Kisah Ashabul Kahfi Menurut Kristen dan Islam
Sarmad Naveed, Toronto, Kanada
Kekristenan pada dasarnya didasarkan pada konsep kebangkitan Yesus dari kematian. Dalam Kristen hal ini merupakan mukjizat utama, percaya pada kebangkitan ini merupakan prinsip dasar agama Kristen dan masalah keimanan.
Berabad-abad setelah masa Yesus, terdapat sebuah kisah yang sangat populer yaitu kisah Ashabul Kahfi (Seven sleepers). Kisah ini menjadi populer karena kisah kebangkitan mereka dijadikan contoh bahwa hal demikian bisa terjadi, seperti halnya yang terjadi dengan kebangkitan Yesus. Dalam kata lain, kebangkitan Yesus memiliki cerita yang hampir sama, yaitu kisah Ashabul Kahfi.
Kisah ini berkisar tentang tujuh orang Kristen bersaudara yang menyelamatkan dari persekusi agama dengan bersembunyi di dalam gua. Mereka akhirnya tertidur sangat lelap, kemudian terbangun sekitar 300 tahun kemudian ketika penindasan terhadap umat Kristen sudah hilang.
Kisah ini umumnya tercatat dalam literatur Yunani, meskipun asal-usul pasti dari versi-versi awalnya masih belum diketahui. Kisah ini mulai dikenal luas pada akhir abad ke-5 hingga memasuki abad ke-6 melalui tulisan-tulisan tokoh seperti uskup Suriah, Jacob dari Serugh, yang dianggap sebagai salah satu teolog terkemuka dalam tradisi Kristen Suriah.
Salah satu kisah yang terkenal—yang diyakini sebagai catatan yang tertua yang masih ada—ditulis dalam bahasa Latin oleh Santo Gregorius dari Tours pada abad ke-6. Ia adalah sejarawan Gallo-Romawi yang populer dan dikenal sebagai 'bapak sejarah Prancis'. Kredibilitasnya juga mencakup aspek keagamaan, karena ia adalah seorang uskup yang menulis catatan tentang orang-orang suci di masa awal, termasuk kisah Tujuh Orang yang Tertidur (Seven Sleepers), yang tecatat dalam bukunya De Gloria Martyrum (Kemuliaan Para Martir).
Sejak saat itu, kisah Ashabul Kahfi semakin populer sepanjang Abad Pertengahan hingga masa-masa berikutnya, termasuk dalam literatur Barat.
Kisah ini dipopulerkan di Eropa Barat oleh Jacobus de Voragine melalui karya monumentalnya, The Golden Legend (Legenda Emas), sebuah buku berbahasa Latin yang merinci kisah-kisah tentang Yesus, orang-orang suci masa awal, dan berbagai mukjizat. Karya ini turut membentuk pemahaman modern mengenai agama, seni, dan budaya pada Abad Pertengahan. Bahkan, terjemahan bahasa Inggrisnya dianggap sebagai salah satu buku berbahasa Inggris pertama yang pernah dicetak.[1]
Kisah Ashabul Kahfi juga disebut oleh penulis dan sejarawan Inggris ternama dari Abad Pencerahan (Aufklärung), Edward Gibbon, dalam karyanya The History of the Decline and Fall of the Roman Empire.[2] Bahkan Mark Twain, yang dianggap sebagai 'bapak sastra Amerika', pernah merujuk kisah ini dalam buku The Innocents Abroad yang diterbitkan pada tahun 1869.
Jadi, kisah yang meraih popularitas luas—dan diyakini umat Kristen sebagai bukti pendukung konsep mereka tentang kebangkitan tubuh fisik Yesus Kristus—tentu layak untuk ditelusuri. Namun, seperti apa sebenarnya kisah tersebut?
Kisah Ashabul Kahfi
Menurut salah satu catatan paling awal yang diketahui, yakni karya Santo Gregorius dari Tours, kisahnya kurang lebih sebagai berikut:
"Semuanya bermula di sebuah tempat bernama Efesus—kota kuno di pesisir barat Turki modern—pada masa pemerintahan Kaisar Romawi Decius, yang berkuasa dari tahun 249 hingga 251 Masehi. Sebagai seorang penganut politeisme, masa pemerintahan Decius diwarnai oleh kekejaman dan tindakan bengis terhadap umat Kristen, yang menghadapi ancaman hukuman penjara maupun kematian. Di tengah kekejaman tersebut, tujuh pemuda Kristen ditangkap dan diberi pilihan: menyembah berbagai dewa Romawi atau menghadapi hukuman mati.
Sang Kaisar memberi mereka waktu untuk mempertimbangkan keputusan mereka, namun mereka justru memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri dan bersembunyi di dalam sebuah gua agar terhindar dari Kaisar. Mereka bergantian pergi ke pasar untuk mengambil perbekalan yang diperlukan demi kelangsungan hidup mereka, sembari terus bersembunyi di dalam gua dan memanjatkan doa memohon perlindungan Tuhan. Mereka tinggal di dalam gua selama beberapa hari. Hingga suatu ketika rasa kantuk yang amat sangat menguasai mereka. Setelah pencarian panjang yang melelahkan, Kaisar mengetahui keberadaan mereka dan memerintahkan, "Biarlah mereka yang menolak mempersembahkan kurban kepada dewa-dewa kita mati di sana," lalu ia memerintahkan agar pintu masuk gua ditutup rapat-rapat.
Bertahun-tahun kemudian, situasi di Roma berkembang ke arah yang menguntungkan bagi umat Kristen, khususnya pada masa pemerintahan Theodosius II, seorang Kaisar Romawi penganut Kristen yang memerintah dari tahun 408 hingga 450 Masehi. Meskipun umat Kristen tidak lagi dianiaya, masih ada orang-orang yang menyangkal kebenaran kebangkitan Yesus.
Gregorius dari Tours menuturkan bahwa pada masa itu, seorang penggembala pergi ke pegunungan untuk mencari batu guna membangun dinding kandang ternaknya. Ia menemukan batu-batu yang menutupi mulut sebuah gua dan mengambilnya untuk keperluannya, namun ia tidak melihat apa yang sebenarnya ada di dalam gua tersebut.
Dengan terbukanya jalan masuk gua, Tuhan mengembuskan napas kehidupan ke dalamnya, membangunkan orang-orang yang sedang tertidur itu; mereka mengira bahwa mereka baru saja tidur selama satu malam. Maka, sebagaimana rutinitas sebelumnya, mereka mengutus seseorang ke pasar untuk membeli perbekalan.
Setibanya di pasar, saudara itu terperangah melihat salib-salib dipajang secara terbuka—pemandangan yang sangat mengherankan di tengah suasana yang ia kira masih memusuhi umat Kristen.
Tanpa menyadari bahwa ia telah berpindah ke zaman yang sama sekali baru, pria itu menyerahkan sebuah koin untuk membayar perbekalan yang hendak dibelinya. Penjaga toko terperangah melihat koin pembayaran itu berasal dari masa pemerintahan Decius; ia menduga orang itu telah menemukan harta karun kuno yang tersembunyi.
Saudara tersebut dibawa menghadap uskup dan hakim kota, yang kemudian mengecamnya. Karena tidak memiliki pilihan lain, saudara itu terpaksa mengungkapkan rahasia tempat ia dan saudara-saudaranya bersembunyi, lalu membawa sang uskup ke gua tersebut agar ia bisa melihatnya sendiri. Sang uskup menyaksikan bahwa mereka memang telah bersembunyi di gua itu selama berabad-abad, sebagaimana dibuktikan oleh sebuah prasasti batu di dalam gua yang mencatat pengalaman mereka. Mendengar kabar besar dan ajaib ini, Theodosius II sendiri pergi ke gua tersebut dan duduk bersama Tujuh Orang yang Tertidur itu, yang kemudian berkata,
"Sebuah ajaran sesat telah tersebar, wahai Augustus yang mulia, yang berupaya menyesatkan umat Kristen dari janji-janji Allah dengan mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati. Oleh karena itu—seperti yang Anda ketahui, kita semua akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan pengadilan Kristus sesuai dengan apa yang ditulis oleh Rasul Paulus—Tuhan telah memerintahkan kami untuk bangkit dan menyampaikan hal ini kepada Anda. Berhati-hatilah agar Anda tidak terbujuk dan tersingkir dari Kerajaan Allah."
Setelah menyampaikan pesan mereka, orang-orang itu kembali tertidur lelap dan kemudian meninggal dunia.[3]
Ini adalah kisah luar biasa tentang keberanian, keteguhan hati, dan keimanan. Meskipun umat Kristen meyakini peristiwa ini sebagai kejadian nyata yang menjadi bukti bagi keyakinan dasar agama mereka, tidak semua orang yakin bahwa kisah ini benar-benar terjadi. Sebagai contoh, Edward Gibbon menyebutnya sebagai sebuah 'dongeng'. Bagi sebagian orang perlu berpikir cukup keras untuk dapat menerima gagasan bahwa manusia bisa tertidur begitu lama dan kemudian terbangun berabad-abad kemudian.
Apakah Kisah Ashabul Kahfi Nyata?
Hal ini memunculkan pertanyaan, apakah peristiwa ashabul kahfi ini merupakan peristiwa nyata, atau ada pemahaman lainnya?
Pencarian jawaban ini tidak akan lengkap tanpa mengetahui satu aspek penting: kisah ini tidak hanya ditemukan dalam tradisi Kristen, tetapi juga ditemukan dalam Islam melalui kisah Ashabul Kahfi (Penghuni Gua).
Surah al-Kahfi atau Surah tentang Gua—mengisahkan bahwa sekelompok pemuda yang beriman kepada Tuhan yang Esa di tengah masyarakat yang dipenuhi praktik paganisme dan politeisme. Demi menghindari penindasan agama dan mempertahankan tauhid, mereka berlindung di dalam gua serta memohon rahmat dan petunjuk Tuhan. Mendengar permohonan mereka, Tuhan menjaga mereka tetap tersembunyi di dalam gua tersebut, jauh dari siksaan masyarakat yang mempersekutukan Tuhan—selama kurun waktu tertentu. Bagi mereka, melindungi keyakinan adalah tindakan bijak, sehingga mengasingkan diri ke dalam gua merupakan langkah terbaik. Pada akhirnya, mereka yang mencari perlindungan di dalam gua demi menjaga iman kepada Tuhan Yang Maha Esa dikuatkan imannya oleh Tuhan, yang menjanjikan kemudahan dalam urusan mereka.[4]
Mengapa versi Islam dalam kisah ini begitu penting untuk memahami cerita ini adalah karena kisah tersebut memberikan parameter untuk menelaah kenyataan yang sebenarnya. Di dalam Al-Qur’an, Allah memulai penuturan kisah Penghuni Gua dengan sebuah pertanyaan:
اَمْ حَسِبْتَ اَنَّ اَصْحٰبَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيْمِ كَانُوْا مِنْ اٰيٰتِنَا عَجَبًا
Apakah engkau menyangka bahwa penghuni gua dan penulis prasasti itu adalah di antara Tanda-tanda Kami yang menakjubkan? [5]
Di sini, Allah menegaskan bahwa meskipun Penghuni Gua (Ashabul Kahfi) merupakan tanda kekuasaan Allah, mereka bukanlah pengecualian ajaib yang melanggar hukum alam ciptaan-Nya. Dengan kata lain, kunci untuk memahami kebenaran di balik kisah Tujuh Orang yang Tertidur atau Penghuni Gua tersebut terletak pada narasi yang tidak melibatkan kebangkitan fisik mereka.
Hakikat Ashabul Kahfi
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?
Dengan menggunakan parameter yang ditetapkan oleh Al-Qur'an, seorang ahli tafsir Al-Qur'an, Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (ra)—Khalifah Kedua Muslim Ahmadiyah—melakukan kajian mendalam untuk mengungkap hakikat sebenarnya di balik kisah Ashabul Kahfi.
Penelitian beliau dimulai dengan menyajikan narasi alternatif mengenai lokasi, waktu, dan cara terjadinya peristiwa-peristiwa itu.
Menurut riwayat Kristen tradisional, lokasi gua terletak di Efesus, sebuah kota kuno di pesisir barat Turki modern. Ada yang berpendapat gua tersebut sebenarnya berada di Yordania. Namun, penelitian Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad (ra) membawanya pada kesimpulan bahwa gua tempat berlindungnya Ashabul Kahfi itu berada di Roma.
Beliau sampai pada kesimpulan ini setelah meneliti Katakombe Roma. Tempat ini bukanlah gua biasa; Katakombe Roma ternyata terdiri dari tiga tingkat di bawah tanah, lengkap dengan lorong, sekolah, dan bahkan kapel—tempat yang sempurna bagi mereka yang ingin bersembunyi dalam waktu lama.
Katakombe-katakombe ini membuka wawasan untuk memahami sejarah awal Kekristenan di Roma serta penganiayaan yang mereka hadapi. Hal tersebut bermula dari Santo Petrus.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa setelah kematiannya, jenazah Santo Petrus dipindahkan ke katakombe yang terletak di Roma. Lantas, apa sebenarnya yang ia lakukan di Roma? Kekristenan diperkenalkan di Roma terutama melalui upaya pengabaran yang dilakukan oleh Petrus. Keberadaan Petrus di Roma pada abad pertama dibuktikan oleh Surat kepada Jemaat di Roma karya Santo Ignatius—Uskup Antiokhia ketiga yang surat-suratnya sering dijadikan rujukan untuk memahami gereja Kristen awal.[7] Hal ini terjadi pada masa pemerintahan Kaisar Romawi Nero, yang berkuasa dari tahun 54 hingga 68 Masehi.
Meskipun umat Kristen senantiasa mengalami penganiayaan secara individu sejak zaman Yesus, penganiayaan berskala luas baru terjadi pada masa pemerintahan Nero di Roma. Peristiwa ini dipicu oleh kebakaran hebat di Roma, yang bermula dari deretan toko yang berhimpitan di kawasan perkotaan. Toko-toko tersebut terbuat dari kayu serta penuh dengan bahan yang mudah terbakar dan hasil bumi, sehingga kobaran api berubah menjadi bencana dahsyat yang berkecamuk selama lebih dari seminggu dan menyebabkan kehancuran massal di seluruh penjuru Roma. Masyarakat menyalahkan Nero atas kebakaran tersebut, dengan anggapan bahwa ia sengaja melakukannya agar dapat membangun kembali Roma sesuai dengan selera pribadinya. Demi mengalihkan tuduhan pada dirinya sekaligus memperkuat pandangan politeistiknya, Nero menimpakan kesalahan atas kebakaran itu kepada umat Kristen. Hal ini pada akhirnya menyebabkan umat Kristen dipandang sebagai kaum yang jahat dan mengalami persekusi secara luas.[8]
Di tengah gelombang penganiayaan inilah Santo Petrus juga gugur; karenanya, jenazahnya dibawa ke Katakombe Roma pada masa kekejaman massal terhadap umat Kristen tersebut. Dalam situasi yang sangat genting ini, umat Kristen perlu mencari cara untuk melindungi diri mereka, dan mereka pun berhasil melakukannya.
Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (ra) mengutip Benjamin Scott, mantan Chamberlain of London, yang menulis tentang masa awal penganiayaan umat Kristen di Roma pada masa pemerintahan Nero dalam bukunya, The Catacombs at Rome:
"Bahkan pada masa awal itu, kaum Kristen—yang didorong oleh kekhawatiran akan keselamatan mereka—telah mulai mencari perlindungan di tempat-tempat persembunyian bawah tanah ini guna menghindari kebencian masyarakat umum, penentangan pihak Yahudi, serta penganiayaan oleh pemerintah Romawi.’[9]
Katakombe-katakombe ini merupakan tempat yang sempurna untuk menjaga suatu kaum beserta keyakinan mereka. Penyelidikan menunjukkan bahwa katakombe tersebut bukan sekadar gua biasa, melainkan labirin yang digali secara strategis, dilengkapi dengan lapisan pengamanan serta celah bagi umat Kristen untuk bersembunyi jika ada pihak yang datang mencari mereka. Mereka menggunakan tangga kayu yang dapat ditarik agar tidak bisa mengikuti mereka masuk ke dalam gua, dan setiap ruangan memiliki beberapa akses masuk serta jalan keluar. Keseluruhan labirin ini mencakup jarak sekitar 870 mil. Katakombe-katakombe ini jelas dirancang untuk tujuan perlindungan.[10]
Bukti lebih lanjut mengenai tindakan umat Kristen yang berlindung di katakombe pada masa awal tersebut dapat ditemukan pada karya seni di dalam katakombe itu sendiri. Faktanya, seni Kristen tertua berasal dari gambar dan lukisan yang ditemukan di dinding serta langit-langit Katakombe Roma yang berasal dari abad ke-2. Menariknya, karya-karya tersebut memberikan wawasan mengenai identitas dan keyakinan orang-orang yang bersembunyi di dalam gua-gua itu. Gambar-gambar tersebut memperlihatkan bahwa umat Kristen masa awal meyakini adanya Satu Tuhan, dan memandang Yesus —bukan dalam wujud ilahi—melainkan dengan penuh hormat sebagai sosok gembala yang baik.[11]
Oleh karena itu, melalui penelitian Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (ra) yang berpedoman pada Al-Qur'an, kita mengetahui bahwa meskipun catatan-catatan Kristen awal mengisahkan peristiwa-peristiwa ini bermula pada masa Decius, sesungguhnya penindasan terhadap umat Kristen telah dimulai sejak masa Nero, dan pada masa pemerintahannyalah umat Kristen mulai mencari perlindungan di gua-gua. Memang benar bahwa meskipun penindasan terhadap umat Kristen meluas pada masa Nero, tindakan tersebut menjadi kebijakan resmi negara pada masa Decius—yang membawa kekejaman ke tingkat yang lebih parah—karena ia memerintahkan setiap orang untuk melakukan ritual dan persembahan bagi dewa-dewa Romawi, dan siapa pun yang menolak perintah tersebut akan dipenjara atau dibunuh.[12]
Hal ini sama sekali bukan sebuah ketidaksesuaian; justru, fakta ini semakin memperjelas realitas peristiwa tersebut dan membantu mengungkap bahwa Ashabul Kahfi bukanlah sekadar satu kelompok tunggal. Dengan kata lain, jumlah mereka bukan hanya 'tujuh orang yang tertidur', melainkan bisa jadi ada 'banyak orang yang tertidur' akibat penganiayaan yang meluas dan berlangsung lama, sebagaimana ditegaskan oleh Benjamin Scott:
‘Sejarah mengaitkan umat Kristen di Roma dengan katakombe di sana. Penganiayaan terjadi berulang kali di bawah pemerintahan berbagai kaisar selama beberapa abad.’[13]
Dengan demikian, penindasan yang dimulai pada masa Nero dan mencapai puncaknya pada masa Decius terus berlanjut hingga masa pemerintahan Galerius, Kaisar Romawi yang memerintah dari tahun 305 hingga 311 M. Ia mempertahankan sikap keras terhadap umat Kristen, namun menjelang akhir hayatnya, ia jatuh sakit parah. Ia menduga bahwa penyakit tersebut mungkin merupakan akibat dari perlakuannya terhadap umat Kristen, sehingga ia mencabut undang-undang yang melegalkan penindasan terhadap umat Kristen pada tahun 311 M.[14]
Pada tahun 324 M, Konstantinus menjadi satu-satunya Kaisar Romawi, yang menandai kali pertama seorang Kaisar Romawi memeluk agama Kristen. Akibatnya, kondisi umat Kristen di Roma membaik secara signifikan, terutama dengan berakhirnya masa penganiayaan terhadap mereka. Hal ini memungkinkan umat Kristen untuk hidup dengan bebas—tidak lagi harus bersembunyi—dan terus berkembang, khususnya pada masa pemerintahan Kaisar Romawi Theodosius di kemudian hari.
Kini, setelah menelusuri konteks sejarah Kekristenan awal di Roma dan mempertimbangkan prinsip Al-Qur'an dalam memastikan hakikat kisah Ashabul Kahfi kesimpulan yang dicapai oleh Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad (ra) menjadi sangat jelas dan tak terbantahkan:
"Setelah meneliti peristiwa-peristiwa ini, menjadi jelas bagi kita bahwa Penghuni Gua (Ashabul Kahfi) adalah orang-orang Kristen Romawi masa awal yang mengalami penindasan selama berabad-abad... Kita hanya menemukan ketidaksesuaian karena orang-orang mengira bahwa kisah Ashabul Kahfi berkaitan dengan satu kelompok orang saja. Namun, kenyataannya adalah kisah ini tidak terbatas pada kelompok orang atau kurun waktu tertentu; sebaliknya, peristiwa ini terjadi pada berbagai kelompok orang di era yang berbeda-beda.’[15]
Kesimpulan yang didukung bukti sejarah ini melestarikan dan menghormati warisan orang-orang Kristen awal yang pemberani; mereka yang teguh memegang keyakinan monoteistik dan siap melakukan pengorbanan apa pun demi mempertahankan iman sejati mereka dengan gagah berani.
Dengan demikian Al-Qur'an menunjukkan dirinya sebagai ajaran yang sempurna, dengan turut menyempurnakan ajaran semua agama terdahulu, termasuk agama Kristen.
Yang menakjubkan, bahkan tanpa adanya penjelasan mengenai kebangkitan fisik, sosok "Penghuni Gua" (Ashabul Kahfi) pun hadir kembali di zaman kita sekarang:
‘…Saya juga telah dianugerahi gelar Ashabul Kahfi."
Pernyataan ini disampaikan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (as) dari Qadian, India, yang mengaku sebagai Al-Masih akhir zaman dan kedatangan kedua Nabi Isa (as) secara rohani. Beliau menjelaskan bahwa Nabi Isa (as) tidak dibangkitkan secara jasmani, dan tidak pula akan kembali dalam wujud fisik; sebaliknya, kedatangan beliau dalam bentuk rohani. Beliau menjelaskan bahwa sebagai Al-Masih yang Dijanjikan di akhir zaman, kemiripan antara dirinya dan Ashabul kahfi; sebagaimana Penghuni Gua terus tersembunyi dalam waktu yang lama, demikian pula kemunculan Al-Masih yang Dijanjikan 'tersembunyi' dari dunia selama 1.300 tahun setelah Nabi Muhammad saw.
Misi Al-Masih yang Dijanjikan (as) juga sangat mirip dengan upaya para Sahabul Kahfi menjaga keyakinan pada Tauhid Ilahi di masa ketika orang-orang mulai menjauh dari keimanan.
Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (as) menjelaskan:
‘Allah menghendaki adanya perubahan suci pada umat manusia di dunia. Sebagaimana seorang raja secara alami ingin melihat keagungan-Nya terpancar nyata, demikian pula kehendak Ilahi menghendaki agar umat manusia mengakui kebesaran dan kemahakuasaan Tuhan, dan agar Tuhan—yang kian lama makin tersembunyi—memperlihatkan manifestasi Diri-Nya kepada dunia. Oleh karena itulah Tuhan telah membangkitkan seorang insan yang telah Dia utus, agar dunia dapat disembuhkan dari penyakit kustanya, jika kita permisalkan.’[16]
Misi inilah yang diteruskan oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah—para pengikut 'Ashabul Kahfi' di zaman modern ini, yakni Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (as)—dengan cara menjaga dan menyampaikan pesan tentang ketauhidan Ilahi ke seluruh penjuru dunia.
Apa makna semua ini bagi kita saat ini?
Ini adalah sebuah pelajaran bahwa betapapun dunia dan masyarakat di sekitar kita mungkin kehilangan nilai-nilai ketuhanan, betapapun kuatnya pengaruh yang menjauhkan orang-orang dari keyakinan sejati kepada Tuhan, kita harus meneladani semangat Ashabul Kahfi. Kita harus senantiasa menjaga keyakinan tauhid yang murni di dalam diri kita agar kita dapat berdiri teguh dan menyebarluaskan pesan tentang Tuhan Yang Maha Esa ke seluruh dunia.
Sumber: Review of Religions
ENDNOTES
1. “Jacobus De Voragine,” Britannica. https://www.britannica.com/biography/Jacobus-de-Voragine
2. https://www.ccel.org/g/gibbon/decline/volume1/chap33.htm
3. Gregory of Tours, Glory of the Martyrs, Translated by Raymond Van Dam, pp. 87-88.
4. Al-Qur'an, 18:10-17.
5. Al-Qur'an, 18:10.
6. https://www.britannica.com/biography/Saint-Peter-the-Apostle/Tradition-of-Peter-in-Rome
7. https://www.britannica.com/biography/Saint-Ignatius-of-Antioch
8. https://origins.osu.edu/read/great-fire-rome. https://www.britannica.com/biography/Nero-Roman-emperor
9. Benjamin Scott, The Contents and Teachings of the Catacombs at Rome (Longman’s Green and Co., 1873), p. 61.
10. Ibid, p. 485.
11. https://www.britannica.com/art/Early-Christian-art
12. https://www.britannica.com/biography/Decius
13. Benjamin Scott, The Contents and Teachings of the Catacombs at Rome (Longman’s Green and Co., 1873), 63.
14. https://www.britannica.com/biography/Galerius
15. Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad (ra), Tafsir-e-Kabir, Vol. 6, hal. 483.
16. Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (as), Malfuzat – Vol. III (Islam International Publications Ltd. 2021), 169.

0 Comments