Hikmah
APAKAH MEMAAFKAN BERARTI KEKALAHAN?

APAKAH MEMAAFKAN BERARTI KEKALAHAN?

Oleh: Mln. Basarat Ahmad Sanusi

Memaafkan adalah ungkapan bahasa dari sikap seseorang yang mengampuni kesalahan orang lain terhadap dirinya, arti demikian diperkuat Enright (2001) dimana ia mengatakan, “ memaafkan merupakan sikap yang diberikan orang yang tersakiti untuk tidak balas dendam dan melampiaskan kemarahan yang dirasakan kepada orang yang menyakiti, namun lebih memberikan kemurahan hati,mengampuni, memberikan kasih sayang, cinta dan perilaku baik kepada orang tersebut ”.

Di dalam bahasa Inggris memaafkan adalah forgive dan berdekatan dengan kata Forgot (melupakan) yang secara singkat juga bisa mendefinisikan memaafkan, yaitu melupakan kesalahan orang lain dalam upaya memperbaiki harmoni sosial dalam sebuah lingkungan (Girard dan Mullet,1997).

Memang, bagi sebagian orang memaafkan menjadi sebuah kebutuhan primer karena dapat memperbaiki interaksi sosial yang sempat merenggang akibat permusuhan dan dendam. Dengan demikian memaafkan memiliki efek sosial yang besar, karena itu dalam tradisi orang jawa terdapat petuah yang menyebutkan  ngalah nduwur wekasane, (mengalah/memaafkan akan berakhir dengan ketinggian/kemuliaan).

Masih berkenaan dengan makna memaafkan Al-Khalil dalam Maqaabisul Lughah mengatakan bahwa “ orang yang sangat berhak mendapatkan suatu hukuman lalu engkau membebaskannya, berarti engkau telah memaafkannya”. Memang dalam kondisi tertentu seseorang memberikan maaf atas suatu kesalahan orang lain dengan membebaskannya dari segala tuntutan. Hal tersebut tentunya hanyalah bagi mereka yang pantas mendapatkannya.

Menarik untuk dibahas memaafkan dari sudut pandang Islam, ternyata ajarannya telah menempatkan kesadaran untuk memaafkan berlandaskan pada kenyataan bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa, sebab itulah Islam mengajarkan untuk menjadi pribadi yang pemaaf, bukan pendendam. Seandainya manusia merasa benar selamanya, tidak akan muncul kesadaran untuk memaafkan orang lain.

Jika ia tidak memaafkan saudaranya hari ini, maka pada gilirannya ia pun tidak akan mendapatkan maaf atas kesalahannya kepada orang lain. Allah menjanjikan kepada umat-Nya untuk membalas setiap keburukan dengan kebaikan (Al-Fushilat : 34-35), bahkan Allah sendiri yang menetapkan bahwa memaafkan harus menjadi karakter orang bertakwa, karena Allah telah menyediakan baginya ampunan dan surga (Ali-Imran : 134).

Islam sangat menekankan umatnya untuk tidak menjadi pendendam, karena dendam bermuara pada permusuhan dan kalau permusuhan dibawa ke arena pertengkaran akan sangat beresiko dan suasana akhirnya mengerikan, seperti digambarkan peribahasa kita, kalah jadi abu menang jadi arang. Hal ini jelas berbeda dengan memaafkan yang berakhir dengan ampunan dan surga.

Sejarah Islam telah mencatatkan Rasulullah Saw. sebagai tauladan sempurna dalam hal memaafkan, sekalipun cercaan dan hinaan, pengkhianatan dan percobaan pembunuhan  datang berulang kali dari mereka yang memusuhinya. Rasulullah Saw. sama sekali tidak menyimpan rasa dendam dan justeru mebalas mereka dengan kebaikan dan memaafkan kesalahan mereka, Bahkan Rasulullah saw. bersabda kepada orang-orang yang berdoa buruk untuk musuh-musuhnya, “Saya tidak dikirim ke dunia sebagai laknat, saya dikirim sebagai rahmat”. (Shahih Bukhari) Berikut adalah beberapa kisah pengampunan Rasulullah Saw. yang menunjukan bahwa memaafkan bukanlah sebuah kekalahan melainkan jalan menuju kemenangan agung.

Memaafkan Perempuan yang Meracuni Beliau Saw.

Seseorang bertanya kepada Abdullah bin Umar mengenai tanda-tanda seorang nabi yang telah diterangkan dalam Taurat maka beliau menerangkan bahwa: “Nabi itu sangat penyabar (tidak lekas marah) dan tidak keras hati, bukan merupakan orang yang suka berteriak di pasar-pasar, tidak akan membalas keburukan dengan keburukan bahkan dia akan banyak memberi maaf dan ampunan” (Bukhari). Keterangan itu tergenapi dalam wujud nabi Muhammad saw.

Kehidupan beliau merupakan bukti akan hal itu. Hadhrat Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. tidak pernah menuntut balas demi untuk dirinya atas keaniayaan yang ditimpakan terhadap beliau, contohnya terhadap Zainab binti Al-harits, perempuan Yahudi yang sakit hati atas kekalahan perang di Khaibar, ia berbuat licik menghadiahkan santapan daging kambing yang telah diracuni.

Rasulullah Saw. dan seorang sahabat telah mengambil sekerat daging itu dan siap dimakan, tetapi kemudian Rasulullah Saw tahu bahwa daging itu diracuni, kemudian beliau melarang sahabat yang lain memakannya, tapi sayang sahabat beliau Bishr ibn Al-Bara telah memakannya, racun itu sangat mematikan dan menurut beberapa riwayat sahabt itu gugur karena racun itu.

Kemudian Rasulullah memanggil perempuan itu dan menanyakan kenapa ia meracuni daging itu, wanita itu bertanya bagaimana Rasulullah Saw. tahu kalau daging itu diracuni, Rasulullah menjawab; Tanganku mengatakan itu kepadaku, artinya beliau dapat mengetahui dari rabaannya bahwa daging itu beracun. Wanita itu mengakui perbuatannya. “ mengapa engkau berbuat seperti itu “, tanya Rasulullah saw.

Perempuan itu menjawab : “ kaumku sedang berperang dengan anda, dan keluargaku gugur dalam pertempuran ini, aku mengambil keputusan untuk meracuni anda, dengan keyakinan bahwa jika anda seorang tukang tipu, anda akan meninggal, dan kami akan aman, tetapi jika anda seorang nabi, Tuhan akan memelihara anda”.

Mendengar jawaban itu Rasulullah Saw, memaafkan perempuan itu, walaupun sebenarnya layak untuk mendapatkan hukuman mati, namun Rasulullah saw, bersedia memberi maaf dan hanya menjatuhkan hukuman jika perlu dan jika dikhawatirkan bahwa yang berdosa tanpa hukuman, orang itu tidak jera. Nampaknya perempuan itu telah mengakui segala kesalahannya dan meminta maaf. (Bashirudin MA, 1989).

Pemberian maaf Rasulullah saw. Terhadap Pembunuh Putri Beliau saw.

Rasulullah saw dikenal sangat pengampun. Ampunanya juga melingkupi musuh pribadi beliau,  oleh karena itu musuh-musuh beliaupun mengetahui bahwa beliau memiliki akhlak yang sangat luhur. Mereka tidak merasa segan kepada beliau, dalam arti meskipun mereka merupakan musuh berat,  mereka datang di hadapan beliau untuk meminta maaf.

Ada sebuah contoh untuk itu ketika Habar bin Al-Aswad menyerang putri beliau saw. dengan tombak pada saat hijrah, yang mengakibatkan kandungannya mengalami keguguran, dan pada akhirnya luka inilah yang mengakibatkan beliau wafat. Atas kesalahannya itu Rasulullah saw. memutuskan untuk membunuhnya.

Pada saat penaklukan kota Mekkah Habar bin Al-Aswad lari lalu bersembunyi, tetapi tatkala Rasulullah saw. kembali ke Madinah maka Habar hadir di hadapan Rasulullah saw. dan sambil memohon belas kasih dia berkata bahwa “Sebelumnya saya telah lari karena takut, tetapi fikiran akan sifat pemaaf  Tuanlah yang membawa saya datang ke sini. Hai Nabi Allah, kami tadinya berada dalam kejahilan dan kemusyrikan kemudian dengan perantaraan Tuan, Allah telah memberikan petunjuk kepada kami dan menghindarkan kami dari kehancuran. Saya mengakui akan pelanggaran-pelanggaran saya, maka maafkanlah kejahilan saya”.

Maka dari itu Rasulullah saw. memaafkan pembunuh putri beliau itu dan beliau bersabda, “Hai Habar, pergilah, saya telah memaafkan engkau. Ini merupakan kebaikan Allah yang telah menganugerahkan taufik kepada engkau untuk masuk Islam”. Assiratulhalbiyyah jilid 3 hlm. 106 Cetakan Beirut.

Pemberian Maaf Rasulullah saw. Terhadap Hindah (Hindun)

Istri Abu Sufyan, Hindah putri Utbah telah melaksanakan kewajiban dengan benar-benar sempurna membakar dan menghasut orang-orang kafir Quraisy dalam peperangan-peperangan melawan orang-orang Islam. Dia biasa membaca syair untuk menghasut dan membakar semangat kaum laki-laki kafir Quraisy bahwa “Jika kalian kembali dengan kemenangan maka kami akan menyambut kalian, kalau tidak maka kami untuk selama-lamanya menjauhkan diri dari kalian”. Demikian tertulis dalam Assiratun-Nabawaiyyah ibni Hisyam, jilid 3 hlm. 151, Darulmarfah, Beirut.

Pada saat Perang Uhud Hinda inilah yang telah melakukan mutilasi terhadap jenazah paman Rasulullah saw. (Hamzah r.a.), dia memotong hidung, telinga dan organ lainnya, dia merusaknya bahkan mengunyahnya. Sesudah penaklukan kota Mekkah tatkala Rasulullah saw. mengambil baiat perempuan-perempuan, maka Hinda pun datang sambil menutup mukanya akibat malu dari dosa-dosanya dan dia dinyatakan wajib dibunuh. Pada saat berlangsungnya baiat dia menanyakan mengenai syarat-syarat baiat.

Rasulullah mengenalnya, Beliau saw. bertanya, “Apakah engkau istri Abu Sufyan, Hinda? Dia menjawab: “Ya, ya Rasulullah, kini saya telah masuk Islam dari hati kecil saya sendiri, dan apa yang sebelumnya telah berlalu itu maafkanlah maka Allahpun akan memperlakukan Tuan seperti itu”. Rasulullah saw. pun memaafkan Hinda, dan pemberian maaf serta belas kasih beliau berpengaruh besar pada diri Hinda sehingga terjadi perobahan total pada dirinya.

Setelah Bai’at masuk Islam Hinda pulang ke rumah dan memecahkan semua berhala. Pada malam harinya ia menyiapkan makan untuk Rasulullah saw. dan secara khusus dia menyuruh menyembelih dua ekor kambing lalu dipanggang dan mengirimkannya kepada Rasulullah saw. dan bersama itu pula dia juga berkata bahwa “saat ini hewan peliharaan saya sedikit, karena itu saya hanya dapat mengirimkan hadiah yang sangat sederhana”, maka Rasulullah saw. mendoakannya.

Perhatikanlah sikap pemaaf Rasulullah ini, beliau tidak hanya memaafkan bahkan juga mendoakannya, “Ya Allah, berkatilah sebanyak-banyaknya pada  kambing-kambing Hinda”, karena itu akibat pengabulan doa beliau, banyak sekali keberkatannya sehingga kambing-kambing Hinda begitu banyaknya sampai tidak terurus. (Siratulhalbiyah jilid 3 hlm. 118 Cetakan Beirut).

Tiga contoh nabi Muhammad Saw. dalam hal memaafkan, tidak ada bandingannya dalam sejarah kehidupan umat manusia, beliau dengan sangat tepat memberikan maaf kepada mereka yang telah bersalah secara pribadi maupun terhadap kaum beliau. Pertimbangan beliau sangat tepat sehingga tidak ada dari mereka yang diberi pengampunan mengulangi perbuatan jahatnya, bahkan dari mereka muncul kesadaran diri untuk memperbaiki diri dan membela islam sampai akhir hayat mereka. Dari tiga contoh pemberian maaf yang tepat sama sekali tidak menunjukan kelemahan dan kekalahan, tetapi sebaliknya telah mengangkat derajat Rasulullah saw kian menanjak.

Hal penting lain yang menjadi pelajaran berharga bagi kita semua adalah orang-orang yang melakukan kejahatan extra ordinary terhadap Rasulullah dan para sahabat meminta maaf dalam kondisi kekalahan, Rasulullah saw. bisa dengan mudah menimpakan hukuman apapun terhadap mereka, karena kekuasaan ada pada beliau, tetapi justeru pemberian maaf yang beliau umumkan bukan hukuman. Bahkan beliau berpesan untuk kita semua, “ orang kuat bukanlah orang yang menang dalam perkelahian, tetapi mereka yang sanggup mengendalikan amarah ketika marah “. Marilah menjadi pribadi yang suka memaafkan karena baginya terbentang lebar jalan menuju surga. (Basyarat Ahmad Sanusi, Malang-Jatim 3.

Rujukan :

Khutbah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad,  Tanggal 20-2-2004 di Mesjid Baitul-Futuh – Morden, London – Inggris

Abdulah Baqi, Terjemah Shahih Bukhari-Muslim, Cordoba, 2014.

Siratulhalbiyah jilid 3 hlm. 118 Cetakan Beirut.

Assiratun-Nabawaiyyah ibni Hisyam, jilid 3 hlm. 151, Darulmarfah, Beirut.

Bashirudin MA, Pengantar Mempelajari Al-Qur’an, JAI, 1989.

Girard dan Mullet,1997.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *