Seorang Mahasiswa Jamiah Ahmadiyah Ghana bertanya kepada Khalifatul Masih V, Hazrat Mirza Masroor Ahmad (aba), mengenai peristiwa berikut: Ada seseorang yang bertanya kepada seorang ulama [non-Ahmadi], "Jika setan tercipta dari api, bagaimana ia akan merasakan sakit di Neraka?" Sang Ulama tersebut menampar orang itu dan berkata, "Kulit pipimu sama dengan kulit tanganku, jadi saya pikir kamu tidak akan merasakan sakit akibat tamparanku." Mahasiswa tersebut memohon petunjuk mengenai hal ini.
Huzoor Anwar (aba) memberikan arahan berikut dalam surat beliau tertanggal 27 Maret 2024:
"Ya, itu jawaban dari ulama tersebut sesuai dengan apa yang terlintas dalam pikirannya. Tetapi sebenarnya Al-Qur'an dan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menggambarkan malaikat sebagai wujud yang tercipta dari nur (cahaya), sedangkan Iblis atau Setan sebagai wujud yang tercipta dari api. Malaikat adalah wujud yang tunduk dan patuh kepada Allah Ta'ala serta menginspirasi manusia untuk berbuat kebaikan. Mengenai mereka Allah Ta'ala berfirman:
لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"[mereka] tidak mendurhakai Allah terhadap apa pun yang Dia perintahkan kepada mereka; Dan mereka mengerjakan apapun yang diperintahkan kepada mereka." (QS at-Tahrim [66]: 7)
Dengan kata lain, mereka tidak melanggar perintah Allah dan senantiasa melaksanakan apa pun yang diperintahkan kepada mereka.
Sebaliknya, Iblis dan Setan adalah wujud yang menolak agama, menghasut manusia berbuat dosa dan perbuatan buruk serta mendorong mereka kepada kejahatan. Mengenai mereka, Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا
"Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia." (QS Bani Israil [15]: 54)
Allah Ta'ala juga berfirman:
كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ
"Ia adalah (golongan) dari jin; maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. (QS Al-Kahfi [18]: 51)
Artinya ia termasuk golongan jin dan sesuai dengan tabiatnya, ia senantiasa melanggar perintah Tuhannya.
Demikian pula Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ
"Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia seperti aliran darah. (Sahih al-Bukhari, Kitab al-I‘tikaf, Bab Ziyaratil-Mar'ati Zawjaha fi I‘tikafihi, Hadis 2038)
Dengan kata lain, Setan bergerak melalui tubuh manusia sebagaimana darah mengalir di dalamnya.
"Hal ini menegaskan bahwa semua itu adalah metafora (kiasan). Jika bukan kiasan—seandainya setan benar-benar tercipta dari api—bagaimana mungkin ia bisa bergerak di dalam aliran darah seseorang? Tubuhnya pasti akan terbakar. Oleh karena itu, hal-hal ini diungkapkan secara kiasan dan memerlukan penjelasan.
Saat menggambarkan hakikat malaikat dan setan, Hazrat Masih Mau'ud, Mirza Ghulam Ahmad (as) bersabda:
"...Apakah syaitan yang kumaksudkan itu. Maka, hendaklah mereka ingat bahwa bersama dengan hati manusia, setiap saat melekat dua tarikan. Yang pertama adalah tarikan kebaikan, dan yang satu lagi tarikan ke arah keburukan. Syariat Islam menghubungkan tarikan ke arah kebaikan ini dengan malaikat, sementara tarikan kepada keburukan, syariat Islam menghubungkannya dengan syaitan. Berarti ada dua kekuatan yang mempengaruhi manusia. Kadang manusia tunduk kepada kebaikan dan kadang kepada keburukan." (Pidato Lahore, Ruhani Khazain, Jilid 20, hlm. 179)
Dalam surat al-A'raf ayat 13, Setan berkata:
خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
"Engkau menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakannya dari tanah liat." (QS Al-A'raf [7]: 13)
Dalam menjelaskan ayat ini serta makna kiasan mengenai penciptaan manusia dari tanah liat dan penciptaan Setan dari api, Hazrat Muslih Mau'ud, Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (ra) menjelaskan:
"Artinya, ibarat tanah liat basah, manusia dapat dibentuk menjadi berbagai watak moral dan jika ia memilih, ia juga dapat tunduk kepada kekuatan yang lebih tinggi. Namun, [Setan berkata]: "Engkau telah menanamkan sifat api dalam watakku, sehingga aku tidak dapat tunduk kepada siapa pun."
Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Arab, خُلِقَ مِنْ عَجَلٍ, yang artinya 'diciptakan dari ketergesa-gesaan'. Hal ini tidak berarti bahwa ketergesa-gesaan merupakan unsur yang menjadi bahan penciptaan manusia. Sebaliknya, ungkapan ini bermakna bahwa watak manusia memiliki kecenderungan tergesa-gesa.
Demikian pula, ayat ini tidak bermakna bahwa manusia diciptakan dari tanah liat dan setan dari api. Sebaliknya, ayat ini berarti bahwa hakikat manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai keadaan, sedangkan hakikat setan mengandung sifat yang menyerupai api dan ia membangkang." (Tafsir Saghir, hal. 189, catatan kaki)
Jadi, penciptaan dari api, tanah liat, dan cahaya merupakan ungkapan kiasan yang dimaksudkan untuk menggambarkan hakikat makhluk-makhluk tersebut serta tindakan yang mereka lakukan. Menafsirkan kata-kata ini secara harfiah adalah tindakan yang keliru.
Sumber: Alhakam.org

0 Comments