10 Kebiasaan Yang Menghalangi Hubungan Kita Dengan Ilahi

10 Kebiasaan Yang Menghalangi Hubungan Kita Dengan Ilahi

Oleh: Mln. Mubarak Achmad

Perintah untuk mendekatkan diri kita kepada Ilahi termaktub dalam ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُواْ فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan pendekatan diri kepada-Nya, dan berjuanglah di jalan-Nya supaya kamu berjaya. (QS. Al-Maidah: 35).

Kata Wasilah  artinya, satu jalan untuk memperoleh suatu kedudukan terhormat di sisi raja; martabat, pertalian, ikatan atau perhubungan (Lane). Jalan yang ditempuh untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala menurut Al-Qur’an disebut tawassul. Menurut Ibnu Abbas tawassul artinya Al-Qurbah yang berari mendekatkan diri. Ibnu Qatadah menafsirkan kata Al-Qurbah mendekatlah kepada Ilahi dengan mentaati dan mengamalkan apa yang diridhai-Nya.

Mendekatkan diri Kepada Allah Ta’ala adalah dengan Mentauhidkan-Nya. Bisa juga mendekatkan diri dengan amalan-amalan Saleh, mendekatkan diri kepada Ilahi melalui perantaraan doa, mengakui kelemahan dan dosa dan amalan baik lainnya.

Dalam menjalanan kehidupan beberapa insan terkadang tidak dekat dengan Ilahi dan bahkan merasa Allah Ta’ala jauh dari mereka; lebih jauh lagi mengalami banyak dari doa-doa yang dipanjatan tidak terkabul. Mengapakah hal semacam ini bisa terjadi pada diri seorang insan?

Guna mengetahui sebabnya, maka kita harus mengkoreksi amal-amal perbuatan yang kita telah lakukan. Jangan-jangan kita telah melakukan sesuatu amalan yang sangat tidak disukai dan menjijikkan di mata Allah Ta’ala, sehingga terjadi pembatas antara kita dan Allah Ta’ala yang sulit menciptakan kedekatan kepada Ilahi.

Jika hal demikian dirasakan, maka kita harus menemukan kelemahan dan kekurangan tersebut yang mungkin menjadi penghalang dalam jalan kita untuk mendapatkan kedekatan dengan Ilahi.

Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Khalifatul Masih II r.a. telah menunjukkan kelemahan dan kekurangan ini untuk kita Ahmadi dan menjelaskan mengapa Allah Ta’ala sangat membencinya serta penegasan dari Al-Qu’an Karim.

Beliau ra pada tangga 28 Desember 1952 di Jalsah Salana Rabwah menyampaikan pidato berjudul Ta’alluq billah, disana disampaikan 10 (sepuluh) kebiasaan yang menghalangi hubungan kita dengan Allah Ta’ala. Secara singkat digambarkan sebagai berikut;

1. AROGAN

Allah Yang Maha Kuasa menyatakan dalam Al-Qur’an:

اِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ مَنۡ کَانَ مُخۡتَالًا فَخُوۡرَا

Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. (QS. An-Nisa: 36)

Beliau r.a. bersabda “… Bangga, dia yang menganggap dirinya begitu mulia sehingga berpikir dia aman dari semua penderitaan dan bahaya… Jika seseorang memeluk kesombongan di dalam hatinya dan kemudian dia mengingat kebesaran Allah Ta’ala, lalu dapatkah dia tetap sombong setelah itu? Bisakah seseorang benar-benar mengangkat kepalanya tinggi-tinggi sambil berdiri di hadapan seorang raja? Bahkan seorang prajurit berdiri dengan kesopanan dan rasa hormat yang sedemikian rupa di hadapan seorang pengawas polisi biasa sehingga seolah-olah dia tidak punya lidah di mulutnya. Jadi, bagaimana seseorang bisa mencintai Allah Ta’ala jika dia tidak menghargai kebesaran Allah Ta’ala? … Oleh karena itu, Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa tidak mencintai orang yang sombong, orang seperti itu juga tidak dapat mencintai Allah Yang Maha Kuasa. (Ta’alluq Billah , Anwar-ul-Ulum , Vol. 23, hlm. 175)

Ketahuilah arogan adalah rayap keangkuhan. Setiap individu diciptakan Allah Ta’ala dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tak ada manusia yang hanya diberikan kelebihan, melainkan disisipkan pula kekurangan dalam dirinya. Namun, ada kalanya kelebihan yang diberikan dipergunakan untuk bersikap angkuh, atau dalam bahasa yang lebih ilmiah dikenal dengan istilah arogan.

Dalam psikologi, arogan didefinisikan sebagai perasaan superioritas yang dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa atau pongah. Sikap arogan pada dasarnya menggambarkan kepicikan dalam menilai hakikat manusia.

2. SOMBONG

Allah Ta’ala berfirman;

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

 Dan janganlah engkau memalingkan pipimu dari orang-orang dengan angkuh, dan jangan berjalan di bumi dengan sombong. Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang congkak dan sombong. (QS. Luqman:18)

Sha’aara khaddahu  berarti, ia memalingkan pipinya dari orang-orang, disebabkan oleh kesombongan atau kebencian (Lane).

إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

Sesungguhnya Dia tidak suka kepada orang-orang yang sombong. (QS. An Nahl: 23)

Beliau r.a. bersaba: “Sombong adalah orang yang percaya bahwa dia memiliki kebajikan yang tidak dimiliki orang lain dan kemudian mengejek orang lain dengan mencaci mereka karena kurangnya nilai intrinsik yang dia yakini dia miliki. Kesombongan mengakibatkan manusia menolak dan mengingkari nikmat yang telah Allah berikan kepadanya, karena ia mengklaim bahwa pencapaiannya adalah karena usaha dan pahala pribadinya. Siapapun yang benar-benar percaya ini menyangkal Keindahan Allah dan Allah Yang Maha Kuasa tidak mencintai orang seperti itu. ” (Ta’alluq Billah , Anwar-ul-Ulum , Vol. 23, Hal. 176).

3. PELANGGAR

Allah Ta’ala juga tidak menyukai orang yang memiliki kebiasaan melebihi batas dalam perbuatannya. Allah Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡمُعۡتَدِیۡنَ

“Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas/para pelanggar”{QS. Al-Baqarah: 190}

Beliau ra bersabda; “… Seringkali, ketika seseorang melakukan kesalahan, maka mereka dimarahi, didenda atau disuruh duduk di Masjid untuk melakukan dzikir kepada Allah Ta’ala, sebagai hukuman. Tetapi mereka yang tidak memiliki kebiasaan untuk tetap berada dalam batas tidak puas dengan ini. Mereka bertanya, ‘Apa jenis hukuman adalah ini untuk membayar denda 4 annas? ‘ Tujuan mereka adalah untuk membuat kita menempatkan gergaji di kepala mereka, membakar tulang mereka dan menghancurkan mereka di atas lempengan dan kemudian membuang abunya ke dalam kotoran dan limbah dan menempatkan penanda di kuburan mereka, menyiksa mereka dan nenek moyang mereka. Tetap saja, mereka tidak berhenti sampai di sini. Ketika mereka mencapai akhirat, Allah Ta’ala harus memasukkan mereka ke dalam api neraka dan menghukumnya sedemikian rupa yang tidak pernah diberikan kepada siapa pun. Meskipun Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa Maha Penyayang dan Mulia, Dia tidak mencintai mereka yang melanggar, dan pelanggar juga tidak dapat mencintai Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa. ” ( Ta’alluq Billah , Anwar-ul-Ulum , Vol. 23, hlm. 176-177)

4. KHIANAT

Orang yang berkianat tidak bisa disayangi oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ مَنۡ کَانَ خَوَّانًا اَثِیۡمًا

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang senantiasa berkhianat, bergelimang dosa. (QS. An-Nisa:108)

Beliau ra bersabda; “… Bahkan sedikit saja kekesalan tidak dapat ditoleransi dalam hal cinta. Orang yang sangat pengkhianat tidak mampu mencintai seseorang karena mereka tidak dapat menjaga hubungan. Percaya bahwa orang seperti itu dapat mencintai Allah Yang Maha Kuasa atau bahwa Allah dapat mencintai mereka sama sekali tidak rasional. ” (Ta’alluq Billah , Anwar-ul-Ulum , Vol. 23, hlm. 177)

5. TENGGELAM DALAM DOSA

Allah Ta’ala berfirman:

وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zholim/aaniay. (QS. Ali ‘Imran:57)

Beliau ra berabda; “Demikian pula, orang berdosa, artinya benar-benar condong ke arah dosa, tidak bisa disayangi oleh Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa. Keadaan orang berdosa seperti itu mirip dengan pelanggar hukum besar. Orang yang memiliki kebiasaan melanggar hukum dunia ini niscaya akan melanggar hukum Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa dengan cara yang sama… Siapapun yang berpikir, ‘Halangan apa yang terletak pada saya yang melanggar hukum ini atau hukum itu?”. Juga akan terus melanggar hukum Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa dan tidak akan mematuhinya” (Ta’alluq Billah , Anwar-ul-Ulum , Vol. 23, hlm. 177).

6. MENIKMATI KESENANGAN SEMENTARA

Orang yang bersukacita, artinya orang yang merasakan kenikmatan total pada kenikmatan sementara juga tidak bisa dicintai oleh Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa. Allah Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡفَرِحِیۡنَ

Sesungguhnya, Allah tidak menyukai mereka yang bersuka ria/sombong. (QS. Al-Qashash: 76)

Beliau r.a. bersada; “Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa tidak akan pernah bisa mewujudkan cinta-Nya kepada orang yang bersukacita dalam hal-hal kecil dan kecil… Memang benar bahwa keberhasilan kecil pun karena rahmat Allah Ta’ala dan juga benar bahwa kita telah diajar untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala untuk setiap suka dan duka. Tetapi mengapa manusia harus menjadi begitu lesu dan puas dengan kesuksesan kecil sehingga hatinya menjadi tidak terkalahkan dalam mencapai prestasi besar? Dia harus berjuang untuk menghancurkan bintang-bintang di langit. Dia harus membuat tujuannya begitu luhur, sedemikian rupa sehingga tujuannya terlihat kecil baginya dan dia menyadari bahwa dia perlu terbang lebih tinggi… Tapi orang yang bersukacita atas kemenangan kecil tidak akan pernah bisa menyatakan tujuan luhur sebagai tujuannya. Tidak ada keraguan bahwa setiap kali Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa menganugerahkan nikmat-Nya kepada orang beriman, orang beriman akan menyatakan:

اَلْحَمْدُلِلّٰہِ [Artinya ‘Segala puji adalah milik Allah’]

“Tapi dia juga menyatakan bahwa untuk Nikmat ini:

اَلْحَمْدُلِلّٰہِ [Artinya ‘Segala puji adalah milik Allah’]

“’Tapi tujuanku masih cukup jauh.’ Kemudian orang percaya dianugerahi bantuan ilahi lainnya dan sekali lagi menyatakan:

اَلْحَمْدُلِلّٰہِ [Artinya bahwa ‘Segala puji adalah milik Allah’]

“Aku berterima kasih, ya Allah, atas nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku, tetapi aku ingin mencapai-Mu. Hal-hal kecil ini bukanlah tujuan saya”. Dengan cara ini, orang beriman maju selangkah demi selangkah dan akhirnya, dia mencapai Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa.” (Ta’alluq Billah , Anwar-ul-Ulum , Vol. 23, hal 180-181)

7. MENCIPTAKAN KEKACAUAN

Allah Ta’ala  Yang Maha Kuasa menyatakan:

اِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِیۡنَ

Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang berbuat kekacauan. (Surah al-Qashash: 77 )

Beliau ra bersabda: “Yang benar adalah bahwa Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa adalah Pencipta dan Pemelihara semua ciptaan. Bagaimana Pencipta dan Pemelihara ciptaan-Nya mencintai orang yang mencoba membuat kerusakan dan kekacauan di antara ciptaan-Nya? Seorang ibu tidak akan pernah bisa mencintai siapapun yang membenci anaknya. Karena semua ciptaan adalah milik Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa, maka sangat jelas terlihat bahwa Allah Ta’ala tidak akan pernah bisa mencintai siapapun yang menciptakan kekacauan/kerusakan dan memicu konflik di antara manusia” (Ta’alluq Billah , Anwar-ul-Ulum , Vol. 23, hlm.181-182).

8. TIDAK BERTERIMA KASIH

Beliau ra bersada: “Orang yang tidak tahu berterima kasih tidak bisa mencintai Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa, demikian pula Allah Yang Maha Kuasa tidak bisa mencintainya, karena kemurahan adalah sarana cinta. Jika seseorang tidak bersyukur, itu berarti mereka tidak dapat melihat kemurahan hati. Seseorang yang tidak dapat melihat kemurahan hati tidak dapat mencintai Allah Yang Maha Kuasa karena pintu utama menuju cinta Allah Ta’ala adalah kemurahan-Nya. 

Allah Ta’ala Berfirman:

اِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ کُلَّ خَوَّانٍ کَفُوۡرٍ

Sesungguhnya Allah tidak mencintai setiap orang yang berkhianat, lagi ingkar/tidak tahu berterima kasih. (QS. Al-Hajj: 38)

“Tidak bersyukur adalah orang yang menyaksikan nikmat Allah Ta’ala dan tetap tidak menanamkan rasa syukur dalam diri mereka, seolah-olah pengakuan kemurahan tidak ada di dalam diri mereka. Dan apa yang bisa dicapai seseorang yang tidak melihat kemurahan Allah Ta’ala dan menyatakan, ‘Apa yang telah saya terima?’ Bahkan jika Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa memberikan cintanya padanya, orang ini akan berkata, ‘Aku belum diberi apapun.’ Di tempat lain dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa menyatakan:

لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ

Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak padamu. (QS. Ibrahim: 7)

“[Dengan kata lain] ‘Aku akan meningkatkan bantuan-Ku kepadamu sesuai dengan tingkat rasa syukur yang kamu tunjukkan dan jika kamu menunjukkan rasa tidak bersyukur, Aku akan menurunkan bantuan-Ku kepadamu sesuai dengan itu.” ( Ta’alluq Billah , Anwar-ul-Ulum , Vol. 23, hlm.183 )

9. MELAMPAUI BATAS

“Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa menyatakan:

اِنَّہٗ لَا یُحِبُّ الۡمُسۡرِفِیۡنَ

Sesungguhnya, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampui batas. (QS. Al-An’am: 141)

Beliau ra bersabda; “Orang yang melampaui batas lebih menyukai dirinya sendiri dan kesenangan nafsunya di atas masalah dan kenyamanan orang lain. Siapa yang suka orang yang tidak suka menghabiskan uang di jalan hamba Allah dan lebih suka menghabiskan uang untuk dirinya sendiri?

Jadi, jika kita tidak menggunakan kekayaan, pengetahuan, rasa hormat dan ketenaran kita untuk membantu orang-orang yang kepadanya Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa memberi kita kekayaan, pengetahuan, rasa hormat dan ketenaran ini dan lebih asyik dengan kesenangan nafs kita saja, maka harapan apa yang bisa kita tahu bahwa Allah Ta’ala kita akan mencintai kita? ” ( Ta’alluq Billah , Anwar-ul-Ulum , Vol. 23, hlm. 183-184)

10. TIDAK ADIL/ANIAYA

Allah Yang Maha Kuasa berfirman:

وَ اللّٰہُ لَا یُحِبُّ الظّٰلِمِیۡنَ

Dan Allah tidak mencintai orang-orang yang aniaya. (QS. Ali-Imran: 140)

Beliau ra bersabda; “Ketidak-adilan dan cinta tidak bisa terjadi bersamaan. Dia yang tidak adil, paling mencintai dirinya sendiri dan dia yang paling mencintai dirinya sendiri, tidak bisa mencintai orang lain. Selain itu, sangat tidak mungkin seseorang mencintai Allah Ta’ala, padahal pada saat yang sama tidak adil kepada hamba-hamba Allah. Kita juga harus ingat bahwa cinta adalah emosi yang berhubungan dengan kelembutan, sedangkan ketidakadilan adalah emosi yang berhubungan dengan kekerasan. Cinta menuntut seseorang untuk mengorbankan miliknya sendiri, sementara ketidakadilan menuntut seseorang untuk mengorbankan milik orang lain. Karenanya, ini adalah dua emosi yang kontradiktif. Jadi, orang yang tidak adil tidak dapat mencintai Allah Yang Maha Kuasa, dan Allah Ta’ala  Yang Maha Kuasa juga tidak dapat mencintai mereka. ” (Ta’alluq Billah , Anwar-ul-Ulum , Vol. 23, hlm. 184-185)

Semoga kita para Ahmadi dapat meninggalkan sepuluh keburukan tadi yang dapat menghalangi kedekatan kita dengan Allah Ta’ala. Mudah-mudahan kehidupan kita para Ahmadi dapat berjalan dengan pertolongan Ilahi guna meraih kedekatan dengan Ilahi. Aamiin.

admin

Related Posts

BAGAIMANA CARA DAN SARANA-SARANA MERAIH KEBAHAGIAN YANG HAQIQI

BAGAIMANA CARA DAN SARANA-SARANA MERAIH KEBAHAGIAN YANG HAQIQI

Meneladani Kanjeng Nabi Muhammad saw

Meneladani Kanjeng Nabi Muhammad saw

MENSYUKURI NIKMAT ALLAH DAN PENGORBANAN YANG HAKIKI

MENSYUKURI NIKMAT ALLAH DAN PENGORBANAN YANG HAKIKI

Mustika Hidup

Mustika Hidup

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *