INILAH AQIDAH DAN KEYAKINAN JEMAAH MUSLIM AHMADIYAH

Oleh: Mln. Syamsul Ulum
Islam adalah agama damai dan agama yang paling sempurna dalam memerhatikan seluruh sisi kehidupan manusia. Oleh karena itu, Allah memerintah kita agar bertanya kepada ahlinya apabila kita tidak tahu. 
Begitupula, jika kita ingin mengetahui tentang Jemaah Muslim Ahmadiyah maka hendaknya kita bertanya pada ulama Ahmadiyah atau penganut muslim Ahmadiyah. Karena, kita akan mendapati pengetahuan secara obyektif tentang Ahmadiyah jika kita bertanya pada ahlinya. 
Sebab, hal itu merupakan ajaran Islam dan perintah dari Alquran. Adalah satu kekeliruan andaikan kita ingin mengetahui tentang Islam tapi malah bertanya pada non-muslim. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
فَسَۡٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ
“… maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (Qs. an-Nahl: 43)
Ayat ini merupakan kaidah dan juga bimbingan dari Alquran kepada kita bahwa jika kita tidak mengetahui tentang suatu perkara maka hendaknya kita bertanya kepada orang yang telah mengkhususkan diri (ahlinya) dibidangnya.
Dalam ayat lain, bahkan Allah SWT mengajarkan kita agar senantiasa waspada terhadap kabar-berita yang dapat merugikan orang lain, Alquran membimbing kita agar bertabayun. 
Sebagaimana firmanNya:
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ جَآءَكُمْ فَاسِقٌ  ۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْۤا اَنْ  تُصِيْبُوْا قَوْمًا  ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat : 49)
Akidah Dan Keyakinan Jemaah Muslim Ahmadiyah
Banyak sekali kaum muslimin yang belum mengetahui apakah keyakinan dan aqidah dari Jemaah Muslim Ahmadiyah itu? Saya akan sampaikan berdasarkan dan diambil dari tulisan-tulisan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as.
Berkenaan dengan aqidah dan keyakinan dari Jamaah Muslim Ahmadiyyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, bersabda:
اِعْلَمُوا أَنَّ اْلإِسْلاَمَ دِينِي وَعَلى التَّوْحِيدِ يَقِينِي
“Ketahuilah bahwa Islam itu agamaku, tauhid itu keyakinanku”. (Miraati Kamaalaatil-Islam, hal. 388).
Beliau bersabda:
“Penyelidikan yang teliti menyatakan bahwa terkecuali Islam semua agama-agama lain dalam dunia ini mengandung salah satu kesalahan di dalamnya. Sebenarnya, agama-agama itu bukanlah palsu dari asal mulanya, hanya setelah agama Islam datang ke dunia ini maka Allah SWT tidak memelihara lagi agama-agama itu. 
Ibarat sebuah kebun yang tidak lagi disirami dan  tidak dipelihara oleh tukang kebunnya sehingga lambat laun akan menumbuhkan berbagai macam semak belukar di dalamnya dan pohon-pohonnya akan berubah menjadi kering dan mati. 
Dan, timbullah bermacam-macam tumbuh-tumbuhan yang liar dan berduri. Begitulah perumpamaan kerohanian yang menjadi pokok agama terdahulu yang telah hilang, lenyap dan yang tinggal hanya perkataan kosong belaka. 
Akan tetapi, Allah SWT tidak melakukan begitu terhadap Islam. Dia menghendaki bahwa kebun (Islam) itu harus tetap subur dan menghijau untuk selama-lamanya”. (Islam, pidato Hz. Pidato dari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, tanggal 2 Nov’ 1904 di kota Sialkot, Pakistan)
Dari dua pernyataan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad tersebut, jelaslah bagi kita bahwa agama yang dianut oleh Jemaah Muslim Ahmadiyah adalah ISLAM sebagaimana Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
Apakah Jamaah Muslim Ahmadiyyah Meyakini dua kalimat syahadat?
Jawabannya: ya, Jemaah Ahmadiyah sangat meyakini dan menjunjung tinggi dua kalimat syahadat karena hal itu sebagai bukti akan keislamannya. Hal ini dinyatakan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sendiri, beliau as bersabda:
“Inti dari kepercayaan kami adalah: 
لا اله  إلا الله محمد رسول الله 
Laa Ilaaaha Illallaahu Muḥammad ur Rasulullah. (Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah) 
Kepercayaan kami inilah yang menjadi tempat bergantung dalam hidup ini, dan yang padanya, dengan rahmat dan karunia Allah kami berpegang teguh sampai akhir hayat kami.” (Mirza Ghulam Ahmad, Izalah Auham, 1891, h.137). 
Jadi, jelas sekali dari pernyataan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad diatas bahwa Jemaah Muslim Ahmadiyah adalah Islam. Dan, tidak ada seorang pun yang berhak untuk mengeluarkan Jemaah Muslim Ahmadiyah dari agama Islam.
Apakah Jemaah Muslim Ahmadiyah itu ber-Nabi kan Muḥammad SAW?
Jawabannya: Ya. Nabi nya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dan Jemaahnya adalah Muhammad Rasulullah SAW. Karena itu merupakan salah satu rukun iman yang harus diimani bagi seorang mukmin.
Bukti kalau Muḥammad Rasūlullah SAW adalah Nabi anutan dari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dan Jamaahnya. Sebagaimana Beliau as bersabda:

وَنَعْتَقِدُ أَنَّ رَسُولَنَا خَيْرُ الرُّسُلِ وَأَفْضَلُ الْمُرْسَلِينَ  وَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ وَأَفْضَلُ مِنْ كُلِّ مَنْ يَأْتِي وَخَلاَ

Dan kami beri’tiqad bahwa  Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih utama daripada semua Rasul dan beliau berpangkat Khaataman-Nabyyin dan lebih mulia daripada semua manusia yang akan datang nanti dan yang sudah berlalu”. (Miratu Kamalati Islam, hal. 387).

Bahkan beliau as meyakini bahwa hanya Nabi suci Muḥammad SAW saja yang mampu memberi Syafaat kelak di akherat nanti. Sebagaimana  sabdanya:

“Tidak ada rasul atau juru syafaat untuk seluruh umat manusia, kecuali Muhammad Rasulullah saw. Oleh sebab itu, kembangkanlah kecintaan sejati kepada Nabi yang paling mulia Muhammad saw yang mengagumkan ini, dan jangan mengutamakan yang lain selain beliau saw, sehingga kalian tertulis diantara mereka yang mencapai keselamatan di surga”.  [Ruhani Khazain, vol. 19, h. 16]

ISLAM adalah agama dari Jemaah Muslim Ahmadiyah
Bahkan, untuk meyakinkan kaum muslimin akan keislamannya, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sampai menyatakan sumpah. Sebagaimana pernyataan beliau as:

“AKU sampaikan kepada khalayak umum bahwa aku BERSUMPAH atas nama Allah SWT bahwa AKU BUKANLAH KAFIR. Laa ilaaha illallaahu Muḥammadur Rasūlullah adalah akidahku dan aku meyakini bahwa Rasulullah SAW adalah Khaatamun Nabiyyin dengan ayat Alqur’an berikut yang berbunyi:

ولكن رسول الله و خاتم النبيين (سورة الأحزاب: ٤١

Aku bersumpah atas Shahih nya keimanan ini sebagaimana shahihnya nama-nama suci Allah SWT begitu juga huruf-huruf AlQuran alkarim dan kesempurnaan Hadhrat Rasūlullah SAW dalam pandangan Allah SWT. 

Akidahku tidak ada yang bertentangan dengan firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW. jika ada yang beranggapan demikian itu adalah kesalahan fahamannya sendiri. Orang menganggapku kafir dan dia tidak bertaubat dari perbuatan itu, maka ingatlah..! bahwa setelah kematiannya nanti dia akan ditanyai (mempertanyakan nya).” (Karamatus shadiqiin, Ruhani Khazain jilid 7, hal. 67)
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad juga menyatakan dengan sumpah kalau beliau as adalah Muslim pengikut nabi Muhammad SAW.   Sebagaimana beliau as bersabda:
“Aku katakan dengan sebenar-benarnya, dan aku katakan dengan bersumpah demi Tuhan, bahwa aku dan Jemaatku adalah Muslim, dan Jemaatku mengimani Al-Quran Karim dan 
Nabi Muhammad saw. sebagaimana seharusnya seorang Muslim sejati wajib mengimaninya. 
Aku meyakini bahwa satu zarah saja melangkah keluar dari Islam merupakan penyebab kebinasaan. Dan, inilah keyakinanku, bahwa seberapa besar pun karunia dan berkat yang dapat seseorang peroleh, dan seberapa pun taqarub ilahiyah (kedekatan pada Allah) yang bisa ia dapatkan, semua itu dapat diperoleh semata-mata hanya karena ketaatan 
sejati dan kecintaan sempurna kepada Nabi Muhammad saw.. 
Tanpa mengikuti beliausaw., itu semua adalah mustahil. Selain beliau saw. tidak ada lagi jalan kebaikan saat ini (pidato Ludhiana, h. 17)
Bahkan, untuk meyakinkan kepada umat Islam, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dalam bukunya menulis sebagai betikut:

فَاعْلَمْ يَاأَخِي إِنَّا آمَنَّا بِاللهِ رَبَّا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا وَآمَنَّا بِأَنَّهخَاتَمُ النَّبِيِّينَ وَآمَنَّا بِالْفُرْقَانِ أَنَّهمِنَ اللهِ الرَّحْمَنِ وَلاَ نَقْبَلُ كُلَّ مَا يُعَارِضُ الْفُرْقَانَ وَيُخَالِفُ بَيَانَهوَمُحْكَمَاتِهِ وَقَصَصَهوَلَوْ كَانَ أَمْرًا عَقْلِيًا أَوْ كَانَ مِنَ اْلآثَارِ الَّتِي سَمَّاهَا أَهْلُ الْحَدِيثِ حَدِيثًا أَوْ كَانَ مِنْ أَقْوَالِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ

“Ketahuilah wahai saudaraku, kami beriman kepada Allah, sebagai Tuhan dan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi dan kami beriman bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Khaatamun-Nabiyyiin. 
Kami beriman kepada Al-Quran bahwa itu dari Allah Yang Pengasih dan kami tidak menerima apa saja yang menyalahi Al-Furqan (Al-Quran) dan keterangan-keterangan, dan hukum-hukumnya, kisah-kisahnya meskipun perkara itu timbul dari akal manusia atau dari riwayat-riwayat yang dinamakan Hadis oleh para Ahli Hadis atau dari kata-kata sahabat dan tabi’in.” (Tuhfah Al-Baghdad, hal. 23).

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menulis, :
“Wahai kalian yang bermukim di muka bumi dan wahai jiwa semua yang ada di barat atau di timur, aku maklumkan secara tegas bahwa kebenaran hakiki di dunia ini hanyalah Islam. 
Tuhan yang benar adalah Allah sebagaimana yang terdapat di dalam Al Qur’an, sedangkan Rasul yang memiliki hidup keruhanian yang abadi dan sekarang bertahta diatas singgasana keagungan dan kesucian adalah wujud terpilih Muhammad SAW.” ( Ruhani Khazain, vol. 15, hal. 141); 
Di bawah kolong langit ini, hanya ada satu Rasul dan satu Kitab. Rasul itu adalah Hadhrat Muhammad SAW yang lebih luhur dan agung serta paling sempurna dibanding semua Rasul . . . Kitab tersebut adalah Al Quran yang merangkum bimbingan yang benar dan sempurna.”   (Ruhani Khazain, vol. 1 hal. 557)
Mengikrarkan dua kalimat Syahadat Merupakan Keislaman seseorang

Imam Nawawi dalam Raudhah At-Tolibin menyatakan:

وقال الشافعي في موضع إذا أتى بالشهادتين صار مسلما
Artinya: Imam Syafi’i berkata, “Apabila seseorang mengucapkan dua kalimah syahadat, maka ia menjadi muslim.”

AL-QUR’AN Adalah Kitab Suci bagi Jemaah Muslim Ahmadiyah
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Selalu Mengajarkan dan memerintahkan Jama’ah nya agar selalu Mengamalkan ajaran dari AlQur’an. Sebagaimana beliau as bersabda:                  
“Nasihat yang yang amat penting lagi ialah agar saudara jangan menjadikan Qur’an Suci sebagai Kitab yang ditinggalkan, karena di dalam Qur’an Suci terletak kehidupan saudara. Barangsiapa menghormati Qur’an Suci, ia akan dihormati di langit. 
Barangsiapa menjunjung Qur’an Suci di atas yang lain, ia akan diberi keistimewaan di langit. Tak ada Kitab yang teramat penting bagi manusia di seluruh muka bumi ini selain Qur’an Suci, dan tak ada Rasul yang lebih mulia dariapda Nabi Suci Muhammad saw. 
Maka dari itu, berjuanglah agar saudara menikmati kecintaan Nabi Suci Muhammad saw.
Janganlah saudara mencintai orang lain melebihi cinta saudara terhadap Nabi Suci Muhammad saw sehingga saudara akan masuk sorga sebagai orang yang diselamatkan.
Hendaklah diingat bahwa keselamatan itu bukan hal yang terjadi sesudah mati. 
Keselamatan sejati itu harus diusahakan di dunia ini. Siapakah yang akan diselamatkan? Ialah orang yang memelihara iman yang kuat bahwa Allah Yang Maha Hidup itu kenyataan dan bahwa Nabi Muhammad saw. itu syafî’ (yang mensyafa’ati) antara Allah dan manusia, dan bahwa di bawah kolong langit tak ada orang yang derajatnya menyamai beliau saw, dan tak ada Kitab yang menyamai Qur’an Suci. 
Dan, bahwa tak ada orang lain selain Nabi Suci yang Allah menghendaki agar terus hidup sampai akhir zaman. (Buku Ajaranku)
Beliau as Bersabda:
“Al-Quran al-Majid merupakan sebuah kitab yang paling Kamil dan paling sempurna. Allah Ta’ala melihat bahwa dikalangan umat manusia sudah terdapat akal pikiran untuk meraih ilmu2 sejati itu, maka Dia pun menurunkan sebuah kitab Al Quran ini”. (Malfuzat jilid 4, hal. 380)
Beliau as bersabda:
“Alangkah sayangnya orang-orang yg lebih mengutamakan sesuatu selain Al-Quran. Sumber segala kebahagiaan dan keselamatan bagimu terdapat di dalam Al-Quran. Tiada sebuah pun keperluan agamamu yg tidak terdapat di dalam AlQuran” (Bahtera Nuh hal. 41)
Beliau as bersabda:
“Di bawah kolong langit ini tidak ada sebuah Kitab pun yg secara langsung dapat memberi petunjuk kepadamu kecuali AlQuran. Allah Ta’ala telah berkenan berbuat banyak kebajikan kepadamu dgn menganugerahkan kepadamu sebuah kitab Suci seperti Al-Quran” (Bahtera Nuh hal. 41)
Beliau as bersabda:
“Adalah bagian dari keimanan kami bahwa kitab dan syariat yang terakhir adalah Al-Quran dan setelah itu sampai dengan Hari Kiamat tidak akan ada lagi Nabi yang membawa syariat baru, tidak juga ada penerima wahyu yang bukan dari pengikut Hadhrat Rasulullah s.a.w. 
Pintu itu sudah ditutup sampai dengan Hari Penghisaban, namun pintu wahyu sebagai pengikut dari Rasulullah s.a.w. akan selalu terbuka. Wahyu seperti itu tidak akan pernah dihentikan, tetapi kenabian yang membawa syariat baru atau pun kenabian yang berdiri sendiri sudah ditutup dan tidak akan dibukakan lagi sampai dengan Hari Kiamat. 
Ia yang mengatakan bahwa ia bukan pengikut Nabi Suci Muhammad s.a.w. dan mengaku bahwa dirinya adalah seorang nabi yang membawa syariat, atau seorang nabi yang tidak membawa syariat, adalah sama dengan seorang yang hanyut oleh banjir dahsyat dimana ia akan terlempar dan tidak akan selamat sampai ia mati.” (Review debat di antara Muhammad Hussain dari Batala dan Abdullah Chakralvi, Qadian, 1902; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 213, London, 1984)
Beliau as bersabda:
“Tidak ada agama bagi kami kecuali agama Islam dan tidak ada Kitab bagi kami kecuali Al-Quran Kitab Allah Yang Maha Tahu. Tidak ada Nabi panutan bagi kami kecuali Nabi Muhammad, Khatamunnabiyyin saw”. (Kitab Anjami Atham, h. 143)
Larangan Menghakimi Isi Dalam Hati
Ada satu pelajaran dari kisah Rasulullah SAW dalam menyikapi orang yang mengucapkan kalimat syahadat yang dibunuh oleh sahabat Nabi:
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari seorang sahabat mulia yang juga merupakan cucu angkat kesayangan Rasulullah SAW, yaitu Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia berkata:
بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْحُرَقَةِ مِنْ جُهَيْنَةَ قَالَ فَصَبَّحْنَا الْقَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ قَالَ وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ رَجُلًا مِنْهُمْ قَالَ فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ فَكَفَّ عَنْهُ الْأَنْصَارِيُّ فَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي حَتَّى قَتَلْتُهُ قَالَ فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَقَالَ لِي يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا قَالَ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ
Dari Usamah bin Zaid bin Haritsah Radhiyallahu ‘anhuma ia berkata: “Rasulullah SAW mengutus kami dalam sebuah pasukan perang untuk menyerang orang-orang kafir Marga Huraqah, bagian dari suku Juhainah. Kami menyerang mereka di waktu pagi dan kami mengalahkan mereka. 
Saya dan seorang sahabat Anshar mengejar seorang anggota Bani Huraqah yang melarikan diri. Ketika kami mengepungnya, tiba-tiba ia mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illa Allah’ (Tiada Ilah Yang berhak disembah selain Allah). Sahabat Anshar itu pun menahan dirinya. Adapun saya menusuk orang tersebut dengan tombakku sampai saya menewaskannya.”

Sesampainya di Madinah, peristiwa itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bertanya padaku:
يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَه ُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ « قُلْتُ كَانَ مُتَعَوِّذًا
 فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ

“Hai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya ingin mencari perlindungan diri saja, sedangkan hatinya tidak meyakini hal itu.” 
Beliau bersabda lagi, “Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Ucapan itu terus menerus diulang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saya mengharapkan bahwa saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 4269 dan Muslim no. 96)
Dalam riwayat Muslim disebutkan, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ «. قَالَ قُلْت ُ يَا رَسُولَاللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا
 خَوْفًا مِنَ السِّلاَحِ. قَالَ » أَفَلاَ شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لاَ «. فَمَازَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَىَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ

“Bukankah ia telah mengucapkan laa ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu semata-mata karena takut dari senjata.” 
Beliau bersabda, “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” Beliau mengulang-ngulang ucapan tersebut hingga aku berharap seandainya aku masuk Islam hari itu saja.” (HR. Muslim no. 96)

Penjelasan:
Ketika menyebutkan hadits di atas, Imam Nawawi menjelaskan bahwa maksud dari kalimat “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” adalah kita hanya dibebani dengan menyikapi seseorang dari lahiriyahnya dan sesuatu yang keluar dari lisannya. 
Sedangkan hati, itu bukan urusan kita. Kita tidak punya kemampuan menilai isi hati. Cukup nilailah seseorang dari lisannya saja (lahiriyah saja). Jangan tuntut lainnya. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 2: 90-91)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إني لم أومر أن أنقب قلوب الناس ولا أشق بطونهم
“Sesungguhnya aku tidak diperintah untuk memeriksa isi hati manusia dan membelah perut mereka” (HR Al-Bukhari no 4351)
Larangan Mengatakan Kafir Orang Yang Mengikrarkan dua Kalimat Syahadat
Dari Abu ‘Abdillah Thariq bin Asy-yam, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِن دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ 
وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ
“Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah (tiada yang berhak disembah selain Allah) dan mengingkari setiap yang diibadahi selain Allah, maka harta serta darahnya haram. Sedangkan hisabnya adalah terserah kepada Allah.” (HR. Muslim no. 23)
Diriwayatkan dari Abu Dzar r.a dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
لا يرمى  رجل رجلا با لفسوق ولا يرميه با لكفر الا ارتدت عليه ان لم يكن صاحبه كذا لك
“Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan ataupun kekafiran, kecuali akan kembali kepada yang menuduh, jika yang dituduh tadi tidak demikian keadaannya”.(HR. Bukhari dan Muslim)
من دعا رجلا  با لكفر او قال عدوالله  وليس كذالك  الا حار عليه
“Barang siapa memanggil atau menyebut seseorang sebagai kafir atau musuh Allah padahal tidak demikian, maka ucapannya itu akan kembali kepada orang yang mengucapkannya (menuduhnya) itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
من صلى صلوتنا واستقبل قبلتنا واكل ذبيحتنا فذالك المسلم
“Barangsiapa yang shalat seperti shalatnya kami, dan menghadapkan wajahnya ke kiblat kami (Kabah), dan makan makanan yang kami sembelih, maka dia itu adalah muslim”. (HR. Bukhari, kitabus shalat jld.1, h.56)

Larangan Mengatakan Kafir kepada Ahlul Kiblat
IMAM Abul Hasan al-Asy’ari, (w. 330 H) di Baghdad – Pendiri Mazhab Asy‘ariyyah – yang sangat dihormati di Nusantara, menjelang kewafatannya, beliau memanggil salah seorang sahabatnya, Zahir bin Ahmad as-Sarkhasi, untuk menemuinya. Mereka berdua pun bertemu. 
Dalam pertemuan tersebut, Imam al-Asy‘ari berpesan kepada karibnya itu:
“Bersaksilah untukku bahwa Aku tidak pernah mengafirkan seorangpun di antara ahli kiblat (yakni, setiap muslim yang bersembahyang dengan menghadap Ka‘bah di Mekkah al-Mukarramah). Sebab, semua orang mengarah untuk menyembah Tuhan yang sama. Apa yang terjadi di antara mereka pada hakikatnya hanyalah perselisihan mengenai beberapa kata.”
Mengacu pada perkataan Imam al-Asy‘ari ini, Jamaah Muslim Ahmadiyah tidak patut dikafirkan, apalagi oleh orang-orang yang mengaku bermazhab Asy‘ari, karena para Muslim Ahmadi melaksanakan salat lima waktu tiap harinya dengan menghadapkan wajah ke arah kiblat, yakni Baitullah di Tanah Suci Mekkah. (Sumber: Syamsuddin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabi, _Siyar A‘lam an-Nubala_, vol. 15 (Beirut: Mu’assasat ar-Risalah, 1996 M/1417 H), hlm. 88.
Larangan Menuduh Kafir dan Munafik kepada Ahlul Kiblat
Imam al-Ghazali juga telah mengingatkan kita semua dalam kitabnya Bidayah al-Hidayah. Beliau Rh bersabda:
ولا تقطع بشهادتك على أحد من أهل القبلة بشرك أو كفر أو نفاق؛ فإن المطلع على السرائر هو الله تعالى، فلا تدخل بين العباد وبين الله تعالى، واعلم أنك يوم القيامة لا يقال لك: لِم لمَ تلعن فلانا، ولم سكت عنه؟ بل لو لم تعلن ابليس طول عمرك، ولم تشغل لسانك بذكره لم تسأل عنه ولم تطالب به يوم القيامة. وإذا لعنت أحدا من خلق الله تعالى طولبت به،
“Janganlah engkau memvonis syirik, kafir atau munafik kepada seseorang ahli kiblat (orang Islam). Karena yang mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati manusia hanyalah Allah SWT. Jangan pula engkau ikut campur dalam urusan hamba-hamba Allah dengan Allah SWT. 
Ketahuilah bahwa pada hari kiamat kelak engkau tidak akan ditanya : ‘mengapa engkau tidak mau mengutuk si Anu? Mengapa engkau diam saja tentang dia?’ Bahkan seandainya pun kau tidak pernah mengutuk Iblis sepanjang hidupmu, dan tidak menyebutnya sekalipun, engkau pun tidak akan ditanyai dan tidak akan dituntut oleh Allah nanti di hari kiamat. 
Tetapi, jika kau pernah mengutuk seseorang makhluk Allah, kelak kau akan dituntut (pertanggungjawabannya oleh Allah SWT)”
Syeikh Abdul Qadir al-Jilani rh juga melarang mengatakan Kafir kepada Ahlul Kiblat. Sebagaimana beliau rh Bersabda:

( الـسـادسـة ) أن لا يقطع الشهادة على أحد من أهل القبلة بشرك و لا كفر و لا نفاق، فإنه أقرب للرحمة، و أعلى في الدرجة و هي تمام السنة، و أبعد عن الدخول في علم الله، و أبعد من مقت الله و أقرب إلى رضاء الله تعالى و رحمته، فإنه باب شريف كريم على الله تعالى يورث العبد الرحمة للخلق أجمعين.

“Janganlah seorang hamba itu mengatakan bahwa orang yang mengikuti kiblat yang sama, yaitu orang yang beragama Islam itu adalah musyrik, munafik atau kafir. Jika kamu tidak mengkafirkan, memunafikkan atau memusyrikkan seseorang, maka itu menunjukkan bahwa kamu mengikuti sunnah Nabi besar Muhammad SAW, menjauhkan diri kamu dari berbuat kekacauan dalam perkara yang hanya diketahui oleh Allah saja dan menjauhkan diri dari siksaan-Nya, serta Allah akan mendekatkan kamu kepada rahmat dan keridhaan-Nya. Oleh karena itu, ini adalah pintu yang mulia untuk menuju Allah SWT. 

Yang mengkaruniakan sifat ini kepada hamba-hamba-Nya yang beriman sebagai balasan atas kasih sayangnya kepada semua orang.” (Syeikh Abdul Qadir Jaelani, Futuhul Ghaib, Risalah ke 78)
Kesimpulan
Hukumilah atau nilailah seseorang dari lahiriyahnya. Karena kita tak bisa menelusuri dalam hatinya. Kita bisa menuduh orang tidak ikhlas atau riya’, karena seperti itu butuh penglihatan dalam hati. 
Menerawang hati seseorang sungguh amat sulit dilakukan
Imam Nawawi rahimahullah membawakan bab dalam Riyadhus Sholihin: “Menjalankan hukum-hukum terhadap manusia menurut lahiriyahnya. Sedangkan keadaan hati mereka diserahkan kepada Allah Ta’ala.” 

نحن نحكم الظواهر والله يتولّى السرائر
Wallahu’alam bishawab.
والسلام على من اتبع الهدى

admin

Related Posts

Rasul Ibrahim a.s.: Keimanan dan Pengetahuannya

Rasul Ibrahim a.s.: Keimanan dan Pengetahuannya

Tanda Akhir Zaman Bermunculan, Saatnya Mencari Sosok Isa Ibnu Maryam dan Imam Mahdi

Tanda Akhir Zaman Bermunculan, Saatnya Mencari Sosok Isa Ibnu Maryam dan Imam Mahdi

HIKMAH DIBALIK KISAH KAUM TERDAHULU

HIKMAH DIBALIK KISAH KAUM TERDAHULU

Memaknai Keunggulan Islam Di Atas Semua Agama

Memaknai Keunggulan Islam Di Atas Semua Agama

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *