Tafsir Surah Al-Hijr ayat 36-38. Setan Meminta Diberi Tangguh

tafsir al-hijr ayat 36-38 penangguhan setan


قَالَ رَبِّ فَاَنْظِرْنِيْٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ ۝٣٦ قَالَ فَاِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْنَ ۙ ۝٣٧ اِلٰى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُوْمِ ۝٣٨

Qāla fainnaka minal-munẓarīn. Qāla fainnaka minal-munẓarīn. Ilā yaumil-waqtil-ma'lụm

Artinya: Ia berkata, "Wahai Tuhan-ku, maka berilah aku tangguh hingga pada hari mereka akan dibangkitkan."Allah berfirman, "Maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang diberi tangguh. Hingga hari yang waktu-nya telah ditetapkan."



Note: Tafsir Surah Al-Hijr ayat 36-38 ini diambil dari Kitab Tafsir Kabir, Karya Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad. (Urdu dan Arab). Dalam kitab aslinya penomeran ayatnya berbeda satu ayat, karena bismillah dihitung sebagai ayat pertama.


Tafsir

Dihembuskan Ruh (Nufiha Ruuh) kepada Adam mengacu Pada Turunnya Ilham


Ayat ini juga bersifat perumpamaan (majaz), atau ungkapan kiasan, tidak berarti setan atau sejenisnya benar-benar meminta penangguhan seperti itu kepada Allah Ta'ala. 

Sebagimana telah saya sebutkan sebelumnya, ayat-ayat ini secara khusus berbicara tentang Adam dan para nabi lainnya, dan secara umum tentang keturunan Adam. 

Diketahui bahwa makna nufiha ruuh (ditiupkan ruh) ke dalam diri Adam dan para nabi lainnya adalah wahyu yang diberikan kepada mereka. Namun makna khususnya bagi keturunan Adam, yaitu, umat manusia secara umum adalah kesempurnaan jiwa manusia. Adapun pernyataan setan kepada Allah Ta'ala  فَاَنۡظِرۡنِیۡۤ اِلٰی یَوۡمِ یُبۡعَثُوۡنَ  maknanya juga berbeda, tergantung pada dua kelompok: 

Berkaitan dengan kategori kedua, yaitu umat manusia secara umum artinya adalah: 'Ya Tuhan, berilah aku kesempatan untuk menggoda mereka sebelum mereka mendapatkan kebangkitan rohani.' Artinya, sebelum seseorang melindungi diri dari serangan Setan dengan bergabung dengan barisan hamba-hamba yang mukhlis, Setan dan keturunannya akan diberikan kesempatan untuk menggoda mereka. 

Salah satu bukti bahwa kebangkitan di sini bersifat rohaniah dan bukan kelahiran fisik kembali adalah Allah Ta'ala tidak mengatakan إلى يوم الموت "sampai Hari Kematian," melainkan إلى يوم يبعثون "sampai Hari mereka dibangkitkan."

Sudah diketahui umum bahwa memberikan kesempatan kepada Setan untuk menggoda umat manusia hingga Hari Kiamat sebenarnya mustahil, karena ujian umat manusia berakhir dengan kematian. Tidak ada agama yang percaya bahwa Setan atau malaikat terus menggoda atau membimbing manusia setelah kematian hingga Hari Kiamat.

Jika kita menafsirkan يوم البعث "Hari Kiamat" di sini sebagai kebangkitan orang mati, maka akan bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan akal sehat. Oleh karena itu, setiap orang yang rasional akan memahami "Hari kebangkitan" di sini sebagai kebangkitan rohani, dan ayat tersebut artinya Setan atau manusia yang menjadi bayangan setan hanya dapat menggoda seseorang sebelum mereka mengalami kebangkitan rohaniah—atau, dengan kata lain, sampai mereka mencapai jiwa yang tenang (nafsul muthmainnah) yang selalu taat kepada Tuhan. 


Setelah Kebangkitan Rohani, Setan Menjadi Putus Asa

Setelah mereka mencapai jiwa yang tenang ini, Setan dan keturunannya akan meninggalkan mereka dan mulai menyakiti dan menyiksa mereka alih-alih mencoba menggoda dan menyesatkan mereka.

Hari Kebangkitan Merujuk Pada Masa Keberhasilan Para Nabi

Adapun Adam dan penerusnya yang sejati, yaitu para nabi, penangguhan yang diberikan kepada Setan berarti setan dan para pengikutnya diizinkan untuk menyerang para nabi dengan segala macam tuduhan dan kebohongan, menghalangi jalan mereka, menyerang dan menyiksa mereka, hingga hari kebangkitan para nabi ini tiba, yaitu sampai waktu kemenangan yang telah ditentukan untuk mereka tiba. 

Dengan kata lain, Setan dan para pembantunya diberi kesempatan sesuai dengan janji ilahi yang disebutkan dalam ayat إلا من استرق السمع (kecuali bagi orang yang mencuri pendengaran) dan firman-Nya إلا من خطف الخطفة (kecuali bagi orang yang merebut sesuatu) sehingga mereka dapat menyerang ajaran para nabi dengan kebohongan dan tipu daya mereka. Tetapi ketika hari kebangkitan mereka tiba, pengaruh setan-setan ini akan lenyap seperti buih. 

Demikianlah cara Allah sejak zaman Adam sampai zaman Nabi Muhammad saw. Allah Ta'ala, sesuai dengan kebijaksanaan-Nya, selalu memberikan kesempatan kepada orang-orang kafir, membiarkan mereka memenuhi dunia dengan keributan melawan para rasul, merencanakan segala macam tipu daya dan muslihat terhadap mereka. Tetapi ketika hari Kebangkitan tiba, Allah akan memanggil para rasul-Nya dan umat mereka, seraya berkata: "Kini, masa ujian kalian telah berakhir. Bangkitlah sekarang dan kuasailah dunia!" Dan para nabi akan muncul sebagai pemenang dan berjaya, sementara lawan-lawan mereka akan dibungkam seperti buih di permukaan. Bahkan, banyak dari mereka akan beriman dan menjadi pengikut para nabi.

Ayat ini tidak berarti bahwa Setan benar-benar meminta penangguhan kepada Allah Ta'ala selama masa para nabi dan Allah mengabulkannya. Sebaliknya, ini adalah pernyataan metaforis, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya. Artinya setan, yaitu musuh-musuh, dalam hati mereka ingin menyerang para nabi mereka dan menghancurkan mereka sepenuhnya. Allah Ta'ala mengizinkan para perencana jahat ini untuk mengerahkan segala upaya untuk mencapai keinginan jahat mereka, namun penangguhan ini diberikan hingga hari kebangkitan. Kemudian Allah menjadikan para utusan-Nya berjaya dan membuat musuh-musuh mereka jatuh tersungkur, sehingga mereka melihat kehancuran mereka dengan mata kepala sendiri.

Tafsir Ayat 38-39

"Kami akan memberi kalian penangguhan, tetapi hanya sampai waktu Kami menunda kemenangan para utusan Kami. Ketika waktu kemenangan mereka tiba, penangguhan ini akan berakhir, dan Kami akan menghancurkan kalian dengan tanda-tanda Kami yang tak tertahankan, wahai setan-setan, musuh-musuh para nabi." 

Adapun یَوۡمِ الۡوَقۡتِ الۡمَعۡلُوۡمِ - Hari yang ditetapkan, merujuk pada apa yang disebutkan di awal surah dalam ayat, وما أهلكنا من قرية إلا ولها كتاب معلوم ) الآية (٥).. Artinya, kami tidak akan membinasakan setiap kota yang penduduknya menentang para utusan Kami di masa-masa awal. Sebaliknya, Kami memberi mereka kesempatan untuk bertahan hidup mengingat tugas yang dipercayakan kepada setiap Rasul. 

Sebagian dari mereka Kami hukum untuk waktu yang singkat dan Kami binasakan mereka pada masa hidup nabi mereka, seperti yang terjadi pada zaman Musa dan pada zaman Nabi Kita saw. Dan sebagian dari mereka Kami beri kesempatan yang lama, kemudian Kami binasakan mereka setelah wafatnya nabi mereka, sebagaimana terjadi pada zaman Nabi Isa as. 


Post a Comment

0 Comments