PUASA YANG SEMPURNA



Oleh: Mln. Mubarak Achmad

Setiap kita membutuhkan perhiasan dalam kehidupan sehari-hari. Perhiasan itu adalah perhiasan lahiriah dan batiniah. Tanpa perhiasan ini, nilai kita di mata orang lain akan menjadi rendah.

Di bulan Ramadhan, kita harus menghiasi diri dengan perhiasan akhlak, yaitu adab-adab, amalan dan ketentuan-ketentuan yang harus dilaksanakan dan juga yang harus ditinggalkan selama bulan Ramadhan.

Tujuan ibadah puasa adalah untuk menahan nafsu dari berbagai keinginan sehingga kita siap mencari sesuatu yang menyucikan kalbu kita yang di dalamnya terdapat kehidupan yang abadi: menahan nafsu terhadap lapar dan dahaga serta mengingatkannya dengan keadaan orang-orang yang menderita kelaparan di antara orang-orang miskin.

Menyempitkan jalan setan pada diri kita dengan menyempitkan jalan aliran makanan dan minuman; puasa adalah untuk Tuhan semesta alam, tidak seperti amalan-amalan yang lain, dengan berpuasa kita berarti meninggalkan segala yang kita cintai karena kecintaan kepada Allah Ta'ala; puasa juga merupakan rahasia antara kita sebagai hamba dengan Tuhan sebagai sang khaliknya, sebab kita mungkin bisa mengetahui bahwa kita meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa secara nyata, tetapi kita meninggalkan hal-hal tersebut karena menjadi hamba yang ‘abdun, maka tak seorangpun manusia yang mengetahuinya, dan itulah hakikat puasa.

Petunjuk Rasulullah saw dalam berpuasa adalah petunjuk yang paling sempurna, paling tepat dalam mencapai maksud, serta paling mudah penerapannya bagi segenap jiwa. Di antara petunjuk puasa dari Nabi saw pada bulan Ramadhan adalah memperbanyak melakukan berbagai macam ibadah. Dan, jibril senantiasa membacakan Al-Qur’anul Karim untuk beliau saw pada bulan Ramadhan. Beliau saw juga memperbanyak sedekah, kebajikan, membaca Al-Qur’anul Karim, shalat, dzikir, i’tikaf dan bahkan Beliau saw mengkhususkan beberapa macam ibadah pada bulan Ramadhan, hal yang tidak beliau lakukan pada bulan-bulan lain.

Nabi saw menyegerakan berbuka dan menganjurkan demikian, beliau makan sahur dan mengakhirkannya, serta menganjurkan dan memberi semangat orang lain untuk melakukan hal yang sama. Beliau menghimbau agar berbuka dengan kurma, jika tidak mendapatkannya maka dengan air.

Nabi saw melarang orang yang berpuasa dari ucapan keji dan caci maki. Sebaliknya, beliau saw memerintahkan agar ia mengatakan kepada orang yang mencacinya, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”

Banyak perihal puasa yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw, di antaranya agar puasa kita menjadi puasa yang  sempurna, sesuai dengan tujuannya, maka ikutilah langkah-langkah berikut ini:


1. عَنْ طَلْحَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى الْهِلَالَ قَالَ اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ

Dari Thalhah ia berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam apabila melihat hilal mengucapkan: "Ya Allah, nampakkan hilal kepada kami dengan aman, iman, keselamatan, dan Islam. Tuhan kami dan Tuhan kalian adalah Allah." (Ad-Darimi, No. 1626)

2. Makan sahurlah sehingga membantu kekuatan fisik kita selama berpuasa. Rasulullah saw bersabda:

تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِيْ السَّحُوْرِ بَرَكَةٌ 

Makan sahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat barakah. (Al-Bukhari dan Muslim)

 اسْتَعِيْنُوْا بِطَعَامِ السَّحُوْرِ عَلَى صِيَامِ النَّهَارِ وَبِقَيْلُوْلَةِ النَّهَارِ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ

Bantulah (kekuatan fisikmu) untuk berpuasa di siang hari dengan makan sahur, dan untuk shalat malam dengan tidur siang. (Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya).

Dari Zaid bin Tsabit ra berkata, "Kami sahur bersama Nabi saw, lalu Beliau saw bangkit untuk shalat". Anas bertanya kepada Zaid, "Berapakah (waktu senggang) antara adzan dan sahur?". Zaid menjawab,  قَالَ قَدْرَ خَمْسِيْنَ آيَةً "Lamanya seperti membaca 50 ayat". (Bukhari dan Muslim)

Jadi, makan sahur merupakan berkah (kebaikan) dunia dan akhirat kita. Sahur akan menambah kekuatan bagi orang yang berpuasa sehingga kesehatannya bisa terjaga. Akan lebih utama jika makan sahur itu diakhirkan waktunya, sehingga mengurangi rasa lapar dan haus. Selain itu, seorang dengan sahur bisa meraih pahala, karena mengikut sunnah.

3. Segeralah berbuka jika matahari benar-benar telah tenggelam. Rasulullah saw bersabda:

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الفِطْرَ وَأَخَّرُوْا  السَّحُوْرَ  رواه البخاري ومسلم والترمذي.

Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. (Al-Bukhari, Muslim dan At-Tirmidzi).

4. Usahakan mandi dari hadats besar sebelum terbit fajar, agar bisa melakukan ibadah dalam keadaan suci.

5. Manfaatkan bulan Ramadhan dengan sesuatu yang terbaik yang pernah diturunkan di dalamnya, yakni membaca Al-Qur’anul Karim. Sesungguhnya Jibril pada setiap malam di bulan Ramadhan selalu menemui Nabi saw untuk membacakan Al-Qur’an baginya (Rasulullah saw). (Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas)

6. Hendaknya menjagalah lisan kita dari berdusta, menggunjing, mengadu domba, olok-mengolok serta perkataan mengada-ada (dusta). Rasulullah saw bersabda:

Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya (menahan) dari makan dan minum. (Bukhari)

7. Hendaknya jika dalam puasa tidak membuat kita keluar dari kebiasaan yang harus dihindari. Misalnya cepat marah dan emosi hanya karena sebab sepele, dengan dalil bahwa kita sedang puasa. Sebaliknya, mestinya puasa membuat jiwa kita tenang, tidak emosional. Dan, jika kita diuji dengan seorang yang jahil atau pengumpat, jangan kita hadapi dengan perbuatan serupa. Nasehatilah dia dan tolaklah dengan cara yang lebih baik. Nabi saw bersabda:

 الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمَ صِيَامِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثُ وَلاَ يَصْخَبُ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّيْ صَائِمٌ  رواه البخاري ومسلم.

Puasa adalah perisai, bila suatu hari seseorang dari kamu berpuasa, hendaknya ia tidak berkata buruk dan berteriak-teriak. Bila seseorang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata: “Sesungguhnya aku sedang puasa. (Al-Bukhari dan Muslim).

Ucapan ini dimaksudkan agar kita menahan diri dan tidak melayani orang yang mengumpat pada kita. Di samping itu juga mengingatkan agar kita menolak atau jangan melakukan penghinaan dan caci maki.

8. Jagalah diri kita dari berbagai syahwat (keinginan), bahkan meskipun halal. Hal itu agar tujuan puasa tercapai dan mematahkan nafsu dari keinginan.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma berkata:

إِذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ وَبَصَرُكَ وَلِسَانُكَ عَن الكَذِبِ وَالمَآثِمِ وَدَعْ أَذَى الجَارِ، وَلْيَكُنْ عَلَيْكَ وَقَارٌ وَسَكِيْنَةٌ يَوْمَ صَوْمِكَ، وَلاَ تَجْعَلْ يَوْمَ فِطْرِكَ وَيَوْمَ صِيَامِكَ سَوَاءٌ

Jika kamu berpuasa, hendaknya berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari dusta dan dosa-dosa. Tinggalkan menyakiti tetangga, dan hendaknya kamu senantiasa bersikap tenang pada hari kamu berpuasa, jangan pula kamu jadikan hari berbukamu sama dengan hari kamu berpuasa.

9. Hendaknya makanan kita dari yang halal. Dan tidak ada gunanya engkau berpuasa dari yang halal, tetapi kamu berbuka dengan yang haram.

10. Perbanyaklah bersedekah dan berbuat kebajikan. Dan hendaknya kita lebih baik dan lebih banyak berbuat kebajikan kepada keluarga, saudara kita dibanding pada selain bulan Ramadhan. Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan ketika bulan Ramadhan.

11. Ucapkanlah bismillah ketika kita berbuka dan berdoa :

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ،
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّيْ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ

Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, dan atas rezki-Mu aku berbuka. Ya Allah terimalah daripadaku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

No comments

Powered by Blogger.