalam keadaan inertia (lembam) yang tidak bisa dipulihkan kembali kepada bentuk material semula. Tidak ada tindakan yang bisa diambil, tidak akan ada reaksi yang mungkin timbul. Nama lainnya adalah kematian mutlak atau ketiadaan. (Hazrat Mirza Tahir Ahmad, 1998).
Misalnya pun proses entropi memerlukan masa selama satu triliun tahun, pangkat satu triliun sampai datangnya ‘kematian kehangatan’ alam semesta, tetap saja ada ujungnya.
Sekarang beralih dari peninjauan ke belakang, kembali ke masa kini dan bertanya mengapa alam semesta ini eksis di sekitar kita? Bukankah mestinya sudah musnah sama sekali dihancurkan oleh entropi, karena tidak bisa menghindar dari deteksi ketika sedang mundur ke masa lalu?
Sebagian orang dibingungkan oleh hal ini, padahal sebenarnya merupakan persamaan matematika yang sederhana saja. Suatu bentuk yang bisa membusuk tidak mungkin bersifat kekal. Jika bentuk itu kekal adanya maka tak mungkin ia membusuk.
Pilihan yang tersisa hanyalah mempercayai adanya sang Pencipta Abadi yang tidak terpengaruh oleh entropi atau pun pembusukan. Ajaibnya hal ini merupakan konklusi tak terelakkan yang ditarik oleh Aristoteles dua ribu empat ratus tahun yang lalu sebelum masa kita. Konklusi itu tetap valid pada saat ini sebagaimana juga pada waktu itu.
Profesor Edward Kessel, Rektor dari Universitas San Fransisco mengungkapkan dalam bukunya Lets Look at Facts, Without Bent or Bias (1968) bahwa:
 Hidup masih berlanjut dan proses kimiawi dan fisika masih terus berjalan, kiranya jelas kalau alam semesta kita ini tidak eksis dari kekekalan. Karena kalau demikian adanya maka alam ini sudah lama kehabisan energinya dan berhenti total.
Karena itu, meski bukan dengan sengaja, ilmu pengetahuan membuktikan kalau alam ini memiliki awal. Dengan cara demikian maka terbuktilah realitas wujud Tuhan, karena segala sesuatu yang mempunyai awal pasti tidak berawal dari dirinya sendiri dan menuntut adanya wujud Penggerak Utama, sang Pencipta, Tuhan
.’
 
Apa pun yang tersisa pada akhirnya akan dihabiskan oleh entropi. Hal seperti itu akan terjadi, karena jika tidak ada sosok Pencipta maka tidak akan ada awal dari alam semesta yang bisa divisualisasikan. Jika memang tidak ada awalnya, tentunya hal itu bisa dianggap bersifat kekal.
Namun faktor-faktor yang dikemukakan di atas pasti telah menihilkannya sama sekali. Setiap benda yang bersifat terbatas pasti mempunyai akhir, untuk kemudian lenyap ke sumur ketiadaan tanpa dasar.
Jika demikian adanya, maka tidak ada justifikasi bagi eksistensi apa pun yang ada sekarang. Bagaimana mungkin kita menghindari tangan entropi yang tidak mengecualikan siapa pun? Kalau sudah dinihilkan, bagaimana mungkin muncul kembali dari ketiadaan tanpa batas?
Hanya sang Pencipta yang Maha Kekal saja yang tidak mungkin tersentuh oleh entropi. Bentuk eksistensi-Nya pasti berbeda sama sekali dari segala sesuatu yang diciptakan atau akan diciptakan-Nya. Bila ada yang menganggap bahwa Dia menciptakan sesuatu yang sama dengan Wujud-Nya maka eksistensi substansial-Nya tidak lagi bisa dikatakan sebagai kekal.
Karena itu jika kita berbicara tentang  entropi, kita sedang berbicara tentang ciptaan dan bukan tentang sang Pencipta. Apa pun yang diciptakan tidak mungkin mencipta sang Pencipta. Dia adalah Kausa Awal dari segala ciptaan yang terbatas.
 Segala sesuatu yang ada di atas bumi ini akan binasa. Dan yang akan tetap kekal hanyalah wujud Tuhan engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan. (QS.55 Ar-Rahman:27-28) 
Dilema entropi dibanding eksistensi alam semesta ini hanya bisa diatasi dengan solusi yang ditawarkan Al-Quran empat belas abad yang silam. Masalahnya bukan semata hanya tentang alam semesta yang berulang muncul diciptakan dari apa yang tersisa dari alam sebelumnya. Setiap kali alam diciptakan baru oleh sang Pencipta yang sama, Dia juga akan mengakhirinya setelah selesai dengan takdir yang telah ditetapkan atasnya.
Ajaibnya, Al-Quran sudah menyampaikan hal ini di masa ketika umat manusia masih amat jahil. Adalah pernyataan-pernyataan seperti ini yang menggambarkan bagaimana wilayah yang tidak dikenal atau gaib ditransformasikan menjadi sesuatu yang dikenal.
Meski tidak diperhatikan dan tidak dihargai selama lebih dari seribu tahun, tiba-tiba semuanya muncul hidup di tengah zaman modern dari masa eksplorasi dan penemuan ini, seolah-olah memang sudah ada dari dulunya.
Tulisan ini merupakan tanggapan atas artikel yang ditulis Dedy Ibmar berjudul:Ruang adalah Tuhan yang Sebenarnya.


 

Copyright © ISLAM DAMAI. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com