MENELADANI HADHRAT “ATH-THAHIRAH” KHADIJAH r.a.: Dari Perjodohan hingga Perjuangannya





Oleh: Mln. Zafar Ahmad Khudori
(Muballigh Jmt. Kebumen/Jateng 2)

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:

خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيجَةُ
“Khoiru nisaa-ihaa Maryamu wa khoiru nisaa-ihaa Khodiijah”

(Wanita yang paling baik [pada zamannya] adalah Maryam dan wanita yang paling baik [pada zamannya] adalah Khadijah". (H.R. Bukhari: Bab “Pernikahan Nabi s.a.w. dengan Khadijah”. No. 3531). 

SIAPAKAH HADHRAT KHADIJAH r.a. ITU?
Ibnu Hisyam berkata bahwa Hadhrat Khadijah r.a. itu putri dari Khuwailid Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Luay bin Ghalib (Ishaq: 2012: 115). Sedangkan, Nabi Muhammad s.a.w. adalah putra dari Abdullah.

Abdullah sendiri merupakan anak terakhir Abdul Muthalib (Ishaq: 2012: 94) bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay (2012: 32). Jadi, silsilah Hadhrat Khadijah r.a. dan Nabi Muhammad s.a.w. bertemu pada leluhurnya: Qushay.

Hadhrat Khadijah r.a. adalah seorang wanita mulia dan kaya/pedagang besar. Pada zaman itu beliau r.a. juga mendapat gelar “At-Thahirah” (wanita suci). Namun demikian nama panggilannya adalah Ummu Hindun (Hindun adalah putri dari suami sebelumnya) [Al-Masri: 1993: 28].   

Hingga Usia 25:
POPULER KARENA MORALITAS
Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. (1992: 10) mengisahkan bahwa ketika Rasulullah s.a.w. berusia kira-kira 25 tahun: kejujuran dan perikemanusiaannya telah termasyhur di seluruh kota. Dengan rasa kagum orang akan menunjuk dan berkata itulah orangnya yang benar-benar dapat dipercaya.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq (2012: 113) bahwa Rasulullah s.a.w. tumbuh besar dan berkembang, sementara Allah s.w.t. menjaganya dan melindunginya dari daki-daki dekil jahiliyah. Ini karena Allah s.w.t. hendak memuliakan dan memberikan risalah kepadanya.

Hingga saat Rasulullah s.a.w. menjadi seorang dewasa dia menjadi: pahlawan di tengah kaumnya, sosok yang paling baik akhlak dan budi pekertinya, paling mulia nasabnya, paling baik bertetangga, teragung sikap santunnya, paling benar tuturkatanya, paling agung memegang amanah, paling jauh dari kekejian, paling jauh dari akhlak-akhlak yang mengotori orang laki-laki, hingga akhirnya kaumnya menggelarinya dengan “Al-Amin” karena Allah menghimpun dalam diri beliau s.a.w. hal-hal yang baik.   

Perkenalan Perdana:
MELALUI HUBUNGAN DAGANG
Hadhrat Mahmud Ahmad r.a. (1992: 10) menjelaskan bahwa nama baik itu sampai kepada telinga seorang janda kaya yang kemudian menghubungi paman Rasulullah s.a.w., Abu Thalib, untuk menyuruh kemenakannya memimpin kafilah dagangnya ke Syiria.

Abu Thalib menyampaikan hal itu kepada Rasulullah s.a.w. dan beliau s.a.w. setuju. Perjalanan dagang itu mendapat sukses besar dan membawa keuntungan yang di luar dugaan.

MENCARI SUAMI IDAMAN 
Janda kaya itu, kata Hadhat Mahmud r.a. (1992: 10) adalah Hadhrat Khadijah r.a. yang yakin bahwa sukses kafilahnya itu tidak hanya disebabkan oleh keadaan pasar di Syiria tetapi juga oleh kejujuran dan keefektifan pemimpinnya. 

Beliau r.a. mencari keterangan ihwal itu dari budaknya bernama Maisarah yang mendukung pendapat tuannya dan menceritakan bahwa kejujuran dan simpati pemimpin-kafilah muda itu dalam mengelola urusan majikannya tidak dapat diperlihatkan oleh banyak orang. Hadhrat Khadijah r.a. sangat terkesan oleh keterangan itu.

Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa Maisarah itu adalah karyawan laki-laki yang sangat terpercaya (Ishaq: 2012: 115).

40 dan 25:
HADHRAT KHADIJAH r.a. “NEMBAK DULUAN”
Hadhrat Mahmud r.a. (1992: 11) juga menjelaskan bahwa Hadhrat Khadijah r.a. sudah berusia 40 tahun dan telah dua kali menjadi janda. 

Suaminya yang pertama ialah Atiq bin ‘Aid Al-Makhzumi dan yang kedua ialah Abu Halah bin Zararah At-Tamimi. Kedua-duanya telah meninggal dunia (Al-Masri: 1993: 30).

Hadhrat Khadijah r.a. mengirim sahabat karibnya (yang bernama Nafisah binti Umayah At-Tamimi: baca “Nabi Suami Teladan” hlm. 31) kepada Rasulullah s.a.w. untuk menyelidiki apa beliau s.a.w. bersedia mengawini beliau r.a..

Wanita itu menemui Rasulullah s.a.w. dan bertanya, mengapa beliau s.a.w. belum berkeluarga.

Rasulullah s.a.w. menjawab bahwa beliau s.a.w. tidak cukup mampu untuk menikah. 

Wanita itu menanyakan apakah beliau s.a.w. setuju jika ada seorang wanita kaya dan terhormat bersedia untuk dikawin. 

Rasulullah s.a.w. bertanya siapa gerangan wanita itu dan tamu itu mengatakan, Khadijah. Rasulullah s.a.w. berkeberatan dengan mengatakan bahwa Hadhrat Khadijah r.a. terlalu tinggi kedudukannya untuk beliau s.a.w.

Tamu itu menyanggupi akan berusaha mengatasi segala kendala. Jika demikian halnya kata Rasulullah s.a.w. tidak ada sesuatu yang bisa dikatakan kecuali setuju (Ahmad: 1992: 11). 

Hadhrat Khadijah r.a. mengirimkan pesan kepada paman Rasulullah s.a.w.. Perjanjian telah diterima oleh semua pihak dan pernikahan diselenggarakan dengan resmi (Ahmad: 1992: 11). 

Ibnu Hisyam berkata bahwa tatkala Hadhrat Khadijah r.a. mengutarakan keinginannya kepada Rasulullah s.a.w., beliau s.a.w. menceritakan  hal ini kepada paman-pamannya. 

Maka dengan didampingi pamannya: Abu Thalib dan Hamzah bin Abdul Muthalib r.a., Rasulullah s.a.w. pergi ke rumah Khuwailid bin Asad.

Hamzah r.a. melamar Khadijah untuk beliau s.a.w.. Khuwailid menikahkan putrinya itu dengan Rasulullah s.a.w. (Ishaq: 2012: 116 dan Al-Masri: 1993: 31).

Dan, Abu Thalib-lah yang memberikan kata sambutan dalam upacara pernikahan tersebut (Jamil Ahmad: 1987: 64).

Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah s.a.w. menyerahkan maskawin kepada Hadhrat Khadijah r.a. sebanyak 20 unta betina muda. Hadhrat Khadijah r.a. adalah wanita pertama yang dinikahi Rasulullah s.a.w. dan beliau s.a.w. tidak menikah dengan wanita manapun semasa hidup Hadhrat Khadijah r.a. (Ishaq: 2012: 116). 

MENGATASI PERBEDAAN STATUS SOSIAL
Hadhrat Mahmud r.a. menjelaskan bahwa seorang pemuda miskin yang telah yatim sejak kanak-kanak, baru pertama kali memasuki jenjang hidup makmur. Beliau s.a.w. telah menjadi kaya. Tetapi cara menggunakan kekayaannya merupakan suatu contoh dan pelajaran bagi seluruh umat manusia.

Setelah pernikahan, Hadhrat Khadijah r.a. merasa bahwa beliau r.a. kaya dan sang suami miskin. Perbedaan harta milik antara suami istri tidak akan membawa kebahagiaan. Oleh karena itu, beliau r.a. mengambil keputusan menyerahkan harta-benda dan semua budak beliau r.a. kepada Rasulullah s.a.w..

Rasulullah s.a.w. yang ingin mendapat keyakinan bahwa niat Hadhrat Khadijah r.a. itu sungguh-sungguh, menyatakan bahwa segera setelah beliau s.a.w. menerima budak-budak Khadijah r.a., mereka akan dimerdekakan. Dan, memang beliau s.a.w. benar-benar telah melaksanakannya. 

Tambahan pula, bagian terbesar dari harta-benda yang diterima beliau s.a.w. dari Khadijah r.a. dibagi-bagikan beliau s.a.w. kepada kaum fakir-miskin. Di antara budak-budak yang dimerdekakan terdapat Zaid. Ia tampak lebih cerdas dan lebih tangkas daripada yang lain-lain (Hisyam).

HADHRAT KHADIJAH r.a.
DAN WAHYU PERTAMA YANG DITERIMA RASULULLAH s.a.w.
Hadhrat Mahmud r.a. (1992: 12-13) menjelaskan  bahwa ketika usia Rasulullah s.a.w. telah lebih dari 30 tahun, cinta dan ibadah kepada Allah s.w.t. mulai kian menguasai beliau s.a.w.

Muak akan kedurhakaan, kejahatan dan pelbagai dosa kaum Mekkah, beliau s.a.w. memilih suatu tempat, 2-3 mil jauhnya, untuk bertafakur. Tempat itu di puncak sebuah bukit, semacam gua yang terbentuk dari batu. 

Hadhrat Khadijah r.a. biasa menyediakan perbekalan untuk beberapa hari (menurut Ibnu Ishaq (2012: 146): sebulan setiap tahun), dan dengan membawa perbekalan itu beliau s.a.w. mengasingkan diri di gua Hira’. 

Dalam gua itu beliau s.a.w. melihat kasyaf (penglihatan ghaib). Kejadian itu terjadi dalam gua itu.

Beliau s.a.w. melihat suatu wujud yang memerintahkan kepada beliau s.a.w. membaca. Rasulullah s.a.w. menjawab bahwa beliau s.a.w. tidak mengetahui apa yang harus dibaca dan bagaimana harus membacanya. 

Wujud itu memaksa dan akhirnya Rasulullah s.a.w. membaca Ayat-ayat berikut (yang terjemahannya adalah):

Bacalah dengan nama Tuhan Engkau Yang menciptakan.

Menciptakan manusia dari segumpal darah. 

Bacalah! Dan Tuhan engkau adalah Maha Dermawan,

Yang mengajar dengan pena,

Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS 96/Al-Alaq: 2-6).

Sesudah mendapat pengalaman yang maha hebat itu beliau s.a.w. pulang ke rumah dalam keadaan sangat gelisah dengan wajah yang muram.

Atas pertanyaan Hadhrat Khadijah r.a., beliau s.a.w. mengisahkan seluruh pengalaman beliau s.a.w. dan menggambarkan rasa takut dan gelisah beliau s.a.w. dengan perkataan: 
“Seorang lemah seperti aku ini, betapa aku dapat melaksanakan tugas yang hendak diletakkan Tuhan di atas pundakku.” 

Hadhrat Khadijah r.a. segera menjawab:
“Demi Allah, Dia tidak menurunkan firman-Nya supaya engkau gagal dan terbukti tidak layak, kemudian meninggalkan engkau. 

Betapa mungkin Tuhan berbuat demikian, sedang engkau baik dan ramah terhadap sanak-saudara, menolong si miskin dan terlantar dan meringankan beban mereka? 

Engkau menghidupkan kembali nilai-nilai baik yang  telah lenyap dari negeri kita. 
Engkau perlakukan tamu-tamu dengan hormat dan membantu orang-orang yang berada dalam kesusahan. 

Dapatkah engkau dimasukkan oleh Tuhan ke dalam suatu cobaan?” (HR Bukhari).

Setelah berkata demikian Hadhrat Khadijah r.a. membawa Rasulullah s.a.w. kepada saudara sepupunya yang bernama Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay, seorang Kristiani. Ketika Waraqah mendengar cerita itu ia berkata:

“Malaikat yang turun kepada Musa, aku yakin, telah turun pula kepada engkau” (HR Bukhari dan Ishaq: 2012: 148).

Waraqah juga mengatakan:
“Jika ini benar wahai Khadijah, pastilah Muhammad adalah nabi untuk umat ini. Aku tahu pasti bahwa umat ini akan mempunyai seorang nabi yang dinanti kedatangannya dan kini telah tiba waktu kemunculan nabi tersebut” (Ishaq: 2012: 117).

HADHRAT KHADIJAH r.a.:
MUSLIMAH PERTAMA
Ibnu Ishaq berkata: Hadhrat Khadijah r.a. mengimani Rasulullah s.a.w. dan membenarkan seluruh yang beliau bawa dari Allah s.w.t. serta memberikan dukungan sepenuhnya dalam melaksanakan perintah Allah s.w.t..

Dengan masuk Islamnya Hadhrat Khadijah r.a. maka beliau r.a. adalah wanita pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta membenarkan apa yang beliau bawa dari Allah s.w.t..

Dengan itu maka beban Rasulullah s.a.w. semakin ringan. Jika Rasulullah s.a.w. mendengar umpatan dan caci-maki terhadap beliau s.a.w. yang membuatnya sedih, Allah s.w.t. menghilangkan kesedihan itu melalui Hadhrat Khadijah r.a..

Hadhrat Khadijah r.a. memotivasi beliau s.a.w., meringankan bebannya, membenarkannya dan menganggap remeh reaksi negatif manusia terhadap beliau s.a.w. (2012: 150-151).

KEUTAMAAN
HADHRAT KHADIJAH r.a.
Ibnu Ishaq (2012: 151) berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda, “Aku membawa kabar gembira kepada Khadijah berupa rumah dari qashab (mutiara yang berlubang) yang di dalamnya tidak ada suara riuh dan kelelahan” (HR: Ahmad no. 1758 dan Al-Hakim no. 4849).

Ibnu Hisyam berkata: Jibril berkata kepada Rasulullah s.a.w., “Sampaikan kepada Khadijah salam dari Tuhan-nya.”

Rasulullah s.a.w. bersabda, “Wahai Khadijah, ini dia Jibril menyampaikan salam dari Tuhan-nya.”

Khadijah berkata, “Allah adalah Kesejahteraan (Salam), dari-Nya kesejahteraan dan kesejahteraan juga atas Malaikat Jibril” (HR At-Thabrani dan Ishaq: 2012: 151).

TAHUN DUKA-CITA:
WAFATNYA HADHRAT KHADIJAH r.a.
Hadhrat Mahmud r.a. (1992: 30-31) menjelaskan bahwa aniaya makin lama makin keras dan tak tertanggungkan. 

Pertentangan telah makin menjadi-jadi. Kaum Mekkah mengadakan musyawarah besar lagi. Pada rapat itu diputuskan mengadakan pemboikotan menyeluruh terhadap orang-orang Muslim. 

Kaum Mekkah harus memutuskan semua perhubungan dengan mereka, tidak akan belanja dari mereka dan tidak akan menjual apa-apa kepada mereka.

Rasulullah s.a.w., keluarga beliau dan sanak-saudara beliau, walau bukan Muslim tetapi memihak mereka, terpaksa mencari perlindungan ditempat yang terpencil milik Abu Thalib.

Tanpa uang, tanpa sarana, dan tanpa bekal hidup, keluarga Rasulullah s.a.w. dan kaum kerabat sangat menderita oleh tindakan blokade itu. Tiga tahun lamanya (7-10 Nabawi) blokade itu tidak kendur dan longgar. 

Akhirnya, 5 orang yang berperikemanusiaan memberontak terhadap keadaan itu. Mereka menjumpai sanak-saudara yang ikut terkurung, menawarkan penghapusan boikot dan mengajak mereka keluar dari kurungan. Abu Thalib keluar dan menyesali kaumnya. 

Pelanggaran blokade 5 orang itu kemudian diketahui seluruh Mekkah, tetapi rasa perikemanusiaan pun tergerak pula dan kaum Mekkah mengambil keputusan untuk membatalkan dan menghapuskan pemboikotan itu. Boikot telah lewat, tetapi dampaknya tidak. 

Dalam beberapa hari istri Rasulullah s.a.w., Hadhrat Khadijah r.a., wafat dan sebulan kemudian paman Rasulullah, Abu Thalib menyusul.

Rasulullah s.a.w. kini kehilangan kawan hidup dan bantuan Hhadhrat Khadijah r.a., dan beliau s.a.w. bersama kaum Muslimin kehilangan perlindungan dan bantuan Abu Thalib. 
Wafat mereka itu tentu saja membawa akibat yaitu hilangnya simpati-umum.

PENUTUP
Sebagai Penutup, berikut ini saya lampirkan daftar keturunan Rasulullah s.a.w.:

Ibnu Ishaq (2012: 116) berkata: Dari Hadhrat Khadijah r.a.-lah seluruh putra-putri Rasulullah s.a.w. dilahirkan kecuali Ibrahim. Putra-putrinya adalah:

1. Al-Qasim (dengan gelar: Ath-Thayyib)
2. Abdullah (dengan gelar: Ath-Thahir)
3. Zainab (kemudian hari bersuamikan Abu Al-Ashi bin Rabi’)
4. Ruqayyah (kemudian hari bersuamikan Hadhrat ‘Utsman bin ’Affan r.a.)
5. Ummu Kultsum (kemudian hari bersuamikan Hadhrat ‘Utsman bin ’Affan r.a.) dan
6. Fathimah (kemudian hari bersuamikan Hadhrat ‘Ali bin Abu Thalib r.a.).


Ath-Thayyib dan Ath-Thahir: mereka meninggal dunia (masih bayi) pada masa jahiliyah. Sedangkan, putri-putri beliau s.a.w. hidup hingga zaman Islam, masuk Islam dan ikut hijrah bersama Rasulullah s.a.w..

Ibnu Hisyam berkata: Ibunda dari Ibrahim Al-Qasim adalah Mariyah (berasal dari Hafn, kawasan Anshina), wanita yang dihadiahkan Al-Muqaiqis (Raja Iskandariyah/Mesir) kepada beliau s.a.w.. Maka itu beliau dikenal dengan Mariyah Al-Qibtiyah (Al-Misri: 1993: 32).

Daftar Pustaka
Ahmad r.a., Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud (1992). 
Riwayat Hidup Rasulullah saw
Bogor: Yayasan Wisma Damai.
Ahmad, Jamil (1987). 
Seratus Muslim Terkemuka. 
Jakarta: Pustaka Firdaus.
Al-Masri, Nasy’at (1993). 
Nabi Suami Teladan
Jakarta: Gema Insani Press.
Bukhari, Imam. 
Bab “Pernikahan Nabi s.a.w. dengan Khadijah” 
versi Kompilasi Chm oleh: Abu Ahmad as Sidokare.
Ishaq, Ibnu (2012). 
Sirah Nabawiyah: Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah s.a.w..
Jakarta: Akbar Media Eka Sarana.


No comments

Powered by Blogger.