ISLAM AGAMA CINTA

Thursday, April 14, 2016

Sekiranya Tuhan Adalah Ruang, Akan Dia Akan Musnah

Menanggapi Tulisan Dedy Ibmar

[Foto: belasasih.files.wordpress.com]
Manusia adalah mahluk yang termulia di muka bumi ini karena terlahir dengan potensi akal pikiran. Pikiran merupakan tahta singgasana luhur dari kesadaran manusia. Logika deduktif merupakan salah satu fitrat pikiran yang amat menakjubkan.
Pikiran pun mempunyai kemampuan merenungi masalah-masalah metafisika dan konseptual yang berkaitan dengan ketidak-terbatasan dan kekekalan. Pikiran memiliki kemampuan memecahkan teka-teki dari suatu rangkaian kausa sebab akibat yang tidak berujung.
Pikiran manusia merupakan entitas paling luhur dari kehidupannya. Pikiran mampu menerima dan mengolah semua pesan yang disampaikan kepadanya melalui semua indera. Pikiran bukanlah nama lain dari otak. Pikiran jauh lebih luhur dari otak karena justru dialah yang berfungsi sebagai penggeraknya. (Hazrat Mirza Tahir Ahmad, 1998)
Meski demikian, pikiran manusia pun memiliki keterbatasan. Sebuah pembelajaran dapat diambil ketika Galileo di abad ke-16 melihat alam di luar bumi menggunakan teleskopnya yang sederhana, ia demikian terpesona dengan temuannya. Dengan bangga ia menyatakan telah berhasil memperluas cakrawala penglihatan manusia lebih dari seratus kali.
Namun tanpa disadarinya, tidak lama setelah itu datang suatu hari bagi manusia di mana alam semesta ini terlihat seratus juta kali lebih besar dan lebih luas dibanding apa yang dilihatnya pada waktu itu. Ia hanya bisa membandingkan temuannya itu dengan keadaan di masa sebelum dirinya saja. Sudah berulang kali terjadi, betapa semunya lonjakan kegembiraan manusia atas hasil temuannya.
Apa yang kita ketahui di masa sekarang mungkin sudah bermilyar kali lebih luas dibanding keadaan seribu tahun yang lalu. Dan apa yang akan diketahui umat manusia seribu tahun mendatang, bisa jadi bermilyar kali lebih canggih dibanding keadaan sekarang. Hal ini membuktikan bahwa adanya percepatan dari upaya penjelajahan area baru, terasa sekali betapa terbatasnya kapasitas indera yang dimiliki manusia.
Suatu spektrum kehidupan dan suara yang sangat luas masih berada di luar jangkauan persepsi yang normal. Kalau kita mampu memperbaiki kemampuan persepsinya maka kita akan mampu melihat lebih banyak warna dan mendengar lebih banyak suara.  
Bentuk dan warna yang kita lihat nyatanya amat berbeda di mata beberapa jenis hewan. Daya penglihatan dari dunia material, persepsi mengenai warna, bau dan rasa, nyatanya amat berbeda sehingga yang namanya realitas berubah menjadi suatu realitas relatif. Fitrat pikiran manusia memiliki keterbatasan, terutama dalam mencapai kebenaran pada wilayah atau domain yang melampaui ruang dan waktu.
Terkait ruang, secara matematika dapat dibuktikan bahwa ruang yang kita huni dan semesta yang ada tidak mungkin bersifat kekal terkait masa lalunya, dan tidak mungkin abadi terkait masa depannya. Guna menjelaskan bahasan ini kita memerlukan definisi ilmiah yang disebut sebagai ‘entropi.’
Entropi mengandung makna bahwa alam material ini dalam bentuk apa pun eksistensinya secara berkesinambungan akan kehilangan sebagian dari massanya, di mana energi yang menghilang tak mungkin dipulihkan kembali.
Paul Davies seorang Professor di bidang Filsafat Alam di Universitas Adelaide yang juga pemenang penghargaan Templeton Prize menyatakan dalam bukunya, God and the New Physics (1990) bahwa:
 Para ahli fisika telah menemukan suatu kuantitas matematika yang disebut sebagai entropi untuk mengukur kadar kerancuan, dimana banyak dari eksperimen yang dilakukan secara hati-hati telah membuktikan bahwa total entropi merupakan sistem yang tidak pernah menyurut. 
Dalam hal ini, alam semesta hanya memiliki keteraturan yang terbatas dan selalu merosot secara irreversible ke arah kerancuan, yang berakhir pada ekuilibrium thermodinamika.
Ada dua kesimpulan yang bisa ditarik. Pertama, alam ini akan mati, terbenam di dalam entropinya. Hal ini disebut sebagai ‘kematian kehangatan’ (heat death) oleh para ahli fisika di dunia. Kedua, alam semesta ini tidak mungkin kekal selamanya, kalau tidak maka alam ini sudah mencapai akhir ekuilibriumnya pada waktu tidak terbatas di masa lalu. Kesimpulannya, alam ini tidak selamanya ada.
Dalam reaksi sederhana bila hidrogen dibakar dalam sebuah tabung yang penuh oksigen dengan cara menyemprotkan hidrogen menyala ke dalamnya, maka ia hanya akan terbakar selama oksigen masih ada. Apa yang tertinggal dari proses itu adalah air.
Suatu benda panas secara berangsur suhunya akan mendingin. Jika benda itu menjadi sama dingin dengan suhu di sekelilingnya, berarti ia telah mencapai suatu ekuilibrium. Arus hangat dari benda yang panas kepada atmosfir yang dingin tidak akan berbalik arahnya. Selalu suhu panas yang mengalir ke arah dingin.Ketika reaksi kimia ini sedang berlangsung, terjadilah pelepasan energi. Guna mengkonversi air agar kembali menjadi hidrogen dan oksigen, hanya mungkin jika jumlah energi yang dilepas saat sintesa air tersebut dipasok kembali untuk memisahkan komponen air, yaitu oksigen dan hidrogen tadi.
Ketika keseluruhan panas dari alam semesta telah habis dan telah mencapai titik ekuilibrium, tidak akan ada lagi pertukaran panas yang dimungkinkan dan tidak akan ada lagi reaksi kimiawi yang bisa terjadi. Keadaan inilah yang oleh para ilmuwan dikatakan sebagai ‘kematian kehangatan’ (heat death) dari alam semesta.
Quantum (kuantita) dari energi alam yang dikonsumsi akan terus meningkat sedangkan quantum dari energi yang bisa dibakar di alam semesta akan terus menurun.
Dengan demikian, akan tiba suatu masa nanti, meski mungkin masih lama sekali, ketika seluruh alam semesta akan terbenam dalam keadaan inertia (lembam) yang tidak bisa dipulihkan kembali kepada bentuk material semula. Tidak ada tindakan yang bisa diambil, tidak akan ada reaksi yang mungkin timbul. Nama lainnya adalah kematian mutlak atau ketiadaan. (Hazrat Mirza Tahir Ahmad, 1998).
Misalnya pun proses entropi memerlukan masa selama satu triliun tahun, pangkat satu triliun sampai datangnya ‘kematian kehangatan’ alam semesta, tetap saja ada ujungnya.
Sekarang beralih dari peninjauan ke belakang, kembali ke masa kini dan bertanya mengapa alam semesta ini eksis di sekitar kita? Bukankah mestinya sudah musnah sama sekali dihancurkan oleh entropi, karena tidak bisa menghindar dari deteksi ketika sedang mundur ke masa lalu?
Sebagian orang dibingungkan oleh hal ini, padahal sebenarnya merupakan persamaan matematika yang sederhana saja. Suatu bentuk yang bisa membusuk tidak mungkin bersifat kekal. Jika bentuk itu kekal adanya maka tak mungkin ia membusuk.
Pilihan yang tersisa hanyalah mempercayai adanya sang Pencipta Abadi yang tidak terpengaruh oleh entropi atau pun pembusukan. Ajaibnya hal ini merupakan konklusi tak terelakkan yang ditarik oleh Aristoteles dua ribu empat ratus tahun yang lalu sebelum masa kita. Konklusi itu tetap valid pada saat ini sebagaimana juga pada waktu itu.
Profesor Edward Kessel, Rektor dari Universitas San Fransisco mengungkapkan dalam bukunya Lets Look at Facts, Without Bent or Bias (1968) bahwa:
 Hidup masih berlanjut dan proses kimiawi dan fisika masih terus berjalan, kiranya jelas kalau alam semesta kita ini tidak eksis dari kekekalan. Karena kalau demikian adanya maka alam ini sudah lama kehabisan energinya dan berhenti total.
Karena itu, meski bukan dengan sengaja, ilmu pengetahuan membuktikan kalau alam ini memiliki awal. Dengan cara demikian maka terbuktilah realitas wujud Tuhan, karena segala sesuatu yang mempunyai awal pasti tidak berawal dari dirinya sendiri dan menuntut adanya wujud Penggerak Utama, sang Pencipta, Tuhan
.’
 
Apa pun yang tersisa pada akhirnya akan dihabiskan oleh entropi. Hal seperti itu akan terjadi, karena jika tidak ada sosok Pencipta maka tidak akan ada awal dari alam semesta yang bisa divisualisasikan. Jika memang tidak ada awalnya, tentunya hal itu bisa dianggap bersifat kekal.
Namun faktor-faktor yang dikemukakan di atas pasti telah menihilkannya sama sekali. Setiap benda yang bersifat terbatas pasti mempunyai akhir, untuk kemudian lenyap ke sumur ketiadaan tanpa dasar.
Jika demikian adanya, maka tidak ada justifikasi bagi eksistensi apa pun yang ada sekarang. Bagaimana mungkin kita menghindari tangan entropi yang tidak mengecualikan siapa pun? Kalau sudah dinihilkan, bagaimana mungkin muncul kembali dari ketiadaan tanpa batas?
Hanya sang Pencipta yang Maha Kekal saja yang tidak mungkin tersentuh oleh entropi. Bentuk eksistensi-Nya pasti berbeda sama sekali dari segala sesuatu yang diciptakan atau akan diciptakan-Nya. Bila ada yang menganggap bahwa Dia menciptakan sesuatu yang sama dengan Wujud-Nya maka eksistensi substansial-Nya tidak lagi bisa dikatakan sebagai kekal.
Karena itu jika kita berbicara tentang  entropi, kita sedang berbicara tentang ciptaan dan bukan tentang sang Pencipta. Apa pun yang diciptakan tidak mungkin mencipta sang Pencipta. Dia adalah Kausa Awal dari segala ciptaan yang terbatas.
 Segala sesuatu yang ada di atas bumi ini akan binasa. Dan yang akan tetap kekal hanyalah wujud Tuhan engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan. (QS.55 Ar-Rahman:27-28) 
Dilema entropi dibanding eksistensi alam semesta ini hanya bisa diatasi dengan solusi yang ditawarkan Al-Quran empat belas abad yang silam. Masalahnya bukan semata hanya tentang alam semesta yang berulang muncul diciptakan dari apa yang tersisa dari alam sebelumnya. Setiap kali alam diciptakan baru oleh sang Pencipta yang sama, Dia juga akan mengakhirinya setelah selesai dengan takdir yang telah ditetapkan atasnya.
Ajaibnya, Al-Quran sudah menyampaikan hal ini di masa ketika umat manusia masih amat jahil. Adalah pernyataan-pernyataan seperti ini yang menggambarkan bagaimana wilayah yang tidak dikenal atau gaib ditransformasikan menjadi sesuatu yang dikenal.
Meski tidak diperhatikan dan tidak dihargai selama lebih dari seribu tahun, tiba-tiba semuanya muncul hidup di tengah zaman modern dari masa eksplorasi dan penemuan ini, seolah-olah memang sudah ada dari dulunya.
Tulisan ini merupakan tanggapan atas artikel yang ditulis Dedy Ibmar berjudul:Ruang adalah Tuhan yang Sebenarnya.

Monday, April 6, 2015

Cara Rasulullah Mendidik Keluarga

Oleh: Ahmad Supardi

Untuk menjelaskan bagaimana contoh ta’lim dan tarbiyat Rasululllah Saw kepada keluarga, saya akan sampaikan kutipan-kutipan Hazrat Mirza Masroor Ahmad yang beliau sampaikan melalui khutbah Jum’at, tanggal 2 Juli 2004 di Kanada, di dalam nya beliau menjelaskan tentang nasihat-nasihat Rasulullah Saw dalam hal memberi ta’lim dan tarbiyat kepada keluarga.

Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kesejukan mata (penyenang hati) dari isteri-isteri kami dan keturunan kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa". (Al-Furqan ayat 75)

akhlak rasulullah

Allah telah menciptakan potensi-potensi pria kuat dari segi fisik karena tanggungjawab-tanggungjawab dan kewajiban-kewajibannya lebih banyak daripada perempuan. Penunaian hak-hak dari pria lebih diharapkan. Di dalam ibadah-ibadah juga, bagi pria tersedia peluang-peluang yang lebih banyak ketimbang perempuan, karena itu dia meraih kedudukan sebagai kepala rumah tangga; sebagai suami juga sejumlah penting tanggungjawab-tanggungjawab diletakkan di atas pundaknya, dan dalam kapasitas sebagai bapak (ayah) juga terletak tanggungjawab-tangungjawab di atas pundaknya.

Tanggungjawab Kepala Keluarga


Banyak tanggung jawab yang ada, beberapa di antaranya akan saya sampaikan disini. Dan untuk memenuhi tanggungjawab-tanggungjawab itu Dia telah memerintahkan "supaya kalian tegak pada kebaikan-kebaikan, tegak pada ketakwaan dan untuk menegakkan keluarga kalian, istri-istri kalian dan anak-anak kalian pada ketakwaan jadilah kalian sendiri langsung yang menjadi contoh. Dan untuk itu mohonlah bantuan dari Tuhan kalian, dan menangislah di hadapan-Nya, merintih dan berdoalah kepada Allah Swt.: "Ya Allah, senantiasa jalankanlah kami pada jalan-jalan yang merupakan jalan-jalan keridhaan-Mu, jangan sampai tiba saat dimana kami sebagai kepala rumah tangga, sebagai seorang suami dan sebagai seoarang bapak, tidak dapat memunaikan hak-hak kewajiban kami sehingga sebagai dampaknya kami menjadi faktor kemarahan-Mu".

Jadi, apabila manusia memanjatkan doa ini dengan hati yang tulus dan dengan amalnya juga dia berupaya meraih standar itu, maka Allah Swt. tidak menghancurkan rumah tangga seperti itu, dan tidak pula istri-istri para suami seperti itu menjadi penyebab kedukaan mereka, dan tidak pula anak-anak mereka menjadi penyebab tercemarnya nama mereka. Dan seperti itu rumah akan menampilkan pemandangan surga.

Untuk meraih standar ini apa contoh yang Nabi Muhammad Mustafa Rasulullah saw. telah berikan kepada kita dan apa nasihat-nasihat yang beliau telah tekankan pada kita.

Abdullah bin Umar r.a meriwayatkan: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Setiap orang di antara kalian adalah pengawas dan setiap orang dari antara kalian akan ditanyakan (diminta pertanggungjawaban) berkait dengan tanggungjawabnya. Imam (pemimpin) adalah pengawas dan akan ditanyakan berkait dengan tanggungjawabnya. Dan pria adalah pengawas bagi keluarganya dan akan ditanya berkait dengan tanggungjawabnya. Dan istri adalah pengawas rumah suaminya dan akan ditanya berkait dengan tanggungjawabnya. Pelayan adalah pengawas harta benda majikannya dan akan ditanya padanya berkait dengan tanggungjawabnya".

Perawi berkata: Menurut saya Rasulullah saw. bersabda, "Pria adalah pengawas harta bapaknya dan kepadanya akan ditanyakan berkait akan tanggungjawabnya". Dan bersabda, "Setiap di antara kalian adalah pengawas dan dia akan ditanya terkait dengan tanggungjawabnya". (Bukhari kitabuljumu’ah fil qura walmudun)

Pemimpin Yang Baik


Jadi, di dalam riwayat ini disebutkan mengenai berbagai lapisan masyarakat bahwa mereka adalah pengawas dalam lingkungannya masing-masing. Tetapi karena pada saat ini saya tengah menyampaikan mengenai kaum pria maka berkenaan dengan itu sedikit saja saya akan terangkan.
Pada umumnya, kini sudah menjadi sebuah tradisi bahwa kaum pria mengatakan: "karena pada kami terdapat tanggung jawab di luar, karena kami sibuk dalam bisnis dan pekerjaan kami maka karena itu kami tidak dapat menaruh perhatian pada urusan rumah tangga, dan semua tanggung jawab pengawasan anak-anak adalah merupakan tugas perempuan (istri)". Maka ingatlah, dalam kapasitas sebagai kepala rumah tangga merupakan tanggung jawab pria (suami) bahwa dia juga harus menaruh perhatian pada lingkungan rumah-tangganya, dia harus menunaikan hak-hak istrinya dan juga hak anak-anaknya, berilah kepada mereka waktu, luangkanlah waktu bersama dengan mereka, kendatipun hanya untuk dua hari dalam seminggu, yang dikenal dengan akhir pekan. Jalinlah mereka dengan mesjid, bawalah mereka pada kegiatan-kegiatan agama, buatlah program hiburan bersama mereka, ikutlah berpartisipasi dalam kegemaran-kegemaran mereka supaya mereka dapat membagi masalah mereka (mengeluarkan isi hatinya) kepada kalian seperti layaknya seorang kawan. Tanyakanlah kepada istri berkenaan dengan masalah anak-anak dan lakukan upaya-upaya agar masalah mereka dapat menemukan solusinya. Kemudian baru Saudara-saudara akan mendapat status sebagai kepala rumah tangga. Sebab, pemimpin di tempat manapun jika tidak mengetahui kondisi lingkungan dan kondisi daerah kerjanya maka dia tidak dapat dikatakan pemimpin yang sukses. Karena itu pengawas/pemimpin terbaik adalah yang mengetahui akan masalah-masalah lingkungannya.

Kini layak dikhawatirkan bahwa lambat laun jumlah orang-orang seperti itu terus bertambah banyak, yakni yang ingin lari dari tanggungjawab dan ingin bebas dari daerah lingkungan pengawasannya atau mereka menutup mata tidak mau tahu. Dan mereka berusaha menjalani kehidupannya dengan hanyut dalam dunianya sendiri. Nah, sebagai seorang mukmin jangankan hubungan dekat, hubungan jauh sekalipun jangan hendaknya ada dengan hal serupa itu.

Untuk seorang mukmin terdapat perintah bahwa jangankan untuk perkara-perkara duniawi, andaikata untuk agama pun apabila kesibukan-kesibukan kalian sedemikian rupa, dalam keadaan beribadah kepada Tuhan kalian telah menjadikannya sebagai sesuatu yang permanent, atau telah menjadikannya sebagai hal rutin, yakni kalian tidak memikirkan sekeliling kalian, tidak menunaikan hak-hak anak istri kalian, tidak menunaikan hak-hak orang-orang yang berjumpa dengan kalian, tidak menunaikan tanggungjawab-tanggung jawab masyarakat, maka inipun juga merupakan hal yang salah. Sehingga standar ketakwaan tinggi tidak akan dapat tegak. Bahkan jika ingin meraih standar ini maka tunaikan juga hak-hak Allah dan juga hak-hak hamba-hamba-Nya.

Sebagai mana tertera dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Abdullah bin Umar bin Al-‘Ash r.a bahwa: Rasulullah saw. sambil melihat saya beliau bersabda, "Hai Abdullah, apakah benar apa yang diberitahukan kepada saya bahwa engkau berpuasa terus sepanjang hari lalu sepanjang malam kamu melakukan shalat?" Maka atas pertanyaan itu saya menjawab: Ya, Rasulullah saw.. Maka kemudian beliau bersabda, "Janganlah melakukan seperti itu, terkadang lakukanlah puasa dan terkadang tinggalkanlah. Pada malam hari lakukanlah shalat (tahajjud) dan terkadang ambillah kesempatan untuk beristirahat atau untuk tidur. Sebab fisikmu juga mempunyai hak padamu dan mata kamu juga mempunyai hak padamu dan istrimu juga mempunyai hak atas mu dan orang yang datang untuk melakukan ziarah padamu-pun mempunyai hak atasmu". (Bukhari kitabush-shaum baab haqquljismi fisshaum).

Suri Teladan Rasulullah saw.


Jadi, Rasulullah dalam kapasitas beliau sebagai pimpinan sebuah rumah tangga bagaimana beliau menunaikan tanggung jawab beliau pada keluarga beliau, Berkenaan dengan itu tertera sebuah riwayat Aswad r.a bahwa: Saya telah bertanya kepada 'Aisyah r.a bahwa apa yang Rasulullah saw. Biasa lakukan di rumah. Beliau berkata, "Beliau senantiasa sibuk dalam pengkhidmatan terhadap keluarga beliau, dan apabila tiba waktu shalat maka beliau pergi untuk melakukan shalat". (Bukhari kitabul-adzan).

Nah, siapa yang lebih sibuk dari beliau dan lebih tekun dari beliau dalam beribadah? Tetapi lihatlah, apa suri tauladan beliau, betapa tertariknya beliau membantu urusan rumahtangga, yakni pekerjaan rumah pun beliau lakukan dan dalam kesibukan-kesibukan yang lain pun beliau ambil bagian. Beliau biasa bersabda,

”Orang yang terbaik di atara kalian adalah orang yang paling baik perlakuannya terhadap keluarga/istrinya” dan beliau bersabda. ”Saya dari antara kalian adalah orang yang memperlakukan paling baik terhadap keluarganya”. (Tirmidzi Kitabulmanaaqib).

Kita harus mengintrospeksi diri kita sendiri bahwa apakah kita mengamalkan contoh yang indah atau suri tauladan baik itu? Terkadang diterima pengaduan bahwa seorang duduk di atas kursi tengah membaca suratkabar, bila kehausan maka lalu memanggil istri, "Ambilkan air atau jus dari kulkas lalu berikan kepada saya untuk diminum", padahal kulkas sendiri berada disampingnya, dia dapat mengeluarkan air sendiri dari itu lalu minum. Dan sang istri - kasihan – apabila akibat suatu pekerjaan atau karena kesibukan-kesibukannya atau karena suatu sebab dia terlambat memberikan maka dia mulai memarahi dan membentak.

Jadi, di satu sisi terdapat pengakuan "kami mencintai Rasulullah saw.", sementara di sisi lain pengamalan nihil. Akhlak serendah apapun tidak ditampilkan. Dan banyak sekali contoh-contoh seperti itu ditemukan, yang apabila ditanya maka akan mendapatkan jawaban bahwa di dalam Al-Quran terdapat izin untuk memarahi perempuan. Jadi jelas di dalam Al-Quran tidak ada izin seperti itu. Karena akhlak buruk kalian, jangan memburuk-burukkan Al-Quran seperti itu.

Berkaitan dengan kehidupan rumah tangga terdapat kesaksian 'Aisyah bahwa Rasulullah saw. adalah orang yang paling berkeperibadian lembut dari antara semua orang dan paling mulia dari semua orang, merupakan sosok yang tinggal di rumah tanpa basa basi, tidak pernah mengerutkan muka dan senantiasa tersenyum. Beliau berkata bahwa dalam sepanjang kehidupan beliau, beliau tidak pernah memukul istri-istri beliau dan tidak pernah pula memukul pelayan beliau. Dan kepada khadim juga beliau tidak pernah mengatakan sesuatu yang menyakitkan hati. (Syamaail Tirmidzi baab maajaa-a fi khuluqi Rasulillah saw.).

Lihatlah, dewasa ini karena hal-hal kecil istri dipukul. Padahal dimana terdapat izin memberikan hukuman disana terdapat beberapa persyaratan, tidak ada izin sekehendak hati. Bahkan izin disini memiliki beberapa persyaratan. Oleh karena itu daripada mencari alasan-alasan hendaknya para suami pahamilah tanggungjawabnya dan tunaikanlah hak-hak istri sebagaimana tertera dalam Al-Quran:

Laki-laki itu pelindung bagi perempuan-perempuan, karena Allah swt. telah melebihkan sebagian mereka di atas sebagian yang lain, dan disebabkan mereka membelanjakan sebagian dari harta mereka, Maka perempuan-perempuan saleh ialah yang taat dan menjaga rahasia- rahasia suami mereka dari apa-apa yang telah dilindungi Allah swt.. Dan, perempuan- perempuan yang kamu khawatirkan kedurhakaan mereka, maka nasihatilah mereka, dan jauhilah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka taat kepadamu, maka janganlah kamu mencari jalan menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah swt. Maha Tinggi, Maha Besar. (An-Nisa’ayat 34).

Jangan Mencari-cari Kelemahan istri


Jadi, Dia berfirman bahwa "Andaikata perempuan memperbaiki dirinya dari sikap pembangkangan itu maka tanpa sebab janganlah mencari alasan untuk menghukumnya. Ingatlah, jika karena kosong dari ketakwaan kalian mengambil tindakan serupa itu dan menyangka diri kalian adalah segala-galanya dan perempuan/isteri pada pandangan kalian sama sekali tidak ada artinya apa-apa, maka ingatlah bahwa Zat Tuhan adalah merupakan Zat yang akibat perilaku kalian itu Dia dapat menghukum kalian".

Oleh karena itu jalankanlah standar hukuman yang ditetapkan sesuai dengan itu; dan andaikata Saudara-saudara tidak melihat adanya perbaikan dan dalam perilaku istri serupa itu tidak terjadi perubahan maka terdapat perintah untuk memberikan hukuman. Bukannya karena hal-hal kecil lalu marah dan kemudian mengambil tindakan pemukulan atau mengangkat tongkat untuk memukul. Dan janganlah pula menjadi zhalim (aniaya) sedemikian rupa sehingga dengan mencari-cari alasan seorang perempuan (istri) yang saleh Saudara-saudara katagorikan dalam kategori orang yang pembangkang dan Saudara-saudara mulai memberikan hukuman.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menulis:

"Orang terbaik diantara kalian adalah orang yang perlakuannya paling baik terhadap keluarga/istrtinya.

Orang yang perilakunya tidak baik terhadap istrinya bagaimana mungkin terhadap masyarakat dia dapat baik. Baru dapat melakukan kebaikan kepada orang lain apabila berlaku baik terhadap istrinya. Yang nampak dari luar baik, di dalamnyapun terdapat banyak kekurangan-kekurangan, mereka yang tidak memperlakukan baik kepada istrinya dan keluarganya, masyarakat juga harus memikirkan matang-matang terhadap orang seperti itu. Janganlah karena hal-hal kecil lantas memukul. Peristiwa-peristiwa seperti itu ada terjadi bahwa seorang yang penuh emosi, karena hal-hal kecil memukul istri sampai cedera pada tempat yang sensitif hingga mati. Oleh karena itu Allah berfirman:

Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Ya, jika dia melakukan pekerjaan yang tidak benar maka memberikan peringatan merupakan hal yang penting” (Malfuzhat jilid awal hlm. 403 –404.)

Abaikan Hal-hal Yang Tidak Disukai Dari Pasangan Hidup


Dalam menasihatkan kepada suami-istri untuk mencari kebaikan di antara satu dengan yang lain Rasulullah saw. bersabda, "Jika di antara kalian terlihat aib (kekurangan) yang lainnya, atau ada prilakunya yang kalian tidak suka, maka mungkin banyak hal-hal lainnya yang kalian sukai, yang bagi kalian itu menarik." Maka setelah mengingat hal-hal yang disukai sambil memilih sisi pengorbanan hendaknya menciptakan suasana atau nuasa yang berselarasan atau situasi yang bersesuaian. Seyogianya menciptakan iklim yang damai di antara sesama (suami-istri).

Jadi ini merupakan nasihat bagi kedua suami istri, yaitu jika keduanya mengontrol gejolak-gejolak emosi mereka maka letupan-letupan perselisihan kecil dan cekcok kecil-kecil yang kerap terjadi, di rumah tidak terjadi dan anak-anak pun tidak hancur. Sebab hal-hal kecil terkadang mengambil bentuk yang sedemikian menyakitkan sehingga setelah memikirkan itupun seorang menjadi murung (sedih) bahwa orang-orang seperti itupun ada juga di dunia ini, yang disebut sebagai manusia tetapi prilaku lebih buruk dari hewan. (Muslim Kitaburridha bab alwashiyyatu binnisa.)

Setelah melewati masa panjang selama lima belas tahun bersama Rasulullah saw., kesaksian pertama yang Khadijah r.a berikan pada saat wahyu pertama, tatkala telah turun wahyu dan Rasulullah saw. sangat cemas mengenai apa yang telah terjadi, maka Khadijah berkata, "Demi Allah, Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan Tuan, sebab Tuan memperlakukan pada anak istri dengan baik dan memikul beban orang yang miskin dan orang-orang yang tidak berdaya, dan merupakan orang yang menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang telah hilang.”

Yakni kebaikan-kebaikan yang telah hilang beliau hidupkan kembali. Dan kendatipun konsekwensi berkata jujur muncul berbagai kesulitan-kesulitan beliau tetap senantiasa menjadi penolong dan pelindung kebenaran, yakni, hanya kata-kata yang benarlah yang beliau katakan. Dan beliau adalah seorang penerima tamu yang baik” Bukhari badaulwahyi.

Jadi, keistimewaan-keistimewaan yang seyogianya ada pada seseorang, khususnya, keistimewaan-keistimewaan yang harus ada dalam diri seorang pria yang dengan itu masyarakat yang suci dapat terwujud itulah yang Khadijah sebutkan berkait dengan akhlak-akhlak beliau saw., bahwa perhatian pada perlakuan baik terhadap anak istri dan keluarga, perhatian kepada keluarga, memperhatikan keperluan-keperluan mereka, adanya upaya menjauhkan kesusahan-kesusahan mereka.

Manfaat Kebengkokan Tulang Rusuk


Kemudian tertera sebuah riwayat yang bersumber dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Perlakukanlah perempuan-perempuan (istri-istri) dengan baik. Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk. Di bagian atas tulang rusuk adalah yang paling bengkok, jika kalian berusaha (memaksa) untuk meluruskannya maka kalian akan mematahkannya, dan jika kalian meninggalkannya (membiarkannya) itu akan tetap bengkok. Maka perlakukanlah dia dengan cara yang baik".

Tertera dalam sebuah riwayat bahwa "Perempuan itu adalah seperti tulang rusuk, jika kalian berusaha (memaksa) untuk meluruskannya maka kalian akan mematahkannya, dan jika kalian ingin mengambil faedah dari itu maka kendatipun bengkok namun kalian dapat mengambil faedah darinya". Bukhari kitabul anbiya’bab khalqi aadama wa dzurriyatihi.

Nah, lengkungan tulang rusuk atau bundarnya, apa saja, itulah justru letak kekuatannya. Dan organ paling lunak milik hewan manapun itu berada dalam lingkaran atau perlindungannya. Yakni, jantung dan bagian sejumlah organ-organ lainnya (berada di dalam lindungan tulang rusuk). Jadi, dari ciptaan Allah ini manusia telah mengambil faedah. Karena itu lihatlah bangunan-bangunan dan jembatan-jembatan dimana harus menjadikan itu supaya lebih kuat maka seperti itulah akan dijadikan bulat/melengkung. Jadi bersabda bahwa, "Terkait dengan karakter perempuan yang keras, jika ingin mengambil faedah dari itu maka janganlah berupaya menyesuaikannya sesuai dengan karakter diri sendiri, kalau tidak, bukannya mendatangkan faedah untuk kalian, bahkan tidak akan ada gunanya untuk pekerjaan kalian yang manapun (merugikan kalian)".

Tetapi sudah merupakan hal yang sudah terbukti kebenarannya bahwa Allah telah meletakkan banyak jiwa pengurbanan di dalam diri perempuan (istri). Jika dengan menjadi contoh Saudara-saudara memperlakukannya dengan baik maka dia sendiri (istri) akan siap setiap saat mengurbankan dirinya sendiri untuk keinginan-keinginan Saudara-saudara. Oleh karena itu dapat diambil banyak faedah darinya bukanlah dengan kekerasan bahkan dengan kasih-sayang.

Hak-hak Anak


Kemudian dari antara tanggung jawab suami terdapat juga hak-hak anak. Ibnu Umar meriwayatkan bahwa: Allah menyatakan orang-orang saleh sebagai orang-orang saleh karena mereka berlaku baik terhadap anak-anak dan kedua orang tua mereka. Sebagaimana hak bapakmu ada padamu demikian pula hak anak-anakmu ada padamu".(Al-Adaabul mufrad lil-Bukhari birrul abbi liwaladihi.)

Bersumber dari Abu Hurairah r.a. bahwa: Seorang hadir di hadapan Rasulullah saw. bersama seorang anaknya yang masih kecil, dia mendekap anak itu bersamanya. Melihat itu Nabi saw. bersabda, "Apakah engkau mengasihinya?" Maka dia menjawab, "Ya". Rasulullah saw. bersabda,, "Semoga Allah lebih mengasihi engkau lebih dari seberapa engkau mengasihinya, dan Tuhan adalah Yang Maha Pengasih dari yang pengasih". (Al-adabul mufrad lil-Bukhari baab rahmatul ‘iyal.)

Kemudian Ayyub lewat rujukan bapak dan kakeknya meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: "Tidak ada hadiah terbaik melebihi tarbiyat yang baik, yang seorang bapak dapat berikan kepada anak-anaknya".(Tirmidzi Abwaabulbirri wasshilah fi adaabilwalad.)

Jadi, pada zaman ini, khususnya pada lingkungan ini para orang tua mempunyai tanggung jawab yang sangat besar. Jangan hanya memenuhi tanggung jawab di luar semata, tanggung jawab rumahtangga juga ada. Dan fahamilah itu, sebab dari segenap penjuru, masyarakat dan lingkungan yang menghancurkan berdiri (siap menerkam) dengan mulut ternganga.

Mirza Ghulam Ahmad menulis: "Menurut saya memukul anak seperti itu adalah termasuk dalam katagori syirik. Terkadang sejumlah orang tua sangat gemar memberikan hukuman.
Seolah-olah orang yang bertabiat kasar dan suka memukul ingin menjadikan dirinya mempunyai andil dalam petunjuk dan Rabbubiyat (pemeliharaan atau penciptaan) Tuhan" – yakni ingin menjadikan dirinya memiliki andil dari hak Rabbubiyat Tuhan. "Seorang yang bertemperamen cepat emosi apabila memberikan hukuman karena suatu hal, maka dengan tambah lebih memucak dalam amarahnya itu akan berubah mengambil bentuk permusuhan dan dalam batas dosa menjadi melampaui bermil-mil dari hukuman yang seharusnya Jika seorang itu penyabar dan merupakan sosok yang dapat mengendalikan emosinya dan dapat bersabar sepenuhnya dan penuh santun dan penyabar serta tegar berwibawa maka hanya dia yang berhak bahwa pada saat waktu yang tepat dapat memberikan hukuman kepada anak sampai suatu batas tertentu, atau dia memaafkannya. Tetapi seorang yang dikuasai emosi, kasar, tidak ada gairat lagi dungu, tidak bijak maka sama sekali ia tidak layak menjadi orang yang dapat memberi hukuman dan menjadi penanggung jawab tarbiyat bagi anak-anaknya."

Daripada mengambil tindakan pemberian hukuman, alangkah baiknya mereka pun sibuk dalam doa-doa dan membiasakan mendoakan anak-anak mereka dengan penuh khusyuk, karena doa kedua orang tua untuk anak-anak mendapat tingkat pengabulan yang khas di sisi-Nya". (Malfuzhat jilid I hal 218 Edisi Baru.)

Sejumlah orang tidak hanya ingin memiliki andil dalam Rabbubiyat (sifat khas pemeliharaan yang hanya boleh dimiliki Tuhan) hanya sampai sebatas terhadap anak-anak mereka semata, bahkan dia pun ingin ikut campur pada urusan orang lain, dan dalam nizam juga lalu menganggap diri mereka unggul dari nizam.

Tertera sebuah riwayat bahwa Anas bin Malik r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Hormatilah anak-anak kalian dan berilah tarbiyat yang baik pada mereka". (Ibni Majah abwabul adab bab birrul waalid.)

Jadi, untuk menciptakan rasa harga diri pada anak-anak penting supaya dia dihormati, dia diajarkan sopan-santun, sedemikian rupa hendaknya diberikan tarbiyatnya sehingga dia pun menjadi orang yang menghormati orang lain. Janganlah memberikan tarbiyat kepadanya sehingga akibat kehormatan yang kalian berikan kepadanya dia sendiri menjadi sombong, mulai menjadi binasa, menganggap dirinya lebih tinggi dari orang lain dan menganggap anak yang lain lebih rendah dari mereka, dan penghormatan kepada yang besar pun tidak ada dalam hati mereka. Jadi tarbiyat seyogianya sedemikian rupa dilakukan sehingga sejalan dengan itu lahir akhlak mulia dalam diri anak-anak.

Perlakuan Baik Terhadap Anak-anak perempuan


Aisyah r.a meriwayatkan bahwa: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang Allah masukkan dalam ujian dengan perantaraan seorang anak perempuan lalu dia memperlakukannya dengan baik maka itu merupakan suatu sarana/langkah perlindungan untuknya dari neraka Jahannam". (Bukhari Kitabuladab.)

Jadi, perhatikanlah, betapa hadits ini merupakan khabar suka bagi orang-orang yang mempunyai anak-anak perempuan. Manusia adalah merupakan hamba yang tidak lepas dari dosa, dapat terjebak dalam ribuan sandungan. Tetapi Allah juga membuka berbagai macam jalan ampunan.

Jadi, bukannya menyatakan rasa menyesal terhadap (mempunyai) anak-anak perempuan, bagi yang di rumahnya ada anak-anak perempuan, mereka seyogianya bersyukur dan memberikan tarbiyat yang baik kepada mereka. Dan untuk mereka hendaknya memanjatkan doa-doa untuk nasib yang baik.

Akan tetapi terkadang terjadi perinstiwa-peristiwa yang menyakitkan di hadapan kita bahwa sejumlah orang menjatuhkan thalaq kepada istrinya, "karena kamu hanya melahirkan anak-anak
perempuan". Maka untuk itu hendaknya takut pada Tuhan, mana diketahui (jika dia menikah) bahwa pada pernikahan yang akan datangpun akan lahir juga anak-anak perempuan juga. Aisyah r.a. bersabda bahwa: Nabi saw. pada malam hari bangun untuk melaksanakan shalat tahajjud dan beliau melaksanakan ibadat. Tatkala tersisa waktu sedikit untuk shalat fajar maka beliau juga membangunkan saya dan beliau bersabda, "Engkau pun lakukanlah shalat dua rakaat". (Bukhari kitabush shalat baabusshalaati khalqil qaaim..)

Tugas Kepala Keluarga: Menjadi Orang Bertakwa


Jadi satu tanggung jawab suami dalam kapasitasnya sebagai kepala rumah-tangga adalah bahwa untuk menjadi orang bertakwa dan untuk menjadi seorang pemimpin keluarga yang muttaqi merekapun sendiri harus teratur dalam shalat. Bangunlah tengah malam atau sekurang-kurangnya harus bangun untuk menunaikan shalat subuh dan membangunkan juga anak istri.

Rumah yang penuh dengan orang-orang yang rajin melakukan ibadah seperti itu maka mereka akan menjadi orang yang dapat menarik karunia-karunia dan berkah-berkah Ilahi. Tetapi ingatlah bahwa upayapun baru akan berhasil, baru akan meraih kesuksesan-kesuksesan apabila upaya ini dibarengi dengan doa-doa. Tidak hanya dengan membangunkan lalu tergesa-gesa dalam shalat, bahkan terus meneruslah memanjatkan doa-doa untuk diri sendiri dan untuk anak istri Saudara-saudara. Oleh karena itu dalam shalat-shalat Saudara-saudara pun banyaklah memanjatkan doa-doa untuk anak-anak dan istri Saudara-saudara sekalian.

Allah mengajarkan doa dalam Al-Quran:

Berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan (perbaikan) kepada anak cucuku". (Al-Ahqaf 15)

Yakni perbaikilah anak istriku sejalan dengan perubahan suci di dalam diri sendiri dan sejalan dengan doa-doa seyogianya terus memanjatkan doa-doa untuk anak dan istri. Sebab kebanyakan fitnah yang menimpa manusia adalah kebanyakan akibat anak-anak dan kebanyakan karena istri. Walhasil karena merekalah banyak kesulitan-kesulitan dan malapetaka yang menimpa manusia maka seyogianya memberikan perhatian penuh kepada perbaikannya dan seyogianya terus menerus memanjatkan doa-doa untuk mereka juga". (Malfuzhat, jilid V:456-457 Edisi Baru.)

Rasulullah saw dan Pergaulan Sosial

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. (QS Ali-imran : 112)

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al-Hujurat :13)

kisah Rasulullah

Dua ayat yang saya bacakan diatas menekankan tentang esensi interaksi sosial atau yang lebih dikenal dengan istilah hablum-minannaas. Seorang mukmin sejati adalah dia yang beriman dengan keimanan yang teguh pada Keesaan Allah taala, dan bersaksi atas keimanannya dengan sesungguh-sungguhnya bahwa Nabi Muhammad saw. adalah hamba-Nya dan Utusan-Nya. Dengan persaksian tersebut, seorang mukmin akan senantiasa memperhatikan dua aspek penting dalam menjalankan keimanannya. Aspek pertama terkait penghambaan sejati kepada Allah taala, adapun aspek yang kedua terkait dengan tanggung-jawab relationshipnya terhadap masyarakat dan lingkungan.
Rasulullah saw. bersabda: “Ada dua perkara yang tidak bisa diungguli keutamaannya oleh orang lain, yaitu tatkala seseorang beriman kepada Allah dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Abu Hurairah r.a. Nabi Muhammad SAW., bersabda: "Barangsiapa yang melepaskan seorang mukmin dari satu kesusahan di dunia, niscaya Allah akan melepaskannya satu kesulitan dihari kiamat. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang susah, niscaya Allah akan mempermudah baginya didunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutup keaiban seorang muslim, niscaya Allah akan menutup keaibannya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selagi dia senantiasa menolong saudaranya. Barangsiapa yang melalui suatu jalan menuntut ilmu, niscaya Allah akan mempermudah baginya suatu jalan menuju ke surga. Suatu kaum tidak berkumpul dirumah Allah sambil mereka membaca Kitabullah dan mengkajinya bersama-sama, melainkan ketentraman dan ketenangan akan turun atas mereka, rahmat akan meliputi mereka dan mereka akan dikelilingi oleh para malaikat dan Allah akan memanggil mereka kepada orang-orang yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat dalam amalannya, niscaya keturunannya tidak akan mampu untuk mempercepatkannya." (HR. Muslim)

Memberikan Manfaat Kepada Orang Lain


Rasulullah saw. sangat menekankan modal utama dalam berinteraksi sosial, yakni terkait kualitas diri yang memberikan manfaat bagi orang lain. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda:

Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Rasulullah saw.. dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw.. menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia, dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau berikan kedalam diri seorang muslim

Betapa Rasulullah saw. menekankan esensi kualitas diri bagi kemanfaatan bagi orang lain dalam konteks kehidupan sosial. Rasulullah saw. mengingatkan kita sekalian agar senantiasa berjuang untuk menghindarkan diri termasuk diantara orang-orang yang MUFLIS (merugi). Dalam sebuah riwayat dikisahkan, tatkala Rasulullah saw. duduk-duduk bersama para sahabat lalu beliau bersabda:
“Tahukah kalian siapa yang dinyatakan sebagai orang yang merugi? Salah seorang sahabat menjawab: seseorang yang tiada memiliki harta dan dirham ya Rasulullah. Maka beliau saw. bersabda: “Sesungguhnya, orang yang merugi adalah seseorang yang datang dihari pembalasan dengan membawa pahala shalat, pahala puasa dan pahala zakat. Namun dia juga datang dengan membawa dosa kezaliman, dosa mencerca orang lain, dosa menuduh tanpa bukti kepada orang lain, dosa memakan harta orang lain, dosa menumpahkan darah orang lain, dan dosa memukul orang lain. Maka sebagai tebusan atas kezalimannya tersebut, diberikanlah pahala kebaikannya kepada setiap orang yang dia zalimi, hingga tatkala kebaikannya telah habis dibagikan, sementara semua kezalimannya belum tertebus maka diambillah kesalahan orang yang dizaliminya, lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan kedalam neraka.

Menanamkan Cinta dan Kepedulian


Selain kita memberikan manfaat untuk orang lain, Rasulullah saw. menekankan pentingnya memiliki cinta, simpati dan empati bagi orang lain dalam ranah pergaulan sosial.

Didalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda:

“Tidaklah seseorang diantara kalian dikatakan beriman, hingga dia mencintai sesuatu bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai sesuatu bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari Muslim)

Dalam sejarah kita melihat sepak terjang kemuliaan teladan Rasulullah saw. bahkan dimasa sebelum nubuwwat. Beliau dikenal orang sebagai pribadi yang jujur, dapat dipercaya, penuh cinta kasih terhadap sesama, menolong orang yang kesusahan, dll. Sungguh sebuah modal besar dalam kehidupan pergaulan sosial. Setelah masa nubuwwat berikut kesaksian Abu sufyan tentang kemulian akhlak Nabi Muhammad saw. yang disampaikan kepada Raja Romawi bernama Heraclius.
Terkisah, Heraclius menerima rombongan dagang Quraisy yang sedang mengadakan ekspedisi dagang ke Negeri Syam. Pertemuan tersebut terjadi pada saat berlakunya perjanjian antara Nabi Muhammad saw. dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy. Saat singgah didaerah Iliya' mereka menemui Heraclius atas undangannya untuk berdialog di majelisnya bersama para pembesar-pembesar Negeri Romawi.

Heraclius berbicara kepada mereka melalui penterjemah. Heraclius berkata;
"Siapa diantara kalian yang paling dekat hubungan keluarganya dengan orang yang mengaku sebagai Nabi itu?."
Abu Sufyan berkata; "Akulah yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan dia".
Heraclius berkata; "bagaimana kedudukan nasabnya ditengah-tengah kalian?"
Aku jawab: "Dia adalah dari keturunan baik-baik (bangsawan) ".
Heraclius: "Apakah bapaknya seorang raja?" Jawabku: "Bukan".
Heraclius : ”Apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang atau orang-orang yang rendah?" Jawabku: "Yang mengikutinya adalah orang-orang yang rendah".
Dia bertanya lagi: "Apakah bertambah pengikutnya atau berkurang?" Aku jawab: "Bertambah".
Dia bertanya lagi: "Apakah ada yang murtad disebabkan dongkol terhadap agamanya?" Aku jawab: "Tidak ada".
Dia bertanya lagi: "Apakah kalian pernah mendapatkannya dia berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang dikatakannya itu?" Aku jawab: "Tidak pernah".
Dia bertanya lagi: "Apakah dia pernah berlaku curang?" Aku jawab: "Tidak pernah. Ketika kami bergaul dengannya, dia tidak pernah melakukan hal itu".
Dia bertanya lagi: "Apakah kalian memeranginya?" Aku jawab: "Iya".
Dia bertanya lagi: "Bagaimana kesudahan perang tersebut?" Aku jawab: "Perang antara kami dan dia sangat banyak. Terkadang dia mengalahkan kami dan terkadang kami yang mengalahkan dia".
Dia bertanya lagi: "Apa yang diperintahkannya kepada kalian?" Aku jawab: "Dia menyuruh kami; 'Sembahlah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan tinggalkan apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian. 'Dia juga memerintahkan kami untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim".

Maka Heraclius berkata kepada penerjemahnya: "Katakan kepadanya, bahwa aku telah bertanya kepadamu tentang keturunan orang itu, kamu ceritakan bahwa orang itu dari keturunan bangsawan. Begitu juga laki-laki itu dibangkitkan di tengah keturunan kaumnya. Dan aku tanya kepadamu apakah pernah ada orang sebelumnya yang mengatakan seperti yang dikatakannya, kamu jawab tidak ada. Seandainya dikatakan ada orang sebelumnya yang mengatakannya tentu kuanggap orang ini meniru orang sebelumnya. Aku tanyakan juga kepadamu apakah bapaknya seorang raja, maka kamu jawab tidak. Aku katakan seandainya bapaknya raja, tentu orang ini sedang menuntut kerajaan bapaknya. Dan aku tanyakan juga kepadamu apakah kalian pernah mendapatkan dia berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang dikatakannya, kamu menjawabnya tidak. Sungguh aku memahami, kalau kepada manusia saja dia tidak berani berdusta apalagi berdusta kepada Allah. Dan aku juga telah bertanya kepadamu, apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang atau orang-orang yang rendah?" Kamu menjawab orang-orang yang rendah yang mengikutinya. Memang mereka itulah yang menjadi para pengikut Rasul.

Aku juga bertanya kepadamu apakah bertambah pengikutnya atau berkurang, kamu menjawabnya bertambah. Dan memang begitulah perkara iman hingga menjadi sempurna. Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah ada yang murtad disebabkan marah terhadap agamanya. Kamu menjawab tidak ada. Dan memang begitulah iman bila telah masuk tumbuh bersemi di dalam hati. Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah dia pernah berlaku curang, kamu jawab tidak pernah. Dan memang begitulah para Rasul tidak mungkin curang. Dan aku juga bertanya kepadamu apa yang diperintahkannya kepada kalian, kamu jawab dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan melarang kalian menyembah berhala, dia juga memerintahkan kalian untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim. Seandainya semua apa yang kamu katakan ini benar, pasti dia akan menguasai kerajaan yang ada di bawah kakiku ini. Sungguh aku telah menduga bahwa dia tidak ada diantara kalian sekarang ini, seandainya aku tahu jalan untuk bisa menemuinya, tentu aku akan berusaha keras menemuinya, hingga bila aku sudah berada di sisinya, pasti aku akan basuh kedua kakinya.

Selain itu sebuah kesaksian besar tentang diri Rasulullah saw. disampaikan tatkala Rasulullah saw. memberi izin hijrah beberapa sahabah ke Habsyah, yang terdiri dari 83 laki-laki dan 19 wanita.
Penguasa Habasyah adalah Najasyi. Seorang raja yang terkenal adil dan bijaksana, serta suka melindungi orang-orang yang lemah. Sesampainya di Habasyah, mereka mendapatkan perlindungan dari Najasyi, sehingga bisa leluasa dan lebih tenang dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi, ketenangan ini terusik. Yaitu tatkala orang-orang Quraisy meminta Raja Najasyi untuk menyerahkan kaum muslimin. Mendengar hal itu, Raja Najasyi marah, seraya berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mengembalikan mereka kepada kaumnya sampai aku menemui mereka. Sehingga aku bisa mengetahui, apakah yang telah dikatakan oleh dua orang ini benar? Kalau memang benar, maka akan aku kembalikan, mereka. Akan tetapi, kalau tidak, aku akan melindungi dan berbuat baik kepada mereka.”

Kemudian Raja Najasyi mengutus orang agar memanggil kami. Sebelum berangkat untuk menemuinya, kami berkumpul dan saling mengatakan, “Sesungguhnya Najasyi akan bertanya kepada kalian tentang agama kalian. Maka terangkanlah dengan apa yang telah kalian imani.” Dan kami bersepakat mengangkat Ja’far bin abi thalib sebagai juru bicaranya. Berangkatlah kami untuk menemuinya. Kami mendapatkan Raja Najasyi tengah duduk di antara para menterinya yang memakai pakaian kebesaran mereka. Kami juga mendapatkan Amru bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah telah ada di hadapan mereka.

Ketika semuanya telah siap, Najasyi menoleh kepada kami dan berkata, “Apakah agama yang kalian peluk, sehingga kalian meninggalkan agama kaum kalian dan tidak pula kalian masuk ke dalam agamaku atau agama yang lainnya?”

Maka berkatalah Ja’far bin Abi Thalib, “Wahai Raja, kami dahulu adalah orang-orang jahiliyah. Kami menyembah berhala, kami memakan bangkai, melaksanakan perbuatan keji, memutus silaturrahim, berbuat jelek kepada tetangga, yang kuat menekan yang lemah dan kami tetap berada dalam keadaan demikian, sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul yang kami mengetahui nasabnya, kejujurannya, keamanahannya dan sangat memelihara diri. Dia mengajak kami agar beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan patung-patung yang disembah oleh nenek moyang kami. Dia pun memerintahkan kepada kami agar jujur dalam berkata, menunaikan amanah, menyambung silaturrahmi, meninggalkan perbuatan keji, memelihara darah, dan melarang kami dari berkata dusta, melarang memakan harta anak yatim, melarang menuduh wanita yang shalihah dengan perbuatan zina serta memerintahkan kami agar mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan. Maka kami membenarkannya, beriman kepadanya, dan mengikuti apa yang dibawanya dari sisi Allah. Kami menghalalkan apa yang dihalalkannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya. Wahai Raja, ketika kaum kami mengetahui tentang apa yang kami lakukan, mereka memusuhi kami, menyiksa kami dengan siksaan yang berat dan berusaha mengembalikan kami kepada agama nenek moyang, dan agar kami kembali menyembah berhala. Maka tatkala mereka terus menekan kami, memaksa kami, akhirnya kami memilih engkau dari yang lainnya dan kami sangat berharap engkau berbuat baik kepada kami dan tidak menzalimi kami.”

Raja Najasyi kembali bertanya kepada Ja’far, “Apakah engkau memiliki apa yang dibawa oleh Nabimu dari Allah?” Ja’far menjawab, “Ya.” Maka Raja Najasyi memerintahkan, “Bacakanlah untukku!” Ja’far pun membaca surat Maryam.

Ketika mendengar ayat tersebut, menangislah Raja Najasyi, sehingga air matanya membasahi jenggotnya. Menangis pula para menterinya, sehingga basah buku-buku mereka. Dan Najasyi berkata, “Sesungguhnya, apa yang dibawa oleh Nabi kalian dan apa yang dibawa oleh Isa bin Maryam merupakan satu sumber.” Najasyi menoleh kepada Amru bin Ash dan berkata, “Pergilah kalian! Demi Allah, mereka tidak akan aku serahkan kepada kalian!”

Memberikan Teladan


Rasulullah saw. adalah pribadi yang senantiasa menunjukan perwujudan ahlak mulia dalam berinteraksi sosial, beliau tidak hanya sebatas menyampaikan sabdanya namun lebih dari itu beliau pun mencontohkan kemuliaan ahlak tersebut.

Pada suatu riwayat, Rasulullah saw. bersabda tentang kemuliaan memberi makan kepada orang lain dan memberi salam kepada orang yang dikenal maupun yang tidak. Beliau bersabda:

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ada seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai islam bagaimana yang baik. Beliau menjawab, “Memberikan makan (pada orang yang membutuhkan), serta mengucapkan salam pada orang yang dikenal dan yang tidak dikenal.” (HR. Bukhari no. 6236).

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa di sudut pasar Madinah ada seorang wanita tua pengemis Yahudi yang buta, yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya. Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW. mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW. menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW.. Rasulullah SAW. melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat. Setelah wafatnya Rasulullah SAW., tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW. yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah puteriya Aisyah RA. yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW. dan beliau bertanya kepada puterinya tersebut, wahai anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan? Aisyah RA menjawab,Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja. Apakah Itu?, tanya Abubakar RA. Setiap pagi Rasulullah SAW. senantiasa pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana, ujar Aisyah RA.. Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar ra mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, Siapakah kamu? Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, seru si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang makanan dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dia haluskannya makanan tersebut, setelah itu ia suapkan kedalam mulutku. Abubakar RA seketika itu mangis dan tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.. Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, dan berkata buruk tentang dirinya namun ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…lalu pengemis tersebut bersyahadat baiat kedalam agama Islam.

Hak-Hak Sesama Muslim


Rasulullah saw. pun sangat memperhatikan hak-hak muslim terhadap sesama muslim yang juga menjadi catatan bagi kita dalam bersosialisasi setiap hari. Beliau bersabda:


Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Hak seorang muslim terhadap sesama muslim itu ada enam, yaitu: (1) jika kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, (2) jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya, (3) jika ia meminta nasihat kepadamu maka berilah ia nasihat, (4) jika ia bersin dan mengucapkan: ‘Alhamdulillah’ maka do’akanlah ia dengan Yarhamukallah (artinya = mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepadamu), (5) jika ia sakit maka jenguklah dan (6) jika ia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya”. (HR. Muslim, no. 2162).

Keramahan dan Kebijaksanaan Rasulullah


Rasulullah saw. adalah seseorang yang sangat memahami makna komunikasi dengan orang lain. Beliau tidak hanya ramah kepada orang-orang yang beriman, namun juga ramah kepada setiap orang tanpa membedakan ras, warna kulit, jenis kelamin, strata sosial, agama dll. Di dalam kualitas komunikasinya beliau senantiasa menanamkan pesan-pesan Ilahi, dan dalam setiap ucapannya selalu mengandung kebijaksanaan dan cinta kasih, sehingga semua potensi panca indera orang-orang yang bergaul dengan beliau akan diliputi dengan kententraman batin dan kedamaian sejati.

Pada suatu hari fakir miskin Muhajirin datang menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan berkata: Orang-orang kaya telah pergi dengan derajat yang tinggi dan nikmat yang kekal. Rasulullah bertanya: Apa itu gerangan? Mereka menjawab: Mereka salat seperti kami salat, mereka puasa seperti kami puasa. Tetapi mereka bersedekah sedang kami tidak sanggup, mereka mampu memerdekakan budak sementara kami tidak mampu. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Maukah kalian aku ajarkan sesuatu yang dapat membuat kalian mengejar orang-orang yang mendahului kalian dan yang dapat membuat kalian mendahului orang-orang yang sesudah kalian? Tidak ada seorang pun di antara kalian yang lebih utama kecuali ia melakukan seperti yang engkau lakukan. Mereka menjawab: Tentu, ya Rasulullah. Rasulullah bersabda: Kalian baca tasbih (subhhaabnallah), takbir (Allahu akbar) dan tahmid (alhamdulillah) setiap selesai salat sebanyak tiga puluh tiga kali (HR Muslim)

Selain itu dalam konteks komunikasi Rasulullah saw. senantiasa menyampaikan dengan hikmah dan kebijaksanaan. Terkisah seorang Arab Badui datang kehadapan Rasulullah saw. dia menolak mengakui anak dari istrinya karena anaknya berkulit hitam. Lalu Rasulullah saw. menegaskan bahwa bayi itu adalah anaknya.

Menjaga Hubungan Baik


Dalam konteks hubungan personal, Rasulullah saw. senantiasa menjaga hubungan dengan baik. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa seorang Yahudi selalu bersiap diri setiap kali Rasulullah saw. melewati jalan dekat rumahnya. Jika Rasulullah saw. sudah terlihat, dia pun segera mengambil kotoran unta lalu melemparkannya ke tubuh Rasulullah saw. Mendapat perlakukan tersebut, Rasulullah saw. tidak pernah marah. Beliau hanya tersenyum dan segera membersihkan kotoran tersebut. Sekali waktu, Yahudi tersebut meludahi wajah Rasulullah saw.. Kejadian semacam ini terus berulang hingga beberapa lamanya. Selama waktu itu pula Rasulullah saw.. senantiasa sabar dan tidak memberi balasan, kutukan, atau pun ancaman.

Suatu hari, beliau melewati jalan itu lagi. Aneh bin ajaib, Yahudi itu tidak terlihat sehingga Rasulullah saw.. pun terbebas dari gangguannya. Namun demikian, Rasulullah saw.. malah penasaran. Beliau pun berusaha mencari tahu kemana Yahudi yang setiap hari melemparinya dengan ludah dan kotoran. Rupanya si Yahudi itu dikabarkan sakit keras sehingga tidak bisa keluar rumah.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, Rasulullah saw.. bergegas ke rumah si Yahudi untuk menjenguknya. Terkejutlah si Yahudi ketika tahu bahwa Muhammad saw.., orang yang setiap hari dia ganggu dan dia hina, menyambangi rumahnya ketika dia dalam keadaan tidak berdaya. Mukanya yang pucat terlihat semakin pucat. Setelah meminta izin kepada tuan rumah, Rasulullah saw.. menemui si Yahudi itu dengan baik-baik, menanyakan kabar, dan membawakan kepadanya sedikit buah tangan. Ketakutan yang menyelimuti tubuh yang tergolek karena sakit itu, sedikit demi sedikit memudar dan akhirnya hilang. Rasa benci yang menyeruak di dadanya perlahan berganti menjadi rasa cinta. Yahudi tua itu menangis tersedu-sedu. Dia merasa malu, menyesal, dan sangat bersalah karena perbuatannya selama ini, yang tidak senonoh kepada seorang manusia mulia. Kunjungan Rasulullah saw.. hari itu benar-benar telah mengubah hidupnya. Seseorang yang senantiasa dizaliminya justru menjadi orang pertama yang datang menjenguk ketika dia sakit. Sebagai tanda terima kasih dan pertobatannya, Yahudi itu pun mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Rasulullah saw.

Rasulullah saw.. adalah pribadi yang sangat menekankan hubungan baik dengan tetangga. Didalam Hadist kita temukan sabda mulia Rasulullah saw. yang berbunyi:

“Saya perintahkan kepadamu untuk memperlakukan tetangga dengan baik dan mendesak perlakuan baik mereka sedemikian rupa sehingga saya kira, Nabi saw. seolah-olah akan memberikan hak-hak waris kepada mereka. (at-Tabrani dengan sanad jayyid)

Perlakuan yang baik kepada tetangga dan penghindaran diri dari perilaku yang membahayakan dan merisaukan tetangga demikian penting, sampai Nabi menggambarkan hal ini sebagai satu dari tanda-tanda keimanan yang benar kepada Allah dan Hari Akhir. Beliau bersabda:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia memperlakukan tetangganya dengan baik; Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia memuliakan tamunya; Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia mengucapkan kata-kata yang baik atau diam.” (Muttafaq’alaih)

Cara-Cara Pergaulan Sosial


Rasulullah saw. benar-benar telah mengajarkan kepada kita tentang cara bersosialisasi yang baik, beliau mengajarkan beberapa hal penting diantaranya: (Seperti dikutip dari Ust Sihabuddin Muhaemin)

1. Menyatukan Kecintaan Dengan Orang Lain.

Jika seseorang mencintai orang lain, maka katakanlah bahwa dia mencintainya, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

"Jika seseorang mencinta saudaranya, maka hendaklah ia mengatakan rasa cintanya kepada saudaranya (karena Allah SWT)". (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

2. Saling Mendoakan Kebaikan Antara Keduanya.

Seseorang yang menjalinkan kasih sayang karena Allah SWT, maka bertemu dan berpisah nya pun karena Allah dan saling mendoakan kebaikan pada keduanya.

3. Jika Bertemu Saling Memberi Senyuman Ikhlas.

Seorang Muslim yang menjalin kasih sayang karena Allah akan menunjukkan kegembiraan jika bertemu dengan saudaranya sesama Muslim, dan saling menghadiahkan senyuman manis yang ikhlas kepada saudaranya. Rasulullah SAW. bersabda:

"Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun sekalipun hanya sekuntum senyuman kegembiraan yang kamu berikan kepada saudaramu ketika Bertemu. (HR. Muslim).

4. Saling Bejabat Tangan Jika Bertemu Dengan Sesama Muslim.

Rasulullah saw mengajar umatnya untuk saling berjabat tangan dengan sesama saudaranya yang Muhrim. Jika bertemu. Rasulullah saw bersabda:

"Tidak ada dua orang Muslim yang apabila bertemu saling berjabat tangan, kecuali Allah taala akan menggugurkan dosa keduanya sebelum tangan keduanya berpisah. (HR. Abu Daud).

5. Saling Menghubungkan Kasih Sayang Antara Sesama Saudaranya.

Bentuk kasih sayang yang perlu di jalinkan di antaranya dengan saling menziarahi saling memberi dan lainnya. Pemberian yang kita berikan kepada saudaranya aka dapat menjalinkan hubungan yang baik.

6. Memberi Salam Dan Mengucapkan Selamat Jika Bertemu Dengan Saudaranya.

Seorang saudara yang baik terhadap saudaranya. Akan memulai pertemuannya dengan mengucapkan salam terhadap saudaranya serta mengucapkan selamat kepada saudaranya. Rasulullah saw bersabda:

"Barang siapa berjumpa dengan saudaranya kemudian mengucapkan selamat kepada saudaranya di atas keberhasilan yang di capainya, maka Allah akan menggembirakannya nanti pada hari kiamat. (HR. Thabrani).

7. Memberi Hadiah Kepada Saudaranya.

Jika seorang Muslim mendapatkan keberhasilan maka saudara Muslim lainnya mengucapkan selamat dan memberi sedikit hadiah sebagai penghargaan atas keberhasilannya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

"Saling memberi hadiah lah kamu dengan sesama saudaramu, niscaya aku akan saling mencintai." (HR. at-Thabrani).

8. Saling Memberi Pertolongan Dengan Sesama Saudaranya.

Saling membantu saudaranya merupakan kewajiban seorang Muslim. Rasulullah SAW. bersabda:

Dan Allah akan sentiasa memberi pertolongan kepada hamba-Nya, jika membantu sesama saudaranya. (HR. Muslim).

9. Saling Memenuhi Hak Saudaranya.

Dalam mempererat persaudaraan maka setiap muslim wajib menunaikan hak-hak saudaranya, seperti menjenguk saudara yang, mendoakan ketika bersin, saling tolong-menolong dalam perkara kebaikan serta membanteras kejahatan dan kezaliman.

Kasih Sayang Rasulullah saw Terhadap Keluarga

Oleh: Saefullah Ahmad Faruq

Kondisi akhlak merupakan suatu keramat, yang tidak dapat diprotes oleh siapa pun. Itulah sebabnya kepada Nabi kita Rasulullah saw. mukjizat terbesar dan terkuat yang telah diberikan adalah akhlak. Sebagaimana difirmankan:

Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak berbudi pekerti yang agung” (Al-Qalām, 5).

Dalam segi kekuatan serta bukti, segala mukjizat Rasulullah saw. melampaui seluruh mukjizat para nabi lainnya. Akan tetapi mukjizat akhlaki beliau adalah yang paling unggul, dan sejarah dunia tidak dapat mengungkapkan serta memaparkan tandingannya.” (Malfuzat, jld. I, hlm. 141).

Rasulullah saw adalah teladan sempurna, (Al Ahzab ayat 22) salah satu keteladanan beliau adalah kasih sayang terhadap keluarga.

kasih sayang rasulullah

Sikap Rasulullah saw Terhadap Istri


Ribuan tahun yang silam, di Padang Arafah, di hadapan ratusan ribu umat Islam yang pertama, Rasulullah Saw menyampaikan khotbah perpisahan. Perhatikanlah apa yang diwasiatkanny a pada hari itu:

"Wahai manusia, takutlah kepada Allah akan urusan wanita. Sesungguhnya kamu telah mengam¬bil mereka sebagai istri dengan amanat Allah. Kami halalkan kehormatan mereka dengan kalimah Allah. Sesungguhnya kamu mempunyai hak atas istrimu, dan istrimu pun mempunyai hak atas kamu. Ketahuilah, aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik terhadap istri kalian. Mereka adalah penolong kalian. Mereka tidak memilih apa¬-apa untuk dirinya, dan kamu pun tidak memilih apa-apa dari diri mereka selain itu. Jika mereka patuh kepadamu, janganlah kamu berbuta aniaya terhadap mereka. " (H.R. Muslim dan Turmudzi)

"Ada dua dosa yang akan didahulukan Allah siksaannya di dunia ini juga, yaitu al-baghyu dan durhaka kepada orangtua. " (H.R. Turmudzi, Bukhari, dan Thabrani)

Al-Baghyu adalah berbuat sewenang-wenang, berbuat zalim dan menganiaya orang lain. Dan al-baghyu yang paling dimurkai Allah ialah berbuat zalim terhadap istri sendiri. Termasuk al-baghyu ialah menelantarkan istri, menyakiti hatinya, merampaskehangat cintanya, merendahkan kehormatannya, mengabaikannya dalam mengambil keputusan, dan mencabut haknya untuk memperoleh kebahagiaan hidup bersama anda. Karena itulah Rasulullah Saw mengukur tinggi-rendahnya martabat seorang laki¬laki dari cara ia bergaul dengan istrinya. Nabi Saw bersabda:

"Tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. Tidak merendahkan wanita kecuali laki¬laki yang rendah juga. " Rasulullah Saw adalah manusia paling mulia. Dan Aisyah ra. bercerita bagaimana Rasul memuliakannya;

"Di rumah," kata Aisyah, "Rasulullah melayani keperluan istrinya memasak, menyapu lantai, memerah susu, dan membersihkan pakaian." Dia memanggil istrinya dengan gelaran yang baik. Setelah Rasulullah Saw meninggal dunia, ada beberapa orang menemui Aisyah, memintanya agar menceritakan perilaku Nabi Saw. Aisyah sesaat tidak menjawab permintaan itu. Air matanya berderai. Kemudian, dengan nafas panjang, ia berkata, "Kana kullu amrihi ajaba. " (Ah... semua perilakunya indah.) Ketika didesak untuk menceritakan perilaku Rasul yang paling mempesona, Aisyah kemudian mengisahkan bagaimana Rasul yang mulia bangun di tengah malam dan meminta izin kepada Aisyah untuk salat malam.

"Izinkan aku menyembah Tuhanku," ujar Rasulullah Saw kepada Aisyah."

Bayangkan, Saudara, sampai untuk salat malam saja diperlukannya izin istrinya. Di situ berhimpun kemesraan, kesucian, kesetiaan, dan penghormatan.

Cara Rasulullah saw Menghormati Kaum Wanita


Menurut adat kebiasaan orang-orang Arab di masa lampau, suami seringkali memukul istri mereka. Rasulullah Saw mengetahuinya kemudian beliau bersabda kepada para suami: Perempuan adalah hamba sahaya (budak) Allah Ta’ala bukan hamba sahaya kalian. Ketika seorang sahabat ra bertanya kepada beliau saw, “Apakah hak-hak istri atas kami (para suami)?” Beliau saw bersabda: “Berilah dia makan dengan apa yang telah Tuhan berikan kepada kamu untuk makan, berilah dia pakaian dengan apa yang telah Tuhan berikan kepadamu untuk berpakaian. Janganlah memukul mukanya, janganlah mencaci-makinya dan jangan pula kamu mengusirnya dari rumah kamu.”

Rasulullah Saw bersabda: خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلي ‘Khairukum khairukum li ahlihi wa ana khairukum li ahlii.’ - “Orang terbaik diantara kamu adalah dia yang terbaik dalam hal berlaku baik terhadap ahli (penghuni) rumahnya dan aku adalah yang terbaik dari antara kalian dalam hal memperlakukan dengan baik terhadap keluarganya.”

Seperti telah disebutkan sebelumnya, dikarenakan kesibukan tugas-tugas pemerintahan dan tarbiyat (pendidikan), waktu beliau adalah sangat berharga. Beliau sibuk dalam ibadah-ibadah, namun, dalam keadaan demikian, beliau saw biasa membantu pekerjaan di rumah istri-istri beliau dengan baik sekali. Aisyah ra meriwayatkan, pada waktu manapun beliau saw ada di rumah, beliau saw selalu sibuk membantu menyelesaikan pekerjaan di rumah. Bila tidak ada tugas-tugas lainnya, beliau saw takkan kosong dari pekerjaan-pekerjaan di rumah. Beliau saw menambal sulam sendiri pakaian beliau yang sudah robek. Beliau saw sendiri yang memerah susu kambing. Jika terlambat tiba di rumah, beliau saw mempersiapkan makanan untuk beliau saw sendiri dan tidak membangunkan orang-orang di rumah.

Lembut dan Penuh Kasih


Rasulullah Saw. adalah seorang suami yang sangat meninggikan kedudukan para istrinya dan amat menghormati mereka. 'Aisyah bercerita tentang hal ini:

Sekelompok orang Habasyah masuk masjid dan bermain di dalamnya. Ketika itu Rasulullah Saw. berkata kepadaku, “Wahai Humayrâ`, apakah kamu senang melihat mereka?” Aku menjawab, “Ya.” Maka beliau berdiri di pintu rumah. Aku menghampirinya. Kuletakkan daguku di atas pundaknya dan kusandarkan wajahku ke pipinya. Di antara ucapan mereka (orang-orang Habasyah) waktu itu, ‘Abû al-Qâsim (Rasulullah) orang baik.’ Lalu Rasulullah berkata, “Cukup.” Aku berkata, “Ya Rasulullah, jangan tergesa-gesa.” Beliau pun berdiri lagi untukku. Kemudian beliau berkata lagi, “Cukup.” Aku berkata, “Jangan tergesa-gesa, ya Rasulullah.” Bukan melihat mereka bermain yang aku suka, melainkan aku ingin para perempuan tahu kedudukan Rasulullah bagiku dan kedudukanku dari beliau.”( HR.al-Nasâ`î, ).

Bayangkan seorang istri berdiri di belakang suaminya untuk melindunginya. Kemudian sang istri meletakkan dagunya di pundak sang suami, wajah sang istri menempel di pipi sang suami. Sang istri meminta sang suami berdiri lebih lama untuknya. Mereka berdiri di pintu rumah sambil memerhatikan orang-orang yang sedang bermain di masjid depan rumah. Kemudian sang istri bertutur, “Sesungguhnya bukan orang-orang yang sedang bermain itu yang menarik perhatianku. Bukan pemandangan itu yang membuatku ingin berlama-lama berdiri di sini bersama suami. Aku hanya ingin para istri tahu kedudukanku bagi suamiku dan kedudukan suamiku bagiku.” Bersama itu, sang suami dengan sabar memenuhi permintaan sang istri terkasih, demi cinta padanya dan guna menjaga perasaannya.

Betapa pun banyak dan beratnya tanggung jawab yang harus dipukul Sang Rasul, beliau tidak pernah lupa akan hak-hak para istrinya. Beliau memperlakukan mereka dengan amat lembut dan penuh kasih. Tidak pernah sedikit pun beliau mengurangi hak mereka. Beliaulah yang dalam salah satu haditsnya bersabda, “Kaum perempuan (para istri) adalah saudara kandung kaum laki-laki (para suami).”( HR. al-Baihaqi, al-Tirmidzî, Ahmad bin Hanbal, ).

Hadits ini menjadi dalil bahwa beliau tidak pernah menganggap kecil kedudukan para istrinya. Beliau menempatkan mereka pada kedudukan yang setara dengan beliau dan memposisikan mereka pada posisi yang agung. Bagaimana tidak, pada diri seorang istri tersandang sejumlah predikat mulia: ibu, istri, saudara perempuan, bibi, dan anak perempuan.

Pengakuan di Depan Publik


Pada saat banyak suami menganggap bahwa sekadar menyebut nama istri di depan orang lain dapat mengurangi harga diri, kita mendapati Rasulullah justru menampakkan cintanya pada para istrinya di depan umum. Shafiyah binti Huyay mendatangi Rasulullah saw. sewaktu beliau beri’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Kemudian ia berbincang dengan beliau beberapa waktu. Ia berdiri untuk pulang. Rasulullah pun ikut berdiri mengantarkan Shafiyah pulang. Ketika Shafiyah dan Rasulullah sampai di depan pintu Ummu Salamah, dua orang Anshâr lewat dan memberi salam kepada Rasulullah. Kepada dua orang Anshâr itu beliau bersabda, “Perhatikanlah baik-baik oleh kamu berdua, dia ini tidak lain Shafiyah binti Huyay.”( HR. al-Baihaqi, al-Bukhari, Ibnu Hibban ).

Tempat Bersandar di Kala Susah


Nabi Saw. adalah suami yang sangat memahami kondisi para istrinya, baik kondisi fisik maupun psikis. Dua kondisi ini dari satu waktu ke lainnya dapat berubah-ubah. Nabi Saw. sangat pandai memahami hal itu terhadap para istrinya. Maymûnah, salah satu istri Nabi, berkata, “Suatu kali Rasulullah mendatangi salah seorang dari kami. Salah seorang dari kami itu sedang haid. Maka beliau meletakkan kepalanya di dada istrinya yang sedang haid itu, lalu beliau membaca al-Qur`an.”( HR. Ahmad Ibn Hanbal, )

Pada kali lain, Rasulullah Saw. berupaya begitu rupa menenangkan salah satu istrinya yang sedang mengalami tekanan batin. Pada suatu hari, beliau mendatangi Shafiyah binti Huyay. Beliau menemukan Shafiyah sedang menangis. Kepadanya beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Shafiyah menjawab, “Hafshah berkata bahwa aku anak orang Yahudi.” Beliau berkata, “Katakan padanya, suamiku Muhammad, ayahku Hârûn, dan pamanku Mûsâ!” ( Muhammad bin Ahmad al-Qurthubî, Tafsîr al-Qurthubî, Kairo: Dâr al-Sya’b, cet. II, 1372 H, 16, hal. 326 ).

Terlihat bagaimana Baginda Nabi menyelesaikan masalah dengan kata-kata sederhana namun mengandung makna yang dalam.

Bermusyawarah Sebelum Mengambil Keputusan


Di kala banyak suami memandang istrinya kurang akal dan agama, Rasulullah yang mulia tidak pernah segan atau merasa keberatan mendengar serta mengambil pendapat istrinya. Ini terlihat ketika beliau meminta pendapat Ummu Salamah dalam perjanjian Hudaybiyah. Waktu itu beliau memerintahkan para sahabat untuk mencukur rambut dan menyembelih hewan kurban, namun mereka tidak mau melakukannya. Melihat respon para sahabat tersebut, Baginda Nabi masuk ke tenda Ummu Salamah. Begitu beliau menceritakan kepada Ummu Salamah apa yang beliau terima dari para sahabat, Ummu Salamah langsung mengajukan pendapat yang cerdas. Ia berkata: “Keluarlah, ya Rasulullah, kemudian engkau bercukur lalu potong hewan kurban lalu!” Beliau pun keluar dari tenda, bercukur lalu memotong kurban. Melihat hal itu, sontak para sahabat bangkit; mereka serempak bercukur lalu memotong hewan kurban”.( Muhammad bin Jarîr al-Thabarî, Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta`wîl Ayy al-Qur`ân, Beirut: Dâr al-Fikr, 1405 H., vol. 2, hal. 221 ).

Tetap Santun Meski Saat Marah


Di kala tidak sedikit para suami yang ringan tangan kepada para istri saat mereka melakukan kesalahan, kita mendapati Sang Nabi tetap bijak, lembut, dan santun dalam memperlakukan para istrinya saat terjadi silang-pendapat atau perselisihan antara beliau dan mereka. Ketika kemarahan beliau agak tinggi, maka pergi menjauhi istri untuk sementara waktu menjadi pilihannya. Tidak pernah beliau menampar satu pun dari istrinya. Beliau menjauhi para istrinya pada saat mereka mendesaknya menuntut nafkah.

Rasulullah Saw tidak pernah mendesak istrinya menyediakan makanan. Dalam satu riwayat diceritakan, suatu ketika, Rasulullah Saw pulang pada waktu pagi. Beliau pasti sangat lapar saat itu. Tetapi dilihatnya tidak ada apapun untuk sarapan, bahkan yang mentah pun tidak ada karena ‘Aisyah belum ke pasar. Maka beliau bertanya, “Belum ada sarapan ya Humaira?” Aisyah menjawab dengan agak serba salah, “Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.” Rasulullah Saw lantas berkata, “Jika begitu aku puasa saja hari ini.” tanpa sedikit pun tergambar raut kesal di muka beliau.

Sikap Kasih Sayang Beliau Kepada Anak-anak


Bagaimanakah contoh kasih-sayang beliau saw kepada anak-anak? Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pintu yang bernama Al Farah. Tidak seorang pun memasuki pintu itu kecuali orang-orang yang membuat anak-anak gembira.”

Dalam riwayat yang lain diceritakan, bahwa Rasulullah Saw biasa memanjatkan doa bagi anak-anak beliau sendiri dan bagi anak-anak lain yang tinggal bersama Beliau Saw, “Ya Allah ya Tuhanku! Aku mencintai mereka ini, Engkau juga cintailah mereka ini!” Beliau tidak pernah menghukum anak-anak, selalu mendidik mereka melalui sarana kasih sayang dan doa-doa. Terdapat juga banyak riwayat yang menyebutkan Beliau Saw berkenan bermain-main bersama anak-anak. Kebanyakan orang tua mencintai anak-anak mereka, namun ada juga orang tua yang menghukum anak-anak mereka sendiri tanpa sebab yang wajar. Banyak juga orang tua yang mencintai anak-anak kandung mereka sendiri namun tidak bisa menahan sabar terhadap anak-anak orang lain, tidak menaruh kasih-sayang kepada mereka. Contoh luhur Rasulullah saw adalah mencintai dan bersikap kasih-sayang kepada semua anak dari semua kalangan. Berikut ini adalah beberapa contoh tentang kecintaan Beliau Saw kepada anak-anak.

1. At-Tirmidzi dan lainnya meriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya:

Saya melihat Rasulullah Saw. sedang menyampaikan khutbah, maka datanglah Hasan dan Husain ra. yang mengenakan baju merah, berjalan dan lalu terjatuh. Kemudian Rasulullah saw. turun dari mimbar, dan mengambil keduanya, dan mele¬takkan bersamanya. Kemudian beliau bersabda, "Sesungguhnya harta dan anak-anakmu adalah cobaan. Aku melihat ke kedua anak kecil itu berjalan dan terjatuh, maka tidaklah aku sabar, sehingga aku memotong pembicaraanku dan mengangkat ke¬duanya".

2. An-Nasa'i dan Al-Hakim meriwayatkan:

"Ketika Rasulullah Saw. shalat mengimami para ma'mum, tiba-tiba datanglah Husain, dan menunggangi pundak Rasulullah saw. ketika beliau sujud. Maka beliau melamakan sujud, hingga para ma'mum mengira terjadi sesuatu. Setelah shalat usai berka¬talah mereka, 'Engkau telah memanjangkan sujud wahai Rasulul¬lah, hingga kami mengira telah terjadi sesuatu'. Rasulullah saw. menjawab, 'Anakku (cucuku) telah menjadikan aku sebagai tunggangan, maka aku tak suka mengganggu kesenangannya sehingga ia puas".

3. Dalam Al-Ishabah dikatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bermain-main dengan Hasan dan Husain ra. Rasulullah Saw. merangkak di atas kedua tangan dan lututnya, dan kedua cucu¬nya tersebut bergelantungan dari kedua sisinya, dan merangkak bersama keduanya, sambil bersabda:

الْعِدْ لاَنِ عْمنِ أَنْتُمَا وَ جَمَلُكُمَا الْجَمَلُ نِعْمَ Sebaik-baik unta adalah unta kamu berdua, dan sebaik-baik beban muatan adalah kamu berdua.

4. Dalam Shahihain, dari Anas ra. Rasulullah Saw. bersabda: ٬ بُكاَئِهِ مِنْ اُمِّهِ وَجْدِ مِنْ أَعْلَمُ مِمَّا خْتَصِرُ اَ أَيْ صَلاَتِيْ فِى فَأَتَجَوَّزُ الصَّبِيِّ بُكاَءَ فَأَسْمَعُ اِطَالَتَهَا أُرِيْدُ وَأَنَا الصَّلاَةِ فِي لأَدْخُلُ إِنِيْ

“Sungguh ketika aku telah mulai melaksanakan shalat, sedangkan aku ingin memanjangkannya. Namun aku kemudian mendengar tangisan anak kecil, maka saya pun mempercepat shalat karena saya tahu perasaan sedih ibunya disebabkan tangisan itu”

5. Ketika Rasulullah Saw. melewati rumah putrinya, yaitu sayyidah fatimah r.a., beliau mendengar Al-Husain sedang menangis, maka beliau berkata kepada Fatimah, “Apakah engkau belum mengerti bahwa menangisnya anak itu menggangguku.” Lalu beliau memangku Al-Husain di atas lehernya dan berkata, Ya Allah, sesungguhnya aku cinta kepadanya, maka cintailah dia. Ketika Rasulullah SAW. sedang berada di atas mimbar, Al-Hasan tergelincir. Lalu beliau turun dari mimbar dan membawa anak tersebut.

6. Al-Aqraa bin harits melihat Rasulullah Saw. mencium Al-Hasan r.a. lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi aku belum pernah mencium mereka.” Rasulullah bersabda, “Aku tidak akan mengangkat engkau sebagai seorang pemimpin apabila Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu. Barang siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang, niscaya dia tidak akan di sayangi.”




 

Copyright © ISLAM DAMAI. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com