ISLAM AGAMA CINTA
Showing posts with label Islam Damai. Show all posts
Showing posts with label Islam Damai. Show all posts

Friday, August 19, 2016

ISLAM DAN TERORISME

Mln. Muhammad Syarif Hidayatullah

Materi yang akan saya sampaikan pada kesempatan ini adalah seputar Islam dan Terorisme. Dua kata yang sebenarnya sangat bertentangan. Tetapi pada saat ini terorisme seakan telah melekat ke tubuh agama Islam. Teroris adalah Islam dan Islam adalah teroris.

Tentu ini adalah kesan yang sangat salah, bertentangan dengan ajaran Islam, tetapi sayangnya, kesan negatif terhadap Islam ini dikuatkan oleh sebagian umat Islam sendiri, dimana mereka terlibat dalam tindakan-tindakan ekstremisme yang mengatasnamakan Islam, sebut saja yang terjadi baru-baru ini, penyerangan  Teroris di brusel, Belgia, Ankara Turky, kota Nice, Perancis, munchen Jerman dan bom di Kabul, Afghanistan .

Sungguh sangat disayangkan, bahwa Islam, yang merupakan agama damai, yang penuh ajaran kasih sayang, kebaikan dan persaudaraan telah ternodai oleh para pelaku terorisme dan ekstremisme yang kita saksikan di berbagai belahan dunia.

Definisi kata Islam dan Terorisme

Dalam kamus bahasa  Arab; Al-Misbah, kata Islam di serap dari kata, salamayaslamu-salaman-salamatan; yang berarti : selamat, aman, damai. (kamus Al-Misbah, hal. 199, penerbit bina iman Jakarta-Surabaya) Jadi Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, yang mengajarkan tentang, keselamatan, keamanan dan kedamaian.

Sedangkan kata teror berarti, usaha menciptakan ketakutan, kengerian dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. (hhtp://kamusbahasaindonesia.org/terror). Jadi kata terorisme berarti usaha untuk menciptakan ketakutan, kengerian dan kekejaman  oleh seseorang atau golongan untuk mencapai tujuan atau keinginan, terutama tujuan politik.

Islam Menentang Terorisme

Bicara Islam, tidak lepas dari pembawa ajaran Islam itu sendiri yaitu Rasulullah saw, karena beliau saw orang yang diutus sebagai pembawa ajaran Islam, apa yang di contohkan dan diamalkan Beliau itulah yang harus kita ikuti sebagai pengikut Beliau saw, (Al-Ahzhab :22),
Memang di dalam Islam terdapat perintah berperang, tetapi peperangan tersebut diizinkan hanya dalam bentuk peperangan depensif, karena keadaan yang memaksa mereka untuk berperang. Dalam riwayat bagaimana Nabi kita Muhammad saw, mulai mendapat izin dari Allah untuk melakukan peperangan, karena selama + 13 Tahun, setelah menerima mandat Kenabian dari Allah saw, dan da’wa beliau sampaikan kepada masyarakat di Mekah, beliau dan orang-orang yang menerima penda’waan beliau SAW, mendapat pertentangan dan  permusuhan disertai juga  tindakan-tindakan diskriminatif, melihat Islam yang mulai terus berkembang, para penentang Islam  berusaha menghambat lajunya kemajuan Islam bahkan mereka berusaha menghancurkan Islam dengan cara menangkap hidup atau mati pembawa ajaran Islam yaitu Rasulullah SAW, hingga akhirnya Beliau Hijrah ke Madinah, setelah hijrah ke madinah pun permusuhan tidak juga berhenti, mereka berusaha menghancurkan Islam dengan cara menyerang orang-orang Islam yang ada di Madinah, hingga turun ayat : 

“Telah diizinkan (berperang) bagi mereka yang telah diperangi, disebabkan mereka telah dianiaya Dan sesungguhnya Allah berkuasa untuk menolong mereka. Orang-orang yang telah diusir dari rumah-rumah mereka tanpa hak, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami adalah Allah.” Dan sekiranya Allah tidak menangkis (serangan) sebagian manusia oleh sebagian yang lain, maka akan hancurlah biara-biara serta gereja-gereja Nasrani dan rumah-rumah ibadah Yahudi serta masjid-masjid yang banyak disebut nama Allah di dalamnya. Dan pasti Allah akan menolong siapa yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Perkasa. (Q.S. Al-Hajj: 40-41)

Di dalam ayat ini izin untuk berperang diberikan karena keadaan yang terpaksa.  Di dalam ayat yang sama, Allah memerintahkan bahwa dalam peperangan tersebut adalah untuk menegakkan kebebasan untuk melakukan ibadah yang mana mereka telah dianiaya bertahun-tahun sehingga mereka tidak bisa bebas untuk menyatakan bahwa Tuhan mereka adalah Allah yang Esa. Dan dijelaskan juga bahwa peperangan tersebut bukan hanya untuk kepentingan Islam semata, melainkan untuk kepentingan agama-agama samawi, seperti yahudi dan Kristen, yang jika  mereka tidak melawan maka akan hancur semua Sinagog, Gereja, dan Masjid-masjid.

Peperangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, melahirkan peraturan-peraturan yang bernilai kebaikan universal, diantaranya: Jangan berkhianat, jangan bertindak secara berlebihan (melampaui batas), jangan ingkar jani, dilarang mencincang mayat, dilarang membunuh anak kecil, orang tua renta dan wanita; dilarang membakar dan menebang pohon; dilarang menyembelih binatang ternak kecuali untuk di makan, dan dilarang mengusik orang-orang Ahli Kitab yang sedang beribadah. (hadits Abu Daud, bab, perang, Sinar Islam, Vol. I, edisi ke 5, Juli 2014).

Bahkan dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW, tidak pernah membunuh musuh di medan perang, memang ada riwayat bahwa ada seseorang yang tewas dalam perang uhud yang bernama Ubay bin Khalaf, tetapi kematian Ubay bin Khalaf bukan terjadi di medan perang tetapi, beberapa hari setelahnya, yaitu saat perjalanan pulang menuju Makkah di suatu tempat yang bernama Saraf. Di kisahkan, dalam perang Uhud tahun 625 M, Ubay bin Khalaf dengan mengenakan pakaian perang lengkap sambil memegang pedang dan menunggangi kuda, di medan laga mencari Nabi Muhammad SAW, Ubay menunggangi kuda sambil berkata,”Jika Muhammad tidak di bunuh hari ini aku tidak akan selamat.” Kata-kata itu terus-menerus diteriakkan berulang-ulang. Pada akhirnya Ubay menemukan Nabi Saw, dan berusaha menyerangnya. Para sahabat memutuskan untuk menghabisi Ubay sebelum ia berusaha mendekati nabi, tetapi mereka dicegah oleh Nabi. Ketika Ubay mendekat, Nabi mengambil lembing dari salah satu sahabatnya yaitu Harits bin As-Shinmah, kemudian lembing itu di lempar tepat mengarah ke Ubay dan berhasil mengenai lehernya. Ubay terkejut dan jatuh bersimbah darah lalu berlari menuju pasukannya. Sambil menangis ubay bin khalaf berkata, “Demi Tuhan, Muhammad telah membunuh ku!”. Anak buahnya berusaha menghibur dan mengatakan itu hanya luka kecil dan tak perlu dikhawatirkan. Tetapi Ubay bin Khalaf mengatakan bahwa, “Muhammad telah berkata di Mekkah bahwa dialah yang akan membunuhku”.
Abu Sufyan yang pada masa itu masih aktif memerangi kaum muslimin, mengatakan jangan mempermalukan diri sendiri dengan menangis meraung-raung, hanya karena luka kecil. Ubay menjawab,”Tak tahukah kau yang mengakibatkan luka ini? Dia adalah Muhammad. Demi Latta dan Uzza! Jika penderitaan ini di sebarluaskan ke seluruh masyarakat Hijaaz, tidak satu pun akan  selamat. Sejak saat itu ia menyatakan bahwa ia akan membunuhku dan kematianku berada ditangan Muhammad. Jika saja di ,meludahi ku, pada saat ia berkata, aku pasti sudah mati.” Pada akhirnya Ubay bin Khalaf menghembuskan nafas terakhir saat perjalanan pulang menuju Makkah, tepatnya disebuah tempat bernama Saraf. (Sinar Islam, Vo. I, edisi 5, Juli 2014)

Peperangan di masa Nabi Saw, menjadi fakta penting bahwa perang yang dilakukan oleh Nabi Saw, bukan dilatarbelakangi oleh kebencian, nafsu barbar apalagi niatan membunuh manusia-manusia yang berbeda keyakinan. (Sinar Islam, Vo. I, edisi 5, Juli 2014)

Akan tetapi kenapa pelaku-pelaku terror umumnya orang Islam? Apakah mereka lupa dengan riwayat yang dialami oleh Rasulullah Saw?

Hadhrat Masih Mau’ud as menjawab atas pertanyaan ini:
 
“Filosofi dan sifat sejati dari Jihad adalah masalah yang kompleks dan halus. Kesalahan fatal telah dibuat baik dizaman kita dan diabad pertengahan karena orang gagal memahami masalah ini. Ini adalah cela yang teramat besar, saya terpaksa mengakui bahwa kesalahan-kesalahan yang berbahaya ini telah mencemari agama suci Islam, yang merupakan cermin dari hukum-hukum alam dan manisfestasi dari kemuliaan Allah Ta’ala, untuk dikritik-lawannya.” (The Brithis Government and Jihad,  Sinar Islam, vol.I, edisi 5, Juli 2014)

“Harus diingat bahwa ulama-ulama Islam hari ini (ulama-ulama garis keras, peny), benar-benar telah salah memahami Jihad dan salah dalam menjelaskan kepada masyarakat umum. Naluri kekerasan masyarakat mengakibatkan mereka meradang dan melucuti diri dari semua kebajikan mulia manusia. Ini adalah fakta dari apa yang sebenarnya terjadi. Saya tahu pasti bahwa para mulvi/mulla yang bertahan dalam menyebarkan faham/doktrin berlumuran darah ini sebenarnya bertanggung jawab terhadap pembunuhan yang dilakukan oleh orang bodoh, orang egois yang tidak tahu mengapa Islam di paksa berperang dalam sejarah awal”. “Semoga Allah membawa para Mauvi/mullah yang bodoh ini kembali kejalan yang benar. Mereka telah menyesatkan masyarakat/umat, untuk percaya bahwa kunci surga terletak pada keyakinan untuk melakukan penindasan,kekejaman dan tindakan-tindakan tidak bermoral. (The Brithis Government and Jihad,  Sinar Islam, vol.I, edisi 5, Juli 2014)

“Mereka menganggap jihad menjadi wajib dalam hati mereka ……. Mereka mematuhi begitu kuat doktrin mereka tentang Jihad, yang benar-benar sesat dan sepenuhnya bertentangan dengan ajaran Al-quran dan hadits, … label Dajjal, senantiasa mereka alamatkan dan menganjurkan pembunuhan kepada siapa saja yang menjadi objek. Sebuah fatwa semacam ini pernah dialamatkan kepada saya beberapa waktu lalu.” (The Brithis Government and Jihad,  Sinar Islam, vol.I, edisi 5, Juli 2014)

“mereka (para mullah) adalah sumber pemberontakan terhadap setiap pemerintah. Mereka memiliki kekuasaan atas masyarakat umum dan menciptakan kekacauan dengan mengubahnya kearah apapun yang mereka inginkan.” (The Brithis Government and Jihad,  Sinar Islam, vol.I, edisi 5, Juli 2014)

Bahkan dengan tegas Hadhrat Masih Mau’ud as menyatakan bahwa, para mullah yang meyakini ideoligi Jihad berdarah adalah musuh tersembunyi bagi pemerintah dan penjahat serta tidak mentaati perintah Allah T’ala. (The Brithis Government and Jihad,  Sinar Islam, vol.I, edisi 5, Juli 2014)

Jihad dalam pandangan Hadhrat Masih Mau’ud as

Beliau as bersabda:
”Didalam Al-Quran terdapat perintah jelas, janganlah mengangkat pedang untuk menyebarkan agama. Dan tampilkanlah keindahan-keindahan substansial agama. Dan tariklah orang-orang dengan suri tauladan yang baik. dan jangan berpikiran bahwa pada permulaan Islam telah dikeluarkan perintah mengangkat pedang. Sebab, pedang tersebut tidak dicabut untuk menyebarkan agama, melainkan untuk membela diri dari serangan-serangan musuh. Atau pedang itu di cabut untuk menegakkan keamanan. Namun tidak pernah dengan tujuan untuk melakukan pemaksaan bagi agama.”dari serangan-serangan musuh. Atau pedang itu di cabut untuk menegakkan keamanan. Namun tidak pernah dengan tujuan untuk melakukan pemaksaan bagi agama.” (Sitarah Qaishariyah, hal. 16, mahzarnamah, JAI, 2002)
“Orang-orang yang menyebut diri mereka Muslim, tapi menyakini bahwa Islam harus disebarkan dengan pedang, mereka tidak menyadari keunggulan Islam yang melekat pada Islam, dan tindakan mereka seperti tindakan binatang.” (Taryaqul-Qoluub, Ruhani Khazain, ol. 15, hal. 167, Sinar Islam, vol. I, edisi 5, Juli 2014)

Beliau as bersabda: ”Mereka yang memiliki penglihatan, membaca hadits dan merenungkan Al-Quran harus memahami dengan baik bahwa jenis jihad yang di peraktekkan oleh banyak orang-orang barbar saat ini bukanlah jihad Islam. Sebaliknya, kegiatan sesat yang menyebar diantara   umat Islam adalah hasutan Nafs-Amarah (nafsu yang manghasut kejahatan) atau nafsu hewani untuk meraih surga.”(the British Government and jihad, Sinar Islam, vol.I, edisi 5, Juli 2014)

“Tradisi umum dikalangan kaum Muslim yang menyerang orang-orang dari agama lain, yang mereka sebut dengan jihad, bukanlah jihad agama Ilahi (syariat), sebaliknya itu adalah dosa besar dan pelanggaran terhadap instruksi yang jelas dari Allah dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad Saw. ((The Brithis Government and Jihad,  Sinar Islam, vol.I, edisi 5, Juli 2014)

“Mereka harus ingat bahwa pemahaman mereka tentang jihad sama sekali tidak benar dan simpati kepada manusia itu adalah yang utama. (the British Government and jihad, Sinar Islam, vol.I, edisi 5, Juli 2014)

Hadhrat Masih Mau’ud as, bersabda :
”Apakah itu tidak memalukan, ada orang asing harus tewas dengan cara tidak adil hingga menciptakan kesusahan urusan rumah tangga sehari-hari, menjadikan istrinya seorang janda, membuat anak-anaknya yatim piatu, dan mengubah rumahnya menjadi rumah duka ? hadits atau ayat dari Al-Quran yang mana yang memberikan kewenangan perilaku seperti itu ? Apakah ada mullah atau ulama yang dapat menjawab pertanyaan in ? Orang bodoh mendengar kata jihad dan dia menjadikan alasan untuk pemenuhan keinginan ego mereka sendiri. Atau mungkin itu adalah kegilaan belaka yang condong menuju pertumpahan darah.” (the British Government and jihad, Sinar Islam, vol.I, edisi 5, Juli 2014)
“Dizaman sekarang ini, dimana kita hidup didalamnya, tidak ada kebutuhan dan kebutuhan mutlak untuk melakukan peperangan lahiriyah, melainkan di akhir zaman ini yang dikehendaki adalah memperlihatkan contoh peperangan non-lahiriah. Dan yang menjadi perhatian adalah perlawanan rohani. Sebab pada saat ini sarana-sarana dan persenjataan untuk menyebarluaskan kemurtadan rohani dan penyimpangan agama telah banyak di buat. Oleh karena itu untuk melawannya juga diperlukan senjata semacam itu. Sebab, sekarang adalah zaman yang aman dan damai. Dan kita memperoleh segala macam kemudahan serta keamanan. Setiap orang bebas dapat melakukan penyebaran dan pertablighan agama masing-masing, …. Islam yang merupakan pendukung sejati terhadap keamanan bahkan secara hakiki hanya Islamlah penyebar keamanan, ketentraman dan kedamaian. Bagaimana mungkin pada zaman sekarang ini Islam dapat menyukai untuk memperlihatkan contoh pertama iu yaitu peperangan lahiriah dalam kondisi aman dan bebas? Jadi, pada masa sekarang ini yang dikehendaki adalah contoh kedua, yaitu peperangan rohani.” (Malfuzhat, jld.I, hal. 58, Mahzarnamah, JAI, 2002)

“Pada masa permulaan Islam, peperangan bela diri dan pertempuran jasmani memang diperlukan saat itu karena jawaban yang diberikan kepada para pelaku da’wa Islam bukanlah dalil-dalil dan argumentasi, melainkan di balas dengan pedang. Oleh karena itu, tanpa pilihan lain dalam menghadapinya terpaksa digunakan dengan pedang. Namun, sekarang tanggapan tidak dilakukan dengan pedang, melainkan serangan kecaman-kecaman dilakukan terhadap Islam melalui pena dan dalil-dalil. Itulah sebabnya pada zaman ini Allah Ta’ala telah menghendaki agar fungsi pedang digantikan oleh pena. Dan agar dilakukan perlawana melalui tulisan , sehingga penentang dikalahkan. Oleh karena itu sekarang tidak pantas  bagi siapapun untuk menjawab pena dengan menggunakan pedang.” (malfuzhaat, jld. I, hal. 58-59, Mahzarnamah, JAI, 2002)  
 

Generalisasi tentang ayat-ayat Alquran

Para penentang Islam dan sebagian umat Islam dalam memahami sumber-sumber Islam memaknainya secara parsial dan tidak menyeluruh. Misalnya mereka memilih sumber-sumber asli yang terkait dengan peperangan Rasulullah saw dan berdasarkan itu mereka membuat generalisasi pada keseluruhan hidup dan ajaran Rasulullah saw dan mengabaikan ayat-ayat lain yang yang lebih memberikan gambaran yang akurat.

Misalnya dalam upaya mereka membuktikan Rasulullah saw telah menyerukan pembunuhan terhadap orang kafir mereka mengambil ayat Al-Qur’an yang nyata-nyata keluar dari konteksnya. Salah satu ayat yang sering dikutip adalah:

 “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti.” (47:5)
Dengan ayat ini orang-orang dapat memiliki pandangan negatif terhadap Islam dan umat Islam sendiri menjadi terinspirasi melakukan semangat yang sama. Tetapi yang sebenarnya dalam memahami ayat ini jangan dibaca sepotong saja dengan mengabaikan konteks dan latar belakang sebenarnya.

Ayat ini turun saat umat Islam sedang menghadapi orang-orang Mekkah dalam Perang Badar. Jumlah orang Islam pada waktu itu sebanyak 313 orang sedangkan kaum Mekkah berjumlah lebih dari 1000 orang. Kaum Quraisy memiliki senjata yang lebih lengkap dibandingkan umat Islam. Kaum Quraisy sudah siap untuk menghabisi umat Islam. Ayat ini diturunkan dalam konteks ini.

Jika kita berpikir secara rasional tentang ayat ini maka pengertiannya adalah di dalam perang umat Islam diizinkan untuk membunuh, sebagaimana pasukan Amerika atau pasukan lainnya di dunia mengajarkan para tentaranya untuk membunuh selama peperangan terjadi yang jika tidak demikian mereka sendiri yang akan dibunuh. Bagian kedua ayat ini berbunyi bahwa ‘apabila kamu telah mengalahkan mereka, maka perkuatlah belenggu mereka’. Bagian ini dengan jelas menunjukkan bahwa pembunuhan itu diperbolehkan di masa peperangan tetapi saat kalian telah menundukkan tentara musuh, perkuatlah ikatannya sehingga ia tidak bisa melarikan diri dan ia dapat bergabung kembali dengan musuh. Setelah perang berakhir kalian dapat membebaskan mereka sebagai bentuk kebaikan atau untuk tebusan.

Wa’akhiru da’wana anilhamduillah rabbil a’lamin




Thursday, March 12, 2015

Jangan Salahkan Islam, Salahkanlah Muslim ekstremis

Sohail Husain MD

Jika kalian seperti kebanyakan orang, kalian tidak akan membenci keimanan seseorang secara inheren. Kita tahu bahwa agama itu bersifat personal. Tetapi, kita juga tidak bisa menghindari berbagai headline berita sekarang yang menayangkan serangkaian kejadian yang melibatkan pelaku yang sama.

Pertama, kebebasan sipil nampaknya sedang dipertaruhkan. Dua Muslim militan yang memiliki keterkaitan dengan Al-Qaida menembaki penghuni di kantor majalah satir Charlie Hebdo di Perancis, sebagai bentuk balasan atas penerbitan kartun yang melecehkan Nabi Muhammad saw. Sementara itu, di Arab Saudi, seorang blogger menghadapi hukuman berat dengan seribu cambukan atas tuduhan samar menghina Islam. Begitu juga boneka salju pun nampak tidak aman, seorang ulama Saudi mengeluarkan fatwa bahwa membuat karakter boneka salju sekarang dilarang.

Di Suriah dan Irak, Isis terus gembar-gembor dengan teror mereka terhadap agama dan etnis minoritas melalui pemenggalan dan pembunuhan berdarah dingin. Mereka tunduk kepada seorang yang mereka sebut sebagai Khalifah, sebuah sebutan yang diberikan kepada pimpinan spiritual setelah berlalunya Nabi Muhammad saw 1400 tahun yang lalu.

Kedua, terdapat serangan gencar terhadap anak-anak dan hak mereka terhadap pendidikan. Taliban Pakistan menyerang sebuah sekolah di jam sekolah di Pakistan Utara saat siang hari dan membunuh 141 orang, kebanyakan korban adalah anak-anak. Di Nigeria, Boko Haram, yang secara harfiah berarti "pendidikan barat dilarang', menculik para anak siswi, menyerang beberapa desa, meledakkan masjid yang dimiliki musuh mereka, dan mereka mengusung Khalifah sendiri, yang memimpin mereka dengan versi 'brutal' pemerintahan Syariah.

Kesamaan umum dari setiap tindakan kekerasan itu adalah semuanya dilakukan oleh Muslim ekstremis dan mengatasnamakan Islam.

islam damai peace

Kemudian, salahkah jika ada kesimpulan bahwa terdapat sesuatu yang tidak beres dengan agama Islam?

Nah, saya ingin menyampaikan disini, kalian tentunya dapat menyalahkan kelompok-kelompok Islam yang menyimpang tersebut, tetapi menyalahkan Islam adalah hal yang keliru.

Mengapa?

Kitab Suci Al-Qur'an telah mengajarkan bahwa "Tidak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya jalan benar itu nyata bedanya dari kesesatan (2:256). Mengenai hubungan yang adil Al-Qur'an telah memerintahkan kepada umat Islam untuk menerapkan keadilan; "janganlah kebencian sesuatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil; itu lebih dekat kepada takwa. (5:8)

Begitupun studi terhadap sisi-sisi kehidupan Nabi Muhammad saw- yang sangat sedikit para penentang lakukan - mengungkapkan bahwa setelah menyatakan kenabiannya Nabi Muhammad saw mengalami banyak penganiayaan pahit dari penduduk kota Mekkah selama 13 tahun, tetapi dihadapi oleh beliau dengan kesabaran tinggi. Setelah hijrah ke Madinahpun beliau diserang oleh tentara Mekkah. Puncaknya, Al-Qur'an akhirnya menyebutkan bahwa Allah mengizinkan umat Islam untuk melawan, tidak saja untuk membela diri tetapi juga untuk menegakkan kebebasan beragama bagi semua agama; mereka diperintahkan untuk melindungi 'biara, gereja, sinagog, dan masjid, dimana didalamnya nama Allah banyak disebut (22:40-41). Jadi ini sama sekali berbeda dari apa yang tertulis di buku panduan atau silabus di madrasah-madrasah kelompok ekstremis.

3 Cara pencegahan

Maka sebagaimana kita mencari cara untuk membasmi ekstremisme dalam Islam, berikut adalah tiga langkah penting yang sering kita lewatkan:

  1. Jangan dukung ekstremisme. Kedengarannya sederhana, tetapi kita benar-benar perlu untuk menghentikan dukungan terhadap ekstremisme, terlepas dari hasil jangka pendek yang didapatkan. Di era 80-an, pemerintah Amerika Serikat memelihara kelompok ekstremis Mujahidin Afganistan sampai memuji mereka sebagai "Freedom Fighters," karena mereka menentang saingannya, Soviet. Hari ini, mereka telah menjelma menjadi Taliban. Jadi Untuk menghindari kerugian jangka panjang, jalan yang terbaik adalah menolak tegas ekstremisme.

  2. Dukunglah yang moderat. Mereka mewakili mayoritas umat Islam yang baik di dunia. Saya misalnya, yang berasal dari Jamaah Muslim Ahmadiyah, pemimpin kami, khalifah Mirza Masroor selalu berpesan tentang perdamaian, yang mana baru-baru ini beliau telah berkeliling dunia termasuk ke Capitol Hill. Beliau percaya pada pemisahan antara negara dan agama dan berada di garis depan dalam mengutuk ekstremisme. Di bawah arahannya, Jamaah saya di Amerika telah meluncurkan sebuah kampanye nasional "Stop CrISIS," yang menyampaikan ceramah-ceramah di kampus-kampus, dengan tujuan untuk memberikan pemahaman tentang prinsip-prinsip Islam yang sebenarnya. Suara Muslim moderat dan pemimpin mereka perlu untuk dibawa ke permukaan. 

  3. Berhenti menyalahkan Nabi Muhammad. Umat Islam menghormati Nabi Muhammad saw melebihi orang lain dan tidak akan membiarkan orang lain mengejek sosok yang mereka cintai tersebut. Setelah peristiwa Charlie Hebdo, beberapa pemimpin muslim, termasuk saya sendiri, sangat mengecam insiden ini sebagai penghinaan terhadap masyarakat dan melawan Islam. Kami menulis secara panjang lebar terhadap kekejaman tersebut dan telah dimuat di media. Terdapat juga tanggapan-tanggapan dari beberapa kalangan lainnya, tetapi sayangnya banyak komentar yang tidak masuk akal. Hal itu meningkatkan jumlah penerbitan Charlie Hebdo yang semakin banyak menerbitkan karikatur yang menghina Nabi. Charlie Hebdo, sebuah majalah yang oleh banyak perkiraan berada di ambang kebangkrutan, dengan sirkulasi sekitar 60.000, kemudian dalam dua minggu mendapat pesanan yang meningkat menjadi lebih dari 6 juta. Pesanan pertama perusahaan yang hampir bangkrut itu bisa diprediksi: mencetak ulang karikatur Nabi Muhammad saw. Lebih dari seratus tahun yang lalu, sebagai tanggapan atas serangan serupa terhadap Nabi Muhammad saw pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad, yang tinggal di India selama pemerintahan Inggris, memohon pemerintah India untuk melakukan moratorium selama beberapa tahun terhadap pernyataan-pernyataan menghina tokoh-tokoh suci agama manapun. Beliau menyarankan kelompok agama harus didorong untuk menjadi tuan rumah dialog antar agama dengan tujuan supaya saling memahami kebajikan masing-masing pendiri agama. Kebijakan ini akan mendorong toleransi dan kerukunan; jadi kalian bisa melakukan debat agama, tetapi jangan ada penghinaan. Saya percaya kita masih memiliki kesempatan. Dan saya menghargai pemimpin seperti Paus Francis yang memberikan pernyataan ketika ditanya tentang peristiwa Charlie Hebdo bahwa kebebasan berpendapat "tidak bisa untuk membuat provokasi,' terutama terhadap agama orang lain. 

Jadi jika kita menyalahkan Islam atau Nabi Muhammad atas masalah yang ditimbulkan oleh beberapa muslim ekstremis pada saat ini maka hal itu akan berarti juga kita harus menyalahkan Kristen atau Yesus untuk inkuisisi Spanyolnya, penyiksaan sistematis yang dilakukan selama berabad-abad, pengusiran dan pemaksaan agama (yang sebagian besar terjadi terhadap Muslim dari Spanyol Selatan). Atau kita harus meminta Kristen bertanggung jawab atas perbudakan terhadap jutaan orang Afrika oleh para majikan Kristen, yang membenarkan tindakan mereka karena menggunakan ayat-ayat Alkitab. Penyalahgunaan agama memiliki sejarah panjang dan luas bahkan diluar Kristen ataupun Islam.

Keimanan adalah hal yang bersifat pribadi. Tujuan utama agama adalah untuk meningkatkan akhlak seseorang. Jadi keliru sekali menyematkan nama buruk terhadap agama lain. Kita memiliki hak untuk menyalahkan Muslim ekstremis, tetapi benar-benar tidak adil jika menyerang Islam atau nabi Muhammad saw.

*Dr Sohail Husain, seorang dokter anak, adalah mantan ketua Khuddam Ahmadiyah Connecticut.

Sumber: http://www.themuslimtimes.org/2015/02/the-muslim-times/forum-blame-misguided-muslim-extremists-not-islam
Terjemah: Jusman


Wednesday, February 25, 2015

200 Ayat Al-Qur'an tentang Berbuat Kebaikan dan Kasih Sayang

Ajaran Al-Qur'an tentang cinta kasih sayang dan berbuat kebaikan telah tertutupi oleh berita-berita yang mengesankan bahwa Islam bukan agama damai tetapi agama yang mengajarkan kekerasan dan menjadi sumber inspirasi terorisme.

Jauh dari semua itu, Al-Qur'an mengajarkan kepada satu Tuhan dan satu kesatuan umat manusia dengan perbuatan baik dan saling kasih sayang. Berikut ini akan kami sampaikan, daftar ayat-ayat tentang berbuat kebaikan dan kasih sayang yang terdapat di dalam Al-Qur'an:

Al-Qur'an menekankan bahwa ketakwaaan bukan dinilai hanya dengan kesalehan ritual semata melainkan dalam bentuk amal saleh dan kasih sayang. Al-Qur'an menjelaskan bahwa parameter suatu keyakinan dan ibadah yang benar adalah dapat mewujudkan hidup yang penuh kebaikan dan kasih sayang.

Photo Alquran love cinta1. "Bukanlah kebaikan bahwa kamu menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat, tetapi yang sebenarnya kebaikan ialah yang beriman kepada Allah swt. dan Hari Kemudian dan malaikat-malaikat dan Kitab dan nabi-nabi, dan memberikan harta atas kecintaan kepada-Nya, kepada kaum kerabat, dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan orang musafir, dan mereka yang meminta sedekah dan untuk memerdekakan hamba sahaya; dan orang-orang yang mendirikan shalat dan membayar zakat; dan orang-orang yang menepati janji mereka bila mereka berjanji, dan mereka yang sabar dalam kesusahan  dan kesengsaraan, dan tabah dalam masa perang; merekalah orang-orang yang benar dan merekalah orang-orang yang bertakwa. (Q.S. 2:178)

Setiap Shalat Jumat saat Khutbah Kedua, umat Islam di seluruh dunia mendengarkan ayat ini, yang menekankan pada keadilan, kebaikan, saling mencintai kepada kaum kerabat.
2. "Sesungguhnya Allah swt. menyuruh berlaku adil dan berbuat kebaikan dan memberi kepada kaum kerabat ; dan melarang dari perbuatan keji, dan hal yang tidak disenangi, dan memberontak. Dia memberi kamu nasihat supaya kamu mengambil pelajaran." (Q.S. 16:91)

Allah berfirman bahwa syarat kesalehan tersebut adalah dengan berbuat kebaikan. Allah menekankan bahwa untuk mendapatkan Kedekatan dan Rahmat Allah taala syaratnya adalah dengan berbuat kebaikan kepada sesama, yaitu mereka yang ingin berhasil menemukan Allah, harus berbuat kebaikan dan penuh kasih sayang kepada manusia:
3. Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami, sesungguhnya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah swt. beserta orang- orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 29:70)
4. Sesungguhnya Allah swt. beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 16:129)

Allah telah menjelaskan bahwa kita harus berinisiatif terlebih dahulu untuk berbuat kebaikan kepada orang lain, tetapi jika orang lain yang terlebih dahulu berbuat baik kepada kita, kita harus berbuat kebaikan yang serupa.
5. Bukankah ganjaran kebaikan itu tidak lain melainkan kebaikan ? (Q.S. 55:61)
Dalam salah satu ayat yang biasa dibacakan saat upacara pernikahan, Allah telah menghubungkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalin hubungan yang baik.
6. Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu Yang menciptakan kamu dari satu jiwa dan darinya Dia menciptakan jodohnya, dan mengembang-biakan dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan; dan bertakwalah kepada Allah swt. yang dengan nama-Nya kamu saling bertanya, terutama mengenai hubungan  tali kekerabatan. Sesungguhnya Allah swt. adalah pengawas atas kamu. (Q.S. 4:2)
Pada ayat pertama di setiap Surah Al-Qur'an, kecuali satu Surah, kita membaca: Bismillahirrohmanirrohim, "Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

Allah tidak saja Pengasih dan Penyayang, tetapi juga menginginkan kepada manusia supaya berlaku kasih sayang kepada sesama.

Ayat ini tercantum di 113 Surah, kecuali untuk Surah At-Taubah dan di pertengahan salah satu Surah, jadi semua telah masuk hitungan dalam daftar ini.
7-120. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Bagi mereka yang secara sadar ataupun tidak sadar ingin mengambil kepentingan dari politik Islam, pertama harus mencoba mengulang ajaran belas kasih selama beberapa dekade. Mungkin hal ini bisa meredakan ambisi politik dan membawanya kepada ajaran Islam yang benar. Al-Qur'an telah menjelaskan kasih sayang dan kebaikan sebagai resep untuk mengubah musuh menjadi teman yang akrab:
121-122. Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan.Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya, maka tiba-tiba ia, yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia. Dan, tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang-orang yang sabar, dan tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang yang mempunyai bagian besar dalam kebaikan. (Q.S. 41: 35-36)
Sekarang saya akan mencantumkan ayat-ayat yang berasal dari kata kata "Muhsin", dalam bahasa Arab, di dalam Al-Qur'an, dalam bentuk tunggal maupun jamak, artinya "Muhsin" adalah orang yang berbuat baik dan melayani orang lain. Dua ayat telah saya sebutkan sebelumnya dan saya tidak akan mengulanginya disini:
123. Tak ada dosa atasmu, jika kamu menalak perempuan-perempuan yang belum kamu sentuh atau belum kamu memastikan maskawin bagi mereka. Akan tetapi, berikanlah kepada mereka, yang kaya menurut kadar kemampuannya, dan bagi yang berkekurangan menurut kadar kemampuannya, suatu pemberian dengan cara yang ma’ruf. Inilah  kewajiban atas orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. 2:237)
124. Ialah, orang-orang yang membelanjakan harta di waktu lapang dan di waktu sempit, dan yang menahan marah dan yang memaafkan manusia. Dan Allah swt. mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Q.S. 3:135)
125. Karena itu Allah swt. memberi mereka pahala duniawi dan juga sebaik-baik pahala akhirat dan Allah swt. mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 3:149)
126.Dan, siapakah yang lebih baik agamanya dari orang yang sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada Allah swt., dan ia seorang pelaku kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang tulus ikhlas ? Dan, Allah swt. telah menjadikan Ibrahim sebagai  sahabat karib. (Q.S. 4: 126)
127. Maka, oleh sebab mereka melanggar janji mereka, Kami laknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras. Mereka menukar perkataan-perkataan dari tempat-tempatnya, dan melupakan sebagian dari apa yang telah dinasihatkan kepada mereka. Dan senantiasa engkau akan menemukan pengkhianatan dari mereka. Kecuali sedikit dari mereka. Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah. Sesungguhnya Allah swt. mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Q.S. 5:14)
128. Maka disebabkan ucapan mereka, Allah swt. memberi ganjaran kepada mereka dengan kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah ganjaran orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 5:86)
129. Tiada dosa bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh dalam apa yang telah dimakan mereka dahulu  asalkan mereka bertakwa dan beriman dan beramal saleh, kemudian mereka semakin  bertakwa dan berbuat kebaikan.  Dan, Allah swt. mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 5:94)
130. Dan, Kami menganugerahkan kepadanya, Ishak dan Ya’kub ; masing-masing Kami beri petunjuk ; dan Nuh Kami beri petunjuk sebelumnya, dan dari keturunannya, Daud dan Sulaiman dan Ayyub  dan Yusuf dan Musa dan Harun. Dan, demikianlah Kami memberi ganjaran kepada mereka yang berbuat kebajikan. (Q.S. 6:85)
131. Dan, ingatlah  ketika Kami berfirman, “Masuklah ke kota ini dan makanlah darinya di mana kamu sukai sepuas hati; dan masukilah pintu-Nya dengan tunduk sambil mengucapkan, “Tuhan, bebaskanlah kami dari dosa kami,” Kami akan ampuni kesalahan -kesalahanmu, dan akan Kami lipat gandakan anugerah kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. 2: 59)
132. Dan, janganlah kamu berbuat kerusuhan di muka bumi sesudah perbaikannya,  dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh  harap. Sesungguhnya, rahmat Allah swt. dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 7: 57)
133.Dan, ingatlah ketika dikatakan kepada mereka, “Tinggallah kamu di dalam kota ini dan makanlah darinya di mana saja kamu sukai dan katakanlah, ‘ Ya Tuhan, ringankanlah beban kami,’ dan masukilah pintunya dengan merendahkan diri, Kami akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu, Kami kelak akan menambah ganjaran  kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S. 7:162)
134. Tak ada celaan terhadap orang-orang yang lemah, dan tidak pula terhadap orang-orang yang sakit, dan tidak pula terhadap orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu yang dapat mereka belanjakan, apabila mereka berlaku ikhlas terhadap Allah swt. dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan untuk mencela  orang-orang yang berbuat baik, dan Allah swt. Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S. 9:91)
135. Tidaklah patut bagi penduduk Medinah dan orang-orang Arab gurun di sekitarnya tertinggal di belakang Rasul Allah swt. dalam peperangan  dan tidak mementingkan diri mereka sendiri di atas dirinya Rasul. Hal demikian karena mereka tidak akan ditimpah dahaga dan tidak kelelahan dan tidak kelaparan di jalan Allah swt., dan tidak mereka akan memijak tempat berpijak yang menjadikan marah orang-orang kafir dan tidaklah mereka meraih dari musuh suatu kemenangan, melainkan akan ditulis bagi mereka karena hal itu suatu amal shaleh. Sesungguhnya, Allah swt. tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang-orang yang ber buat baik. (Q.S. 9:120)
136. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah swt. sekali-kali tidak menyia-nyiakan ganjaran orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. 11: 116)
137. Dan setelah ia sampai kepada kedewasaannya, Kami berikan kepadanya kebijaksanaan dan ilmu. Dan demikianlah Kami memberi ganjaran kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 12:23)
138. Dan masuk bersamanya ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkata seorang di antara keduanya, “Sesungguhnya kulihat dalam mimpi, aku sedang memeras air anggur.” Dan yang lain berkata, “Sesungguhnya kulihat diriku dalam mimpi  membawa di atas kepadaku roti yang sebagiannya dimakan burung-burung. Beritahukanlah kepada kami ta’wilnya ; sesungguhnya kami memandang engkau termasuk orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. 12: 37)
139. Dan demikianlah telah Kami berikan kedudukan kepada Yusuf di negeri itu. Ia tinggal dimana saja yang ia kehendaki. Kami limpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki, dan tidaklah Kami menyia-nyiakan ganjaran orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. 12:57)
140. Mereka berkata, “Wahai yang mulia, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah tua renta , maka ambillah salah seorang dari antara kami sebagai gantinya ; sesungguhnya kami lihat engkau termasuk orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. 12:79)
141. Mereka berkata, “Apakah sesungguhnya engkau Yusuf ? “ Ia berkata, “Ya, akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah swt. telah melimpahkan karunia atas kami. Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka Allah swt. pasti tidak akan menyia-nyiakan ganjaran bagi orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. 12:97)
142. Sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, dagingnya dan tidak pula darahnya, akan tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan darimu.  Demikianlah Dia menundukkan mereka untuk kamu, supaya kamu mengagungkan Allah sesuai petunjuk kepadamu. Dan berikan khabar suka kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 22: 38)
143. Dan tatkala ia telah sampai pada umur kedewasaannya dan telah mempunyai akhlak  yang sempurna Kami anugerahkan kepadanya hukum dan ilmu. Dan demikianlah Kami balas orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 28: 15)
144. Suatu petunjuk dan rahmat bagi mereka yang berbuat kebaikan. (Q.S. 31:4)
145. Dan barangsiapa menyerahkan perhatiannya kepada Allah dan ia seorang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada lingkaran yang kuat. Dan kepada Allah-lah akibat segala perkara. (Q.S. 31:23)
146. “Tetapi, jika kamu menghendaki Allah dan Rasul-Nya dan rumah di akhirat, maka sesungguhnya Allah telah menyediakan bagi mereka diantaramu yang beramal baik, pahala yang besar.” (Q.S. 33:30)
147. Sungguh demikianlah Kami membalas orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 37:81)
148. Sungguh engkau telah menyempurnakan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi ganjaran orang-orang yang berbuat kebaikan.(Q.S. 37:106)
149. Demikianlah Kami mengganjar orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. 37: 111)
150. Dan, Kami melimpahkan berkat atasnya, dan juga  kepada Ishak. Dan di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada pula yang nyata-nyata aniaya terhadap dirinya sendiri. (Q.S. 37: 114)
151. Sesungguhnya, demikian-lah Kami mengganjar orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. 37: 122)
152. Sesungguhnya, demikian-lah Kami mengganjar orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. 37: 133)
153. Bagi mereka apa yang mereka inginkan di sisi Tuhan Mereka. Itulah ganjaran mereka yang berbuat kebaikan. (Q.S. 39:35)
154. Atau, ia berkata ketika ia melihat azab, “Sekiranya bagiku ada kesempatan  kembali ke dunia, niscaya aku akan berada di antara orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S. 39:59)
155. Dan, sebelum ini telah ada Kitab Musa, sebagai petunjuk dan rahmat; dan  ini adalah Kitab dalam bahasa Arab yang membenarkan nubuatan-nubuatan terdahulu, supaya memberi peringatan kepada orang-orang yang berlaku aniaya dan khabar suka untuk orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. 46: 13)
156. Mereka mengambil apa yang akan dianugerahkan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Karena sebelum itu mereka berbuat kebaikan. (Q.S. 51:17)
157. Sesungguhnya, demikianlah Kami membalas mereka yang berbuat kebaikan. (Q.S. 77:45)
158. Mengapa tidak, barangsiapa menyerahkan dirinya] kepada Allah swt. dan ia berbuat kebaikan maka bagi dia ada ganjarannya di sisi Tuhan-nya. Dan, tak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. (Q.S. 2:113)
159. Dan, belanjakanlah harta pada jalan Allah swt., dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu dengan tanganmu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah swt. mencintai orang- orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 2: 196)

Ketika berbicara kepada kebaikan yang spesifik, siapa yang lebih layak untuk mendapatkan kebaikan dan kasih sayang kita, Rasulullah saw, yaitu berbuat kebaikan kepada ibu. Salah seorang sahabat bertanya: Siapakah yang paling pertama untuk dikhidmati saya?" "Ibumu," kata Rasulullah. Kemudian sahabat bertanya lagi, setelah itu siapa? "Ibumu", ulang Rasulullah. Begitu juga pada pertanyaan keempat kali Rasulullah saw menjawab, "Ayahmu".

Mereka yang menuduh Islam tidak memperhatikan kesetaraan gender mungkin belum pernah mendengar hadis ini. Saya akan mendata ayat-ayat yang berkaitan dengan berbuat baik kepada orang tua:

160. Dan, ingatlah ketika Kami mengambil janji teguh dari Bani Israil, bahwa “Janganlah kamu menyembah sesuatu selain Allah swt. dan berbuatlah kebaikan terhadap ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, dan ucapkanlah kata-kata baik kepada manusia dan dawamlah mendirikan shalat dan bayarlah zakat, kemudian kamu berpaling, kecuali sedikit di antara kamu dan kamu selalu berpaling. (Q.S. 2:84)
161. Mereka bertanya kepada engkau, apa yang harus mereka belanjakan. Katakanlah, ”Apa saja yang kamu belanjakan dari harta yang baikhendaklah untuk ibu-bapak, kaum kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang musafir. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat, maka sesungguhnya Allah swt. Maha Mengetahui tentang itu. (Q.S. 2:216)
162. Dan, sembahlah Allah swt. dan jangan kamu mempersekutukan sesuatu dengan-Nya; dan berbuat  baiklah terhadap kedua orang tua, dan kaum kerabat, dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan tetangga yang sesanak-saudara dan tetangga yang bukan kerabat, dan handai taulan, dan orang musafir, dan yang dimiliki oleh tangan kananmu. Sesungguhnya, Allah swt. tidak menyukai orang sombong, membanggakan diri. (Q.S. 4:37)
163. Katakan, “Marilah kubacakan apa yang diharamkan Tuhan-mu atasmu, janganlah kamu  mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya ; dan berbuat baiklah terhadap kedua orang-tua, dan  janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut  miskin, Kami Yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan jangan kamu mendekati perbuatan keji, baik itu zahir ataupun yang tersembunyi ; dan janganlah kamu membunuh suatu jiwa yang Allah swt. mengharamkannya kecuali dengan hak. Demikianlah Dia telah mewasiatkan kepadamu mengenai hal itu supaya kamu memahami. (Q.S. 6:150)
164. “Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua orangtuaku dan orang-orang mukmin pada Hari diadakannya perhitungan.” (Q.S. 14:40)
165. Dan Tuhan engkau telah memerintahkan supaya jangan menyembah selain kepada-Nya. dan berbuat baiklah terhadap ibu-bapak. Jika salah seorang dari mereka atau kedua-duanya mencapai usia lanjut dalam kehidupan engkau, maka janganlah engkau mengatakan “ah” terhadap keduanya dan kanganlah engkau hardik keduanya, dan berkatalah kepada keduanya dengan perkataan yang hormat. (Q.S. 17:22)
166. Dan kami perintahkan kepada manusia berbuat kebaikan terhadap ibu-bapaknya, tetapi jika keduanya memaksa engkau untuk menyekutukan Aku dengan apa yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau mentaati keduanya. Dan kepada Aku akan beritahukan kepadamu tentang apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S. 29:7)
167. Dan Kami telah memerintahkan kepada manusia supaya berbuat baik terhadap ibu-bapak-nya, ibunya telah mengandungnya dalam kelemahan di atas kelemahan, dan penyapuhan susunya dalam dua tahun, supaya bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtua engkau. Kepada Aku-lah tempat kembali. (Q.S. 31:15)
168. Dan Kami diperintahkan kepada manusia supaya berbuat baik terhadap orangtuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah-payah, dan melahirkannya dengan susah-payah. Dan mengandungnya dan menyapihnya selama tiga puluh bulan. Hingga apabila ia mencapai usia dewasanya dan mencapai usia empat puluh tahun, ia berkata, ”Hai Tuhan-ku, limpahkanlah taufik kepadaku supaya aku dapat bersyukur atas nikmat Engkau yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada orangtuaku, dan supaya aku dapat beramal shaleh yang Engkau meridhainya, dan perbaikilah bagiku dalam keturunanku. Sesungguhnya, aku kembali kepada Engkau; dan Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (46:15)

Masih ada ayat-ayat lainnya tentang berbuat baik kepada orang tua di dalam Al-Qur'an, karena saya membuat target 200 ayat, saya meninggalkan ayat-ayat tersebut dan mengumpulkan ajaran Islam tentang hidup berumah tangga:
169. Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istrimu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. (Q.S. 2:188)
170. Dan bergaullah dengan mereka secara baik-baik; jika kamu tidak menyukai mereka, maka ingatlah bahwa boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah swt. menjadikan di dalamnya banyak kebaikan. (Q.S. 4:20)

Bagaimana Al-Qur'an menjelaskan tentang berbuat baik kepada orang yang kurang mampu dan anak yatim?
171. Mereka bertanya kepada engkau mengenai anak yatim. Katakanlah, “Memperbaiki mereka adalah sangat baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka itu saudara-saudaramu. Dan Allah swt. mengatahui yang berbuat perbaikan. Dan sekiranya Allah swt. menghendaki niscaya Dia akan menyusahkan kamu, Sesungguhnya Allah swt. itu Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Q.S. 2:221)
172. Dan, Jika kamu khawatir bahwa kamu tak akan dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim, maka kawinilah perempuan-perempuan lainnya  yang kamu sukai; dua, tiga, atau empat; akan tetapi, jika kamu khawatir kamu tak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah  seorang perempuan saja, atau kawinilah yang dimiliki tangan kananmu.  Cara demikian itu lebih dekat untuk kamu supaya tidak berbuat aniaya. (Q.S. 4:4)
173. Dan, apabila hadir pada waktu pembagian warisan itu kaum kerabat yang lain  dan anak-anak yatim dan orang-orang miskin, maka berikanlah kepada mereka sesuatu  darinya, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang patut. (Q.S. 4:9)
174. Dan, mereka meminta fatwa dari engkau mengenai peraturan perkawinan dengan  perempuan-perempuan. Katakanlah, Allah swt. memberi fatwa kepadamu mengenai mereka; dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Kitab ini mengenai perempuan yatim yang tidak kamu berikan kepada mereka mahar  yang telah ditetapkan bagi mereka, padahal kamu ingin mengawini mereka dan mengenai  anak-anak perempuan yang lemah. Dan hendaknya kamu senantiasa berlaku adil terhadap anak-anak yatim. Dan apa-apa yang kamu kerjakan dari kebaikan, maka sesungguhnya Allah swt. mengetahui hal itu. (Q.S. 4:128)
175. Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. (Q.S. 93:10)

Al-Qur'an telah mengajarkan kepada kita untuk membantu kepada orang yang meminta bantuan.

176. Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik. (Q.S. 93:11)
Berikut adalah ayat-ayat tentang berbuat kebaikan secara umum:
177. Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal shaleh Yang Maha Pemurah akan menanamkan kecintaan bagi mereka.(Q.S. 19:97)
Salah satu sifat Allah taala adalah Ar-Rahiim  dan orang mukmin diwajibkan untuk meniru sifat-sifat Allah dalam kehidupan mereka. Saya mencari kata rahiim dalam pencarian bahasa Arab untuk Al-Qur'an di situs alislam.org dan menemukan setidaknya 227 kali hasil pencarian, termasuk di dalamnya ayat pertama di setiap surah Al-Qur'an, kecuali satu surah. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, terdapat 114 kali penyebutan "Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang' di dalam Al-Qur'an yang telah masuk dalam hitungan kita.

Jadi saya telah diberi tambahan 113 kali tentang berbuat baik: 177 + 113 = 290.

Terakhir, Saya cantumkan salah satu ayat yang paling penting dalam hal ini:
"Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam. (21:107)
Jadi sekarang berjumlah 291 ayat.

Sumber: http://www.themuslimtimes.org/2013/10/human-rights/three-hundred-verses-about-compassionate-living-in-the-quran

Monday, January 12, 2015

Bagaimana Nabi Muhammad saw Menghadapi Penghinaan

BAGAIMANA NABI MUHAMMAD SAW MENGHADAPI PENGHINAAN

Muslim yang menanggapi seperti peristiwa Charlie Hebdo dengan kekerasan perlu membaca Al-Qur'an.

Harris Zafar



Serangan kejam di hari Rabu terhadap kantor majalah Perancis Charlie Hebdo membuat banyak orang di seluruh dunia terkejut, sedih, dan bahkan marah. Ketika asap dibersihkan dan kami mengetahui ada 12 orang tewas di tangan tiga orang berseragam militer, mengacungkan senjata otomatis yang ditembakkan tanpa pandang bulu di kantor tersebut, kita menerima kenyataan mengerikan bahwa orang-orang tersebut dibunuh karena fakta tunggal yaitu mereka menggunakan kebebasan berbicara untuk mempublikasikan konten yang provokatif.

Nabi Muhammad sawSebagai seorang Muslim, saya mencoba memecahkan dan menjawab - pertanyaan tentang sikap Islam terhadap kebebasan berbicara, apakah serangan ini merupakan buntut dari penghinaan atau penyalahgunaan sentimen Muslim. Sebagian besar dari kita tidak asing dengan Charlie Hebdo, yang menggunakan cara kontroversi dalam beberapa tahun ini, terutama setelah beberapa kesempatan mereka memilih untuk mempublikasikan kartun yang menghina Nabi Muhammad dengan tujuan menyinggung umat Islam. Tentu saja, jika Charlie Hebdo memiliki hak untuk menghina, maka umat Islam memiliki hak untuk tersinggung. Tapi pertanyaannya bagaimana Muslim harus bereaksi dan menanggapi penghinaan ini?


Sebagaimana saya terluka ketika mengetahui bahwa 12 orang tewas (dan 12 keluarga kehilangan orang yang dicintai) akibat serangan teroris yang salah dan tak berbudi ini, saya juga marah ketika mengetahui respon dari seorang ulama radikal yang terkenal di Inggris bernama Anjem Choudary. Pemimpin dari kelompok kecil Muslim radikal ini telah mengeluarkan pendapat yang paling hina yang bisa dibayangkan dan sengaja memfitnah agama Islam dan nabinya. Mengapa saya harus peduli pada artikelnya? karena dalam waktu kurang dari 12 jam setelah diterbitkan, artikel itu sudah di share di jejaring sosial hampir 8.000 kali, dengan 300 komentar dari pembaca. Jelas, hal yang tampak kecil ini telah mendapatkan panggung dan suaranya didengar. Dengan gembar-gembor ia mengklaim, "Muslim tidak percaya pada konsep kebebasan berekspresi," dan menyatakan bahwa siapa pun yang terbukti bersalah menghina Nabi Muhammad maka akan menerima "hukuman mati yang dilakukan oleh Kelompok Islamic State."

Mengaku sebagai Imam, ia sama sekali tidak merasa ada yang salah dengan pembunuhan brutal terhadap orang-orang ini. Alih-alih memberitahu bagaimana Al-Qur'an secara eksplisit memerintahkan umat Islam untuk menanggapi hinaan, Choudary menyimpulkan, "Inilah waktunya kesucian Nabi Muhammad yang dihormati hingga seperempat dari populasi dunia dilindungi."

Padahal Sebenarnya, sudah saatnya seorang radikal penyebar kebencian seperti Choudary, yang jelas tidak memiliki keterikatan yang benar kepada Allah atau ajaran Nabi Muhammad, untuk dikonfrontir ajaran Islam yang sebenarnya. Islam menawarkan pendekatan yang seimbang, menginstruksikan umat Islam menentukan sikap mereka sendiri tetapi juga bagaimana memberi tanggapan terhadap ucapan yang tidak pantas.

Al-Qur'an sangat melarang perilaku dan ucapan tidak senonoh, atau menyinggung hal yang sensitifitas orang lain, terlepas apakah itu dilakukan dengan atau tanpa alasan yang "valid". Nabi Muhammad menyeru pengikutnya untuk mengedepankan sopan santun, integritas, dan sensitivitas melalui pengendalian diri - nilai-nilai yang mencakup sifat memaafkan, kesabaran, kebenaran, ucapan yang baik, perbuatan yang baik, dan menjauhi kedengkian.

Tapi Islam tidak mendukung orang-orang yang dengan keras menghalangi kebebasan berbicara. Kebebasan berbicara dijamin dalam Al-Qur'an baik melalui perintah langsung maupun melihat teladan Nabi Muhammad dalam mengalami penghinaan dan tidak pernah membalas. Al-Qur'an menyebutkan bahwa Beliau saw pernah disebut gila, pembohong, dan seorang penipu. Terhadap itu semua, Nabi Muhammad tidak pernah membalas atau menyerukan supaya mereka diserang, ditangkap, atau dieksekusi. Hal itu karena Al-Qur'an mengatakan untuk "tidak menghiraukan ganguan mereka" (Al-Ahzab-48) dan "bersabarlah atas apa yangmereka katakan" (Al-Muzammil:10). Al-Qur'an memerintahkan kita untuk menghindari mereka yang terus menghina Islam. Tidak ada ruang dalam Islam untuk menanggapi penghinaan atau penghujatan dengan kekerasan.

Tapi yang paling tegas adalah Al-Qur'an mengatakan kepada pengikutnya untuk tidak terprovokasi oleh orang-orang yang menyerang Islam, Al-Qur'an menyatakan dengan sangat jelas "janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil." (Almaidah:8)

Hal ini didukung oleh contoh Nabi Muhammad saw sendiri. Suatu ketika, saat beliau kembali dari ekspedisi, seorang musuh menggunakan kata-kata penghinaan terhadap beliau. Meskipun para sahabat menyarankan supaya pelakunya dibunuh, Nabi Muhammad tidak mengizinkan siapa pun untuk melakukannya, sebaliknya mereka diperintahkan untuk melepaskan orang itu. Betapa sedihnya bagaimana mereka yang disebut sebagai Muslim telah melupakan kata-kata Al-Qur'an dan contoh Nabi Muhammad saw tetapi mengaku membela Islam. Muslim tidak membolehkan untuk membalas dengan kekerasan. Sebaliknya, mereka harus memiliki keberanian yang sama seperti Nabi Muhammad saw untuk menghadapi penghinaan dan membalasnya dengan ucapan yang sabar,tenang dan kata-kata hikmah.

Jadi, ketika Anda mendengar orang seperti Anjem Choudary yang mengatakan bahwa orang-orang yang menghina Islam harus dibunuh, katakan padanya untuk membaca Al-Qur'an dan meningkatkan keimanannya yang ia klaim sebagai ketaatan, tetapi ia tetap bodoh.

(Nurul Haira)

Sumber: Faithstreet.com
Sumber gambar: Sufiway.net

Saturday, January 10, 2015

Membela Kehormatan Rasulullah, Apa Harus Dengan Membunuh?

Cara Untuk Membela Kehormatan Rasulullah saw adalah dengan Menyebarkan Perdamaian, Bukan Dengan Membunuh Orang lain.

Dr. Abu Alim


Dua orang bersenjata yang menyerang majalah Perancis Charlie Hebdo malam ini di Paris terdengar mengatakan bahwa kehormatan Rasulullah saw telah terbalaskan setelah mereka menembak dan membunuh dua belas karyawan.

Saya tak habis pikir dan mencoba mencari tahu adakah bagian dari hidupnya atau ajaran Al-Qur'an bagian mana yang mereka gunakan untuk menjustifikasi dan melakukan tindakan biadab dan tidak manusiawi tersebut.

kehormatan Rasulullah saw
Al-Qur'an, wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah saw penuh dengan ayat-ayat yang mengajarkan dan menyerukan kasih sayang. Al-Qur'an menyebutkan dengan tegas bahwa membunuh satu orang sama dengan membunuh seluruh umat manusia. Al-Qur'an menetapkan bahwa tidak ada hukuman atas penghujatan dan dengan tegas mendukung kebebasan berbicara, hati nurani dan kebebasan memilih.

Kehidupan Rasulullah saw sendiri adalah lambang pemahaman empatik kepada orang-orang yang berbeda dengan beliau dan jauh melampaui sekedar toleransi belaka. Contoh pribadi beliau adalah seorang yang senantiasa berdoa untuk musuh-musuhnya yang tidak hanya menghina, tetapi telah menganiaya dan bahkan mencoba untuk membunuh beliau. Beliau adalah contoh terbesar dari semua yang kita sebut sebagai humanisme modern dan lebih jauh, semua itu muncul dari cinta yang mendalam dan kasih sayang bagi umat manusia.

Kami, Jamaah Muslim Ahmadiyah adalah yang sangat dirugikan dengan kejadian ini dan doa kami senantiasa tertuju kepada para korban dan keluarga mereka supaya diberi kesabaran dan ketabahan atas kejadian yang merugikan ini.

Mari kita perjelas, bahwa korban terbesar dari kekejaman ini bukanlah para korban yang telah meninggal tersebut, tetapi wujud mulia yang seharusnya dituntutkan balasnya, Rasulullah saw dan agama yang diturunkan kepada beliau sebagai pesan Allah taala kepada seluruh umat manusia, Agama Islam. Sebuah tragedi yang lebih besar, wujud yang sama yang telah menjadi target utama penghinaan oleh Charlie Hebdo ketika menerbitkan kartun satir. Majalah ini telah melintasi semua batas kesopanan jurnalistik dan melanggar semua nilai-nilai luhur yang merupakan dasar dari kebebasan berbicara.

Kebebasan mutlak tidaklah ada. Semua kebebasan disertai dengan tanggungjawab. Sementara itu dalam motif pembalasan atas tindakan senonoh, pidato kebencian tidak dapat digunakan untuk membenarkan membunuh orang lain. Mereka yang melakukan tindakan keji tersebut harus didekati dengan logika dan contoh teladan Rasulullah saw, bagaimana beliau menjalani hidupnya.
Pemimpin Jamaah Ahmadiyah saat ini secara konsisten telah menunjukkan cara bagi umat Islam tentang bagaimana kehormatan Rasulullah sawa dapat terbalaskan. Cara itu adalah dengan memperlihatkan akhlak mulia beliau dalam cinta damai dan menyanggah segala bentuk pelecehan keji yang dilemparkan kepada beliau oleh orang-orang yang bodoh dan penuh prasangka, dengan logika yang jelas dan contoh pribadi.

Pembunuhan di Paris bukanlah yang pertama, dan sayangnya mungkin bukan yang terakhir, mengingat bahwa ISIS memiliki pendukung yang sangat kuat dari negara-negara berkembang dan kaya baik dari Timur dan Barat. Pemerintahan yang mengobarkan kekerasan sebagai bagian kebijakan luar negeri janganlah berpikir bahwa jin yang sedang dikembangkan di Timur Tengah tidak akan balik memangsa mereka. Jin ini hanya dapat dibasmi dengan menempa pemahaman yang nyata dan mendalam tentang perbedaan agama dan saling menghormati pendiri agama masing-masing dan tidak menggunakannya sebagai alat untuk kemenangan politik. Menanamkan empati  sejati dan toleransi adalah satu-satunya cara dimasa datang, dimana semua ambisi, ekonomi, politik dan sosial harus disiplinkan melalui perendahan diri kepada Tuhan dan cinta pada manusia sebagai sesama ciptaan-Nya.

(Jusman)

Sumber: Themuslimtimes.org

Thursday, January 8, 2015

Terorisme Bukan Islam!

HindustanTimes - December 30, 2014

Qadian (Gurdaspur) - Jalsah Salanah Internasional Jamaah Muslim Ahmadiyah ke-123 telah ditutup di pusat mereka disini, Minggu malam. 

Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifah Ahmadiyah kelima, saat memberikan pidato pada acara penutupan, mengatakan bahwa terorisme hari ini telah menjadi sumber ketakutan dan kecemasan bagi sebagian besar masyarakat dunia. Beliau mengatakan bahwa ia tidak ragu mengakui bahwa banyak gangguan yang terjadi di dunia saat karena disebabkan tindakan tertentu oleh mereka "yang menyebut diri Muslim" dan ini adalah penyebab penderitaan besar untuk cinta damai Muslim yang memahami imannya. Ini tentunya hal yang sangat menyedihkan bagi setiap muslim yang cinta damai yang mengerti bagaimana keimanan mereka. "

Pada tahun lalu, kelompok ISIS telah menyebarkan jaringan teror dan telah menjadi penyebab keprihatinan besar bagi dunia. Mereka memfitnah Islam dengan tindakan keji mereka," tambahnya. 

"Jamaah Ahmadiyah sendiri adalah objek dari penganiayaan dan terorisme dari kelompok ekstremis tersebut. Satu lagi anggota Jamaah Ahmadiyah teah dibunuh kemarin. Sebenarnya, semua ini telah dilakukan dengan mengatasnamakan Islam yang benar-benar melukai semua umat Islam yang cinta damai, karena ideologi brutal dan tidak manusiawi tersebut tidak ada hubungannya dengan agama manapun," Jelas beliau, sambil menambahkan bahwa ajaran Islam yang sesungguhnya adalah perdamaian dan keamanan bagi semua orang. 

Beliau mengatakan bahwa jika berada pada masa hidup dan contoh Nabi Muhammad saw, sangat jelas bahwa umat Islam awwalin tidak pernah memulai setiap peperangan atau kekerasan. Beliau mengatakan bahwa kalaupun Islam terlibat dalam perang, itu murni bersifat defensif dan tujuan mereka hanya itu menghentikan penindas dari kekejaman mereka dan tidak pernah untuk menunjukkan superioritas mereka atau untuk bertindak tidak adil. 

"Kita harus memperkuat hubungan kita dengan Allah taala, kata Hazrat Ahmad saat memberikan pidato kepada para anggota Jamaah yang disiarkan langsung dan interaktif dari London melalui saluran Muslim Television Ahmadiyah (MTA). Hampir 20.000 delegasi dari 37 negara hadir dalam acara jalsah ini. 

Jutaan orang menyaksikan transmisi satelit Jalsah melalui Muslim Television Ahmadiyah Internasional. Sebelum pidato Khalifah, Inam Ghori, Ketua Jamaah lokal Ahmadiyah, mengucapkan terima kasih kepada pemerintah atas visa untuk para delegasi dari 37 negara. (Husna)

Wednesday, January 7, 2015

Makna Jihad yang Keliru

Begitu banyak perbincangan tentang perdamaian dunia dan konflik yang terjadi di seluruh dunia. Keadaan ini telah menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran. Ancaman meningkatnya estremisme dan awan gelap terorisme telah meliputi banyak negara.

Sayangnya, banyak yang menyalahkan Islam, dengan mengatakan bahwa Islam menyebarkan ajaran ekstremisme, dengan sering menampilkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai Muslim.

Jadi, saya ingin menunjukkan titik terang terhadap apa saja yang ada dibalik militansi yang luar biasa seperti itu, terutama di negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim.

Pada kenyataannya, tanggung jawab dari tindakan-tindakan tersebut sebenarnya ada pada para ulama Islam dan organisasi-organisasi ekstremis yang telah keliru memahami isu Jihad. Mereka menganggap bahwa pembunuhan dengan pedang itu dibenarkan sebagai kewajiban agama. 

Para ulama tersebut sengaja menyalahtafsirkan beberapa ayat Al-Qur'an dan menyamakan Jihad Islam dengan pemberontakan untuk kepentingan dan tujuan pribadi mereka. 

Mereka mengajarkan para pengikutnya untuk melawan orang-orang kafir sampai mereka menerima Islam atau dibunuh. Mereka juga berpendapat bahwa hukuman murtad adalah kematian. 

Tahun lalu, satu kelompok kejam telah menyebarkan jaringan teror dan telah menjadi sebab keprihatinan besar dunia. Mereka adalah ISIS atau IS. 

Tindakan kelompok teroris ini tidak hanya berdampak bagi negara-negara Muslim, karena negara-negara di Eropa juga terdampak oleh kebrutalan mereka. Organisasi tersebut juga terdapat di berbagai belahan dunia. 

Beberapa hari yang lalu, Syed Munawar Hasan, mantan pemimpin Jamaat Islami, sebuah organisasi politik religius di Pakistan mengesampingkan penyelesaian masalah melalui disposisi demokratis dan menyerukan budaya Jihad untuk mengatasi tantangan masa sekarang.

Ia mengusulkan melancarkan Jihad dan Qital fi Sabilullah untuk menghapuskan penindasan dan ketidakadilan dari dunia. Ia menekankan bahwa pesannya ditujukan kepada seluruh dunia Muslim. 
Ikan membusuk dari kepala, para pemimpin dan para ulama Islam telah mengeksploitasi keluguan dan ketidaktahuan para pengikutnya. Mereka telah menyesatkan orang-orang untuk meyakini bahwa kunci surga terletak pada tindakan-tindakan menindas, kejam dan tidak bermoral.

Padahal, kebebasan hati nurani adalah prinsip fundamental Islam

Dalam keadaan apapun, tidak pernah diizinkan untuk memaksa orang lain untk menerima Islam atau agama manapun. Semua orang bebas untuk beriman ataupun tidak beriman. Nabi Muhammad saw saja hanya diizinkan untuk menyampaikan dakwah Islam dan tidak lebih dari itu.  Maka bagaimana bisa mereka yang disebut sebagai pemimpin Muslim saat ini telah melampaui hal tersebut dan berpikir bahwa mereka memiliki lebih banyak kekuasaan, hak dan otoritas lebih dari Nabi Muhammad saw?

Lebih dari satu abad yang lalu, pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah telah menjelaskan makna jihad yang benar dan memperingatkan bahwa setiap ideologi ekstrimisme akan menyebabkan konflik dan perang.

Beliau menjelaskan bahwa Islam tidak mengizinkan umat Islam untuk mengobarkan perang ofensif tetapi hanya boleh membela diri jika diserang. 

Beliau tegas mengutuk perang dan pembunuhan orang yang tak bersalah. Beliau mengatakan: 
"Tidakkah memalukan bahwa orang asing harus terbunuh secara tidak adil saat sibuk dalam urusan sehari-hari, sehingga istrinya menjadi janda, anak-anaknya menjadi yatim dan mengubah rumahnya menjadi rumah duka? "Perkataan manakah dari Nabi Muhammad saw dan ayat Al-Qur'an yang mengizinkan tindakan seperti itu?" Adakah Maulwi yang bisa memberi tanggapan? "Orang-orang bodoh mendengar kata Jihad dan menjadikannya alasan untuk pemenuhan keinginan pribadi mereka. Atau, mungkin itu adalah suatu kegilaan belaka yang mencondongkan mereka ke arah pertumpahan darah."
Beliau menjelaskan bahwa Jihad sebenarnya adalah perjuangan dalam mereformasi diri, melayani umat manusia, memberantas kemiskinan dan penderitaan, membawa manusia lebih dekat kepada Sang Pencipta, menyebarkan pesan Allah dengan cinta dan kasih sayang dan memperluas perdamaian dan keamanan kepada orang lain. 

"Jadilah penuh kasih sayang terhadap semua orang karena Allah taala semata supaya kamu mendapat belas kasihnya di langit. Datanglah dan aku akan mengajarkan Anda cara yang akan menjadikan cahaya menang atas semua cahaya lainnya. Tinggalkanlah semua kedengkian dan iri hati; berbelas kasihlah bagi umat manusia dan leburkanlah dirimu pada Tuhan," jelas beliau.

Jika kita terlibat dalam jihad seperti itu, maka hal itu akan menjamin kekebasan beragama, hak asasi manusia, keadilan dan persamaan bagi semua orang. Jihad ini akan mengakhiri segala macam ekstremisme dan akan meruntuhkan dinding-dinding kebencian dan kedengkian. Ini akan menyebarkan aroma cinta dan kasih sayang di seluruh dunia. 

amjmalta@gmail.com
Laiq Ahmed Atif is president, Ahmadiyya Muslim Jamaat Malta


Tuesday, December 16, 2014

Ajaran Islam Dalam Menegakkan Perdamaian dan Kerukunan Agama

Kitab Suci Al-Qur'an secara rinci sekali telah meletakkan berbagai ajaran untuk mewujudkan perdamaian dan kerukunan di dalam masyarakat yang plural. Saya kini akan menyajikan contoh ajaran-ajaran Islam berdasarkan Kitab Suci Al-Qur'an dan hadits mengenai masalah ini.

A. Menghormati Agama Lain dan Para Pendirinya

Saya telah membahas sikap Islam kepada agama-agama lain di dunia ini pada bagian permulaan. Disini saya rasa akan cukup untuk mengutip satu saja ayat Al-Qur'an yang mewajibkan seorang Muslim untuk beriman kepada kebenaran dan menghormati semua nabi atau rasul, atau para pendiri agama-agama lain. Allah taala berfirman:

"Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorang pun diantara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya." (Q.S 4:153)

B. Persamaan Semua Utusan Allah

Menurut Al-qur'an semua nabi adalah sama. Hal ini penting sekali untuk tegaknya kedamaian antar agama. Sejauh hubungannya dengan pendakwaan, para nabi harus diperlakukan sama. Para tempat lain Kitab Suci Al-Qur'an memang mengakui bahwa ada perbedaan derajat dari para nabi, tetapi semuanya memiliki keabsahan yang sama dari Tuhan. Allah taala berfirman dalam Al-Qur'an:

"Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian [dari] mereka atas sebagian yang lain. Diantara mereka ada yang Allah berkata-kata dengan dia dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat." (Q.S 2:254)

Ayat itu harus dipahami dalam hubungan ini. Dengan menghormati persamaan nabi-nabi sejauh hubungan dengan pendakwaan mereka, peristiwa-peristiwa berikut akan memperjelas hal itu. Salah seorang sahabat Nabi saw menyatakan bahwa Rasulullah saw adalah yang terbaik dari semua nabi. Hal ini terjadi dalam dua kesempatan. Pada suatu peristiwa ketika sedang berbahas dengan orang Yahudi, sahabat itu menekankan bahwa Nabi Muhammad saw lebih tinggi derajatnya dari pada Nabi Musa as. Ketika masalah itu disampaikan kepada Nabi Muhammad saw beliau menjawab bahwa beliau tidak seharusnya dinyatakan lebih tinggi dari Nabi Musa as. Pada waktu lain beliau bersabda bahwa beliau tidak seharusnya dinyatakan lebih tinggi dari Nabi Yunus as, bin Matta.

Prinsip mendasar yang harus diingat adalah bahwa Tuhanlah yang memutuskan dan menyatakan dengan cara apa seorang nabi lebih Dia cintai daripada lainnya. Para pengikut nabi-nabi itu tidak diizinkan untuk memulai pertengkaran atau perkelahian mengenai siapa nabi yang lebih baik.

C. Keselamatan Tak Dapat Dimonopoli

Ini merupakan pernyataan lain yang indah dari Al-Qur'an Suci yang menjadi unsur sangat penting untuk menegakkan kedamaian diantara agama-agama. Allah taala berfirman dalam Al-Qur'an:

"Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari'at) ini dan serulah kepada [agama] Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus." (22:68)
"Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja [diantara mereka] yang benar-benar beriman pada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak [pula]mereka bersedih hati." (5:70)
"Bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak [pula] mereka bersedih hati." (2:113)
Al-Qur'an Suci tidak mengizinkan kaum Muslimin dengan tak pandang bulu mencela mereka yang berasal dari agama-agama lain mengenai peluang-peluang untuk keselamatan mereka. Diajarkan bahwa Islam mengajarkan kalau semua orang bukan Muslim ditakdirkan masuk neraka tetapi sebenarnya adalah bahwa mereka semuanya yang mengaku beriman apakah mereka Yahudi, Nasrani, Shabiin atau dalam hal ini penganut suatu agama lain - jika mereka beriman kepada Tuhan dan hari kemudian dengan ikhlas dan jujur dan mereka beramal saleh - yang merupakan intisari Islam - tak ada ketakutan akan menimpa mereka dan tidak pula mereka berduka cita (2:63)

Disini saya ingin memperjelas lebih lanjut kata 'Shabi (Shabiin). Kata ini adalah suatu istilah yang digunakan oleh bangsa Arab mengacu pada pengikut-pengikut semua agama bukan Arab dan bukan semitik (diluar Timur Tengah) yang mempunyai kitab-kitab wahyu mereka sendiri. Dengan demikian para pengikut seluruh agama yang berdasarkan wahyu Ilahi telah diberikan jaminan bahwa, dengan syarat mereka tidak secara sengaja gagal untuk mengenali cahaya suatu agama baru dan berpegang teguh dengan jujur dan benar pada nilai-nilai agama nenek moyang mereka, mereka tidak seharusnya takut kepada Tuhan dan tidak akan ditolak [untuk dapat] keselamatan.

Sikap Berpikiran Luas Terhadap Penganut Agama Lain

Dinyatakan dalam kata-kata yang jelas dalam Al-Qur'an Suci bahwa bukan hanya kaum Muslimin yang berdiri teguh dengan kebenaran dan memperingatkan serta memberikan keadilan dengan benar tetapi ada juga orang-orang dari penganut agama-agama lain yang berbuat sama. Merujuk ada seluruh agama di dunia, pada umumnya, Al-Qur'an menyatakan:

"Dan diantara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak dan dengan yang hak itu [pula] mereka menjalankan keadilan." (7:182)

Inilah sikap yang seluruh agama di dunia hari ini harus menerapkan untuk meningkatkan nilai hubungan dengan agama-agama lain. Kedamaian agama dan kerukunan masyakat tidak dapat diperoleh tanpa menanamkan keluasan berpikir seperti itu, dan sikap-sikap pemahaman manusiawi terhadap orang-orang dari agama lain.

D. Perlindungan Tempat-Tempat Ibadah Agama Lain

Allah berfirman dalam Al-Qur'an Suci:

"Dan sekiranya Allah tiada menolak [keganasan] sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah." (22:41)

Al-Qur'an dalam menyajikan ayat itu yang telah memberikan hak pada kaum Muslimin untuk membela diri, bahkan dengan kehidupan mereka maka seluruh tempat ibadah: gereja, sinagog, kuil, biara dan lain-lain, dan jika orang Muslim dibunuh dalam upaya mempertahankan suatu tempat ibadah yang demikian, maka menurut Islam orang Muslim demikian akan diperlakukan sebagai syahid.

E. Jangan Mencaci Berhala-Berhala

Walaupun Al-Qur'an dengan kuat melarang penyembahan berhala, lihat betapa Tuhan mengajarkan kita cara-cara dan sikap hormat pada kehormatan dan perasaan orang lain. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

"Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan." (6:109)

Ayat itu menunjukkan jika kaum Muslimin tidak mengikuti ajaran ini, maka diri mereka sendiri akan bertanggung jawab jika Tuhan mereka dicaci maki dan selanjutnya mengganggu kerukunan komunal suatu masyarakat.

F. Tidak Ada Paksaan Dalam Urusan Agama

Kitab Suci Al-Qur'an dengan jelas memberitahu bahwa tak ada paksaan yang dapat digunakan dalam menyebarkan pesan Islam. Allah taala berfirman dalam Al-Qur'an:

"Tak ada paksaan dalam agama." (2:257)
"Barangsiapa menghendaki, hendaklah dia beriman dan barangsiapa menghendaki, biarlah ia kafir." (18:30).
"Untukmu agamamu dan untukku agamaku." (109:7)

G. Menghormati Para Pemimpin Kaum Lain yang Bukan Nabi

Islam memerintahkan kaum Muslimin untuk menghormati para pemimpin kaum lain yang bukan nabi, para pemimpin agama dan non-agama.

Nabi Muhammad saw bersabda:

"Apabila seorang yang dihormati di kalangan kaumnya mengunjungi kalian, kalian juga harus menyambutkan dengan penghormatan."

Dan mengenai hormat kepada para pemimpin atau orang-orang awam yang sudah meninggal, Nabi Muhammad saw bersabda:

"Ceritakanlah tentang orang-orang mati yang baik-baik saja dan hindari dari berbicara yang buruk-buruk dan jangan membicarakan kelemahan-kelemahan orang yang sudah mati, sebab akan melukai perasaan orang-orang yang masih hidup."

H. Persamaan Seluruh Manusia

Al-Qur'an dengan jelas meletakkan prinsip persamaan seluruh umat manusia. Allah taala berfirman dalam Al-Qur'an:

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lahi Maha Mengenal." (49:14)

Ayat itu menunjukkan bahwa seluruh umat manusia adalah sama, sebab setiap orang tanpa kecuali diciptakan dengan cara yang sama, yaitu dari laki-laki dan perempuan, maka tak seorang manusia pun dapat menyebut dirinya lebih mulia daripada orang lain dalam hal apapun. Satu-satunya tanda kemuliaan di sisi Allah adalah takwa.

I. Menyebarkan Perdamaian dan Niat Baik

Allah taala berfirman Al-Qur'an:

"Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung." (3:105)

Nabi Muhammad saw bersabda:

"Sedekah terbaik adalah meningkatkan kebajikan di kalangan manusia."

J. Cinta Kasih Kepada Manusia.

Allah taala berfirman di dalam Al-Qur'an:

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. dan berbuat baiklah kepada kedua ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan yang jauh, temat sejawat dan hambasahaya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (4:37)

Ayat tersebut diatas mengarahkan seorang Muslim untuk mengamalkan cinta kasihnya sedemikian rupa sehingga meliputi seluruh manusia dimulai dari orang tua, orang-orang yang terdekat, sampai orang-orang asing yang paling jauh.

Islam mengajarkan bahwa Kaum Muslimin tidak seharusnya bersahabat atau berkasih sayang dengan orang-orang bukan Muslim. Hal ini merupakan suatu kesalahpahaman lantaran ayat-ayat Al-Qur'an dan sabda-sabda Nabi Muhammad saw berikut ini akan memperjelas permasalahan ini.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an mengenai hubungan dengan orang bukan Muslim:

"Allah tidak melarang kamu untuk baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak [pula] menghalau kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berlaku adil." (60:9)
"Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kami karena agamamu dan menghalau kamu dari negerimu dan membantu [orang lain] untuk menghalaumu. Dan barangsiapa yang menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (60:10)

Nabi Muhammad saw bersabda:

1. Seluruh makhluk Tuhan adalah keluarga-Nya, dan orang yang paling dicintai Tuhan adalah dia yang berbuat paling baik kepada makhluk-makhluk Tuhan.

2. Allah tidak akan mengasihani mereka yang tidak mengasihani manusia.

3. Allah menganugerahkan kasih sayang-Nya hanya kepada hamba-hamba-Nya yang menyayangi sesamanya.

4. Seorang Muslim adalah dia yang kata-katanya dan perbuatannya tak menyakiti (merugikan) orang lain.

5. Seseorang yang melihat orang lain sedang hendak dibunuh dan dia tak turun tangan menolong atau membuat suatu usaha menyelamatkan ada di bawah laknat Tuhan.

Maka Islam memberikan suatu daftar apa-apa yang harus dan tidak harus dilakukan yang sangat mudah dipahami yang kasihnya kerukunan masyarakat pada taraf tertinggi dapat ditegakkan.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan mengutip dua peristiwa dari kehidupan Nabi Muhammad saw yang menegakkan keunggulan standar toleransi dan penghormatan dalam masalah-masalah agama dan nilai-nilai manusiawi.

Seorang utusan dari golongan Kristen Najran mengunjungi beliau saw di Madinah untuk bertukar pikiran mengenai masalah-masalah agama. Termasuk pemuka-pemuka gereja. Pembahasan berlangsung di dalam Masjid dan berlanjut hingga beberapa jam. Pada suatu kesempatan pemimpin perutusan Kristen itu meminta izin untuk keluar dari Masjid dan melakukan ibadah keagamaan mereka di suatu tempat yang mereka kehendaki. Nabi Suci Muhammad saw bersabda bahwa tak perlu mereka untuk keluar dari masjid yang merupakan tempat beribadah kepada Tuhan, dan mereka dapat melaksanakan ibadah mereka di dalamnya. Betapa suatu sipak berpikir yang luas.

Suatu ketika Nabi Muhammad saw sedang duduk bersama para sahabat. Suatu arak-arakan jenazah berlalu. Nabi Suci saw berdiri. Melihat beliau, para sahabat juga berdiri. SAlah seorang sahabat mengingatkan: "Ya Rasul Allah, itu jenazah seorang Yahudi."

Nabi Muhammad saw menjawah: "Bukankah dia manusia?" Dan lebih lanjut beliau bersabda: "kematian adalah suatu perkara yang menyedihkan dan dahsyat, sebab itu, apabila kamu melihat iring-iringan jenazah berlalu, kamu seharusnya berdiri sebagai suatu hadiah penghormatan."

Betapa suatu contoh rasa dan nilai kemanusiaan yang mengagumkan. Semoga Allah memberikan kita semua kemampuan untuk mengikuti contoh teladan Nabi Muhammad saw.


Sumber: Review of Religions, July 1995, dari artikel "Islam's Contribution Towards Establighment of Inter-Religions Peace and Communal Harmony."

Dikutip dari: Majalah Nur Islam, Edisi 9, Tahun ke IV September 2002

Tuesday, June 11, 2013

Love for All Hatred for None, Moto Damai Ahmadiyah

Source: Luqman Ahmad | cultures-et-croyances.com  

Love for All Hatred for None adalah moto perdamaian universal, keadilan, kesetaraan, cinta, saling pengertian dan kerukunan. Moto ini diciptakan oleh Khalifah Ketiga Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Nasir Ahmad.

Hadhrat Mirza Nasir Ahmad menciptakan moto ini pada kesempatan peresmian Masjid pertama di Spanyol pada 9 Oktober 1980 setelah 700 tahun terakhir (setelah runtuhnya kekuasaan Islam di Andalusia)



Dalam menerangkan moto ini beliau mengatakan: "Islam mengajarkan hidup saling mencintai dan kasih sayang serta penuh kerendahan hati."

Islam berarti damai dan berupaya menegakkan prinsip-prinsip perdamaian, saling mencintai dan kasih sayang. Bagaimana seseorang dapat memastikan rasa saling mencintai itu bisa terus menyebar? jelas dengan kerendahan hati. Saya percaya aspek kerendahan hati adalah alasan utama mengapa "hatred for none" ada dalam moto itu. Jika seseorang bersikap rendah hati, ia akan mengakui bahwa mereka memiliki banyak kekurangan dan pada saat yang sama ia belajar untuk mengabaikan kekurangan orang lain, sehingga hal itu membantu menumbuhkan sikap meniadakan kebencian kepada siapapun.

Banyak para pejabat mengomentari kekaguman mereka terhadap moto ini, tetapi saya ingin mengambil pendekatan yang berbeda dalam mendapatkan arti sebenarnya dari moto Love for All Hatred for None. Kita harus memahami bahwa moto ini diciptakan oleh seorang pribadi yang harus melalui salah satu keadaan yang paling sulit dalam sejarah Jemaat Ahmadiyah.  Beliau harus memimpin seluruh anggota Ahmadiyah yang dinyatakan non-muslim oleh Mahkamah Agung Pakistan yang telah membuka kotak pandora penganiayaan tak berujung. Kepedihan beliau tak dapat digambarkan hanya dengan kata-kata.

Di masa-masa penganiayaan tersebut Hadhrat Mirza Nasir Ahmad mengatakan:

"Saat hari-hari tersebut, terdapat malam-malam tertentu dimana saya tidak tidur selama satu menit tanpa berdoa bagi seluruh anggota Jamaah."

Hal itu benar-benar mengundang pertanyaan orang-orang bagaimana beliau mampu menganjurkan pesan perdamaian seperti itu saat beliau sendiri dalam keadaan hati yang menderita. Hal ini juga menegaskan kembali bahwa memang Allah taala lah Penolong sejati dari Pemimpin Spiritual yang terpilih.

Meskipun penganiayaan terhadap Jemaat Ahmadiyah terus berkembang beberapa waktu terakhir, Ahmadiyah tetap mempertahankan moto yang sama. Para jurnalis banyak menanyakan bagaimana bisa seseorang bisa benar-benar mencintai semua orang dan tidak membenci siapapun?

Khalifah Ahmadiyah saat ini, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad telah menetapkan definisi moto ini yang berguna seumur hidup.

Beliau mengatakan

"Love for All Hatred for None" mengandung arti kita tidak memiliki permusuhan, tidak ada kedengkian, dan tidak ada dendam bagi siapapun di dalam hati kita."

Definisi beliau sejalan dengan sunnah Nabi Muhammad saw. Seorang wanita tua biasa melemparkan kotoran kepada Rasulullah saw setiap kali beliau melewati rumahnya. Suatu hari saat beliau lewat, beliau tidak melihat ada yang melemparkan kotoran. Beliau pergi ke rumah wanita tua itu untuk menanyakan mengapa dia tidak melemparkan kotoran dan dia menjawab bahwa dia sedang sakit hari ini. Atas kunjungan Rasulullah wanita itu terpesona oleh sikap beliau.

Sungguh ini sejalan dengan definisi yang diberikan oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad.

Tidak ada permusuhan dalam hati kita. Beliau pernah mengomentari bahwa Pakistan semakin meningkat dalam hal penganiayaan terhadap warga Ahmadiyah, doa-doa kita juga harus tingkatkan untuk Pakistan supaya diselamatkan dari kondisi mereka saat ini. Moto ini tidak hanya di atas kertas saja atau diucapkan ketika saat wawancara tetapi Jemaat Ahmadiyah berusaha menjadi contoh hidup dari moto ini.

Jemaat Ahmadiyah memiliki organisasi amal yang dikenal dengan Humanity First yang berusaha untuk memberikan bantuan bencana di seluruh dunia. Pada tahun 2005, sekitar 10 warga Ahmadiyah disyahidkan di wilayah Mong, Pakistan. Dalam waktu 24 jam salah satu gempa bumi terburuk melanda wilayah terpencil di Pakistan.

Pada Khutbah Jumat berikutnya, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad memberikan khutbah tentang pengabdian terhadap kemanusian. Dan kemudian bagaimana Humanity First setelah itu langsung memobilisasi upaya pemberian bantuan ke daerah yang tertimpa bencana. Ini adalah bentuk ketinggian dari Love for All Hatred for None. Walaupun berduka karena kewafatan para syuhada Jemaatnya, semangat kemanusiaan mereka tetap menonjol.

Ahmadiyah memang tidak mendukung konflik tertentu yang terjadi antar negara tetapi walau demikian, di United Kingdom, mereka melakukan poppy appeal (penghormatan kepada pahlawan) untuk menggalang dana untuk para veteran Inggris. Di Amerika Serikat, untuk mengenang korban-korban peristiwa 9/11, Ahmadiyah setiap tahun mengumpulkan lebih dari 10.000 kantong darah. Ini adalah contoh-contoh praktis Love for All Hatred For None dan banyak lagi contoh-contoh lainnya di seluruh dunia.

Ketika perdebatan tentang pembangunan Masjid Ground Zero mencapai puncaknya, salah satu pernyataan yang paling islamis datang dari Hadhrat Mirza Masroor Ahmad:

"Jika izin diberikan, maka Jemaat Ahmaidyah menginginkan sebuah Gereja, Sinagog, Kuil dan tempat ibadah semua agama agar dibangun di sepanjangnya. Karena hal ini akan menunjukkan kesatuan sejati dalam masyarakat." Satu contoh lain bagaimana Love for All Hatred For None telah diterapkan oleh Ahmadiyah.

Love for All Hatred For None benar-benar pesan universal. Kapanpun, dimanapun Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menyampaikan pesan-pesan beliau, banyak pejabat non-muslim yang menghadiri pidato beliau. Yang pertama dan paling utama, beliau selalu menghargai mereka atas kedatangannya ke acara yang mana mereka sangat tahu acara tersebut diselenggarakan oleh Ahmadiyah.

Ini adalah tujuan Hadhrat Mirza Masroor Ahmad yaitu memenangkan hati orang dengan Love for All Hatred For None, dan betapa besarnya pekerjaan besar yang beliau lakukan dalam mencapai tujuan ini setelah setiap pidato yang beliau berikan. Banyak para pejabat berkomentar bahwa dengan pesan damai ini, perdamaian dunia sejati tiba-tiba menjadi mungkin.

Islam secara tegas tidak membenarkan penyebaran dengan pedang sebaliknya Al-Qur'an mengajarkan pesan Love for All Hatred For None dalam bentuk teladan. Bahkan ketika Al-Qur'an memberikan izin untuk melawan, hal itu dilakukan dalam rangka membela diri, karena perdamaian bener-benar dipertaruhkan. Jika Allah taala tidak mengizinkan umat Islam untuk berperang pada waktu itu, tempat ibadah dari semua agama lain akan dipertaruhkan. Sebagaimana dalam Surat 22 ayat 40. Ini menunjukkan bahwa Love for All Hatred For None bukanlah pesan ekslusif Ahmadiyah melainkan pesan Islam itu sendiri.

Love for All Hatred For None adalah pesan yang membantu menjaga kehidupan pribadi seseorang. Ketika seseorang dihadapkan pada kekurangan orang lain, seseorang didorong untuk berpikir tentang moto mereka dan menyadari bahwa mereka diberitahu untuk tidak menyimpan kebencian atau permusuhan apapun bagi siapapun.

Jika seluruh dunia mengikuti moto Love for All Hatred For None ini dalam arti sebenarnya, tentu kita akan lebih dekat dengan perdamaian dunia dengan cepat. Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menganjurkan berbuat baik bahkan terhadap mereka yang telah berlaku kejam, dengan harapan hati mereka akan melunak. Semoga dunia benar-benar memahami moto perdamaian universal ini - Love for All Hatred For None.

http://www.cultures-et-croyances.com/opinion-amour-pour-tous-haine-pour-personne-quelle-conception/

Monday, April 15, 2013

Upaya Ahmadiyah Menciptakan Perdamaian Dunia


Jemaat Ahmadiyah Delhi menyelenggarakan simposium perdamaian di Chinmay Mission, Lodhi Road, New Delhi untuk menyebarkan nilai-nilai perdamaian, toleransi dan persaudaraan universal. Para pemimpin agama dari berbagai keyakinan memuji upaya Jemaat Ahmadiyah dalam menyebarkan pluralisme dan toleransi.

Acara ini dihadiri dari kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda termasuk para akademisi, politisi, awak media, mahasiswa, pengusaha, aktivis sosial dan birokrat.

Tema tahun ini adalah 'Interfaith Harmony'. Simposium ini bertujuan untuk mempromosikan pemahaman yang lebih dalam tentang Islam dan agama lain dan berusaha untuk menginspirasi upaya bersama dalam mewujudkan perdamaian abadi.

Dalam pidatonya, Swami Nikhilananda Saraswati, Kepala regional Chinmaya Mission menghargai upaya dari upaya Jemaat Ahmadiyah untuk mempromosikan kerukunan dan perdamaian masyarakat. Ia mengatakan bahwa kita perlu menyoroti persamaan dalam berbagai agama untuk mewujudkan perdamaian.

Berbicara tentang tema yang sama, Rabi Yehezkiel Isaac Malekar, Sekretaris Honaray, Sinagog Himme Yehuda, Delhi mengatakan bahwa kita perlu untuk merayakan keragaman dan pluralisme dalam masyarakat untuk mencapai perdamaian. Ia menekankan pada pentingnya mempraktekkan kerukunan antar agama dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Berbicara tentang perdamaian Islam, Syed Ahmad Dawood, Amir Jemaat Ahmadiyah Delhi mengatakan bahwa Islam tidak pernah memonopoli kebenaran. Ia mengatakan bahwa Al-Qur'an meletakkan penekanan pada penghormatan terhadap orang-orang dari berbagai agama untuk menciptakan perdamaian.

Ini adalah simposium Perdamaian ketiga yang diselenggarakan di New Delhi. Ahmadiyah telah menyelenggarakan simposium serupa di seluruh dunia.

Sumber: http://www.newstrackindia.com/newsdetails/2013/4/14/54-Religious-leader-praise-Ahmadiyya-communitys-efforts-to-promote-Peace.html
terjemah Jusman


 

Copyright © ISLAM DAMAI. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com