Artikel Islam
MEMAHAMI SIFAT MARAH

MEMAHAMI SIFAT MARAH

Oleh: Mln. Anom (Muballigh Sintang)

Tentu setiap orang di dunia ini pernah marah karena suatu kejadian. Lalu apakah marah harus selalu dianggap perbuatan buruk dan bagaimana seharusnya kita bersikap di saat marah. Dalam tulisan ini akan berusaha memberikan gambaran tentang potensi marah dan nasehat berkenaan dengan itu.

Marah adalah Sifat Alami, dan Tidak Sia-sia

Amarah adalah salah satu sifat alami (thabi’i) manusia, Allah sejatinya telah menempatkan semua kekuatan alami pada diri manusia, ini juga yang membuat manusia memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah. Namun perilaku marah yang tidak diwarnai oleh akhlak yang baik akan membawa kepada keburukan.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. bersabda, Allah telah menciptakan kemarahan bukan tanpa ketepatan (tidak sia-sia). Penggunaannya yang tidak benar memang tidak tepat. Seseorang bertanya kepada Hadhrat Umar r.a., “Sewaktu masih kafir, engkau sangat pemarah, sekarang bagaimana keadaan marah engkau?” Beliau menjawab, “Marah itu sampai sekarang pun masih ada, tetapi penggunaannya yang dulu itu tidak tepat, sekarang sudah tepat.”  Protes ini justru tertuju kepada Sang Pencipta, yakni mengapa Dia menciptakan kemarahan? Sebenarnya tidak ada satu pun potensi (kekuatan) yang buruk, penggunaannya yang tidak tepat itulah yang membuatnya buruk. (Malfuzat, jld. II, hlm. 316-317)

Menurut Ibnu Hajar Atsqolani bahwa ‘marah tidaklah dilarang karena merupakan tabiat yang tidak bisa hilang dari kebiasaan manusia.’ (Fathul Bari, X1520)

Seorang Nabi pun Memiliki Sifat Marah

Nabi Muhammad Saw bersabda : “Aku ini hanya manusia biasa, aku bisa senang sebagaimana manusia senang dan aku bisa marah sebagaimana manusia marah” (HR. Muslim, No.2603).

Begitu pun, nabi Musa a.s. pun marah disaat kaum beliau a.s. kembali menyembah Tuhan selain Allah seperti yang dilukiskan dalam surah Al-Araf: 154.

Arti Marah

Marah dalam bahasa Arab disebut sebagai اَلْغَضَبُ, seseorang yang marah tentu tidak meridhoi terhadap apa yang sedang terjadi (عَدَمُ الرِّضَى بِالشَّيْءِ), hal itu bisa terlihat dari wajah misalkan bermuka muram (اَلْعَبُوْسُ), respon dari marah terkadang pada contoh yang negatif adalah menyakiti (اَلْعَضُّ عَلَى الشَّيْءِ), bahkan terburuknya bisa menimbulkan kemarahan yang teramat sangat ( اَلْغَيْظُ ).

Dalam bahasa Indonesia ”amarah” sama dengan kata ”marah”, yakni suatu keadaan atau sifat dari seseorang pada saat ia merasakan tidak senang atau tidak merasa nyaman karena sedang menghadapi suatu hambatan atau diperlakukan tidak sepantasnya, dapat juga bermakna gusar atau berang.[1]

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. menjelaskan,  ‘Dalam kondisi nafs ammarah, manusia tidak dapat mengendalikan dorongan-dorongan nafsu dan gejolak-gejolak yang tidak menentu, serta melampaui perkiraan dan jatuh dari kondisi akhlak.’ (Malfuzat, jld. I, hlm. 102-103).

Marah Dalam Pandangan Psikologi

Marah memiliki peranan penting bagi kehidupan manusia. Marah pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Marah adalah bagian dari emosi yaitu reaksi dari manusia terhadap seseorang atau suatu kejadian (positif), terkadang perasaan (emosi) yang timbul melebihi batas sehingga terkadang tidak dapat menguasi diri sendiri dan menyebabkan keburukan (negatif).

Marah sebenarnya memiliki manfaat bagi manusia yaitu emosi marah merupakan suatu pola perilaku manusia yang secara tak sadar dirancang untuk memperingatkan pengganggu agar menghentikan perilaku mengancam terhadap dirinya. Emosi marah meliputi perasaan jengkel, benci, kesal, mengamuk, dan beringas.

Bentuk Negatif Dari Marah

Bentuk negatif dari marah misalkan pelampiasan marah yang meledak-ledak, mencaci seseorang, merusak benda seperti membanting gelas, menonjok dinding, memaki seseorang atau suatu benda, dan lain-lain yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Marah seperti inilah yang harus dihindari dan akan dibahas lebih mendalam dalam tulisan ini.

Karena tidak setiap orang mampu mengendalikan marah ke arah yang positif maka Islam mengajarkan untuk mengubah marah menjadi akhlak yang baik, As Syuro: 41 : “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zhalim.”

Imam Al-Ghazali mengkiaskan bahwa marah adalah sekam yang tersimpan dalam hati, seperti terselipnya bara di balik debu.[2] Tentu setiap orang memiliki potensi marah yang berbeda-beda kadarnya namun tetap saja hal ini perlu untuk dikendalikan.

Hadhrat Ali bin Abi Thalib pernah berkata “Kendalikan kemarahan, sebab kemarahan merupakan salah satu bala tentara besar diantara bala tentara-bala tentara setan”.[3]  Seseorang yang sulit mengendalikan amarah terkadang karena sifat pembawaan atau kebiasaan tidak mengendalikan marahnya sehingga sulit untuk diberikan nasehat kepadanya.

Seseorang tidak boleh  memilik sifat tafrit yaitu benar-benar tidak memiliki kemampuan untuk marah, atau seseorang memiliki sifat ifrat yang ketika marah sampai kehilangan akal dan agamanya. Seharusnya seseorang mencapai tahap I’tidal yaitu mampu mengambil manfaat dari marah dalam situasi yang tepat kala marah sedang dibutuhkan.

Mengendalikan Marah

Ketika sedang dalam posisi marah biasanya seseorang akan langsung melakukan tindakan sehingga tindakannya dipengaruhi oleh nafsu amarah  sedangkan  Allah menyukai bahkan menjanjikan surga jika mau meredakan amarah seperti Allah berfirman, ‘Sesudah amarah Musa menjadi reda.’ (Al-Araf: 155) dan ‘..dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan.’ (Ali Imran: 134).

Ketika seseorang dalam emosi marah maka setidaknya lakukan tiga hal ini yaitu pertama, Mengganti posisi, “Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud, no. 4782).

Kedua, “Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad, 1: 239). Dan, ketiga, “Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu.” (HR. Abu Daud, no. 4784). Keempat, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya jika sekiranya ia mau membaca, ‘A’udzubillahi minas-syaitani’, niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.” (HR Bukhari, no. 3282)

Dengan menjalani empat resep dari Nabi Muhammad Saw ini seseorang akan mendapatkan kemudahan untuk mengendalikan amarahnya.

Nasehat Berkaitan Kondisi Marah

Allah menjanjikan bagi seseorang yang mau menahan amarahnya dengan derajat surga, “Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah SWT akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah SWT membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya” (HR. Abu Dawu, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Nabi pun bersabda lagi, “Bukanlah orang kuat yang pandai bergulat, tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah” (HR. Bukhari No. 5763 & HR. Muslim, No. 2609).

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as menasehatkan bahwa kondisi amarah merupakan setan, ‘Seluruh potensi (kekuatan)  yang terdapat di dalam diri manusia pada kondisi nafs Ammarah merupakan setan. Seandainya tidak ada perbaikan pada potensi-potensi (kekuatan-kekuatan) tersebut maka mereka akan memperbudak manusia.’ (Malfuzat, jld I, hlm.  33)

Dapat menghindarkan diri dari marah adalah tahapan orang yang benar, ‘Tahapan yang terakhir dan yang paling sulit bagi orang-orang yang memperoleh makrifat serta bagi para shiddiq adalah menghindarkan diri dari amarah (murka). Kesombongan dan keangkuhan timbul dari amarah, dan kadang-kadang amarah itu sendiri merupakan hasil dari kesombongan dan keangkuhan, sebab amarah tersebut  timbul tatkala seorang manusia menganggap dirinya lebih tinggi dari yang lain. (Malfuzat, jld I, hlm. 36)


[1] Tim penysun kamus besar bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1990), 26.

[2] Al-Ghazali, Ringkasan Ihya’ ‘Ulumuddin, (Akbar Media Eka Sarana, 2008), 238. Penj. Abdul Rasyid Shidiq

[3] Sayyid Mahdi as Sadr, 27

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *