Icon

Wednesday, February 25, 2015

200 Ayat Al-Qur'an tentang Berbuat Kebaikan dan Kasih Sayang

Photo Alquran love cinta
Ajaran Al-Qur'an tentang cinta kasih sayang dan berbuat kebaikan telah tertutupi oleh berita-berita yang mengesankan bahwa Islam bukan agama damai tetapi agama yang mengajarkan kekerasan dan menjadi sumber inspirasi terorisme.

Jauh dari semua itu, Al-Qur'an mengajarkan kepada satu Tuhan dan satu kesatuan umat manusia dengan perbuatan baik dan saling kasih sayang. Berikut ini akan kami sampaikan, daftar ayat-ayat tentang berbuat kebaikan dan kasih sayang yang terdapat di dalam Al-Qur'an:

Al-Qur'an menekankan bahwa ketakwaaan bukan dinilai hanya dengan kesalehan ritual semata melainkan dalam bentuk amal saleh dan kasih sayang. Al-Qur'an menjelaskan bahwa parameter suatu keyakinan dan ibadah yang benar adalah dapat mewujudkan hidup yang penuh kebaikan dan kasih sayang.

1. "Bukanlah kebaikan bahwa kamu menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat, tetapi yang sebenarnya kebaikan ialah yang beriman kepada Allah swt. dan Hari Kemudian dan malaikat-malaikat dan Kitab dan nabi-nabi, dan memberikan harta atas kecintaan kepada-Nya, kepada kaum kerabat, dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan orang musafir, dan mereka yang meminta sedekah dan untuk memerdekakan hamba sahaya; dan orang-orang yang mendirikan shalat dan membayar zakat; dan orang-orang yang menepati janji mereka bila mereka berjanji, dan mereka yang sabar dalam kesusahan  dan kesengsaraan, dan tabah dalam masa perang; merekalah orang-orang yang benar dan merekalah orang-orang yang bertakwa. (Q.S. 2:178)

Setiap Shalat Jumat saat Khutbah Kedua, umat Islam di seluruh dunia mendengarkan ayat ini, yang menekankan pada keadilan, kebaikan, saling mencintai kepada kaum kerabat.
2. "Sesungguhnya Allah swt. menyuruh berlaku adil dan berbuat kebaikan dan memberi kepada kaum kerabat ; dan melarang dari perbuatan keji, dan hal yang tidak disenangi, dan memberontak. Dia memberi kamu nasihat supaya kamu mengambil pelajaran." (Q.S. 16:91)

Allah berfirman bahwa syarat kesalehan tersebut adalah dengan berbuat kebaikan. Allah menekankan bahwa untuk mendapatkan Kedekatan dan Rahmat Allah taala syaratnya adalah dengan berbuat kebaikan kepada sesama, yaitu mereka yang ingin berhasil menemukan Allah, harus berbuat kebaikan dan penuh kasih sayang kepada manusia:
3. Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami, sesungguhnya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah swt. beserta orang- orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 29:70)
4. Sesungguhnya Allah swt. beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 16:129)

Allah telah menjelaskan bahwa kita harus berinisiatif terlebih dahulu untuk berbuat kebaikan kepada orang lain, tetapi jika orang lain yang terlebih dahulu berbuat baik kepada kita, kita harus berbuat kebaikan yang serupa.
5. Bukankah ganjaran kebaikan itu tidak lain melainkan kebaikan ? (Q.S. 55:61)
Dalam salah satu ayat yang biasa dibacakan saat upacara pernikahan, Allah telah menghubungkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalin hubungan yang baik.
6. Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu Yang menciptakan kamu dari satu jiwa dan darinya Dia menciptakan jodohnya, dan mengembang-biakan dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan; dan bertakwalah kepada Allah swt. yang dengan nama-Nya kamu saling bertanya, terutama mengenai hubungan  tali kekerabatan. Sesungguhnya Allah swt. adalah pengawas atas kamu. (Q.S. 4:2)
Pada ayat pertama di setiap Surah Al-Qur'an, kecuali satu Surah, kita membaca: Bismillahirrohmanirrohim, "Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

Allah tidak saja Pengasih dan Penyayang, tetapi juga menginginkan kepada manusia supaya berlaku kasih sayang kepada sesama.

Ayat ini tercantum di 113 Surah, kecuali untuk Surah At-Taubah dan di pertengahan salah satu Surah, jadi semua telah masuk hitungan dalam daftar ini.
7-120. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Bagi mereka yang secara sadar ataupun tidak sadar ingin mengambil kepentingan dari politik Islam, pertama harus mencoba mengulang ajaran belas kasih selama beberapa dekade. Mungkin hal ini bisa meredakan ambisi politik dan membawanya kepada ajaran Islam yang benar. Al-Qur'an telah menjelaskan kasih sayang dan kebaikan sebagai resep untuk mengubah musuh menjadi teman yang akrab:
121-122. Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan.Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya, maka tiba-tiba ia, yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia. Dan, tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang-orang yang sabar, dan tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang yang mempunyai bagian besar dalam kebaikan. (Q.S. 41: 35-36)
Sekarang saya akan mencantumkan ayat-ayat yang berasal dari kata kata "Muhsin", dalam bahasa Arab, di dalam Al-Qur'an, dalam bentuk tunggal maupun jamak, artinya "Muhsin" adalah orang yang berbuat baik dan melayani orang lain. Dua ayat telah saya sebutkan sebelumnya dan saya tidak akan mengulanginya disini:
123. Tak ada dosa atasmu, jika kamu menalak perempuan-perempuan yang belum kamu sentuh atau belum kamu memastikan maskawin bagi mereka. Akan tetapi, berikanlah kepada mereka, yang kaya menurut kadar kemampuannya, dan bagi yang berkekurangan menurut kadar kemampuannya, suatu pemberian dengan cara yang ma’ruf. Inilah  kewajiban atas orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. 2:237)
124. Ialah, orang-orang yang membelanjakan harta di waktu lapang dan di waktu sempit, dan yang menahan marah dan yang memaafkan manusia. Dan Allah swt. mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Q.S. 3:135)
125. Karena itu Allah swt. memberi mereka pahala duniawi dan juga sebaik-baik pahala akhirat dan Allah swt. mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 3:149)
126.Dan, siapakah yang lebih baik agamanya dari orang yang sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada Allah swt., dan ia seorang pelaku kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang tulus ikhlas ? Dan, Allah swt. telah menjadikan Ibrahim sebagai  sahabat karib. (Q.S. 4: 126)
127. Maka, oleh sebab mereka melanggar janji mereka, Kami laknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras. Mereka menukar perkataan-perkataan dari tempat-tempatnya, dan melupakan sebagian dari apa yang telah dinasihatkan kepada mereka. Dan senantiasa engkau akan menemukan pengkhianatan dari mereka. Kecuali sedikit dari mereka. Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah. Sesungguhnya Allah swt. mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Q.S. 5:14)
128. Maka disebabkan ucapan mereka, Allah swt. memberi ganjaran kepada mereka dengan kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah ganjaran orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 5:86)
129. Tiada dosa bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh dalam apa yang telah dimakan mereka dahulu  asalkan mereka bertakwa dan beriman dan beramal saleh, kemudian mereka semakin  bertakwa dan berbuat kebaikan.  Dan, Allah swt. mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 5:94)
130. Dan, Kami menganugerahkan kepadanya, Ishak dan Ya’kub ; masing-masing Kami beri petunjuk ; dan Nuh Kami beri petunjuk sebelumnya, dan dari keturunannya, Daud dan Sulaiman dan Ayyub  dan Yusuf dan Musa dan Harun. Dan, demikianlah Kami memberi ganjaran kepada mereka yang berbuat kebajikan. (Q.S. 6:85)
131. Dan, ingatlah  ketika Kami berfirman, “Masuklah ke kota ini dan makanlah darinya di mana kamu sukai sepuas hati; dan masukilah pintu-Nya dengan tunduk sambil mengucapkan, “Tuhan, bebaskanlah kami dari dosa kami,” Kami akan ampuni kesalahan -kesalahanmu, dan akan Kami lipat gandakan anugerah kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. 2: 59)
132. Dan, janganlah kamu berbuat kerusuhan di muka bumi sesudah perbaikannya,  dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh  harap. Sesungguhnya, rahmat Allah swt. dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 7: 57)
133.Dan, ingatlah ketika dikatakan kepada mereka, “Tinggallah kamu di dalam kota ini dan makanlah darinya di mana saja kamu sukai dan katakanlah, ‘ Ya Tuhan, ringankanlah beban kami,’ dan masukilah pintunya dengan merendahkan diri, Kami akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu, Kami kelak akan menambah ganjaran  kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S. 7:162)
134. Tak ada celaan terhadap orang-orang yang lemah, dan tidak pula terhadap orang-orang yang sakit, dan tidak pula terhadap orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu yang dapat mereka belanjakan, apabila mereka berlaku ikhlas terhadap Allah swt. dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan untuk mencela  orang-orang yang berbuat baik, dan Allah swt. Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S. 9:91)
135. Tidaklah patut bagi penduduk Medinah dan orang-orang Arab gurun di sekitarnya tertinggal di belakang Rasul Allah swt. dalam peperangan  dan tidak mementingkan diri mereka sendiri di atas dirinya Rasul. Hal demikian karena mereka tidak akan ditimpah dahaga dan tidak kelelahan dan tidak kelaparan di jalan Allah swt., dan tidak mereka akan memijak tempat berpijak yang menjadikan marah orang-orang kafir dan tidaklah mereka meraih dari musuh suatu kemenangan, melainkan akan ditulis bagi mereka karena hal itu suatu amal shaleh. Sesungguhnya, Allah swt. tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang-orang yang ber buat baik. (Q.S. 9:120)
136. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah swt. sekali-kali tidak menyia-nyiakan ganjaran orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. 11: 116)
137. Dan setelah ia sampai kepada kedewasaannya, Kami berikan kepadanya kebijaksanaan dan ilmu. Dan demikianlah Kami memberi ganjaran kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 12:23)
138. Dan masuk bersamanya ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkata seorang di antara keduanya, “Sesungguhnya kulihat dalam mimpi, aku sedang memeras air anggur.” Dan yang lain berkata, “Sesungguhnya kulihat diriku dalam mimpi  membawa di atas kepadaku roti yang sebagiannya dimakan burung-burung. Beritahukanlah kepada kami ta’wilnya ; sesungguhnya kami memandang engkau termasuk orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. 12: 37)
139. Dan demikianlah telah Kami berikan kedudukan kepada Yusuf di negeri itu. Ia tinggal dimana saja yang ia kehendaki. Kami limpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki, dan tidaklah Kami menyia-nyiakan ganjaran orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. 12:57)
140. Mereka berkata, “Wahai yang mulia, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah tua renta , maka ambillah salah seorang dari antara kami sebagai gantinya ; sesungguhnya kami lihat engkau termasuk orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. 12:79)
141. Mereka berkata, “Apakah sesungguhnya engkau Yusuf ? “ Ia berkata, “Ya, akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah swt. telah melimpahkan karunia atas kami. Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka Allah swt. pasti tidak akan menyia-nyiakan ganjaran bagi orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. 12:97)
142. Sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, dagingnya dan tidak pula darahnya, akan tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan darimu.  Demikianlah Dia menundukkan mereka untuk kamu, supaya kamu mengagungkan Allah sesuai petunjuk kepadamu. Dan berikan khabar suka kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 22: 38)
143. Dan tatkala ia telah sampai pada umur kedewasaannya dan telah mempunyai akhlak  yang sempurna Kami anugerahkan kepadanya hukum dan ilmu. Dan demikianlah Kami balas orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 28: 15)
144. Suatu petunjuk dan rahmat bagi mereka yang berbuat kebaikan. (Q.S. 31:4)
145. Dan barangsiapa menyerahkan perhatiannya kepada Allah dan ia seorang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada lingkaran yang kuat. Dan kepada Allah-lah akibat segala perkara. (Q.S. 31:23)
146. “Tetapi, jika kamu menghendaki Allah dan Rasul-Nya dan rumah di akhirat, maka sesungguhnya Allah telah menyediakan bagi mereka diantaramu yang beramal baik, pahala yang besar.” (Q.S. 33:30)
147. Sungguh demikianlah Kami membalas orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 37:81)
148. Sungguh engkau telah menyempurnakan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi ganjaran orang-orang yang berbuat kebaikan.(Q.S. 37:106)
149. Demikianlah Kami mengganjar orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. 37: 111)
150. Dan, Kami melimpahkan berkat atasnya, dan juga  kepada Ishak. Dan di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada pula yang nyata-nyata aniaya terhadap dirinya sendiri. (Q.S. 37: 114)
151. Sesungguhnya, demikian-lah Kami mengganjar orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. 37: 122)
152. Sesungguhnya, demikian-lah Kami mengganjar orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. 37: 133)
153. Bagi mereka apa yang mereka inginkan di sisi Tuhan Mereka. Itulah ganjaran mereka yang berbuat kebaikan. (Q.S. 39:35)
154. Atau, ia berkata ketika ia melihat azab, “Sekiranya bagiku ada kesempatan  kembali ke dunia, niscaya aku akan berada di antara orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S. 39:59)
155. Dan, sebelum ini telah ada Kitab Musa, sebagai petunjuk dan rahmat; dan  ini adalah Kitab dalam bahasa Arab yang membenarkan nubuatan-nubuatan terdahulu, supaya memberi peringatan kepada orang-orang yang berlaku aniaya dan khabar suka untuk orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. 46: 13)
156. Mereka mengambil apa yang akan dianugerahkan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Karena sebelum itu mereka berbuat kebaikan. (Q.S. 51:17)
157. Sesungguhnya, demikianlah Kami membalas mereka yang berbuat kebaikan. (Q.S. 77:45)
158. Mengapa tidak, barangsiapa menyerahkan dirinya] kepada Allah swt. dan ia berbuat kebaikan maka bagi dia ada ganjarannya di sisi Tuhan-nya. Dan, tak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. (Q.S. 2:113)
159. Dan, belanjakanlah harta pada jalan Allah swt., dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu dengan tanganmu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah swt. mencintai orang- orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 2: 196)

Ketika berbicara kepada kebaikan yang spesifik, siapa yang lebih layak untuk mendapatkan kebaikan dan kasih sayang kita, Rasulullah saw, yaitu berbuat kebaikan kepada ibu. Salah seorang sahabat bertanya: Siapakah yang paling pertama untuk dikhidmati saya?" "Ibumu," kata Rasulullah. Kemudian sahabat bertanya lagi, setelah itu siapa? "Ibumu", ulang Rasulullah. Begitu juga pada pertanyaan keempat kali Rasulullah saw menjawab, "Ayahmu".

Mereka yang menuduh Islam tidak memperhatikan kesetaraan gender mungkin belum pernah mendengar hadis ini. Saya akan mendata ayat-ayat yang berkaitan dengan berbuat baik kepada orang tua:

160. Dan, ingatlah ketika Kami mengambil janji teguh dari Bani Israil, bahwa “Janganlah kamu menyembah sesuatu selain Allah swt. dan berbuatlah kebaikan terhadap ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, dan ucapkanlah kata-kata baik kepada manusia dan dawamlah mendirikan shalat dan bayarlah zakat, kemudian kamu berpaling, kecuali sedikit di antara kamu dan kamu selalu berpaling. (Q.S. 2:84)
161. Mereka bertanya kepada engkau, apa yang harus mereka belanjakan. Katakanlah, ”Apa saja yang kamu belanjakan dari harta yang baikhendaklah untuk ibu-bapak, kaum kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang musafir. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat, maka sesungguhnya Allah swt. Maha Mengetahui tentang itu. (Q.S. 2:216)
162. Dan, sembahlah Allah swt. dan jangan kamu mempersekutukan sesuatu dengan-Nya; dan berbuat  baiklah terhadap kedua orang tua, dan kaum kerabat, dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan tetangga yang sesanak-saudara dan tetangga yang bukan kerabat, dan handai taulan, dan orang musafir, dan yang dimiliki oleh tangan kananmu. Sesungguhnya, Allah swt. tidak menyukai orang sombong, membanggakan diri. (Q.S. 4:37)
163. Katakan, “Marilah kubacakan apa yang diharamkan Tuhan-mu atasmu, janganlah kamu  mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya ; dan berbuat baiklah terhadap kedua orang-tua, dan  janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut  miskin, Kami Yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan jangan kamu mendekati perbuatan keji, baik itu zahir ataupun yang tersembunyi ; dan janganlah kamu membunuh suatu jiwa yang Allah swt. mengharamkannya kecuali dengan hak. Demikianlah Dia telah mewasiatkan kepadamu mengenai hal itu supaya kamu memahami. (Q.S. 6:150)
164. “Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua orangtuaku dan orang-orang mukmin pada Hari diadakannya perhitungan.” (Q.S. 14:40)
165. Dan Tuhan engkau telah memerintahkan supaya jangan menyembah selain kepada-Nya. dan berbuat baiklah terhadap ibu-bapak. Jika salah seorang dari mereka atau kedua-duanya mencapai usia lanjut dalam kehidupan engkau, maka janganlah engkau mengatakan “ah” terhadap keduanya dan kanganlah engkau hardik keduanya, dan berkatalah kepada keduanya dengan perkataan yang hormat. (Q.S. 17:22)
166. Dan kami perintahkan kepada manusia berbuat kebaikan terhadap ibu-bapaknya, tetapi jika keduanya memaksa engkau untuk menyekutukan Aku dengan apa yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau mentaati keduanya. Dan kepada Aku akan beritahukan kepadamu tentang apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S. 29:7)
167. Dan Kami telah memerintahkan kepada manusia supaya berbuat baik terhadap ibu-bapak-nya, ibunya telah mengandungnya dalam kelemahan di atas kelemahan, dan penyapuhan susunya dalam dua tahun, supaya bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtua engkau. Kepada Aku-lah tempat kembali. (Q.S. 31:15)
168. Dan Kami diperintahkan kepada manusia supaya berbuat baik terhadap orangtuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah-payah, dan melahirkannya dengan susah-payah. Dan mengandungnya dan menyapihnya selama tiga puluh bulan. Hingga apabila ia mencapai usia dewasanya dan mencapai usia empat puluh tahun, ia berkata, ”Hai Tuhan-ku, limpahkanlah taufik kepadaku supaya aku dapat bersyukur atas nikmat Engkau yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada orangtuaku, dan supaya aku dapat beramal shaleh yang Engkau meridhainya, dan perbaikilah bagiku dalam keturunanku. Sesungguhnya, aku kembali kepada Engkau; dan Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (46:15)

Masih ada ayat-ayat lainnya tentang berbuat baik kepada orang tua di dalam Al-Qur'an, karena saya membuat target 200 ayat, saya meninggalkan ayat-ayat tersebut dan mengumpulkan ajaran Islam tentang hidup berumah tangga:
169. Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istrimu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. (Q.S. 2:188)
170. Dan bergaullah dengan mereka secara baik-baik; jika kamu tidak menyukai mereka, maka ingatlah bahwa boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah swt. menjadikan di dalamnya banyak kebaikan. (Q.S. 4:20)

Bagaimana Al-Qur'an menjelaskan tentang berbuat baik kepada orang yang kurang mampu dan anak yatim?
171. Mereka bertanya kepada engkau mengenai anak yatim. Katakanlah, “Memperbaiki mereka adalah sangat baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka itu saudara-saudaramu. Dan Allah swt. mengatahui yang berbuat perbaikan. Dan sekiranya Allah swt. menghendaki niscaya Dia akan menyusahkan kamu, Sesungguhnya Allah swt. itu Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Q.S. 2:221)
172. Dan, Jika kamu khawatir bahwa kamu tak akan dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim, maka kawinilah perempuan-perempuan lainnya  yang kamu sukai; dua, tiga, atau empat; akan tetapi, jika kamu khawatir kamu tak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah  seorang perempuan saja, atau kawinilah yang dimiliki tangan kananmu.  Cara demikian itu lebih dekat untuk kamu supaya tidak berbuat aniaya. (Q.S. 4:4)
173. Dan, apabila hadir pada waktu pembagian warisan itu kaum kerabat yang lain  dan anak-anak yatim dan orang-orang miskin, maka berikanlah kepada mereka sesuatu  darinya, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang patut. (Q.S. 4:9)
174. Dan, mereka meminta fatwa dari engkau mengenai peraturan perkawinan dengan  perempuan-perempuan. Katakanlah, Allah swt. memberi fatwa kepadamu mengenai mereka; dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Kitab ini mengenai perempuan yatim yang tidak kamu berikan kepada mereka mahar  yang telah ditetapkan bagi mereka, padahal kamu ingin mengawini mereka dan mengenai  anak-anak perempuan yang lemah. Dan hendaknya kamu senantiasa berlaku adil terhadap anak-anak yatim. Dan apa-apa yang kamu kerjakan dari kebaikan, maka sesungguhnya Allah swt. mengetahui hal itu. (Q.S. 4:128)
175. Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. (Q.S. 93:10)

Al-Qur'an telah mengajarkan kepada kita untuk membantu kepada orang yang meminta bantuan.

176. Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik. (Q.S. 93:11)
Berikut adalah ayat-ayat tentang berbuat kebaikan secara umum:
177. Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal shaleh Yang Maha Pemurah akan menanamkan kecintaan bagi mereka.(Q.S. 19:97)
Salah satu sifat Allah taala adalah Ar-Rahiim  dan orang mukmin diwajibkan untuk meniru sifat-sifat Allah dalam kehidupan mereka. Saya mencari kata rahiim dalam pencarian bahasa Arab untuk Al-Qur'an di situs alislam.org dan menemukan setidaknya 227 kali hasil pencarian, termasuk di dalamnya ayat pertama di setiap surah Al-Qur'an, kecuali satu surah. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, terdapat 114 kali penyebutan "Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang' di dalam Al-Qur'an yang telah masuk dalam hitungan kita.

Jadi saya telah diberi tambahan 113 kali tentang berbuat baik: 177 + 113 = 290.

Terakhir, Saya cantumkan salah satu ayat yang paling penting dalam hal ini:
"Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam. (21:107)
Jadi sekarang berjumlah 291 ayat.

Sumber: http://www.themuslimtimes.org/2013/10/human-rights/three-hundred-verses-about-compassionate-living-in-the-quran
Read More

Monday, February 9, 2015

Contoh Teladan Nabi Muhammad, Cara Menghentikan Terorisme dan Ekstremisme

Qasim Rashid

Tulisan ini adalah tanggapan untuk tulisan dari Fathima Imra Nazeer, yang berjudul To Prevent Another Charlie Hebdo, Reconsider the Example of Mohammed yang menyatakan bahwa serangan para ekstremisme Islam disebabkan karena memang di dalam Al-Qur'an ataupun Hadist Nabi Muhammad saw terdapat contoh untuk membunuh para pelaku penghujatan atau penghinaan terhadap Islam atau Nabi Muhammad saw. Lebih lanjut ia menyimpulkan bahwa menyebut Nabi Muhammad saw sebagai contoh yang sempurna, tanpa penelitian dan kritik adalah hal yang bodoh dan membahayakan. 


Contoh nabi Muhammad

Adalah hal yang sangat penting, umat manusia harus tetap bersatu untuk melawan segala bentuk ekstremisme dengan pendidikan, kasih sayang, dan keadilan.

Teladan Nabi Muhammad telah menunjukkan bagaimana kita bisa mengatasi terorisme secara damai. Sayangnya, dunia yang masih belum pulih oleh serangan mengerikan di Perancis yang mengakibatkan tewasnya dua belas orang, kelompok anti agama menggunakan kesempatannya melanjutkan serangan anti Islam mereka. Salah satunya adalah blogger HuffPost Fathima Imra Nazeer.

Nazeer menuduh bahwa para ekstremis mendapatkan justifikasi kekerasan mereka dari contoh Nabi Muhammad sendiri. Ia membeberkan tiga alasan untuk mendukung tuduhannya tersebut. Sayangnya, setiap tuduhannya tersebut tanpa didasari logika, alasan, dan fakta.

Berikut tuduhannya:

Tuduhan 1: "Pertama, hukum Syariah yang terdapat dalam Al-Qur'an dan Hadis telah menetapkan hukuman mati terhadap penghujatan/penghinaan agama."

Nazeer dapat menganggap ini sebagai tantangan terbuka baginya untuk menunjukkan di bagian mana di dalam Al Qur'an yang menetapkan hukuman mati untuk pelaku penghinaan agama.

Seperti yang saya rinci dalam tulisan saya Islam mendukung kebebasan berbicara (USA Today op-ed,) Al-Qur'an tidak pernah menyebutkan tentang hukuman dunia apapun terhadap penghujatan – apalagi hukuman mati. Muslim diberitahu untuk mengabaikan penghinaan atau berbagai ejekan.

Nazeer dengan mudahnya menyensor para pembacanya bahwa hadits selalu tunduk dibawah Al-Qur'an, sehingga tidak akan pernah dapat dijadikan sebagai pilihlan utama dibandingkan Al-Qur'an. Bagaimanapun, Nazeer dapat bebas menunjukkan hadits-hadits yang dianggap mendukung ajaran Al-Qur'an tentang hukuman mati terhadap penghujatan, tetapi dia harus memperhatikan hal tersebut. Para ulama telah banyak menulis buku-buku dan artikel untuk membongkar mitos barbar ini. Nazeer harus meluangkan waktunya membaca karya-karya para ahli tersebut, bukannya mencoba untuk membenarkan ideologi teroris.

Fun Fact : Kata pemfitnahan (blasphemy) tidak ditemukan dalam Al-Qur'an.

Tuduhan ke-2: "Kedua, meskipun Al-Quran secara eksplisit tidak menetapkan untuk membunuh para pelaku penghujatan, tetapi Al-Quran mendorong pembunuhan terhadap "orang-orang yang menebarkan kejahatan" terhadap Allah dan Nabi Muhammad…. mereka yang menganggap ayat-ayat ini dengan serius telah melakukan banyak kesalahan."

Sebagai catatan, setiap Muslim yang saya kenal,  melihat ayat ini dengan sungguh-sungguh seperti yang kita lakukan untuk semua ayat Al-Qur'an - dan saya menganggap ini sebagai cara yang efektif untuk menghindari kejahatan, bukan menciptakannya. Syukurlah, sekarang Nazeer telah mengakui bahwa Al-Qur'an tidak menyebut hukuman pembunuhan terhadap para penghujat. Namun kemudian ia mengklaim bahwa hadits telah mengajarkan pembunuhan untuk penghujatan. Saya akan menunjukkan bahwa hadits tidak mendukung klaim Nazeer tersebut.

Ayat yang dikutip oleh Nazeer adalah Al-Qur'an 5:33:

"Sesungguhnya balasan bagi orang-orang yang memerangi Allah swt. dan Rasul-Nya dan berdaya upaya mengadakan kekacauan di bumi ini ialah mereka dibunuh atau disalib atau pun di potong tangan dan kaki mereka disebabkan oleh permusuhan mereka, atau mereka diusir dari negeri. Hal demikian adalah penghinaan bagi mereka di dunia ini; dan di akhirat pun mereka akan mendapat azab yang besar."

Nazeer mengklaim, tanpa alasan ataupun pembenaran apapun lagi, ayat ini telah mengizinkan untuk mendefinisikan kartun yang melecehkan tersebut sebagai "menebarkan kejahatan."  Selain definisi yang tidak mendasar ini, Nazeer melakukan tiga kesalahan besar.

Pertama, Nazeer mengabaikan latar belakang di balik ajaran ini. Hukuman ini bukan sebagai respon terhadap penghinaan atau pemfitnahan, tetapi sebagai respon terhadap pembunuhan. Dalam ayat-ayat sebelum 5:32, Al-Qur'an menceritakan kisah "dua anak-anak Adam," Kain dan Habil.

Dalam Al-Qur'an 5:28, Habil berkata kepada saudaranya Kain, si pelaku kejahatan:

“Jika engkau menjangkaukan tangan engkau terhadapku untuk membunuhku, aku tidak akan menjangkau tanganku terhadap engkau untuk membunuh engkau. Sesungguhnya, aku takut kepada Allah, Tuhan sekalian alam.”

Al-Qur'an 5:30 kemudian menambahkan mengenai Kain,

"Tetapi nafsunya telah membujuknya supaya membunuh saudaranya. Maka ia membunuhnya dan ia menjadi di antara orang-orang yang merugi."

Meskipun Habil menolak untuk melawan, Kain  tetap membunuhnya, sehingga melakukan kejahatan. Hal ini sangat jauh dibandingkan dengan kelompok ekstrimis yang secara proaktif membunuh kartunis yang jelas-jelas tidak membahayakan mereka.

Kedua, Nazeer mengabaikan ayat sesudah 5:32, yaitu surah 5:33 yang menyatakan, "Kecuali orang-orang yang bertobat sebelum kamu berkuasa atas mereka. Ketahuilah bahwa Allah itu Maha Pengampun Maha Penyayang." Jadi bahkan jika seseorang melakukan kejahatan, yaitu pembunuhan dan melakukan peperangan, jika mereka menyerah dan bertobat dari tindakan mereka maka Al-Qur'an mendorong melakukan pengampunan dan belas kasihan.

Dan yang ketiga, Nazeer menghilangkan fakta tersirat dalam Surah 5:33. Hanya kekuasaan yang berdaulat - bukan individu - yang dapat menghukum seseorang tawanan perang atau melakukan pembunuhan. Hal ini yang Nabi Muhammad contohkan pada negara berdaulat seperti pada Piagam Madinah.  Dalam konstitusi sekuler ini orang-orang Yahudi dan Muslim bersekutu menjadi salah satu negara kesatuan Madinah dan dijamin kebebasan beragama untuk semua orang tanpa memandang agama.

Para ekstremis yang melakukan serangan teror di Paris, mereka bukanlah termasuk orang yang dibunuh (seperti Habil), tidak juga sedang dikejar oleh siapapun yang mencoba untuk membunuh mereka (seperti orang-orang Muslim ketika mereka mengungsi dari Mekah), dan tentu saja mereka bukan negara berdaulat yang memegang otoritas (seperti orang-orang Yahudi dan Muslim di Madinah).

Secara harfiah tidak ada di dalam Surah 5:32 yang mengizinkan tindakan barbar mereka.

Nazeer, seperti para teroris, menolak untuk membaca Al-Qur'an secara keseluruhan dan terlalu picik untuk memenuhi praduga. Tindakan seperti itu adalah kejahatan bagi  Al Qur'an - atau hukum apapun – yang harus dibaca, dan itu adalah kejahatan bagi akal sehat. Tidak ada dalam Surah 5:32 yang membenarkan klaim Nazeer bahwa kartun pelecehan tersebut sama dengan kejahatan.  Contoh yang jelas telah Allah terangkan dalam Al Qur'an yaitu Kain membunuh Habil. Artinya, Al-Qur'an mendefinisikan kejahatan seperti pembunuhan berencana - bukan penghujatan/penghinaan.

Fun Fact: Seperti halnya Taurat, Al-Qur'an menyamakan orang yang membunuh satu orang seolah-olah telah membunuh seluruh umat manusia, dan siapa yang menyelamatkan satu nyawa seolah-olah sama dengan menolong semua umat manusia. Dengan demikian, seorang karyawan Muslim Lassana Bathily, yang menyelamatkan orang-orang Yahudi dari teroris di Kosher deli, telah menggenapi kabar suka dari Talmud dan Al-Qur'an telah menyelamatkan seluruh umat manusia.

Tuduhan 3: "Ketiga, banyak Hadits yang meriwayatkan tentang kejadian di mana NAbi Muhammad saw memerintahkan pembunuhan orang-orang yang menghinanya."

Klaim Nazeer sama sekali tidak benar, dan akan saya jelaskan.

Tapi sekarang, kita anggap saja bahwa argumen Nazeer benar. Saya sudah jelaskan bahwa dalam hukum dasar Islam, Al-Qur'an berada diatas hadits yang bertentangan dengan Al-Qur'an. Ini bukan pendapat pribadi saya.

Nabi Muhammad saw sendiri memperingatkan,

"Setiap kali sebuah hadis yang diberikan kepadamu yang mengatasnamakanku, maka bandingkanlah dengan Al-Qur'an. Jika sesuai dengan Al-Qur'an, terimalah, dan jika bertentangan, buanglah." [1]

Demikian juga,

"Tidak diragukan bahwa, akan ada hadits yang muncul setelah saya yang menyatakan bahwa saya yang mengatakannya. Jadi, kamu harus menguji hadits tersebut dengan Al-Qur'an. Jika itu sesuai dengan Al-Qur'an terimalah, jika tidak tolaklah. "[2]

Demikian Salama meriwayatkan: "Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa (sengaja) mengatakan apa yang  tidak saya katakan (pasti) dia menempati tempat duduknya di neraka." "[3]

Dengan demikian, setiap hadis yang bertentangan dengan Al-Qur'an harus ditolak. Oleh karena di dalam Al-Qur'an telah tegas mengatakan bahwa tidak ada hukuman apapun terhadap pemfitnahan/penghujatan, maka setiap hadits yang bertentangan dengan itu harus ditolak.

Fun Fact: Sebagian besar Hadits ditulis 100-300 tahun setelah Nabi Muhammad saw.

Tidak bisa dipungkiri, kenyataan bahwa tidak ada hadits yang menunjukkan Nabi Muhammad saw telah membunuh siapa pun, atau telah ada yang dibunuh oleh orang lain atas kejahatan pemfitnahan/penghujatan. Tetapi hebatnya, Nazeer mengutip riwayat dari Asma binti Marwan sebagai contoh di mana Nabi Muhammad saw diduga telah membunuh seseorang karena menghujat - tetapi dia mengutipnya sambil mengakui, "... para ulama modern mempertanyakan kebenaran riwayat tersebut."

Tidak hanya ulama modern, namun ulama awwalain dan klasik juga membuang kisah ini karena tidak masuk akal. Saya sampaikan kutipan dari  buku saya "EXTREMIST" di mana saya menganalisis tuduhan tak berdasar ini secara rinci.

Ibnu Ishaq meriwayatkan kisah ini kira-kira satu abad setelah kewafatan Nabi Muhammad saw. Sebelum Ibnu Ishaq, Ibnu Sa'ad dan Sunan Abu Dawud juga telah meriwayatkan peristiwa ini. Tidak ada satupun yang menyebutkan atau bahkan menyiratkan bahwa seorang sahabat (dalam hal ini Umair bin Adi) telah membunuh seorang penyair atas perintah Nabi Muhammad saw. Juga tidak disebutkan bahwa Nabi Muhammad memberi perintah semacam itu- tetapi entah bagaimana Ibnu Ishaq membuat kesimpulan yang fantastis ini seabad kemudian.

Di antara para sejarawan yang disebutkan oleh Ibn-e-Ishaq berkaitan dengan kejadian ini, dua nama yang terkenal: Ikrama Maula Ibnu Abaad dan Muhammad bin Al Hujaaj. Dalam sejarah, Ikrama telah dikenal sebagai seorang pendusta dalam penyampaian hadits. Sebagai contoh, ketika menasehati pelayannya, seorang ulama terkenal Sa'id bin Al Musayyab mengatakan: "Jangan menghubungkan ucapan yang tidak benar kepada saya, seperti cara Ikrama menghubungkan ucapan tidak benar terhadap Ibnu Abbas." [4]

Demikian juga, Muhammad Ibn Al-Hajjaj juga dianggap tidak jujur dalam menyampaikan peristiwa sejarah Islam. Malah Imam Jozi mengutip Ibnu Adi mengenai peristiwa tentang Asma binti Marwan ini dengan mengatakan bahwa ini tidak benar dan Muhammad bin Al-Hujjaj telah mengarang-ngarang hadits tersebut. [5]

Setiap peneliti  yang berpikiran adil akan membuang cerita-cerita yang penuh dengan ketidakakuratan dan pemalsuan sejarah, dan menerima dua cerita yang saling melengkapi.

Kesimpulan

Saya setuju dengan Nazeer pada satu poin penting- undang-undang penghujatan harus ditiadakan. Secara pribadi saya telah menyampaikan ceramah yang tak terhitung jumlahnya, dan dua buku yang mengutuk undang-undang penghujatan. Undang-undang tersebut tidak memiliki tempat di dunia yang beradab - belum lagi Islam mengutuk undang-undang tersebut.

Dan, sebagaimana Islam dan Nabi Muhammad tidak luput dari kritik, begitupula dengan Nazeer. Dengan demikian maka artikelnya yang tidak akurat harus dibantah. Disamping tidak akurat, juga merupakan penghinaan yang lebih dalam. Bukannya aktif mendukung Muslim yang mengutuk teroris, Nazeer mencoba memberi tempat bagi kelompok teroris seperti ISIS, Taliban, dan Al-Qaeda. Saya mohon dia untuk menggunakan logika, perasaan kasih sayang, dan fakta yang bukan dari pandang anti-teis. Pendekatan logis yang berdasarkan fakta akan mendorong pemahaman yang lebih baik dan paling efektif untuk melawan ideologi ekstremis.

Nabi Muhammad  saw telah mencontohkan bahwa belas kasih, kebebasan beragama yang universal, dan pendidikan merupakan metode terbaik untuk mencegah serangan lain seperti serangan terhadap Charlie Hebdo. Serangan tersebut terjadi karena ketidaktahuan terhadap contoh Nabi Muhammad saw dalam hal keadilan dan kasih sayang. Dan Nabi Muhammad saw dengan tegas bersabda bahwa, "Obat ketidaktahuan adalah bertanya”. Eksisnya kelompok ekstrimis adalah karena mereka tidak belajar dan tidak mau bertanya, tapi percaya kepada ulama-ulama yang buruk secara membuta. Jalan menuju pengetahuan dan perdamaian datang dari mempelajari kehidupan Nabi Muhammad dengan pendidikan dan kejujuran.

Kita memiliki perjalanan panjang di depan kita, tetapi kita bisa bekerjasama untuk pendidikan, kebebasan beragama yang universal, dan perdamaian serta masa depan yang lebih toleran.


Note: 
Qasim Rashid adalah Juru Bicara Nasional Jamaah Muslim Ahmadiyah USA, seorang penulis buku Best Seller #1 Amazon yang berjudul EXTREMIST, dan buku the Wrong Kind of Muslim yang menerima Kirkus Star dan terpilih sebagai Top 100 Buku Indie 2013 versi Kirkus. 


Referensi:
1. Al-Tibiyan wat Tabayyen, vol. 2, 28.
2. Sanan Dar Qatni, vol. 2, 513, Book - Imrani Abee Musa, Matba Farooqi.
3. Sahih Jami' Bukhari, vol. 1, Book 3, #109.
4. Al Marefat Wal Tareekh LeAbi Yousuf Yaqoob Baab Ikrama Mola Ibn Abbas.
5. Al Halal Wal Mutanahiyya, vol. 1, 175.



Sumber:
http://www.huffingtonpost.com/qasim-rashid/prophet-muhammads-example_b_6467386.html
Terjemah: Bushra Nadia
Editor: Nurul & Jusman

Read More

Friday, January 23, 2015

8 Peninggalan Islam pada Dunia

peninggalan islam
HuffPost Germany | Sebastian Christ

Ketika ribuan "patriotik Eropa" kembali turun ke jalan di Dresden untuk memprotes "Islamisasi Barat," tindakan mereka tersebut bukan saja karena kebencian dan ketakutan, tetapi juga karena ketidaktahuan.

Beruntung bagi kita, pusat budaya masyarakat Eropa telah banyak mendapatkan manfaat dari pengaruh Islam selama ribuan tahun.

Jika, pada Senin malam di Dresden, ketika salah satu pembicara membetulkan kacamatanya, dia mungkin tidak tahu dia sedang memegang sebuah penemuan dari dunia Arab. Jika salah satu pengunjuk rasa mulai menyanyikan lagu-lagu sayap kanan, mereka bisa jadi diiringi oleh instrumen yang aslinya dari Arab - yaitu gitar. Dan, pada plakat mereka, tulisan tentang jumlah imigran yang luar biasa ditulis dalam penomoran Arab.

Di sini, Huffington Post Jerman menyajikan delapan hal yang kita berhutang kepada peradaban Islam yang hebat.

1. Sistem Angka

Banyak orang Barat, khususnya Jerman, bangga akan prestasi mereka dalam bidang teknologi dan rekayasa. Tapi bagaimana insinyur tanpa nomor? Sistem angka dari 1 sampai 9 yang kita gunakan saat ini, tercantum di House of Wisdom (Perpustakaan Baitul Hikmah) di Baghdad. Diperkirakan bahwa sistem angka kita diciptakan di sana pada abad kesembilan.

Sistem angka dikenal ke Eropa pada abad kedua belas, ketika seorang Inggris-Arab Robert of Chester menerjemahkan tulisan-tulisan sarjana Arab Al-Khawarizmi. Al-Khawarizmi, asal nama algoritma, dikenal sebagai pengembang aljabar modern - inilah penemuan lain dari dunia Muslim.

2. Sikat Gigi

Islam adalah salah satu agama di dunia yang pertama menempatkan penekanan khusus pada kebersihan tubuh. Al-Qur'an berisi petunjuk sebuah ritual bersuci (wudhu). Jadi tidak mengherankan bila  kesehatan gigi menjadi popular di Islam. Telah diakui, orang Mesir kuno diperkirakan telah mengunyah dahan sebagai "sikat gigi kayu".

Dahan ini juga dikenal sebagai "miswak", dan menjadi luas di masyarakat ketika Nabi Muhammad secara teratur menggunakannya untuk menggosok gigi. Meskipun miswak tidak disebutkan dalam Al-Qur'an, tetapi miswak banyak disebutkan dalam tulisan para sarjana Muslim.

3. Marching Band

Marching band kemiliteran sudah ada di zaman Ottoman Mehterhane. Ini adalah band yang dimainkan selama pertempuran dan mereka hanya menghentikan musik ketika tentara mundur atau pertempuran telah berakhir.

Dalam masa peperangan dengan Kekaisaran Ottoman, marching band ini diperkirakan telah memberi kesan mendalam pada tentara Eropa - yang akhirnya mereka mengadopsi Marching band untuk kemudian mereka gunakan.

4. Gitar

Gitar, seperti yang kita kenal sekarang, memiliki asal-usul dari Arab kuno - kecapi dengan leher bengkok. Selama Abad Pertengahan, gitar dibawa ke Muslim Spanyol, di mana dalam bahasa Arab Andalusia ia disebut sebagai "qitara".

Disebutkan bahwa seorang guru musik membawa satu gitar ke istana penguasa Umayyah, Abdel Rahman II pada abad kesembilan. Gitar modern dikembangkan sebagai hasil dari banyak pengaruh, tapi kecapi Arab sebagai pendahulunya adalah yang paling penting.

5. Kaca pembesar/gelas

Dunia Arab tidak saja membuat revolusi matematika - mereka juga merevolusi optik. Adalah seorang Alhazen (Abu al-Hasan) dari Basra, orang pertama yang menjelaskan bagaimana mata bekerja.

Dia melakukan percobaan dengan bahan reflektif dan membuktikan bahwa mata merasakan objek sekitar bukan dengan "sinar dari mata", sebagaimana para ilmuwan waktui itu percayai. Dia juga menemukan bahwa permukaan kaca melengkung dapat digunakan untuk pembesaran.

Kaca pembesar Alhazen, adalah kacamata pembesar pertama. Dari kaca inilah kemudian kacamata dikembangkan. Selain itu, Alhazen menulis teks ilmiah penting tentang astronomi dan meteorologi.

6. Kopi

Kopi terkenal sebagai produk ekspor terbesar dari dunia Muslim. Meskipun berasal dari Ethiopia, segera setelah melewati Laut Merah ke Semenanjung Arab, kopipun langsung terkenal.

Diperkirakan bahwa pedagang Ottoman membawa minuman yang berasal dari biji ini ke London di abad ke-17. Venice mempunyai rumah kopi pertamanya pada tahun 1645, sedangkan Jerman mengenal minuman ini setelah Turki mundur dari Austria pada 1683. Legenda mengatakan bahwa tentara Sultan telah meninggalkan berkarung-karung kopi disana.

7. Rumah Sakit

Rumah sakit modern pertama dengan perawat dan pusat pelatihan berada di Kairo. Di rumah sakit Ahmed Ibn Tulun (nama dari pendiri dinasti Tulunid), yang didirikan pada tahun 872, semua pasien menerima perawatan kesehatan gratis - tradisi Muslim yang melembagadengan munculnya rumah sakit.

Rumah sakit yang lebih kecil telah ada sebelumnya di Baghdad. Tapi itu adalah model Kairo yang kemudian menjadi contoh bagi rumah sakit di seluruh dunia.

8. Ilmu Bedah

Dokter kelahiran Andalusia, Albucasis (Abu al-Kasim) adalah salah satu tokoh medis yang paling penting dari Abad Pertengahan. Dalam lebih dari 30 volume tulisannya, ilmuwan Arab abad kesepuluh ini menjelaskan betapa pentingnya hubungan yang positif antara pasien dan dokter, dan memperjuangkan standar perawatan medis yang sama untuk semua pasien, tanpa memandang kelas sosial.

Ia juga menemukan metode untuk pembedahan dalam mengobati penyakit di uretra, telinga dan kerongkongan, dan orang pertama yang menggambarkan kehamilan ektopik. Begitu besar pengaruhnya yang sampai sekarang ilmunya masih dikutip oleh dokter Eropa terkemuka di abad ke-16. Ide-idenya berbentuk bedah modern.

(Nurul Haira)
Sumber: Huffingtonpost.com


Read More

Monday, January 12, 2015

Bagaimana Nabi Muhammad saw Menghadapi Penghinaan

BAGAIMANA NABI MUHAMMAD SAW MENGHADAPI PENGHINAAN

Muslim yang menanggapi seperti peristiwa Charlie Hebdo dengan kekerasan perlu membaca Al-Qur'an.

Harris Zafar


Nabi Muhammad saw

Serangan kejam di hari Rabu terhadap kantor majalah Perancis Charlie Hebdo membuat banyak orang di seluruh dunia terkejut, sedih, dan bahkan marah. Ketika asap dibersihkan dan kami mengetahui ada 12 orang tewas di tangan tiga orang berseragam militer, mengacungkan senjata otomatis yang ditembakkan tanpa pandang bulu di kantor tersebut, kita menerima kenyataan mengerikan bahwa orang-orang tersebut dibunuh karena fakta tunggal yaitu mereka menggunakan kebebasan berbicara untuk mempublikasikan konten yang provokatif.

Sebagai seorang Muslim, saya mencoba memecahkan dan menjawab - pertanyaan tentang sikap Islam terhadap kebebasan berbicara, apakah serangan ini merupakan buntut dari penghinaan atau penyalahgunaan sentimen Muslim. Sebagian besar dari kita tidak asing dengan Charlie Hebdo, yang menggunakan cara kontroversi dalam beberapa tahun ini, terutama setelah beberapa kesempatan mereka memilih untuk mempublikasikan kartun yang menghina Nabi Muhammad dengan tujuan menyinggung umat Islam. Tentu saja, jika Charlie Hebdo memiliki hak untuk menghina, maka umat Islam memiliki hak untuk tersinggung. Tapi pertanyaannya bagaimana Muslim harus bereaksi dan menanggapi penghinaan ini?

Sebagaimana saya terluka ketika mengetahui bahwa 12 orang tewas (dan 12 keluarga kehilangan orang yang dicintai) akibat serangan teroris yang salah dan tak berbudi ini, saya juga marah ketika mengetahui respon dari seorang ulama radikal yang terkenal di Inggris bernama Anjem Choudary. Pemimpin dari kelompok kecil Muslim radikal ini telah mengeluarkan pendapat yang paling hina yang bisa dibayangkan dan sengaja memfitnah agama Islam dan nabinya. Mengapa saya harus peduli pada artikelnya? karena dalam waktu kurang dari 12 jam setelah diterbitkan, artikel itu sudah di share di jejaring sosial hampir 8.000 kali, dengan 300 komentar dari pembaca. Jelas, hal yang tampak kecil ini telah mendapatkan panggung dan suaranya didengar. Dengan gembar-gembor ia mengklaim, "Muslim tidak percaya pada konsep kebebasan berekspresi," dan menyatakan bahwa siapa pun yang terbukti bersalah menghina Nabi Muhammad maka akan menerima "hukuman mati yang dilakukan oleh Kelompok Islamic State."

Mengaku sebagai Imam, ia sama sekali tidak merasa ada yang salah dengan pembunuhan brutal terhadap orang-orang ini. Alih-alih memberitahu bagaimana Al-Qur'an secara eksplisit memerintahkan umat Islam untuk menanggapi hinaan, Choudary menyimpulkan, "Inilah waktunya kesucian Nabi Muhammad yang dihormati hingga seperempat dari populasi dunia dilindungi."

Padahal Sebenarnya, sudah saatnya seorang radikal penyebar kebencian seperti Choudary, yang jelas tidak memiliki keterikatan yang benar kepada Allah atau ajaran Nabi Muhammad, untuk dikonfrontir ajaran Islam yang sebenarnya. Islam menawarkan pendekatan yang seimbang, menginstruksikan umat Islam menentukan sikap mereka sendiri tetapi juga bagaimana memberi tanggapan terhadap ucapan yang tidak pantas.

Al-Qur'an sangat melarang perilaku dan ucapan tidak senonoh, atau menyinggung hal yang sensitifitas orang lain, terlepas apakah itu dilakukan dengan atau tanpa alasan yang "valid". Nabi Muhammad menyeru pengikutnya untuk mengedepankan sopan santun, integritas, dan sensitivitas melalui pengendalian diri - nilai-nilai yang mencakup sifat memaafkan, kesabaran, kebenaran, ucapan yang baik, perbuatan yang baik, dan menjauhi kedengkian.

Tapi Islam tidak mendukung orang-orang yang dengan keras menghalangi kebebasan berbicara. Kebebasan berbicara dijamin dalam Al-Qur'an baik melalui perintah langsung maupun melihat teladan Nabi Muhammad dalam mengalami penghinaan dan tidak pernah membalas. Al-Qur'an menyebutkan bahwa Beliau saw pernah disebut gila, pembohong, dan seorang penipu. Terhadap itu semua, Nabi Muhammad tidak pernah membalas atau menyerukan supaya mereka diserang, ditangkap, atau dieksekusi. Hal itu karena Al-Qur'an mengatakan untuk "tidak menghiraukan ganguan mereka" (Al-Ahzab-48) dan "bersabarlah atas apa yangmereka katakan" (Al-Muzammil:10). Al-Qur'an memerintahkan kita untuk menghindari mereka yang terus menghina Islam. Tidak ada ruang dalam Islam untuk menanggapi penghinaan atau penghujatan dengan kekerasan.

Tapi yang paling tegas adalah Al-Qur'an mengatakan kepada pengikutnya untuk tidak terprovokasi oleh orang-orang yang menyerang Islam, Al-Qur'an menyatakan dengan sangat jelas "janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil." (Almaidah:8)

Hal ini didukung oleh contoh Nabi Muhammad saw sendiri. Suatu ketika, saat beliau kembali dari ekspedisi, seorang musuh menggunakan kata-kata penghinaan terhadap beliau. Meskipun para sahabat menyarankan supaya pelakunya dibunuh, Nabi Muhammad tidak mengizinkan siapa pun untuk melakukannya, sebaliknya mereka diperintahkan untuk melepaskan orang itu. Betapa sedihnya bagaimana mereka yang disebut sebagai Muslim telah melupakan kata-kata Al-Qur'an dan contoh Nabi Muhammad saw tetapi mengaku membela Islam. Muslim tidak membolehkan untuk membalas dengan kekerasan. Sebaliknya, mereka harus memiliki keberanian yang sama seperti Nabi Muhammad saw untuk menghadapi penghinaan dan membalasnya dengan ucapan yang sabar,tenang dan kata-kata hikmah.

Jadi, ketika Anda mendengar orang seperti Anjem Choudary yang mengatakan bahwa orang-orang yang menghina Islam harus dibunuh, katakan padanya untuk membaca Al-Qur'an dan meningkatkan keimanannya yang ia klaim sebagai ketaatan, tetapi ia tetap bodoh.

(Nurul Haira)

Sumber: Faithstreet.com
Sumber gambar: Sufiway.net
Read More

Saturday, January 10, 2015

Membela Kehormatan Rasulullah, Apa Harus Dengan Membunuh?

Cara Untuk Membela Kehormatan Rasulullah saw adalah dengan Menyebarkan Perdamaian, Bukan Dengan Membunuh Orang lain.

Dr. Abu Alim

kehormatan Rasulullah saw

Dua orang bersenjata yang menyerang majalah Perancis Charlie Hebdo malam ini di Paris terdengar mengatakan bahwa kehormatan Rasulullah saw telah terbalaskan setelah mereka menembak dan membunuh dua belas karyawan.

Saya tak habis pikir dan mencoba mencari tahu adakah bagian dari hidupnya atau ajaran Al-Qur'an bagian mana yang mereka gunakan untuk menjustifikasi dan melakukan tindakan biadab dan tidak manusiawi tersebut.

Al-Qur'an, wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah saw penuh dengan ayat-ayat yang mengajarkan dan menyerukan kasih sayang. Al-Qur'an menyebutkan dengan tegas bahwa membunuh satu orang sama dengan membunuh seluruh umat manusia. Al-Qur'an menetapkan bahwa tidak ada hukuman atas penghujatan dan dengan tegas mendukung kebebasan berbicara, hati nurani dan kebebasan memilih.

Kehidupan Rasulullah saw sendiri adalah lambang pemahaman empatik kepada orang-orang yang berbeda dengan beliau dan jauh melampaui sekedar toleransi belaka. Contoh pribadi beliau adalah seorang yang senantiasa berdoa untuk musuh-musuhnya yang tidak hanya menghina, tetapi telah menganiaya dan bahkan mencoba untuk membunuh beliau. Beliau adalah contoh terbesar dari semua yang kita sebut sebagai humanisme modern dan lebih jauh, semua itu muncul dari cinta yang mendalam dan kasih sayang bagi umat manusia.

Kami, Jamaah Muslim Ahmadiyah adalah yang sangat dirugikan dengan kejadian ini dan doa kami senantiasa tertuju kepada para korban dan keluarga mereka supaya diberi kesabaran dan ketabahan atas kejadian yang merugikan ini.

Mari kita perjelas, bahwa korban terbesar dari kekejaman ini bukanlah para korban yang telah meninggal tersebut, tetapi wujud mulia yang seharusnya dituntutkan balasnya, Rasulullah saw dan agama yang diturunkan kepada beliau sebagai pesan Allah taala kepada seluruh umat manusia, Agama Islam. Sebuah tragedi yang lebih besar, wujud yang sama yang telah menjadi target utama penghinaan oleh Charlie Hebdo ketika menerbitkan kartun satir. Majalah ini telah melintasi semua batas kesopanan jurnalistik dan melanggar semua nilai-nilai luhur yang merupakan dasar dari kebebasan berbicara.

Kebebasan mutlak tidaklah ada. Semua kebebasan disertai dengan tanggungjawab. Sementara itu dalam motif pembalasan atas tindakan senonoh, pidato kebencian tidak dapat digunakan untuk membenarkan membunuh orang lain. Mereka yang melakukan tindakan keji tersebut harus didekati dengan logika dan contoh teladan Rasulullah saw, bagaimana beliau menjalani hidupnya.
Pemimpin Jamaah Ahmadiyah saat ini secara konsisten telah menunjukkan cara bagi umat Islam tentang bagaimana kehormatan Rasulullah sawa dapat terbalaskan. Cara itu adalah dengan memperlihatkan akhlak mulia beliau dalam cinta damai dan menyanggah segala bentuk pelecehan keji yang dilemparkan kepada beliau oleh orang-orang yang bodoh dan penuh prasangka, dengan logika yang jelas dan contoh pribadi.

Pembunuhan di Paris bukanlah yang pertama, dan sayangnya mungkin bukan yang terakhir, mengingat bahwa ISIS memiliki pendukung yang sangat kuat dari negara-negara berkembang dan kaya baik dari Timur dan Barat. Pemerintahan yang mengobarkan kekerasan sebagai bagian kebijakan luar negeri janganlah berpikir bahwa jin yang sedang dikembangkan di Timur Tengah tidak akan balik memangsa mereka. Jin ini hanya dapat dibasmi dengan menempa pemahaman yang nyata dan mendalam tentang perbedaan agama dan saling menghormati pendiri agama masing-masing dan tidak menggunakannya sebagai alat untuk kemenangan politik. Menanamkan empati  sejati dan toleransi adalah satu-satunya cara dimasa datang, dimana semua ambisi, ekonomi, politik dan sosial harus disiplinkan melalui perendahan diri kepada Tuhan dan cinta pada manusia sebagai sesama ciptaan-Nya.

(Jusman)

Sumber: Themuslimtimes.org

Read More
© ISLAM DAMAI All rights reserved | Designed By Blogger Templates