TARBIYAT KELUARGA DAN TANGGUNG JAWAB KITA

Oleh: Mln. Mahfuzhurrahman Subagio
Untuk memperoleh anak yang shaleh, shalehah dan baik, pendiri agama Islam Hadhrat Muhammad saw telah menyampaikan petunjuk mendasar dengan kata-kata sebagai berikut:
“Istri dipilih berdasarkan 4 sebab. Sebagian orang memilih istri karena harta dan kekayaan. Sebagian mendasarkan pilihannya pada keturunan dan nasab. Sebagian melihat kecantikan dan keindahan wanita dan sebagian memdahulukan segi agama dan akhlak. Tapi, wahai anak-anak muslim yang telah mengikatkan nasibnya kepadaku, engkau dahulukanlah selalu segi skhlak dan agama, jika tidak, tangan kalian akan berlumuran debu”.
Petunjuk Rasulullah saw untuk memperoleh anak-anak yang yang saleh dan baik ini sangat pantas ditulis dengan tinta emas. Pengaruh ibu kepada anak-anak dalam masalah tarbiyat tidak bisa kita mengukurnya. Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra bersabda:
“Pengaruh ibu, sebelum anak lahir pun sudah dimulai. Dan inilah keunggulan Islam bahwa Islam telah melindungi akar dan memulai pengaturan tarbiyat anak-anak bahkan sebelum anak-anak itu berwujud (lahir), dan memerintahkan bahwa jika kalian ingin mendapatkan anak-anak yang baik, maka sebelum anak-anak lahir pun pikirkanlah ibu, yang akan melahirkan anak-anak dan pilihlah istri dan jalinlah tali kekeluargaan dengan wanita yang shalehah dan berakhlak baik,  jika tidak tangan kalian akan selalu berlumuran debu”.
Di dalam petunjuk tersebut terdapat isyarah yang halus bahwa bagaimanapun juga seperti tanah yang baik dan ladang yang baik secara alami akan terjadi pada akhlak dan kebiasaan anak. Ibu-ibu yang baik, setelah kelahiran anak-anak juga memberi pengaruh yang sangat kuat dalam tarbiyat amal mereka.
Tidak diragukan lagi, ayah memiliki cukup bagian dalam tarbiyat anak-anak. Tapi, bagian itu tidak bisa dibandingkan dengan pengaruh besar yang diperoleh seorang ibu. Karena itulah Rasulullah saw bersabda bahwa bagi anak-anak surga ada di bawah telapak kaki ibu. Yang maksudnya adalah, jika ibu baik maka dia akan menyampaikan anak-anak yang siang dan malam bergaul dengannya langsung ke surga. Setelah menikah dengan wanita yang shalehah dan berakhlak, petunjuk mendasar kedua yang didapat dari Al quran untuk memperoleh anak-anak yang shaleh dan shalehah adalah doa kepada Allah Ta’ala.
Rasulullah saw bersabda bahwa suami istri yang pada waktu berhubungan memanjatkan doa dengan niat suci dan dari hasil dari hubungan itu mereka mendapatkan anak, maka Allah akan menyelamatkan anak mereka dari sentuhan syaitan. Karena itu tidak diragukan lagi bahwa laki-laki dan perempuan yang pada saat semacam itupun mengingat Tuhan yang Maha Suci serta memohon kebersihan dan kesucian dari sisi-Nya, anaknya tentunya mendapatkan bagian dari kebaikan luar biasa dan doa yang penuh kepedihan itu.
Menginginkan anak adalah masalah fitrati manusia. Tetapi selain itu, seperti keinginan dan harapan alami tersebut, keinginan memperoleh anak hendaknya kita jalin dengan keinginan untuk menyenangkan dan membuat Allah ridha.

Jika keinginan manusia tersebut mengikuti keridhaan Allah, maka Allah secara mukjizat mengaruniakan anak. Hadhrat masih Mau’ud as bersabda: “Jika menginginkan anak, maka inginkanlah denga niat ini semoga lahir anak yang menjadi sarana ketinggian kalimat Islam. Jika ada keinginan suci seperti ini, maka Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa untuk memberikan anak seperti Zakaria”. (Malfuzhat, jilid 3, hal 579)

Demikian pula beliau juga menjelaskan bahwa untuk tarbiyat anak, adalah kewajiban kedua orang tua berdoa bagi anak-anaknya. Beliau bersabda: “Kondisiku sendiri adalah, tidak ada satupun shalatku yang didalamnya aku tidak berdoa untuk teman-teman, anak-anak dan istriku”.
Dalam menjelaskan salah satu kewajiban penting diantara kewajiban-kewajiban kedua orang tua untuk tarbiyat anak, sayyidina Hz. Khalifatul Masih II ra bersabda: “Baru beberapa hari yang lalu saya melihat sebuah rukya, bahwa saya sedang menyampaikan khutbah, yang didalamnya saya berkata, “kita harus memperhatikan secara khusus kesehatan anak-anak kita, karena beban yang saat ini ada dipundak kita, beban itu akan ratusan kali lebih banyak ketika ada dipundak mereka.

Jadi, keturunan kita yang akan lahir dimasa depan akan melihat bahwa kekuatan-kekuatan dan pengaruh-pengaruh besar didunia terpaksa mengakui bahwa sekarang tidak ada yang bisa menghapuskan Ahmadiyah”. (Minhajut Thalibin hal. 70-71)

Sayyidina Hz. Khalifatul Masih IV ra bersabda kepada para ibu Ahmadi ketika menyampaikan mengenai pengorbanan mereka berkaitan dengan tarbiyat anak: 
“Anak-anak yang lahir pada masa ini bertanggung jawab pada tarbiyat keturunan-keturunan mereka dimasa mendatang. Jadi untuk melahirkan anak-anak yang baik anda harus menjadi ibu-ibu yang baik. Warisan terbaik yang bisa ibu berikan kepada seorang anak itu adalah warisan ketakwaan. Seluruh kekayaan anda adalah anak anda, inilah masa depan Anda.

Jika di dalam hati anda ada keinginan yang benar maka anak-anak dari ibu semacam ini tidak akan sia-sia. Sedari kecil perhtikanlah adat dan kebiasaan mereka. Dengan cinta dan kasih sayang, berusahalah menciptakan kecintaan pada agama dalam diri mereka. Zaman ini adalah zaman materialisme/kebendaan. Syaitan menyerang dengan segala kekuatannya.

Jahannam telah didekatkan. Pada zaman yang penuh dengan kekacauan dan bahaya semacam ini, jika kita ingin melindungi anak-anak kita dan ingin menjauhkan mereka dari bisikan-bisikan syaitan, maka demi tarbiyat anak, kewajiban pertama kita adalah mengikatkan anak kita dengan khilafat sejak masih kanak-kanak.

Menciptakan ghairat kecintaan dan ketaatan sejati kepada khilafah-e-waqt didalam hati mereka. Jika sejak kecil orangtua menciptakan hubungna sejati antara anak-anaknya dengan khifah-e-waqt, maka disatu sisi naungan khilafat melindungi mereka, disi lain keturunan kita dimasa mendatang akan menjadi sebab tegaknya khilafat, maka sebagai hasilnya tidak akan ada yang bisa menyia-nyiakan mereka, tidak ada yang bisa merugikan khilafat.

Untuk itu kita harus menciptakan ketertarikan dan kegemaran mendengar khutbah-khutbah dan ceramah-ceramah Hudhur Anwar dan kelas anak yang di siarkan MTA. Serta sejak kanak-kanak menciptakan kebiasaan dalam dirinya berdoa untuk khilfah-e-waqt dan menulis surat-surat permohonan doa untuk dirinya. Jika kita berhasil menciptakan hubungan anak-anak denga  khilafat sejak kecil, maka insya Allah keturunan-keturunan kita juga akan menjadi orang yang setia kepada jemaat dan Khilafah-e-waqt. Dan dengan demikian Allah Ta’ala juga akan melindungi dari segala macam godaan.

Untuk itu orangtua juga harus memperlihatkan contoh kecintaan, ketaatan dan ghairat yang luhur kepada Khilafah-e-waqt di depan anak-anak. Setelah melihat contoh kita ini anak-anak akan siap untuk memberikan pengorbanan jiwa dan harta. Hendaknya terus berdoa supaya anak-anak menjadi shaleh dan religius. Karena doa orangtua untuk anaknya akan sempurna. Dan inilah nasehat Allah ta’ala kepada kita.

Dalam hal ini, adalah kewajiban orang tua dan kewajiban yang paling besar, supaya sejak lahir sampai nafas terakhir hidupnya terus berdoa supaya anak berfitrat baik dan shaleh, dan tidak mentarbiyati dan membesarkan anak hanya dengan niat supaya mereka menjadi pemilik harta-harta kami. Semoga Allah menjadikan keturunan jemaat sebagai orang yang tegak diatas agama lebih dari sebelumnya dan keturunan yang memenuhi hak-haknya.

Kewajiban Kaum Ibu Ahmadi
Oleh karena itu ibu-ibu juga harus menambah ilmu mereka. Dan, kemudian dengan ilmu itu datangkanlah faedah pada anak-anak kalian. Tapi bukanlah maksudnya bahwa tanggung jawab bapak telah selesai atau kini dari itu bapak-bapak sama sekali tugasnya telah selesai, ini merupakan tanggung  jawab/tugas-tugas para suami dan laki-laki (kaum bapak), Ciptakanlah lingkungan  takwa dan ilmu dengan contoh amaliah sendiri, kemudian harus memberikan perhatian sendiri pada pendidikan agama anak-anak dan wanita-wanita mereka.

Sebab, jika bukan merupakan lingkungan laki-laki sendiri, dirumah tidak terdapat lingkungan yang bersih, tidak ada lingkangan yang berjalan pada jalan takwa, maka pengaruhnya bagaimanapun juga akan berdampak pada permpuan-perempuan juga dan juga kepada anak-anak juga.

Jika laki-laki menghendaki dan di kalangan perempuan pun menghendaki-kendatipun mereka sudah usia lanjut sekalipun – maka mereka dapat menciptakan rasa interest   pada pendidikan tarbiyat, sedikit banyak dapat memberikan daya tarik.

Sekurang-kurangnnya dapat terjadi mereka memberikan perhatian terhadap tarbiyat anak-anak, karena itu segenap kalangan Jemaat perlu memberikan perhatian ke arah ini, laki-laki juga dan permpuan-perempuan juga. Sebab, dengan ketertarikan laki-lakilah lalu akan bertambah daya tarik/interest juga dikalangan perempuan.

Jika terjadi daya tarik berkaitan dengan segenap macam ajaran bagi tarbiyat perempuan maka daya tarik di kalangan anak-anak pun akan bertambah. Pada diri mereka pun akan  timbul kesadaran bahwa “Kita ini berbeda dari orang-orang lain. Kita memiliki berbagai maksud yang merupakan tujuan-tujuan yang luhur”.

Dan, jika semuannya ini dapat terjadi maka baru kita akan bisa terbukti benar dalam pendakwaan kita memperbaiki dunia. Kalau tidak, bagaimana akan dapat memperbaiki  dunia? Jika kita sendiri tidak memberikan perhatian pada anak-anak kita maka anak-anak kita juga akan lama kelamaan terus kosong dari ajaran agama kita.

Sebab, ini sudah merupakan sebuah pengalaman bahwa ada beberapa keluarga Ahmadi yang generasi mereka seterusnya telah bergeser jauh dari Ahmadiyah, penyebabnya hanya perempuan-perempuan mereka sama sekali  kosong dengan pendidikan agama. Dan tatkala suaminya wafat maka lama kelamaan keluarga itu atau keturunan mereka mulai terus bergeser/menjauh, sebab perempuan-perempuan mereka sama sekali tidak memiliki pengetahuan  agama.

Oleh karena itu, perlu memberikan perhatian yang betul-betul ke arah ini. Perempuan-perempuan juga dan laki-laki juga bersama-sama harus berupaya supaya kita dapat menyelamatkan generasi kita seterusnya.Semoga Allah menganugerahi taufik kepada kita untuk dapat menciptakan ilmu agama secara benar dan dapat menegakkannya pada generasi muda kita yang akan datang. (KHUTBAH JUM’AH HADHRAT KHALIFATUL MASIH V ATBA. Tanggal 18-6-2004 di Mesjid Baitul Futuh, Morden, London)

Di dalam Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin  Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad  Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz Tanggal 18 Sulh 1392 HS/Januari 2013, Beliau bersabda:
Jadi, memahami Quran Karim adalah penting untuk mendapatkan keridhaan Allah Ta’ala. Apakah tujuan melakukan semua ini? Ia menjelaskan bahwa agar kalian menjadi orang-orang yang menyelamatkan dunia dari kebinasaan. Jadi, inilah maksud yang untuk menunaikannya pada zaman ini Allah Ta’ala telah mendirikan Jemaat Ahmadiyah dengan perantaraan Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam.
Inilah Jemaat yang di dalamnya nampak kepada kita doa-doa para ibu sebelum kelahiran anak-anaknya dengan semangat ini, yaitu رب انى نذرتلك ما فى بطنى محررا فتقبل منى (ال عمران : 36)  — “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya aku telah menazarkan kepada Engkau apa yang ada di dalam kandunganku untuk berkhidmat, maka terimalah itu dari aku.”
Sekarang lihatlah, selain para ibu di Jemaat Ahmadiyah, tidak ada yang berdoa sebelum kelahiran anak-anaknya dengan hasrat untuk mempersembahkan mereka demi berkorban di jalan Allah Ta’ala. Saat ini, selain para ibu Ahmadi, kita tidak akan menemukan ibu yang memiliki semangat ini — baik itu ibu-ibu yang tinggal di Pakistan, atau di India, di salah satu negeri di Asia atau Afrika, yang tinggal di Eropa atau di Amerika, yang tinggal di Australia atau di pulau-pulau lain — yang mempersembahkan anak-anaknya kepada Khalifah-e-Waqt untuk satu tujuan penting ini, dan berdoa kepada Allah Ta’ala, “Wahai Allah! Terimalah waqaf kami.”
Nampak hanya dan hanya para ibu Ahmadi-lah yang berdoa seperti ini. Mereka khawatir jangan-jangan Khalifah-e-Waqt menolak permohonan mereka. Kondisi ini tidak dapat timbul di tempat lain manapun, semangat ini tidak dapat timbul di tempat lain manapun. Karena hanya Jemaat inilah satu-satunya yang berada di bawah naungan bendera Khilafat, yang telah Allah Ta’ala dirikan dengan perantaraan pecinta sejati Hadhrat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. 
Tidak cukup sampai di sana, hanya di dalam Jemaat Ahmadiyah-lah terdapat para bapak yang memberikan tarbiyat kepada anak-anaknya dengan cara ini, yakni setelah anak-anaknya memasuki usia remaja, mereka siap untuk setiap pengorbanan.
Mereka menulis kepada Khalifah-e-Waqt, “Yang pertama adalah janji ibu-bapak saya, yang kedua adalah janji saya. Sekarang, kemanapun Hudhur ingin, kirimkanlah saya untuk berkorban. Hudhur akan mendapati saya termasuk orang-orang yang sabar dan memperlihatkan istiqamah, dan akan mendapati saya termasuk orang-orang yang tidak menyingkirkan ke belakang janji bapak dan ibu saya.”
Inilah anak-anak yang disebut sebagai orang-orang setia dalam umat Nabi Muhammad saw.. Inilah orang-orang yang menjalankan kewajibannya untuk menjadi termasuk dalam umat Hadhrat Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tarbiyatdari ayah ibu dan fitrat baik sang anak telah mengajarkan mereka mengenai huququllaah (hak-hak Allah) dan mengajarkan juga standar penunaian huququl ‘ibaad (hak-hak sesama hamba).
Dalam diri mereka telah timbul kegandrungan untuk mendapatkan pemahaman agama dan timbul perhatian dalam diri mereka untuk  mengikuti kehidupan mereka. Bersama dengan itu timbul juga gelora semangat dan hasratuntuk melakukan tabligh Islam dan Ahmadiyah serta untuk mengkhidmati umat manusia.
Dalam pekerjaan tarbiyat dan tabligh akan timbul rintangan-rintangan. Jadi, Allah Ta’ala berfirman bahwa hendaklah ada dari setiap kaum kelompok orang yang selalu siap setiap saat, dan tidak akan membiarkan aliranpenyampaian pesan Tuhan terputus. Jadi, karena itulah pada hari ini saya mengingatkan kembali bahwa gerakan Waqf-e-Nau (Wakaf Baru) yang dimulai oleh Hadhrat Khalifatul Masih ar-Raabi’ (IV) rahimahullahu ta’ala adalah dengan harapandan doa agar kelompok orang yang mengkhidmati agama senantiasa tersedia setiap saat.
Aliran air ini tidak akan pernah terputus. Para penerjemah literatur-literatur akan selalu tersedia bagi Jemaat. Orang-orang yang menjalankan pekerjaan-pekerjaan tabligh dan tarbiyat akan selalu tersedia dalam jumlah besar. Kelompok Waqifin (pewakaf) yang menjalankan nizam (organisasi) Jemaat akan terus tersedia juga bagi departemen-departemen yang lain.
Karena itu, kita harus mengedepankan perkara tersebut. Ibu bapak janganlah berlepas diri dari kewajibannyasetelah mempersembahkan anak-anaknya. Tidak syak lagi, semangat untuk mempersembahkan anak-anak kedalam Waqifin Nau itu patut dihargai. Tiap tahun datang ribuan permohonan untuk mempersembahkan anak-anak kedalam Waqifin Nau, tetapi setelah mempersembahkan permohonan itu tanggung jawab ibu bapak menjadi bertambah.
Dalam menafsirkan  surat Ibrahim ayat 35 yang berbunyi:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.

Hazrat Khalifatul Masih Tsani ra bersabda,”Kecintaan Ilahi merupakan muzahirah yang sedemikian suci. HazratIbrahim as bersabda :”Kalaulah anak-anakku tidak menyekutukan Allah Ta’ala, maka berarti mereka adalah anak saya, tapi kalau mereka menyekutukan Allah Ta’ala, berarti mereka bukan anak saya.
Banyak sekali dosa-dosa yang disebabkan oleh kecintaan pada anak-anak. Hazrat Ibrahim as mengajarkan pada kita bahwa kecintaan terhadap anak hendaknya sampai batas tertentu, sehingga jangan sampai anak menjadi rusakkarenanya . seyogyanya kecintaan yang bisa menghancurkan anak- anak itu bukanlah kecintaan, tetapi itu adalahpermusuhan.
Walaupun kita sudah berupaya, tapi anak tidak (berubah) menjadi baik, maka pada satu waktu perlu juga untuk memutuskan hubungan (qatla’ ta’alluq: didiamkan-Pent) dengannya. Karena ketika mereka mengetahui bahwa orang tua kita menyembunyikan kesalahan kita, maka mereka sedang melangkah pada jalan yang salah, tapi ketika mereka tahu bahwa adanya pengawasan yang sesuai terhadap kesalahan kesalahan kita, maka hal itu akan menjadikan islah bagi anak anak. Untuk itu kuasailah kecintaan kepada anak-anak dengan kecintaan pada Tuhan.
Jadi, Hazrat Ibrahim as berdoa, pertama tama selamatkanlah anak anakku dari syirik tapi kalau diantara mereka ada yang bertentangan dengan cara-cara ku , maka aku akan mengatakan padanya bahwa mereka bukan anak saya,  tapi karena engkau adalah maha pemaaf, dan maha pengasih, karena itu aku berharap, ampunilah dosa-dosa mereka. ciptakanlah selalu sarana- sarana untuk kemajuan nya.
Kemarahan terhadap anak tidak berarti bahwa keraskanlah hati kepada mereka, tapi hukuman secara zahiri ada, meskipun demikian hendaknya hati tetap selalu berdoa bagi mereka, dan perhatikanlah selalu ishlah (perbaikan) bagi mereka (Tafsir Kabir  jld III hlm 484 – Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi,Shd)
Pada suatu  ketika Raja Muda India mengajukan pertanyaan kepada ibunda Yang Mulia Chaudhry Zafrullah Khan, manakah yang lebih sulit, mengelola urusan kecil rumah tangga  atau menangani urusan satu kerajaan besar? Maka ibunda YM Chaudhry Zafrullah Khan dengan sabar dan berpikir dalam-dalam, beliau  menjawab :”seandainya karunia Allah tidak menyertai maka urusan rumah tangga yang sekecil2nya pun tidak dapat berjalan. Sekecil-kecilnya tanggung jawab pun tidak dapat dilaksanakan.  Akan tetapi andaikata karunia Allah menyertai maka mengatur urusan kerajaan yang sebesar-besarnya pun sama sekali tidak ada masalah. Segala masalah yang timbul akan menjadi mudah dan otomatis dapat terpecahkan “ (Khutbah Hz.Khalifatul Masih IV Rh.a 21 September 1990)
Kasih Sayang dan Rasa Tentram

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar-Ruum 30: 21)

Jadi, tercapainya Sorga dalam Rumah Tangga dapat terwujud dengan adanya Kasih Sayang dan Ketentraman. Akan tetapi ini baru unsur  alami yang mana  ukuran tentram itu sendiri relative. Hal yang membuat tentram bagi seseorang berbeda bagi orang lain. Nabi Ismail a.s mencerai istrinya kemudian menikah lagi dengan wanita yang lebih sesuai dengan tugas kerohaniannya.

Zaid bin Haritsah , anak asuh Rasulullah saw bercerai dari istrinya, Zainab r.a. Hazrat Masih Mau’ud as mencerai istri Beliau, kemudian atas petunjuk Allah Taala menikah lagi  dengan Nushrat Zehan Begum Sahibah. Tooba, Putri Hz.Khalifahtul Masih IV Rh.a sebagaimana yang disampaikan Beliau Rh.a sendiri dalam Khutbah 10 Juli 1998, bercerai dengan  suaminya yang masih keturunan Hz.Masih Mau’ud as..

Sebaliknya pada rumahtangga beda agama atau beda keyakinan, dimana kesuksesan  duniawi lah yang dijadikan ukuran ketentraman, bisa saja tercipta sorga yakni sorga duniawi dan tentunya tidak memerlukan solusi Perceraian.

Keturunan Yang Seiman

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

Dan orang-orang yang beriman dan keturunan mereka pun mengikuti mereka dalam keimanan, dengan mereka akan Kami pertemukan keturunan mereka, dan Kami tidak mengurangi dari amal mereka sedikit pun. Tiap-tiap orang terikat pada apa yang telah diusahakannya. (QS. At Thur 52:21)
Memahami Tugas Masing-Masing

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Laki-laki itu pelindung bagi perempuan-perempuan, karena Allah swt. telah melebihkan sebagian mereka di atas sebagian yang lain, dan disebabkan mereka membelanjakan sebagian dari harta mereka, Maka perempuan-perempuan saleh ialah yang taat dan menjaga rahasia- rahasia suami mereka dari apa-apa yang telah dilindungi Allah swt.. Dan, perempuan- perempuan yang kamu khawatirkan kedurhakaan mereka, maka nasihatilah mereka, dan jauhilah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka taat kepadamu, maka janganlah kamu mencari jalan menyusahkan  mereka. Sesungguhnya Allah swt. Maha Tinggi, Maha Besar. (QS. An-Nisa: 34)

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا 

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. (QS. Al Baqarah 2: 233)
Rasulullah SAW bersabda, “Wanita itu seorang pemimpin di rumahtangga suaminya, yang harus bertanggungjawab menjaga/ mengurus rumah tangga suaminya “ (Al Hadits)
Pendidikan  Keluarga , Terutama Anak-Anak
Selanjutnya dalam Surah Luqman 14 – 20 Allah SWT telah menjelaskan 10  Prinsip Tarbiyah/ Pendidikan Keluarga:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ

1. Menghindarkan Syirik.

2. Bersyukur pada Allah dalam suka atau duka, dalam keadaan lapang  atau dalam kesempitan.
3. Mengkhidmati Orang Tua.
4. Mengikuti jejak orang saleh atau dekat dengan Tuhan
5. Mendirikan Shalat secara dawam
6. Menganjurkan  kebaikan  dan melarang keburukan
7. Sabar dan Tabah 
8. Jujur, Tanggung jawab akan amanah
9. Menghindarkan keakuan dan ketakaburan
10.Mengambil jalan tengah dalam segala langkah.

Inilah Prinsip Tarbiyat Keluarga yang telah tegak pada keluarga Nabi2 termasuk Keluarga Nabi Ibrahim a.s, Rasulullah SAW danMasih Mau’ud as.

Hazrat Khalifatul Masih V atba (yakni pada khutbah 26 Juli 2013) memberikan penekanan pada Jemaat untuk menghindari Syirik, Mengkhidmati Orang Tua dan Pendidikkan anak-anak. Beliau bersabda “ Kadang2 diterima keluhan dari orang tua orang yang berpendidikkan dan maju  bahwa anak-anaknya bukan hanya sekedar tidak membayar hak-hak orangtuanya akan tetapi bahkan berbuat dzalim kepada mereka.

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah memelihara aku sejak  kecil”. (QS. Al Isra 17: 24)

Ini memang harus menjadi standar kita. Doa ini dapat dipanjatkan untuk orang tua bahkan setelah mereka meninggal untuk meninggikan kedudukkan mereka di akhirat.  
Perintah berikutnya adalah:

 وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ 
…. Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kami Yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka,…..(QS. Al-An’am: 151)
Salah satu arti “jangan membunuh anak-anakmu adalah tidak memberi mereka pendidikkan yang baik. Sebagian orang tua tidak memberikan  cukup waktu dan perhatian kepada anak-anak mereka karena urusan bisnis. Ibunya mengeluh bahwa karena ayah tidak dirumah anak2 telah keluar jalur.Ketika anak2 mencapai remaja mereka mempelajari hal-hal yang salah dari luar.

Ini adalah pembunuhan akhlak anak2 sendiri. Ayahnya mungkin mengatakan bahwa waktu mereka habis dengan bekerja keras untuk mencari nafkah bagi anak2 mereka , tetapi apa gunanya kekayaan kalau menyebabkan anak2 tersesat. Didunia barat dan juga dapat ditemukan dalam Jemaat kita adalah bahwa ibu-ibu pergi bekerja atau tidak memperhatikan keluarga dirumah dan menghabiskan waktu mereka ditempat lain. Ketika anak2 pulang ke rumah tidak ada yang mengurus mereka.“ ( Khutbah Hz.Kh.Masih V atba 26 Juli 2013 ).

Mengenai Syirik Hazrat Masih Mau’ud a.s bersabda, “Syirik ada tiga macam.Jenis yang pertama adalah penyembahan berhala  dan penyembahan pohon. Ini adalah syirik yang jelas dan umum. Syirik jenis kedua adalah ketika terlalu bergantung pada sarana, yaitu  mengatakan kalau ini dan itu tidak terjadi aku pasti sudah mati, ini adalah syirik. Jenis ketiga adalah Syirik dimana seseorang menganggap sesuatu yang sebanding dengan Tuhan.“ (Khutbah Hz.Kh.Masih V atba 26 Juli 2013).
Untuk yang baru berumah tangga yakni pada khutbah nikah, Rasulullah SAW tidak kurang dari tiga kali menyerukan agar kita Takut Kepada Allah. Hz. Kh. Masih IV Rh.a pun menjelaskan “Jadi dengan memiliki rasa takut pada Allah maka kehidupan suami – Istri menjadi aman tentram saling mempercayai.

Seseorang yang Takut pada Allah, dia tidak akan merasa takut kepada selain Allah atau ciptaan-ciptaaNya. Si pengantin wanita yang semula takut , khawatir atau cemas akan perlakuan yang akan diterima dari keluarga suaminya atau dari handai taulan lingkungan suaminya, apabila dia benar benar takut pada Allah dan semata-mata hanya takut kepaNya, maka semua ketakutan kepada  selain Allah, akan hilang sirna.

Dia akan berserah diri kepada Allah dan karena dia hanya takut pada Allah , maka hatinya menjadi tenang dan tentram serta tabah menghadapi makhluk makhluk lain ciptaanNya, termasuk keluarga dan handai taulan suaminya itu. Kesulitan kesulitan hidup juga termasuk ciptaan Allah, maka seseorang yang hanya takut kepada Allah semata-mata, dia tidak pula akan takut menghadapi kesulitan hidup atau tantangan hidup yang akan dihadapinya.”(Khutbah Hz.Kh.Masih IV Rh.a 20 Juli 1989)

“Nabi  Muhammad SAW menghendaki agar kecintaan dan ketaatan  istri-istrinya  pada Allah Taala dan  pada Beliau , yang mereka peragakan dalam kehidupan rumah tangga Beliau SAW yang sangat sederhana, tidak berubah akibat timbulnya kecintaan terhadap kesenangan hidup duniawi seiring dengan membaiknya keadaan ekonomi umat Islam.

Itulah sebabnya atas perintah Allah SWT Rasulullah SAW telah menawarkan pada istri istri Beliau untuk menentukan salah satu dari 2 pilihan yakni 1) Tetap hidup bersama Rasulullah SAW dalam keadaan sangat sederhana atau 2) memilih kesenangan hidup duniawi dengan resiko akan dicerai secara baik-baik oleh Beliau SAW. Sebagai istri istri yang sangat mencintai Allah dan RasulNya maka tanpa berpikir panjang semuanya memilih untuk tetap hidup bersama Rasulullah SAW sekalipun dalam keadaan ekonomi rumahtangga yang sangat sederhana sekali.“ (Khutbah Hz. Kh.Masih IV Rh.a  18-3-1994)

اَللَّهُمَّ اهْدِ أَوْلاَدِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَاجْعَلْهُمْ مُطِيعِينَ لَكَ وَلِرَسُولِكَ وَأَحْسِنْ خَوَاتِمَهُمْ وَاجْعَلْهُمْ مُقِيمِي الصَّلاَةِ يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ وَالْجُودِ وَسِّعْ أَرْزَاقَهُمْ يَا مُسَهِّلَ اْلأُمُورِ سَهِّلْ أُمُورَهُمْ يَا مُيَسِّرَ كُلِّ عَسِيرٍ يَسِّرْ مَا تَعَسَّرَ عَلَيْهِمْ
Wahai Allah, bimbinglah anak-anakku (hendaknya disebutkan nama-namanya) ke jalan-Mu yang lurus; jadikanlah mereka hamba-hambu-Mu yang ta’at kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu; Baguskanlah akhir dari setiap langkah kehidupan mereka; jadikanlah mereka itu orang-orang yang menegakkan shalat; wahai Tuhan Yang kemuliaan dan kedermawanan-Nya sangat luas luaskanlah rizki mereka; wahai Tuhan Yang membuat mudah segala perkara mudahkanlah perkara mereka; wahai Tuhan Yang memudahkan setiap yang sukar mudahkanlah apa yang sukar bagi mereka (Doa Masih Mau‘ud as untuk putra-putrinya)

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Ya Tuhan-ku, jadikanlah aku orang yang tetap mendirikan shalat, dan dari keturunanku. Ya Tuhan kami, karunialah kami dengan rahmat Engkau dan kabulkanlah doaku. (QS. Ibrahim 14:40)
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyejuk mata (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Furqan 25:74)

2 thoughts on “TARBIYAT KELUARGA DAN TANGGUNG JAWAB KITA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *