Rahasia Pengabulan Doa bagi Orang Mukmin

Rahasia Pengabulan Doa bagi Orang Mukmin

Oleh: Mln. C. Sofyan Nurzaman Wahhab (Cirebon)

Dalam setiap agama di dunia telah mengajarkan umatnya untuk selalu berdoa kepada Tuhannya. Karena doa merupakan sebuah sarana bagi para hamba-Nya untuk  berkomunkasi dengan sang Khalik. Begitu juga dalam agama Islam, senantiasa diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. agar umatnya memberikan perhatian khusus terhadap doa.

Bahkan, dalam ajaran Islam kedudukan doa begitu penting dalam kehidupan di dunia ini dan doa juga merupakan senjata bagi orang-orang mukmin. Terbukti dari sejarah perjalanan hidup Rasulullah saw. yang setiap waktu tidak terlepas dari memajatkan doa kepada Allah Ta’ala. Sehingga dalam setiap keberhasilan dan kesuksesan perjuangan da’wah beliau saw. adalah berkat doa beliau saw. yang dikabulkan oleh Allah Ta’ala.

Dalam membahas masalah doa tentu saja banyak perkara yang harus dipahami, karena selalunya harapan dari seseorang yang memanjatkan doa adalah sebuah pengabulan doanya yang cepat. Namun demikian dengan berbagai alasan, kita menyaksikan bahwa sedemikian rupa doa-doa yang dipanjatkan oleh seorang hamba-Nya terkadang dikabulkan dan juga ditolak oleh Allah Ta’ala. Mengapa Allah Ta’ala melakukan demikian?

Dalam tulisan ini akan diuraikan tentang rahasia pengabulan dan tidak dikabulkannya sebuah doa bagi orang Mukmin. Semoga setelah membaca tulisan ini kita bisa memahami hakikat yang sebenarnya tentang pengabulan dan tidak dikabulkannya sebuah doa. Sehingga kita akan selalu memanjatkan doa ke hadirat Allah Ta’ala dalam setiap kesempatan.

Defenisi Doa  

Sebelum membahas lebih lanjut tentang rahasia pengabulan doa, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan doa. Tanpa mengerti sepenuhnya arti tentang doa, bisa jadi akan menimbulkan pemahaman yang salah. Dalam beberapa Hadits Rasulullah saw. menjelaskan tentang doa, beliau saw. bersabda :

“Doa itu adalah otaknya ibadah” (H.R. Tirmidhi). Sebagaimana fungsinya otak dalam tubuh manusia begitu sangat pentingnya dalam mengendalikan tubuh, maka doa juga demikian sangat penting dalam menjalankan peribadahan seorang hamba. Selain itu juga Rasulullah saw. menjadikan doa sebagai senjata bagi orang mukmin dan juga sebagai tiang agama. Sebagaimana beliau saw. bersbda:

“Doa itu senjata orang yang beriman dan tiangnya agama serta cahaya langit dan bumi.” (H.R.Hakim dan Abu Yalla). Demikian pentingnya sebuah senjata untuk menyerang dan menahan musuh dalam sebuah peperangan, maka sedemikian rupa pentingnya juga doa bagi orang mukmin, karena doa akan menjadi senjatanya dalam setiap perkara. Begitu pula doa sebagai tiang agama seseorang. Sekiranya tiang sebuah rumah roboh, maka pastilah bangunan tersebut akan hancur. Doa juga adalah tiang agama, maka jika tidak ada doa dalam dirinya, pasti agama atau keyakinan seseorang akan runtuh.

Berkenaan dengan doa, Hz. Masih Mau’ud as. juga menyampaikan sebagai berikut: ”Apakah doa itu? Doa adalah suatu hubungan timbal balik antara Tuhan dengan hamba-Nya yang patuh. Tahap pertama, rahmat dan karunia Allah Ta’ala menarik seorang hamba ke arah-Nya yang bersifat Rahman; kemudian rasa terimakasih dan syukur atas anugerah karunia dan rahmat-Nya menarik ia lebih dekat lagi kepada Allah Ta’ala. Dan Tuhan pun menarik ke arah-Nya.”[1]

Selain itu juga beliau as. memaknai bahwa shalat juga merupakan sebuah doa, sebagaimana beliau as. bersabda: “Shalat adalah doa yang dialamatkan kepada Allah swt. dengan segala kerendahan jiwa dan dengan penuh kesadaran akan kesucian-Nya, kepujian-Nya, Kekudusan-Nya, dibarengi oleh hasrat yang besar dari seorang abdi Tuhan untuk memohon pengampunan dari Tuhan dan menarik berkat dari Rasulullah saw.”[2]

Kemudian Hz. Masih Mau’ud as. bersabda: “ Sarana keempat yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala untuk mencapai tujuan seberanya ialah Doa, sebagaimana Dia berfirman yakni “kamu berdolah, Aku akan kabulkan.´(Q.S. 40:61). Dan berkali-kali Dia menarik minat untuk berdoa supaya manusia bukan karena kekuatannya sendiri meraih sesuatu, melainkan dengan kekuatan Tuhan menemukan Tuhan.”[3]

Perintah Berdoa dalam Al-Quran dan Hadits

Sebenarnya Allah Ta’ala sendiri dalam Al-Quran telah memerintahkan agar hamba-hamba-Nya berdoa kepada-Nya. Bahkan Dia berjanji bahwa doa-doa yang dipanjatkan oleh hamba-Nya itu akan dikabulkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Tuhan-mu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; Aku akan mengabulkan bagi kamu. Akan tetapi orang-orang yang menyombongkan diri untuk beribadah kepada-Ku, mereka niscaya akan masuk ke dalam jahannam dalam keadaan terhina.” (Q.S. Al-Mu’min: 61)

“Dan, apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, katakanlah ”Sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-Baqarah : 186)

Kemudian Nabi Muhammad saw. menjelaskan bahwa Allah Ta’ala itu sangat senang diminta oleh hamba-Nya. Jadi berdoa dengan sebanyak-banyaknya permintaan di hadapan  Allah Ta’ala tidak akan pernah menjadi masalah. Sebagaimana beliau saw. bersabda: “Mintalah kalian kepada Allah dari anugerah-Nya. Sesungguhnya Allah senang untuk diminta.” (H.R. Tirmidhi dan Abu Nu’aim)

Waktu yang Tepat untuk Memanjatkan Doa

Untuk terkabulnya sebuah doa adalah mengetahui waktu yang tepat untuk berdoa. Dalam hal ini Rasulullah saw. telah memberitahukan dalam Hadits kapan sebaiknya doa dipanjatkan ke hadirat Allah Ta’ala. Sebagaimana beliau saw. bersabda:

 “Pada tiap malam, Tuhan kita turun ke langit dunia, ketika bersisa sepertiga malam yang akhir. Maka Allah berfirman: ”Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, pasti Kukabulkan dan siapa yang memohon kepada-Ku, pasti akan Kuberi dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, pasti akan Kuampuni.” (H.R. Malik, Bukhari dan Muslim)“Inginkah kalian aku tunjukan sesuatu yang dapat menyelamatkan kalian dari musuh-musuh dan memudahkan rizki bagi kalian? Maka berdoalah kalan kepada Allah di waktu malam dan di waktu siang. Karena sesungguhnya doa itu adalah senjatanya orang mukmin.” (H.R. Abu Ya’la)

Demikian pula Hz. Masih Mau’ud as. memberitahukan bahwa berdoa juga sangat tepat dipanjatkan di saat sedang shalat tahajud. Sebagaimana beliau as. bersabda:

 “Bangunlah di waktu malam dan berdoalah supaya Allah memperlihatkan jalan-Nya kepada kalian. Para sahabat Rasulullah saw. pun telah memperoleh tarbiyat (pendidikan) secara bertahap. Bagaimana mereka itu sebelumnya? Adalah bagaikan penyemaian bibit [oleh] seorang petani, kemudian Rasulullah saw. mengairinya.

Beliau saw. telah banyak memanjatkan doa bagi mereka. Benihnya bagus, dan tanahnya pun baik, maka akibat pengairan itu telah muncullah buah-buah yang bagus. Sebagaimana Rasulullah saw. berjalan, seperti itulah mereka berjalan. Mereka tidak menunggu siang atau malam. Bertobatlah kalian dengan hati yang benar. Bangunlah untuk tahajjud, berdoalah, luruskan (perbaikilah) hati.

Tinggalkanlah kelemahan-kelemahan, dan buatlah ucapan serta amalan kalian bersesuaian dengan kehendak Allah Ta’ala. Yakinlah, bahwa barangsiapa senantiasa mengingat nasihat ini dan secara amalan nyata memanjatkan doa, dan secara nyata membawa permohonan (doa) ke hadapan Allah, maka Allah Ta’ala akan mengaruniainya, dan di dalam hatinya akan timbul perubahan. Janganlah kalian berputus­ asa terhadap Allah Ta’ala”. (Malfuzat, jld I, hlm. 45; Pidato Pertama Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pada Jalsah Salanah, 25 Desember 1897).

Tata Cara Memanjatkan Doa

Dalam berdoa pun tetunya ada tata caranya, lalu bagaimana agar doa yang dipanjatkan dapat dikabulkan. Allah Ta’ala sendiri telah memberitahukannya dalam Al-Quran. Seorang hamba yang berdoa hendaknya bersikap dengan rendah hati tidak takabur. Dan juga dalam menyampaikan doanya hendaknya dengan suara yang rendah. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Mendengar, tidak perlu berteriak atau dengan suara lantang. Karena Allah Ta’ala tidak menyukai orang yang berlebihan. Sebagaimana Dia berfirman :

“Berdoalah kepada Tuhan-mu dengan rendah hati dan dengan suara rendah. Sesungguhnya, Dia tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas.” (Q.S. Al-A’raf :55)

Keadaan yang Tepat untuk Memanjatkan Doa

Rasulullah saw. telah memberitahukan kepada umatnya dalam Hadits keadaan seperti apa yang paling tepat untuk memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala. Diantaranya adalah di saat sedang bersujud.  Karena kondisi demikian itu merupakan keadaan yang paling merendah di hadapan Allah. Jadi ketika sedang bersujud merupakan kesempatan baik untuk banyak berdoa kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana beliau saw. bersabda:

“Jarak yang paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya ialah ketika sujud. Maka perbanyaklah berdoa.” (H.R. Muslim)

Rasulullah saw.bersabda: “Hai manusia sesungguhnya zat yang kamu seru itu tidak tuli dan tidak jauh, sesunggunya Tuhan yang kamu seru itu ada diantara kamu dan diantara leher kendaraan kamu.” (HR. Bukhori, Muslim)

“Barangsiapa yang menginginkan doanya dipenuhi Allah ketika dalam kesulitan, maka hendaklah ia memperbanyak doa di waktu lapangnya.” (H.R. Tirmidhi dan Hakim)

Diawali Berzikir untuk Terkabulnya Doa

Salah satu agar doa dikabulkan oleh Allah Ta’ala adalah perlu diawali oleh zikir tasbih dan tahmid. Sebagaimana disampaikan Hz. Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra. sebagai berikut:

“Doa-doa para pelaku zikir dikabulkan oleh Allah. Doa-doa yang kita jumpai di dalam Al-Quran, yang pertama-tama disebut adalah tasbih dan tahmid. Doa yang pertama adalah surah Al-Fatihah yang dimulai dengan bismillahirahmanirahin… Dia berfirman ini adalah doa, tetapi yang pertama diletakan oleh Allah Ta’ala adalah zikir dan sesudah itu doa. Seperti halnya di dunia ini kita melihat bahwa kalau seseorang hendak memohon sesuatu kepada orang lain, maka tindakan pertama ia akan merayu dengan cara memuji-mujinya, kemudian barulah ia menyampaikan permohonannya. Demikian pula halnya manusia, kalau ia mau menghadap kepaada Tuhan. Hendaknya ia lebih dahulu menyebut kekuasaan Tuhan dan menyatakan ketidak berdayaan dirinya.”[4]

Syarat-Syarat Pengabulan Doa

Dalam pengbulan doa diperlukan syarat-syarat yang harus dipenuhi diataranya sebagaimana Hz. Masih Mu’ud as. bersabda:

 “Untuk pengabulan doa pun terdapat beberapa persyaratan. Sebagian adalah berkaitan dengan orang yang memanjatkan doa, sedangkan sebagian lagi berkaitan dengan orang yang minta didoakan. Adalah penting bagi orang yang minta didoakan bahwa dia hendaknya memperhatikan rasa takut dan khauf terhadap Allah Ta’ala, dan setiap saat takut terhadap sifat-Nya Al-Ghanī (Yang Maha Berkecukupan), dan supaya cinta damai serta pengabdian terhadap Tuhan dijadikan sebagai cirinya (sikapnya).

 Ia hendaknya menyenangkan Allah Ta’ala dengan ketakwaan dan kejujuran (kebenaran), maka dalam keadaan demikian bagi doa akan terbuka pintu pengabulan. Dan jika ia membuat Allah Ta’ala murka serta dia menyulutkan permusuhan dan peperangan terhadap-Nya, maka kelancangan-kelancangan dan kesalahan-kesalahannya akan menjadi suatu halangan dan hambatan bagi [pengabulan] doa, dan pintu pengabulan baginya menjadi tertutup.

Jadi, wajib bagi sahabat-sahabatku, supaya mereka menghindarkan doa-doaku dari kesia-siaan, dan jangan meletakkan suatu hambatan di jalan [doa-doa] itu, yang timbul dari ulah (perbuatan) mereka yang tidak baik. Mereka itu hendaknya mengambil jalan takwa, sebab takwa itu merupakan sesuatu yang dapat disebut intisari dari syariat.” (Malfuzāt, Jld. I, hlm. 108).

Beberapa Sebab Doa tidak Dikabulkan

Allah Ta’ala telah berjanji bahwa bagi siapa saja dari antara hamba-hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya pasti akan dikabulkan. Namun dalam kenyataannya ada saja doa-doa para hamba-Nya yang tidak dikabulkan. Kondisi demikian seolah-olah bertetangan.

Padahal sama sekali tidak bertentangan, sebab Allah Ta’ala Maha Mendengar, pasti akan mendengar dan mengabulkan setiap doa para hamba-Nya. Dengan tidak dikabulkannya doa seorang hamba, artinya Allah Ta’ala sudah mendengar dan mengabulkan doanya dalam bentuk ditolaknya permohonan hamba tersebut dengan berbagai alasan yang hanya tahun Allah Ta’ala saja. Ada beberapa sebab mengapa doa yang dipajatkan tidak dikabulkan diantaranya sebagai berikut:

  1. Berdasarkan Al-Quran :

Di dalam Al-Quran dijelaskan ada tiga sebab mengapa doa seseorang tidak dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Diantaranya: (a) Allah Mengetahui mana yang baik dan buruk bagi hamba-Nya; (b) Allah mengetahui kebaikan di dalamnya; (c) Sebagai ujian dari Allah Ta’ala bagi hamba-Nya.

  1. Allah yang lebih mengetahui mana yang baik dan yang buruk

“Diwajibkan atasmu berperang, dan itu sesuatu yang kamu tidak sukai, dan boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal hal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal hal itu sangat buruk bagimu. Dan Allah swt. mengetahui dan kamu tidak mengatahui.” (Q.S. Al-Baqarah :216)

  • Allah Ta’ala yang mengetahui kebaikan di dalamnya

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagimu mewarisi perempuan-perempuan dengan paksa; dan janganlah menahan mereka dengan aniaya agar kamu dapat mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata; dan bergaullah dengan mereka secara baik-baik; jika kamu tidak menyukai mereka, maka ingatlah bahwa boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah swt. menjadikan di dalamnya banyak kebaikan.”(Q.S. An-Nisa : 19)

  • Allah Ta’ala Memberikan Ujian bagi para Hamba-Nya

“Apakah manusia menyangka, bahwa mereka akan dibiarkan berkata, “Kami telah beriman” dan mereka tidak akan diuji ?” (Q.S.Al-Ankabut : 2)

  •  Berdasarkan Hadits Nabi saw. Ditunda Pengabulannya

Rasulullah saw. juga telah menjelaskan dalam Hadits beberapa sebab mengapa doa seorang tidak dikabulkan oleh Allah Ta’ala, sebagaimana beliau as. bersabda:   

“Tidak ada seorang Muslim pun yang berdoa dengan suatu doa yang bukan doa menyangkut dosa atau menyangkut usah, memutuskan silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya dengan salah satu dari tiga kemungkinan. Segera dipenuhi-Nya doa tersebut atau disimpan-Nya sebagai simpanan pahala di akhirat, atau dihindarkannya dia dari kecelakaan atau kejelekan yang sebanding. Mereka (para sahabat) bertanya bagaimana kalau kami perbanyak? Rasul menjawab: Allah akan memperbanyak lagi.“ (H.R. Ahmad, Hakim, Abu Ya’la)

  • Berdasarkan Sabda Pendiri Ahmadiyah

Begitu juga pendiri Ahmadiyah menyampaikan sebab-sebab mengapa doa tidak dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana beliau as. bersabda :

“Juga perlu diingat bahwa hanya kerendahan diri saja belum cukup untuk suatu doa. Melainkan banyak lagi yang harus dipenuhi seperti ketakwaan, kecintaan yang sempurna, pemusatan pikiran yang sempurna. Segala sesuatu yang diminta dalam doa itu dalam pandangan Allah Ta’ala harus yang berfaedah bagi yang berdoa baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.

Banyak doa tidak dikabulkan padahal syarat-syaratnya sudah dipenuhi. Itu terjadi karena apa yang diminta dalam doa itu akibatnya tidak baik untuk dirinya dalam pandangan Allah Ta’ala. Misalnya seorang anak tersayang meminta kepada ibunya sepotong bara api atau seekor anak ular. Atau si anak meminta racun yang mematikan. Apakah sang ibu akan memberikanya? Sekali-kali tidak. Meskipun barang yang diminta itu sangat menarik bagi si anak. Seandainya sang ibu memberikannya dan kebetulan si anak pun dapat diselamatkan dari kematian karena makan racun itu, tetapi badannya telah cacat untuk selamanya. Maka setelah anak itu besar ia tidak akan mengampuni sang ibu atas kebodohannya itu.

Selain syarat-syarat tersebut di atas masih banyak syarat-syarat lain yang diperlukan untuk pengabulan suatu doa. Sebelum syarat-syarat itu terpenuhi, doa tidak akan dikabulkan. Dan, selama doa itu tidak disertai oleh jiwa ruhani dari orang yang berdoa dan orang yang didoakan kedua-duanya tidak memiliki kemampuan minimal untuk itu, maka doa-doa mereka tidak akan dikabulkan. Tuhan berkehendak mengabulkan suatu doa, namun syarat-syarat untuk tercapainya suatu doa tidak terpenuhi juga dan orang itu tidak dapat pula memusatkan pikiran, keteguhan dan ketabahan hati.”[5]

Doa dalam Pandangan Hz. Mirza Ghulam Ahmad as.

 Hz. Masih Mau’ud as. menyampaikan beberapa pandangannya tentang doa dari berbagai sisi. Pandangan beliau as. mengenai doa sangat luar biasa dan memberikan wawasan serta pengetahuan baru bagi orang mukmin. Jelas sekali bahwa beliau as. merupakan orang yang benar-benar memahami hakikat doa dan sebagai wujud yang menjadi saksi atas pengabulan doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah Ta’ala. Di bawah ini diuraikan pendapat beliau as. seputar doa sebagai berikut:

  1. Intisari shalat adalah doa

“Tujuan dan intisari hakikat shalat adalah doa, dan memanjatkan doa sangat sesuai dengan hukum kudrat Allah Ta’ala. Misalnya kita secara umum melihat, bahwa tatkala seorang bayi menangis-nangis dan menampakkan kegelisahannya, maka betapa sang ibu menjadi tidak tenang lalu memberikan susu kepada bayi itu. Antara Tuhan dengan hamba juga terdapat hubungan semacam itu, yang tidak dapat dipahami oleh setiap orang. Ketika seorang manusia menjatuhkan diri di hadapan pintu Allah Ta’ala, dan dengan merendahkan diri serta dengan isak tangis menyampaikan keadaannya, serta memohonkan kebutuhan-kebutuhannya, maka kasih­-sayang Allah Ta’ala pun akan bergejolak, dan orang yang seperti itu akan dikasihi. Susu karunia dan kasih-sayang Allah Ta’ala juga menghendaki adanya tangis, karena itu hendaknya ditampilkan mata yang menangis.” (Malfuzat, jld. I, hlm. 352).

  • Hakikat doa

 ”Terasa sangat diperlukan untuk kembali menuliskan masalah doa, sebab tulisan-tulisan sebelumnya terbukti tidak mencukupi mengenai hal itu. Doa adalah suatu hal yang sangat pelik, untuknya diperkukan syarat berupa hubungan yang kokoh sedemikian rupa antara si pendoa dan Wujud yang kepada-Nya doa dipanjatkan, sehingga rasa perih yang dialami oleh pihak pertama menjadi rasa perih yang juga dialami oleh pihak kedua, dan kegembiraan satu pihak menjadi kegembiraan pihak lainnya. Seperti halnya tangis seorang bayi yang masih menyusui akan membuat sang ibu menjadi tidak tentram dan membuat air susunya mengalir, demikian pula kondisi Wujud — yang kepada-Nya doa dipanjatkan — menjadi penuh gejolak tatkala pemanjat doa melakukan doa dan istighatsah (mohon pertolongan).” (Malfuzat, jld. I, hlm. 323).

  • Khasiat doa

“Jika tidak ada doa maka manusia tidak dapat mencapai tahap haqqul yaqin dalam mengenali Allah. Melalui doalah ilham diperoleh. Melalui doa kita berkata-kata dengan Allah Ta’ala. Tatkala manusia terus-menerus memanjatkan doa dengan, ikhlas, dengan Tauhid, dengan kecintaan, kesungguhan, dan kesucian, lalu mencapai kondisi fana, maka barulah Tuhan Yang Hidup itu zahir baginya, yaitu Tuhan yang terselubung bagi orang-orang lain” (Malfuzat, jld. I, hlm. 291).

  • Falsafah doa

 “Seseorang bayi yang memekik-mekik dan menjerit dalam keadaan lapar, akan mempengaruhi (membangkitkan) gejolak di dalam susu sang ibu. Bayi tidak mengenal apa itu doa, namun kenapa pekikannya itu menarik air susu ibu? Semua orang mempunyai pengalaman dalam hal ini. Bahkan kadang-kadang kita lihat bahwa para ibu tidak merasakan adanya air susu, tetapi tiba-tiba saja air susu itu tertarik keluar oleh pekik tangis sang bayi. Nah, apakah Allah Ta’ala tidak dapat mempengaruhi apa-apa sekali pun? Dapat! Bahkan dapat menarik segalanya! Namun orang-orang buta ruhani yang duduk sebagai fazil (ilmuwan) dan ahli-pikir (filsuf) tidak akan dapat melihatnya. Sebenarnya hal ini mudah untuk dimengerti apabila kita memahami falsafah yang terkandung di dalam hubungan antara seorang ibu dengan bayinya.

Sifat Rahīm (kasih-sayang) mengisyaratkan, bahwa rasa kasih-sayang itu timbul setelah diminta, oleh karena itu teruslah minta dan kalian akan memperolehnya. Ud’ūnī astajib lakum (berdoalah kepada-Ku, kamu akan Aku kabulkan) bukanlah suatu omong-kosong. Bahkan hal ini merupakan suatu kelaziman di dalam fitrat manusia, bahwa memohon (meminta) adalah sifat manusia, sedangkan mengabulkan adalah Sifat Allah Ta’ala. Barangsiapa yang tidak memahami tidak mengakui hal ini, orang itu dusta. Permisalan seorang bayi yang saya ungkapkan tadi cukup jelas untuk menerangkan falsafah doa.” (Malfuzat, jld I, hlm 11 /Pidato Pertama Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pada Jalsah Salanah, 25 Desember 1897).

  • Asas pengabulan doa.

 Inilah segenap upaya dan gejolak dalam diriku yaitu aku berdoa kepada Allah Taala. Banyak harapan-harapan besar dalam keterkabulan doa.” Bahkan ada janji yang jelas dari Tuhan-ku kepadaku, yaitu “Ujību kulla du’a-ika – Aku akan mengabulkan seluruh doa engkau.” Akan tetapi aku benar-benar mengerti, bahwa yang dimaksud dengan kul (seluruh) adalah hal-hal yang dengan tidak mendengarnya (tidak mengabulkannya) akan menimbulkan kemudaratan. Akan tetapi jika Allah Ta’ala menginginkan tarbiyat dan ishlah (perbaikan) maka penolakan itu sendiri merupakan pengabulan doa.     

Kadang-kadang manusia tidak berhasil dalam suatu doa dan dia beranggapan bahwa Allah Ta’ala menolak doanya. Padahal Allah Ta’ala mendengar doanya, dan pengabulan tersebut adalah dalam bentuk penolakan itu sendiri. Sebab baginya–baik secara terselubung maupun hakikat–manfaat dan kebaikan terdapat dalam penolakan itu sendiri.

Dikarenakan manusia berpandangan sempit dan tidak berpikiran (berwawasan) luas – dan hanya percaya pada hal-hal yang zahir–karena itu tepat baginya, agar ketika dia berdoa kepada Allah Ta’ala – dan pada kenyataannya tidak memberikan hasil yang bermanfaat kepadanya – maka hendaknya ia jangan berprasangka buruk terhadap Allah Ta’ala bahwa, “Dia tidak mendengarkan doaku”. Dia mendengar doa setiap orang, “Ud’ūni astajib lakum(berdoalah kepada-Ku, Aku kabulkan bagi kamu). Rahasia dan hikmahnya adalah bahwa manfaat dan kebaikan bagi orang yang berdoa itu terletak dalam penolakan doa itu sendiri. Inilah asas dari doa. Dalam mengabulkan doa Allah Ta’ala tidak mengikuti kehendak dan pikiran kita.

Lihatlah, betapa sayangnya seorang ibu terhadap anak-anaknya, dan sang ibu berkeinginan supaya jangan sampai mereka mendapat kesusahan apapun. Akan tetapi jika anak-anak merengek-rengek meminta hal-hal yang tidak bermanfaat dan menangis meminta pisau tajam atau bara api yang menyala-nyala, maka dalam keadaan adanya kecintaan yang halal serta kasih-sayang yang sejati, apakah seorang ibu akan pernah dapat membiarkan supaya anaknya mengambil bara api lalu membakar tangannya? Atau menghunjamkan tangannya pada mata pisau yang tajam lalu memotong tangannya? Sama­sekali tidak. Dari dasar inilah dapat dipahami mengenai asas pengabulan doa”. (Malfuzāt, Jld. I, hlm. hlm. 106-107).

  • Pengabulan doa & taqdir ilahi

“Ketika karunia (rahmat) Allah Ta’ala datang mendekat, maka Dia langsung mewujudkan sarana-sarana untuk terkabulnya suatu doa, lalu di hati kita akan timbul ketenteraman dan ketenangan. Akan tetapi jika belum tiba saat terkabulnya doa itu maka hati kita serasa tidak menentu dan tidak tenang. Hal ini adalah dikarenakan Allah Ta’ala itu kadang-kadang ingin mencetuskan apa yang telah Dia tetapkan (putuskan), dan kadang-kadang Dia mengabulkan doa kita. Oleh karena itu, jika aku tidak menemukan tanda-tanda izin Ilahi, maka aku menaruh harapan yang kecil terhadap terkabulnya suatu doa, dan aku lebih bahagia lagi–daripada terkabulnya doa–dengan menerima segala yang telah ditakdirkan (diputuskan) oleh Allah, karena faedah dan berkatnya lebih besar jika kita menerima segala takdir serta keputusan-Nya” (Malfuzāt, jld I, hlm. 118).

  • Doa dan usaha

“Ini memang benar, bahwa jika seseorang tidak mau berusaha bererti dia tidak berdoa, bahkan justru ia menguji Allah. Oleh karena itu sebelum berdoa kita perlu berusaha sekuat tenaga, dan inilah makna dari doa (berdoa). Pertama-tama, penting bagi manusia untuk memperhatikan usaha dan amalnya, karena sudah menjadi adapt (kebiasaan) Allah Ta’ala bahwa ishlah (perbaikan) itu berpangkal (berawal) dari sarana yang diusahakan, maka Dia akan menciptakan suatu sarana sehingga ishlah (perbaikan) itu menjadi terwujud.” (Malfuzat, jld. I, hlm. 118).

  • Tata cara berdoa

“Ini memang benar, bahwa seseorang yang tidak melakukan amal-perbuatan (upaya) berarti dia itu tidak berdoa, melainkan dia menguji Allah Ta’ala. Oleh karena itu sebelum berdoa, adalah penting untuk terlebih dulu mengerahkan seluruh tenaga kalian, dan itulah arti berdoa. Pertama-lama mutlak agar manusia memperhatikan keyakinan-keyakinan serta upaya-upayanya, sebab merupakan Sunnatullāh (adat kebiasaan Allah Ta’ala) bahwa ishlah (perbaikan) itu berlangsung sesuai sarana-sarana [yang dimanfaatkan]. Dia menciptakan sarana-­sarana tertentu yang dapat menimbulkan ishlah (perubahan). Hal ini perlu direnungkan dalam-dalam oleh orang-­orang-orang yang mengatakan bahwa apabila sudah melakukan doa maka tidak perlu lagi memanfaatkan sarana-sarana. Orang-orang bodoh itu hendaknya berpikir bahwa doa itu sendiri merupakan suatu saran terselubung yang menciptakan sarana-sarana lainya. Dan hal ini dijelaskan secara khusus oleh kalimat doa: “Iyyaaka na’budu — [hanya kepada Engkau-lah kami beribadah” yang mendahului kalimat berikutnya: “Iyaaka nasta’iin — [hanya kepada Engkau-lah kami meminta pertolongan)” – (Al­Fatihah, 5).

Ringkasnya, yang kita saksikan di dalam Sunnatullah adalah Dia itu pasti menciptakan sarana-sarana. Lihat, untuk menghilangkan dahaga Dia telah menyediakan air, dan untuk menghilangkan lapar Dia menyediakan makanan, namun itu semua melalui sarana-sarana. Jadi, memang demikianlah rangkaian sarana yang berlaku, dan sarana-sarana pasti disediakan, sebab Allah Ta’ala memiliki dua Nama ini – sebagaimana yang diuraikan oleh Maulvi Muhamad Ahsan – yakni: Kānallāhu ‘azīzan hakīman (An­Nisa, 159). ’Azīz artinya Yang melakukan segala sesuatu, dan Hakīm artinya Yang melakukan segala sesuatu sesuai hikmah dan situasi serta kondisi yang tepat.” (Malfuzat, jld. I, hlm. 124).

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai orang-orang mukmin sejati yang selalu memanjatkan doa-doa dalam setiap langkahnya. Aamiin. [csn]

-oOo-


[1] Keberkatan Doa, Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. Neratja Press, 2015, h.14

[2] Ajaranku, Hz.Mirza Ghulam Ahmad, Wisma Damai, 1993,h.46

[3] Filsafat Ajaran Islam, Hz.Mirza Ghulam Ahmad, as. neratja Press, 2018,171

[4] Zikiri Ilahi , Hz. Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, ra. JAI , 1999, h.112-113

[5] Baraktudua, Hz. Mirza Ghulam Ahmad as., Neratja pres, 2015, h.19.

admin

Related Posts

QURUB ILAHI

QURUB ILAHI

TAKDIR SERING MENJADI UJIAN BAGI MANUSIA

TAKDIR SERING MENJADI UJIAN BAGI MANUSIA

Rahmat Allah Meliputi Segalanya

Rahmat Allah Meliputi Segalanya

“WALLAAHU A’LAM BISH-SHAWAAB”: Antara Keterbatasan Hamba dan Kemahaluasan Sang Pencipta

“WALLAAHU A’LAM BISH-SHAWAAB”: Antara Keterbatasan Hamba dan Kemahaluasan Sang Pencipta

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *