“WALLAAHU A’LAM BISH-SHAWAAB”: Antara Keterbatasan Hamba dan Kemahaluasan Sang Pencipta

“WALLAAHU A’LAM BISH-SHAWAAB”: Antara Keterbatasan Hamba dan Kemahaluasan Sang Pencipta

Oleh: Mln. Zafar Ahmad Khudori (Muballigh Jmt. Kebumen dsk./Jateng 2)

“Wallaahu a’lam bish-shawaab” merupakan kalimat yang biasa ditemukan dalam sebuah tulisan atau artikel keagamaan Islam (juga dalam sebuah pembicaraan, seperti pidato atau sekedar obrolan) yang berarti “dan Allah lebih tahu yang benar/yang sebenarnya”.

Tujuan penulisan atau perkataan “wallaahu a’lam bish-shawaab” adalah untuk menujukkan bahwa Allah s.w.t.-lah Yang Mahatahu atau lebih tahu segala sesuatu daripada hamba-Nya. Karena kebenaran yang dituliskan oleh penulis/pembicara tersebut bersifat relatif, nisbi dan juga oleh karena manusia merupakan tempat salah dan lupa.

Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan bahwa Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata yang artinya, “Wahai sekalian manusia, siapa yang mengetahui tentang sesuatu, sampaikanlah. Dan jika tak tahu, ucapkanlah, Allaahu a’lam (Allah Mahatahu). Karena, sungguh termasuk bagian dari ilmu, jika engkau mengucapkan sesuatu yag tidak kau ketahui dengan ucapan: Allaahu a’lam”. [www.griyaalquran.id]

Kata “wallaahu a’lam bish-shawaab” itu sejatinya lebih dari sekedar jargon. Ini adalah upaya tadib(pembiasaan) agar kita selalu ingat bahwa penjelasan yang kita sampaikan hanyalah upaya ‘mendekati’ kebenaran, rendah hati dalam beragama dan mengimami serta menghidupkan pemilik kebenaran sejati adalah Allah dan kita tak punya otoritas dalam menentukan bahwa pendapat kita mewakili kebenaran Allah. Sebab apa yang kita sampaikan boleh jadi tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah.

Spirit “wallaahu a’lam bish-shawaab” inilah yang menjadikan Islam sebagai agama yang mempunyai kekayaan tafsir, pendapat, pandangan, tradisi, kebudayaan dan khazanah literasi. Sebab ada ruang untuk menyampaikan pendapat tanparasa takut, sebab masing-masing sadar bahwa masing-masing sedang menghampiri dan mendekati kepada kebenaran dengan melalui kajian serius dan sadar betul bahwa kebenaran sejati hanya milik Allah [Mukti Ali Qusyairi: Ketua LBM PWNU DKI Jakarta].

KETERBATASAN PENGETAHUAN MANUSIA

Hadhrat Mirza Tahir Ahmad r.h. dalam bukunya “Wahyu, Rasionalitas, Pengetahuan dan Kebenaran”(2014: 621-622) menjelaskan bahwa pengetahuan manusia amat terbatas dan dilingkari di segala sisinya oleh ruang ‘tidak kelihatan’ yang tak bertepi. Apa yang diketahui manusia tentang masa lalu, masa kini dan masa depan ibarat secercah sinar kecil tidak lebih dari kelap-kelip buntut seekor kunang-kunang di tengah samudra kegelapan.

Meski kelihatannya manusia telah berhasil memperluas cakrawala pengetahuannya sampai ke tepi alam semesta dengan bantuan ilmu astrofisika dan matematika lanjutan, ternyata fakta yang dilihat dari tepi alam semesta itu adalah sinyal-sinyal yang dilepaskan benda-benda angkasa itu sekitar 18 atau 20 milyar tahun yang lalu. Apa yang kemudian terjadi setelah itu atau apa yang terdapat sekarang di sana jadinya hanya merupakan dugaan belaka.

Dengan menyisihkan tentang masa depan dan masa lalu, pengetahuan tentang masa kini pun masih sebagian besar berada di luar ruang lingkup kesadaran manusia. Apa yang benar-benar diketahui seseorang tentang segala kejadian di luar rumahnya, di jalan, kota atau pun negeri huniannya? Semua berita media jika dikumpulkan pun masih juga belum mencakup sepermilyar dari apa yang terjadi di dunia sekelilingnya.

Bukan itu saja. Apa yang benar-benar diketahui manusia tentang orang-orang yang sepertinya dikenal di antara kawan dan kerabat dekat? Mengungkap apa yang ada di balik raut muka seseorang dan membaca apa yang sebenarnya yang ada di dalamnya, nyatanya lebih sulit dibanding mencoba melihat apa yang terdapat di dasar sebuah kolam yang keruh. 

Dalam kedua hal itu orang hanya bisa melihat tampilan yang tercermin di permukaan saja, cuma bedanya kalau kolam tidak bisa mencipta tampilan yang keliru. Tergantung cuaca dan musim, kolam tetap saja berwajah tunggal sedangkan manusia tidak demikian.

Kerumitan kejiwaan manusia, keragaman suasana hati dan perilaku, variasi tolok ukur akhlak dan filosofi yang dianut, sikap dan perbedaan fitrat otak dan hati, kedangkalan atau kebijakan perilaku mereka, adalah hal-hal yang tidak ditemukan pada sebuah kolam. Bahkan apa yang terjadi di dalam batinnya sendiri pun terkadang tidak disadari manusia.

Namun nyatanya sedikit sekali dari manusia yang mengenal kerendahan hati. Jarang sekali mereka mampu menyadari sumber utama kebenaran; dan mata air dari Pengetahuan Hakiki hanya ada pada sang Pencipta. Hanya Dia saja Yang mengetahui sepenuhnya segala rahasia dari ciptaan-Nya. Hanya Dia saja yang Maha Melihat, Maha Mengetahui dan Maha Agung.

Pengetahuan merupakan prasyarat proses penciptaan, apakah itu berkaitan dengan Ilahi atau manusia, besar atau pun kecil. Tanpa suatu pengetahuan yang mendalam tentang apa yang akan dicipta, tidak akan ada tujuan penciptaan yang mungkin bisa dicapai.

Karena itu hanya sang Pencipta sendirilah yang mengetahui seluk-beluk dan kompleksitas suatu ciptaan dan karena itu juga maka fitrat Maha Mengetahui hanyalah milik Tuhan semata. Sifat Maha Mengetahui ini mencakup keseluruhan pengetahuan tentang segala hal di alam semesta yang hanya dimiliki Tuhan serta tidak dimiliki yang lainnya. 

HANYA ALLAH s.w.t. YANG MAHATAHU 

Di dalam Al-Quran, dengan firman-Nya Sendiri, Allah s.w.t. memperkenalkan salah satu sifat-Nya yaitu Al-‘Aliim (Yang Mahatahu).

Berikut ini beberapa Ayat dan tafsirnya dari “Al-Qur’an dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat karya (editor) Malik Ghulam Farid [2014] yang menjelaskan Kemahatahuan Allah s.w.t.:

AYAT KURSI ADALAH AYAT TENTANG KELUASAN ILMU ILAHI

Allah s.w.t. berfirman: “Allah, tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Tegak atas Dzat-Nya sendiri dan Penegak segala sesuatu. Kantuk tidak menyerang-Nya dan tidak pula tidur. Kepunyaan Dia-lah apa yang di seluruh langit dan apa yang ada di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafaat di hadirat-Nya kecuali dengan izin-Nya? Dia mengetahui (ya’lamu) apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka; dan mereka tidak meliputi barang sesuatu dari Ilmu-Nya (‘ilmihii) kecuali apa yang Dia kehendaki. Ilmu-Nya (kursiyyuhu) meliputi seluruh langit dan bumi; dan tidaklah memberatkan-Nya menjaga keduanya; dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar” [QS 2/Al-Baqarah: 256].

Maulana M.G. Farid menjelaskan bahwa salah satu arti kursiy  adalah ilmu. Sedang arti lainnya adalah: singgasana, kursi, tembok penunjang; kedaulatan dan kekuasaan (Aqrab). Karoosi  itu jamak dan berarti: orang-orang terpejar [Tafsir no. 318].

PERBEDAAN PENGETAHUAN ANTARA: ALLAH, NABI DAN MALAIKAT

Allah s.w.t. berfirman: “Dan ketika Tuhan engkau berkata kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi;’ berkata mereka, ‘Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya orang yang akan membuat kekacauan di dalamnya dan akan menumpahkan darah? Padahal kami bertasbih dengan pujian Engkau dan kami mensucikan Engkau.’ Berfirman Dia, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui (a’lamu)apa yang tidak kamu ketahui (ta’lamuun)’” [QS 2/Al-Baqarah: 31].

Maulana M.G. Farid menjelaskan bahwa para malaikat menyebut segi gelap tabiat manusia sedangkan Allah s.w.t. menyebut segi terang tabiat manusia. Yaitu bahwa para malaikat tidak mengemukakan keberatan terhadap rencana Ilahi atau mengaku diri mereka lebih unggul dari Adam a.s..

Pertanyaan mereka didorong oleh pengumuman Tuhan mengenai rencana-Nya, untuk mengangkat seorang khalifah. Wujud khalifah diperlukan bila tertib harus ditegakkan dan hukum harus dilaksanakan. Keberatan semu para malaikat menyiratkan bahwa akan ada orang-orang di bumi yang akan membuat kekacauan dan menumpahkan darah. Karena manusia dianugerahi kekuatan-kekuatan besar untuk berbuat baik dan jahat, para malaikat menyebut segi gelap tabiat manusia; tetapi Tuhan mengetahui bahwa manusia dapat mencapai tingkat akhlak yang demikian tingginya, sehingga ia dapat menjadi cermin sifat-sifat Ilahi.

Kata-kata, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, menyebutkan segi terang tabiat manusia [Tafsir no. 58].

Maulana M.G. Farid menjelaskan bahwa para malaikat bertanya dengan tujuan untuk mencari ilmu yang lebih tinggi mengenai sifat dan hikmah pengangkatan Adam a.s. sebagai khalifah; bukan sebagai celaan terhadap perbuatan Tuhan [Tafsir no. 59].

ALLAH s.w.t. MENGAJAR ADAM a.s. TENTANG ASMAA-UL HUSNAA

Allah s.w.t. berfirman: “Dan, Dia mengajarkan (‘allama) kepada Adam nama-nama (Al-Asmaa’) semuanya (kullahaa), kemudian Dia mengemukakannya (‘aro-dhohum) kepada para malaikat dan berfirman, ‘Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama ini jika kamu berkata benar’” [QS 2/Al-Baqarah: 32].

Maulana M.G. Farid menjelaskan bahwa Asmaa’ itu jamak dari ism yang berarti: nama atau sifat; ciri atau tanda sesuatu (Lane dan Mufradat).

Para ahli tafsir berbeda paham mengenai apa yang dimaksudkan dengan kata asmaa’ (nama-nama) di sini. Sebagian menyangka bahwa Tuhan mengajar Adam a.s. nama berbagai barang dan benda yaitu Tuhan mengajar beliau dasar-dasar bahasa. Tidak diragukan bahwa orang memerlukan bahasa untuk menjadi beradab dan Tuhan tentu telah mengajari Adam a.s. dasar-dasarnya tetapi Al-Quran menunjukkan bahwa ada asmaa’ (nama atau sifat) yang harus dipelajari manusia untuk penyempurnaan akhlaknya.

Nama-nama itu disinggung dalam QS 7:181 (yaitu tentang Al-Asmaa-ul Husnaa). Ini menunjukkan bahwa orang tidak dapat meraih makrifat Ilahi tanpa tanggapan dan pengertian yang tepat tentang sifat-sifat Tuhan dan bahwa sifat-sifat itu hanya dapat diajarkan oleh Tuhan. Maka sangat perlu bahwa Tuhan mula-mula memberi Adam (manusia) ilmu tentang sifat-sifat-Nya supaya ia mengetahui dan mengenal Tuhan dan mencapai kedekatan kepada Tuhan dan jangan melantur jauh dari Dia [Catatan Tafsir no. 62].

PERBEDAAN ADAM DAN MALAIKAT DALAM MENERAPKAN ASMAA-UL HUSNAA

Menurut Al-Quran manusia berbeda dari malaikat dalam hal bahwa menusia dapat menjadi bayangan atau pantulan dari Al-Asmaa-ul Husna yaitu semua sifat Tuhan yang sempurna, sedang malaikat hanya sedikit saja mencerminkan sifat-sifat itu. Pada malaikat tidak punya kehendak sendiri, tetapi secara pasif menjalankan tugas yang telah diserahkan kepadanya oleh Yang Maha Kuasa (QS 66:7).

Sebaliknya, manusia yang dianugerahi kemauan dan kebebasan memilih, berbeda dengan para malaikat dalam hal bahwa manusia mempunyai kemampuan yang menjadikan dia penjelmaan sempurna semua sifat Ilahi.

Pendek kata, Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan mula-mula menanamkan pada Adam a.s. kemauan yang bebas dan kemampuan yang diperlukan untuk memahami berbagai sifat Ilahi, dan kemudian memberikan ilmu tentang sifat-sifat itu kepadanya. 

Asmaa’ dapat berarti pula: sifat-sifat berbagai benda alam. Karena manusia harus mempergunakan kekuatan-kekuatan alam, Tuhan menganugerahkan kepadanya kemampuan dan kekuasaan untuk mengetahui sifat-sifat dan khasiat-khasiatnya.

Maulana M.G. Farid menjelaskan bahwa kata semuanya (kullahaa) di sini, tidak meliputi keseluruhan secara mutlak. Kata itu hanya berarti: semua yang perlu. Al-Quran memakai kata itu dalam arti ini juga di tempat lain (QS 6:45; 27:17, 24; 28:58) [Catatan Tafsir no. 62a].

KETERBATASAN MALAIKAT

Maulana M.G. Farid menjelaskan bahwa kata pengganti hum (mereka) menunjukkan bahwa apa-apa yang disebut di sini bukan benda-benda tak-bernyawa; sebab dalam bahasa Arab kata pengganti dalam bentuk ini hanya dipakai untuk wujud-wujud berakal saja.

Jadi arti ungkapan itu akan berarti bahwa Tuhan menganugerakan kepada para malaikat kemampuan melihat siapa yang menonjol ketakwaannya dari antara keturunan Adam a.s. yang akan menjadi penjelmaan sifat-sifat Ilahi kelak hari.

Kemudian para malaikat ditanya apakah mereka sendiri dapat menjelmakan sifat-sifat Ilahi seperti mereka itu. Atas pertanyaan itu mereka menyatakan ketidakmampuan.

Itulah yang dimaksud dengan kata-kata “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama ini,” yang tercantum pada Ayat ini [Catatan Tafsir no. 62b].

KERENDAHAN HATI MALAIKAT

“Berkata mereka, ‘Mahasuci Engkau! Kami tidak mempunyai ilmu (‘ilma) selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami (‘allamtanaa). Sesungguhnya Engkau Yang Maha Mengetahui (Al-‘Aliimu), Mahabijaksana’”[QS 2/Al-Baqarah: 33].

Maulana M.G. Farid menjelaskan bahwa karena pada malaikat menyadari batas-batas pembawaan alam mereka, mereka mengakui dengan terus-terang bahwa mereka tak mampu mencerminkan semua sifat Tuhan seperti dicerminkan oleh manusia; artinya, mereka hanya dapat mencerminkan sifat-sifat Ilahi yang untuk itu Tuhan –sesuai dengan kebijaksanaan-Nya yang kekal-abadi– telah menganugerahkan kepada mereka kekuatan mencerminkan [Catatan Tafsir no. 63].

PENGETAHUAN MANUSIA ADALAH BUKTI KEMAHATAHUAN ALLAH

“Dia berfirman, ‘Hai Adam, sebutkanlah kepada mereka nama-nama itu,’ maka tatkala disebut kannya kepada mereka nama-nama itu, berfirman Dia, ‘Bukankah telah Aku katakan kepadamu, sesungguhnya Aku mengetahui (a’lamu) rahasia seluruh langit dan bumi, dan mengetahui (a’lamu) apa yang kamu zahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?’” [QS 2/Al-Baqarah: 33].

Maulana M.G. Farid menjelaskan bahwa ketika para malaikat mengakui ketidakmampuan untuk menjelmakan dalam diri mereka sendiri, semua sifat Ilahi yang dapat dijelmakan Adam a.s. maka Adam a.s.dengan patuh kepada kehendak Ilahi menjelmakan berbagai kemampuan tabi’i (alami) yang telah tertanam dalam dirinya dan menampakkan kepada para malaikat pekerti mereka yang luas.

Jadi kejadian Adam membuktikan perlunya penciptaan suatu wujud yang mendapat kemampuan dari Tuhan untuk berkehendak atau beriradah sehingga ia dapat dengan kehendak sendiri, memilih jalan kebaikan (atau keburukan) dan karena itu dapat menampakkan kemuliaan dan keagungan Tuhan [Catatan Tafsir no. 64].

NABI MUHAMMAD s.a.w. JUGA BUKAN YANG MAHATAHU

Allah s.w.t. berfirman, “Dan pada sisi-Nya kunci-kunci segala yang gaib; tiada yang mengetahuinya (ya’lamuhaa) kecuali Dia. Dan Dia mengetahui (ya’lamu) apa yang ada di daratan dan di lautan. Dan tidaklah gugur sehelai daun pun melainkan Dia mengetahuinya (ya’lamuhaa); dan tiada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis  dalam Kitab yang terang” [QS 6/Al-An’aam: 60].

Maulana M.G. Farid menjelaskan bahwa Ayat ini dan Ayat berikutnya meletakkan asas penyuluh bahwa keputusan untuk menurunkan azab atas orang-orang kafir tidak diserahkan ke tangan Rasulullah s.a.w.sebagaimana dituntut oleh mereka. Jika demikian halnya, sudah lama mereka akan menemui ajal mereka, lalu barangkali banyak dari orang-orang yang dahulunya merupakan musuh Islam seperti Umar (r.a.) dan Khalid (r.a.) yang kemudian ditakdirkan memainkan peranan penting dalam melebarkan sayap serta menegakkan kekuasaan Islam niscaya akan meninggal dunia dalam keadaan kafir.

Akan tetapi, oleh karena Tuhan itu Maha Kuasa, Dia lambat sekali menghukum dan karena mengetahui sepenuhnya tentang gerak-gerik batin manusia maka Dia mengetahui bila dan siapa yang harus dihukum. Dia Sendiri mengetahui betapa jauh kesukaran-kesukaran atau kesenangan-kesenangan dapat mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia, dan apakah mungkin jadi hapus atau sia-sia oleh bekerjanya sebab-sebab lain. Dia Sendiri mengetahui benih-benih kebaikan yang tertanam di dalam hati manusia dan mengetahui apakah mungkin atau tidak, benih-benih itu akan bersemi lalu tumbuh dan berkembang subur lalu menghasilkan buah. Hanya Dia Sendiri Yang dapat mengatakan apakah seseorang yang nampaknya “kering” dan “kosong dari segala kehidupan rohani” akan menjadi “hijau” bila siraman air ataukah ia “mati” dan tak bisa dihidupkan lagi.

Pendek kata, hanya Tuhan Yang mempunyai pengetahuan sepenuhnya tentang yang tersembunyi; dan karena itu hanya Dia Sendiri pula Yang dapat mengatakan siapa harus dihukum dan siapa tidak [Catatan Tafsir no. 854].

PERBEDAAN PENGETAHUAN MANUSIA DAN BURUNG

Dr. Irwin A. Moon dalam bukunya “Suatu Pendekatan Ilmiah: Alam Berkisah tentang Allah”memaparkan bahwa manusia telah berhasil menemukan alat-alat navigasi yang tepat (alat untuk menentukan jalan yang benar); sekstan (alat untuk menentukan tempat kapal di laut), antenna, radar, siaran radio yang dapat ditangkap dari semua arah, dan sistem pengendalian.

Alat-alat buatan manusia semakin lama semakin rumit. Tetapi dapatkah alat-alat itu dibandingkan dengan alat-alat pada burung dalam hal kesederhanaan, keringkasan dan kecermatannya?

Merpati pos misalnya, kalau dilepaskan 800 km dari kandangnya, akan terbang tinggi, berputar beberapa saat, lalu terbang langsung kekandangnya melalui daerah-daerah yang tidak dikenalnya, tanpa membuat kesalahan.

Tetapi kecakapan burung merpati tidak seberapa, jika dibandingkan dengan kecakapan burung golden plover di Samudera Pasifik. Burung laut yang menakjubkan ini berkembang biak di sebelah timur Siberia dan di  Alaska, tetapi melewatkan musim dingin di Hawai –3.200 km jauhnya dari tempat berkembang biak, melintasi samudera raya.

Yang lebih mengherangkan lagi ialah bahwa beberapa minggu setelah burung-burung itu meninggalkan tempat mereka, anak-anak mereka menyusul tanpa dipimpin. Apakah yang mendorong anak-anak burung itu terbang ke pulau kecil yang belum pernah dilihat mereka? Apakah yang memungkinkan mereka mencapai itu?

Pengembara yang paling hebat ialah burung laut di Kutub Utara. Mulai dari delapan derajat di Kutub Utara, burung ini terbang hampir sampai ke Kutub Selatan, dan kemudian kembali lagi ke Utara dalam musim semi. Ini merupakan perjalanan keliling sejauh 35.200 km yaitu jarak perpindahan tahunan yang paling jauh.

Burung plover di Amerika berpindah dari Alaska ke Argentina. Mereka terbang di atas daratan ke Labrador, terus ke Selatan ke Brazil melintasi laut terbuka sejauh 2.000 mil ke Brazil; dan kemudian di atas daratan lagi ke tempat mereka bermukim selama musim dingin. Mereka kembali dengan mengambil jalan yang lain. Anak-anak burung ini pun mengadakan perjalanan sendiri tanpa bimbingan burung-burung yang lebih tua.  

DI BALIK KETERBATASAN PENGETAHUAN MANUSIA

Ajahn Brahm dalam bukunya “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya” (2!) [2015: 177] bercerita bahwa ada orang yang pernah datang ke Wihara Bodhinyana dan menceritakan kisah nyata yang mengubah hidupnya.

Ia adalah seorang pengusaha Australia yang sedang melakukan perjalanan bisnis ke Mumbai, dan setelah menyelesaikan urusannya, ia berencana terbang ke Inggris. Ia memesan taksi dari hotelnya, “Antar saya ke Bandara.”

Taksi itu membawanya ke Bandara, namun salah jalan dan nyasar. Kadang para supir taksi ini, bahkan meski mereka bekerja di tengah kota, mereka sering tidak tahu jalan. Akibatnya taksi kesasar, waktu makin mepet, pesawat segera terbang.

Orang Australia ini makin lama makin cemas, kesal, bahkan marah, “Cepat antar saya ke bandara! Tanya polisi! Tanya siapa pun! Pokonya bawa saya ke sana secepat mungkin!”

Harapan terakhir yang ia punya adalah semoga pesawatnya ditunda terbang. Namun ketika sampai di bandara, ia bisa melihat pesawatnya sudah lepas landas, terbang ke angkasa, “Supir sialan! Aku ketinggalan pesawat!” (maaf, ini cerita ala Ajahn Brahm).

Kemudian ia melihat pesawat itu mendadak turun lagi, lalu jatuh! Seluruh penumpangnya tewas! Ia menyaksikan itu …, termangu …, lalu berkata, “Aduuuh, terima kasih supir taksi!” Ia pun memberikan tip besar ke supir taksi itu. Namun ada sesuatu yang mengubah seluruh hidupnya.

BAHAN BACAAN

Brahm, Ajahn (2015). Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya (2!). Jakarta Barat: Awareness Publication.

Farid, Malik Ghulam (editor) [2014]. Al-Qur’an dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat. Jakarta Barat: Neratja Press.

Moon, Dr. Irwin A. (tanpa tahun). Suatu Pendekatan Ilmiah: Alam Berkisah tentang Allah. Bandung: Yayasan Kalam Hidup.

www.griyaalquran.id : 15/10/2019.

www.islami.co : 16/10/2019.

admin

Related Posts

Mustika Hidup

Mustika Hidup

Inilah Yang Menentukan Anda Kaya atau Miskin

Inilah Yang Menentukan Anda Kaya atau Miskin

PILKADA SERENTAK & PEMERINTAHAN YANG BAIK MENURUT ISLAM

PILKADA SERENTAK & PEMERINTAHAN YANG BAIK MENURUT ISLAM

MAKNA HIJRAH DAN AKTUALISASINYA DALAM KEHIDUPAN MUSLIM AHMADI

MAKNA HIJRAH DAN AKTUALISASINYA DALAM KEHIDUPAN MUSLIM AHMADI

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *