APAKAH SEMUA YANG MENGAKU NABI ITU PALSU DAN DUSTA?

APAKAH SEMUA YANG MENGAKU NABI ITU PALSU DAN DUSTA?


Oleh: Mln. Syamsul Ulum

“Tidak ada satu pun keberatan yang dilontarkan oleh para penentang kepadaku yang sebelumnya tidak pernah dilontarkan kepada para Nabi Tuhan yang suci. Karena itu aku katakan kepada kalian, bahwa ketika kalian mendengarkan hinaan dan keberatan seperti ini, maka janganlah bersedih. Karena hinaan itu juga telah dilontarkan kepada para Nabi Tuhan yang suci yang datang sebelum kalian dan aku. Adalah suatu kepastian bahwa seluruh sunnah dan kebiasaan Allah Ta’ala yang telah menimpa para Nabi harus tergenapi oleh kita juga” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad AS, Kitab Tiryaqul Qulub, lampiran 5 hal 511).

Allah SWT berfirman:

فَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقَدْ كُذِّبَ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ جَاءُوا بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَالْكِتَابِ الْمُنِيرِ

Maka jika mereka mendustakan engkau (Muhammad), maka (ketahuilah) rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan (pula), mereka membawa mukjizat-mukjizat yang nyata, Zabur, dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna. (QS. Ali ‘Imran 3: 184)

Ayat di atas merupakan sebuah penguat hati dari Allah SWT kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam karena tuduhan dusta yg dilontarkan oleh orang-orang kafir kepada Rasulullah SAW atas pengakuannya sebagai utusan Allah. Kemudian Allah menghibur Rasul-Nya seraya berfirman:

فَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقَدْ كُذِّبَ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ

Jika mereka (orang-orang kafir) mendustakanmu, maka sungguh rasul-rasul sebelum kamu pun telah didustakan (pula)

Maksudnya, ini adalah kebiasaan orang-orang yang zhalim dan jalan mereka yaitu kufur kepada Allah dan mendustakan para rasul Allah. Pendustaan mereka kepada para utusan Allah itu bukan karena suatu keterbatasan syariat yang datang kepada mereka atau tidak jelasnya hujjah dan dalil bagi mereka, bahkan sungguh “Mereka (para rasul Allah) itu membawa mukjizat-mukjizat yang nyata” yaitu, hujjah-hujjah logika dan bukti-bukti nyata baik secara naqliyah ataupun aqliyah. 

Kitab-kitab yang ditulis dan diturunkan dari langit yang tidak mungkin dibawa oleh selain para rasul, “dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna” tentang hukum-hukum syariat dan penjelasan tentang berbagai masalah yang mencakup keindahan-keindahan logika, dan juga penjelasan tentang kabar-kabar yang benar. 

Apabila ini adalah kebiasaan mereka dalam ketidakberimanan kepada para rasul yang mana inilah gambaran mereka, maka janganlah engkau (Muhammad) bersedih karena tuduhan mereka tersebut, dan janganlah sekali-kali perkara mereka menyedihkanmu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبًا مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ

“Tidak akan datang hari kiamat sehingga dibangkitkan pembohong-pembohong besar (Dajjal) yang jumlahnya mendekati tigapuluh orang, masing-masing mengaku sebagai utusan Allah” [HR Bukhari, Kitab Al-Manaqib, Bab: ‘Alamatan-Nubuwwah; Muslim, Kitab Al-Fitan wa Asyroth As-Sa’ah, dari Abu Hurairah].

Dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى يَعْبُدُوا الْأَوْثَانَ وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي


“Tidak akan datang kiamat sehingga beberapa qabilah dari umatku bergabung dengan orang-orang musyrik dan sehingga mereka menyembah berhala-berhala. Dan sesungguhnya akan ada di kalangan umatku ini tiga puluh orang pembohong besar (Dajjal) yang masing-masing mengaku sebagai nabi, padahal aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sama sekali sesudahku” [HR Abu Dawud dan Tirmidzi dari Tsauban, dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir no: 7295]

Penjelasan:
Jika kita perhatikan justru hadits tersebut mengindikasikan bahwa setelah Rasulullah SAW akan ada lagi manusia yang berpangkat nabi. Karena kalau sekiranya setiap orang yang mengaku dirinya nabi adalah pendusta atau Dajjal maka tentu Rasūlullah SAW akan mngatakan:

كل من يزعم أنه نبي بعدي فهو كذاب و دجال


“Setiap orang yang mendakwahkan diri sebagai nabi setelahku maka orang tersebut adalah pendusta dan Dajjal”. Tapi Rasūlullah SAW tidak mengatakan demikian.

Mungkin untuk memudahkan memahami hadits tersebut saya berikan analogi sebagai berikut. Misalnya ada orang yang mengatakan bahwa:

“Tiap-tiap Anjing itu mempunyai dua mata” apakah kita akan menyimpulkan bahwa “Setiap hewan yang mempunyai dua mata itu adalah anjing?” Tentunya tidak demikian bukan! 

Dan memang beliau SAW tidak bermaksud demikian. Apalagi beliau SAW mengatakan dengan bilangan 30 pendusta. Artinya tidak semua orang yang mendakwahkan diri sebagai nabi adalah pendusta atau Dajjal, karena kita ketahui bahwa mayoritas umat Islam sendiri meyakini akan datangnya nabi yang bernama Isa Ibnu Maryam di akhir zaman. Artinya akan ada lagi nabi setelah Rasulullah SAW.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah mengomentari tentang jumlah tiga puluh nabi palsu tersebut dengan perkataannya:

“(Jumlah 30) yang dimaksudkan di dalam hadits tersebut bukanlah untuk semua orang yang mengaku sebagai nabi secara mutlak. Karena jumlah mereka sebenarnya tak terbatas; tetapi yang dimaksud dengan jumlah dalam hadist tersebut ialah untuk orang yang mengaku menjadi nabi dan memiliki kekuasaan, serta menimbulkan syubhat (kesamaran)” [Fathul Bari VI: 617).

Rasulullah SAW sendiri telah mengabarkan kepada umat Islam bahwa nanti dalam waktu lama atau jauh setelah beliau SAW wafat bahwa Allah SWT akan mengutus seorang nabi. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ ، عَنْ مَجَالِدٍ ، قَالَ : أَخْبَرَنَا عَامِرٌ -الشعبي-، قَالَ : قَالَ رَجُلٌ عِنْدَ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ : صَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ خَاتَمُ الأَنْبِيَاءِ , لا نَبِيَّ بَعْدَهُ , قَالَ الْمُغِيرَةُ : ” حَسْبُكَ إِذَا قُلْتُ : خَاتَمُ الأَنْبِيَاءِ , فَإِنَّا كُنَّا نُحَدِّثُ أَنَّ عِيسَى خَارِجٌ , فَإِنْ هُوَ خَرَجَ فَقَدْ كَانَ قَبْلَهُ وَبَعْدَهُ ” 


Dari Sya’bi RA berkata, “Pada suatu hari ada seseorang telah berkata dihadapan Al-Mughirah bin Abi Syubah RA: Mudah-mudahan Allah memberikan sholawat serta rahmat kepada Muhammad Khaatamul Anbiya, yang tidak ada nabi sesudahnya, mendengar perkataan orang tersebut lalu Mughirah bin Syubah ra berkata kepadanya: ‘Cukuplah engkau berkata bahwa Nabi Muhammad itu Khaatamul Anbiya saja, karena dahulu kami (para sahabat nabi) diberitahu bahwa nabi Isa AS akan keluar (diutus) maka apabila ia (Isa AS) keluar berarti ada nabi sebelum dan sesudah Nabi Muhammad SHAL-LAALLAHU ‘ALAIHI WA SAL-LAM.'” (Tafsir Addurul Manstur, Juz. 5, h. 204)

Ummm-ul-Mu’minīn aṣ-Ṣiddīqah, Hadhrat Aisyah RA berkata:

حدثنا حسين بن محمد؛ قال: حدثنا جرير بن حازم؛ عن عائشة، قالت : قولوا: خاتم النبيين؛ ولا تقولوا : لا نبي بعده.
(تكملة مجمع البحار ص: ٨٥ )  


“Ḥusayn ibn Muḥammad menceritakan kepada kami; dia berkata: Jarīr ibn Ḥāzim menceritakan kepada kami; dari Ḥaḍrat ‘Ā’isyah RA, beliau bersabda: Katakanlah: Khātam-un-Nabiyyīn. Janganlah katakan: Tidak ada nabī setelah beliau” (Takmilah Majma’ul Bihar, hal. 85)

Tuduhan Terhadap Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad AS

Yang sering dijadikan alasan oleh umat/ulama Islam untuk menolak utusan/nabi setelah Nabi Muhammad SAW karena adanya hadits tentang 30 orang pendusta yang mengaku nabi, bunyi hadits tersebut adalah sebagai berikut.:

Rasulullah SAW bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى يَعْبُدُوا الْأَوْثَانَ وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي


“Tidak akan datang kiamat sehingga beberapa qabilah dari umatku bergabung dengan orang-orang musyrik dan sehingga mereka menyembah berhala-berhala. Dan sesungguhnya akan ada di kalangan umatku ini tiga puluh orang pembohong besar yang masing-masing mengaku sebagai nabi, padahal aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sama sekali sesudahku” [HR Abu Dawud dan Tirmidzi dari Tsauban, dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir no: 7295].

Dalam hadits ini ada pembatas 30 orang pendusta. Maka, dengan membatasi jumlah pendusta sampai 30 orang pembohong/dajjal yang akan mendakwakan dirinya seorang nabi setelah Nabi Muhammad SAW sudah menunjukkan bahwa akan ada nabi yang benar setelah itu. Kalau setiap orang yang akan mendakwakan dirinya nabi adalah pendusta, tentu beliau SAW akan mengatakan: “‘Setiap orang yang mendakwakan diri nabi setelah aku, maka semuanya adalah dusta” tapi beliau SAW tidak mengatakan demikian, karena beliau tahu bahwa nanti setelahnya akan diutus lagi nabi yang bernama Isa Ibnu Maryam AS.

Ada keterangan bahwa hadits ini sanadnya dinyatakan dhaif (lemah) oleh Al-Hafidzh Ibnu Hajar. Beliau menulis dalam kitab beliau Fat-hul Bari bahwa hadits ini sanadnya dhaif (Hujajul Kiiramah hal. 233).
Hadits ini tersebut dalam sahih Muslim. Namun demikian, dalam syarah Muslim, Ikmalul Akmal, Jilid VI, hal. 258, tertulis:

هَاذَاالْحَدِيْثُ ظَهَرَصِدْقُهُ فَإِنَّهُ لَوْعُدَّمَنْ تَنَبَّاءَمِنْ زَمَنِهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِلَى اْلاَنَ لَبَلَغَ هَذَالْعَدَدَوَيَعْرِفُ ذَالِكَ مَنْ يُطَالِعُ التَّارِيْخَ


“Kebenaran hadits ini sudah nyata, sebab jika dihitung jumlahnya, orang-orang yang pernah mendakwakan dirinya sebagai nabi semenjak Nabi Muhammad SAW hingga sekarang pasti sudah mencapai jumlah tersebut; dan ini diketahui oleh orang-orang yang suka mempelajari sejarah Islam.”
Penulis buku tersebut wafat pada tahun 828H. Jadi dalam kurun waktu 400 tahun sudah ada 30 orang pembohong/dajjal muncul ke dunia yang mendakwakan dirinya nabi. 

Perlu juga diketahui bahwa 30 orang pendusta itu sejatinya mengaku sebagai nabī yang membawa syarī‘at baru dan mengubah syarī‘at Islām. Misalnya, Musailamah dan Sājah bint al-Ḥārits yang menghapuskan shalat ‘Aṣar, Ṭulayhah menghilangkan kewajiban sujud dalam shalat dan kewajiban zakat bagi orang-orang kaya, dll. Ringkasnya, 30 pendusta dan nabī palsu yang dimaksud oleh Nabī Muḥammad SAW adalah nabī yang membawa syarī‘at baru.

Nama-Nama Orang Yang Pernah Mengaku Sebagai Nabi dalam Sejarah Umat Islam.
Inilah 30 nama orang yang mengaku nabi menurut hadits Rasulullah SAW yang sudah berlalu sebelum Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad AS (Al-Masih Al-Mau’ud as) lahir. Nama-nama itu adalah:

1. Musailamah Al-Kadzdzaab (Shahih Bukhari)
2. Aswad Al-Ansi (Shahih Bukhari)
3. Ibnu Shoyad (Shahih Muslim)
4. Thulaihah Khuwailid (Futuhaatil Islamiyati)
5. Bahbud (Futuhaatil Islamiyati)
6. Laqid bin Malik ’Azdi (Futuhaatil Islamiyati)
7. Ustadz Syeis (Khujajul Kiraamah)
8. Muqhtar (Khujajul Kiraamah)
9. Laa (Khujajul Kiraamah)
10. Muhammad bin Faraaj (Khujajul Kiraamah)
11. Abdullah bin Maimun (Khujajul Kiraamah)
12. Ghozali Syahir (Khujajul Kiraamah)
13. Faris bin Yahya (Khujajul Kiraamah)
14. Ishak Ikhris (Khujajul Kiraamah)
15. Ahmad Muslim (Mutannabi Ibnu Khaqoon)
16. Al-Basandi (Kitab Taarikh Khulafaa)
17. Nawakh Naadi (Kitab Taarikh Khulafaa)
18. Abu Manshuur (Kitabul Fikri fil Firooq)
19. Thooriq (Kitab Ibnu Khaldun)
20. Shooleh bin Thoorif (Kitab Ibnu Khaldun)
21. Banan bin Sam’aan (Manhaaj-us-Sunnah)
22. Kabi (Kitaab Iftiroosah)
23. Mighirah bin Sa’iid (Kasyful Ghimmah)
24. Shooleh bin Muhammad (Miznul I’tidaaf)
25. Ibrohim bin Khoolaf bin Masyhur (Miznul I’tidaaf)
26. Abdullah bin Khafsh Al-Waakil (Miznul I’tidaaf)
27. Yahya bin Zakaria (Miznul I’tidaaf)
28. Yahya bin Anbasah Al-Quroisy (Miznul I’tidaaf)
29. Khasan bin Ibrohim (Kitaab Istnaa Mathlab)
30. Malik bin Nuwairoh Banu Tamiim (Kitaab Khoolid bin Walid).

Allah Ta’ala mengutus Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad AS sebagai khalifatullah Al-Mahdi wal Masihil Mau’ud AS, beliau adalah pengikut setia dari Nabi Muhammad SAW yang kedatangannya hanya untuk meneruskan syariat yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad AS bersabda:

واللّه إنّي قد تبعتُ محمّدا


Artinya: “Dan demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar telah mengikuti Nabi Muhammad Rasulullah SAW” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad AS, Tuhfah Baghdadi, hal. 15).
Beliau AS bersabda: “Jika saya bukan umat Rasulullah SAW dan tidak mengikuti beliau SAW, maka walaupun amal-amal saya sama dengan segenap gunung di dunia ini, tetap saja saya sama-sekali tidak akan pernah memperoleh anugerah mukaalamah mukhaathabah. Sebab, sekarang selain kenabian Muhammad SAW, segenap kenabian telah tertutup” (Tajalliyat-e-Ilahiyyah, hlm. 24-25).

Ḥaḍhrat Mirza Ghulam Ahmad AS diutus oleh Allah SWT pada permulaan abad ke 14 H, sebagai Al-Mahdi dan Al-Masih yang dijanjikan, lama sekali setelah ke 30 pendusta yang mengaku nabi itu terjadi. Sekarang pengikut beliau AS sudah tersebar di 213 negara.

Beliau AS bersabda: “Ketahuilah bahwa laknat Allah turun bagi para pendusta yang mengada-adakan kedustaan atas nama Allah Ta’ala, dan bagi mereka adalah kehinaan baik di dunia maupun di akhirat.”
Tetapi, apabila hamba yang lemah ini datang dari sisi Allah Ta’ala, dan Dia-lah yang telah mengutus hamba ini, dan dari wujud-Nya-lah berasal ucapan-ucapan itu yakni ilham-ilham yang turun kepada hamba ini, maka saya sama sekali tidak akan disia-siakan dan tidak akan mengalami kehancuran. Bahkan Allah Ta’ala sendiri yang akan menghancurkannya, yakni mereka yang akan mengangkat tangan untuk mengadakan perlawanan terhadap saya dan menjadi penghalang dalam usaha-usaha saya ini” (Syahadatul Qur’an hlm. 159).

Wallahu ‘alam bishawab.
والسلام على من اتبع الهدى
Bersambung

admin

Related Posts

SHALAT : MEMELIHARA KULIT DAN ISI

SHALAT : MEMELIHARA KULIT DAN ISI

Sebuah Cara Menjauhi Dosa: Ingat Kematian

Sebuah Cara Menjauhi Dosa: Ingat Kematian

IMAM HUSAIN r.a. AHLULBAIT NABI s.a.w.: Tarbiyat pada Masa Kanak-kanak

IMAM HUSAIN r.a. AHLULBAIT NABI s.a.w.: Tarbiyat pada Masa Kanak-kanak

Lisan vs Amalan

Lisan vs Amalan

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *