Persatuan Umat dan Berkah Khilafah



Oleh: Mln. Bilal Ahmad Bonyan

Alhamdulillah, dengan karunia Allah Ta’ala saat ini kita berada dalam suatu jemaah yang telah mempersatukan kita dari perbedaan. Persatuan umat merupakan hal yang paling sulit diwujudkan oleh umat Islam saat ini. Sebab, kondisi umat ini telah terbagi dalam kelompok-kelompok yang berbeda bahkan ada sebagian sedang bertikai antara satu dengan yang lain.

Sebagian saudara-saudara kita beranggapan bahwa perbedaan atau keberagaman merupakan suatu keniscayaan, namun yang menjadi pertanyaan, keberagaman apakah yang merupakan nikmat dari Allah swt?

A.  Keberagaman Jasmani
Keberagaman secara jasmani atau fisik merupakan sesuatu yang bersifat kodrati, berbeda jenis kelamin, warna kulit, bahasa dan harta yang dimiliki, merupakan tanda bahwa Tuhan menyukai keindahan dari perbedaan ini. Dia menegaskan di dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki laki dan perempuan; Kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Maha Waspada. (QS. Al-Hujurat: 13)

Ini merupakan “Magna Charta” piagam persaudaraan dan persamaan umat manusia. Ayat ini menumbangkan sikap rasa lebih unggul, keangkuhan rasial dan kesombongan nasional suatu bangsa terhadap bangsa yang lain.

Perbedaan jasmani atau fisik bukan merupakan suatu dalil yang dapat digunakan untuk merendahkan orang lain yang berbeda. Perbedaan warna dan bentuk merupakan keindahan yang kesemuanya disukai oleh Dia yang telah menciptakannya.

Allah swt memandang keberagaman jasmani sebagai suatu keniscayaan yang hidup, tetapi Dia tidak jadikan sebagai tolak ukur untuk menilai makhluk ciptaan-Nya. Nilai seseorang bukan dari warna kulit, pangkat, pendidikan, kedudukan atau harta yang dimiliki. Melainkan, oleh keagungan akhlak dan oleh kepatuhannya mengamalkan kewajiban kepada Allah Ta’ala.

B. Keseragaman Rohani
Ketika kepatuhan kepada Allah swt dijadikan tolak ukur, apakah ini menandakan bahwa Allah Ta’ala menghendaki agar mereka yang patuh menjadi satu dalam keseragaman rohani?

Allah Ta’ala berfirman:

 لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ 

Untuk tiap tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Dan, seandainya Allah menghendaki niscaya Dia akan menjadikan kamu satu umat, akan tetapi Dia hendak menguji kamu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan… (QS. Al-Maidah: 48)

Melalui ayat ini, banyak orang menganggap bahwa menjadi satu umat bukanlah sesuatu yang Allah Ta’ala kehendaki. Padahal maksud dari ayat ini sebagaimana tercantum dalam beberapa kitab tafsir adalah bahwa Allah swt menurunkan berbagai syariat untuk menguji hamba-hamba-Nya dengan apa yang Allah swt syariatkan kepada mereka, untuk memberikan ganjaran atau hukuman atas ketaatan atau kedurhakaan yang telah dilakukan.

Setiap utusan Allah swt dibebankan amanat untuk menyampaikan misinya. Tetapi di sisi lain, mereka tidak diizinkan untuk memaksakan kehendak agar umat lain menerimanya. Sebab, Allah swt tidak menginginkan manusia menerima apa yang diturunkan-Nya dengan terpaksa.

Dia menginginkan agar manusia merenungkan, memohon hidayah kepada-Nya dan menerima karena panggilan hati. Akan tetapi, Allah Ta’ala memberikan “penekanan” di dalam ayat yang lain tentang orang-orang yang menolaknya, tidaklah berarti bahwa itu sebuah paksaan, melainkan suatu konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil oleh manusia. Sebagaimana tercantum dalam firman-Nya:

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا

Dan katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin beriman, hendaklah ia beriman, barangsiapa yang ingin (mengingkari), biarlah ia ingkar. Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang yang zalim itu neraka… (QS. Al-Kahfi: 29)

Ayat ini berbicara dengan sangat tegas, siapa yang beriman kepada kebenaran yang datang dari Allah Ta’ala berarti mereka menyeragamkan diri dengan keridhoan-Nya. Dan, siapa yang menolak berarti mereka memilih akibat yang memberatkan diri mereka dihari penghisaban nanti.

Dengan karunia Allah Ta’ala kita telah mengimani Nabi Muhammad saw, dan di akhir zaman ini, kita telah mengimani Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi dan Isa as yang dijanjikan.

C. Nikmat Khilafah
Sebagaimana janji Allah Ta’ala kepada orang-orang yang beriman baik di masa awal maupun di zaman akhir ini. Apabila mereka beriman kepada Allah Ta’ala dan kepada nabi yang diutus-Nya, serta mentaati segala apa yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya. Maka, sepeninggal nabi tersebut, Allah Ta’ala tidak akan membiarkan mereka dalam kesedihan dan ketakutan atas masa depannya. Tidak akan membiarkan mereka dalam kebimbangan tanpa petunjuk arah. Tidak akan membiarkan mereka tercerai berai tanpa pemimpin.

Allah Ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dari antara kamu dan yang beramal sholeh, bahwa Dia pasti akan menjadi mereka itu khilafah di bumi ini, sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah orang-orang yang sebelum mereka; dan Dia pasti akan meneguhkan bagi mereka agama mereka,yang Dia telah ridhoi bagi mereka; dan Dia pasti akan memberi mereka keamanan sebagai pengganti sesudah ketakutan mereka. Mereka akan menyembah Aku, dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan Aku. Dan barang siapa yang ingkar sesudah itu, mereka itulah orang-orang yang durhaka. (QS. An-Nur: 55)

Di saat umat dalam kesedihan karena ditinggalkan oleh nabi mereka; ketika kekhawatiran bagaimana masa depan agama ini; ketika para musuh berdiri gagah karena pemimpin mereka masih hidup di tengah-tengah mereka, lalu Allah Ta’ala memenuhi janji-Nya. Terpilihlah Hadhrat Abu Bakar ra., Umar ra., Utsman ra. Ali ra sebagai khalifah yang melanjutkan kepemimpinan Rasulullah saw.

Namun, karena kedurhakan demi kedurhakan dilakukan berulang-ulang, ketaatan kepada khalifah mulai luntur, bahkan kedurhakan telah sampai pada batas kewajaran dan kemanusiaan di mana orang-orang yang durhaka itu berani membunuh khalifah, akhirnya Allah Ta’ala pun mencabut nikmat khilafah ini, hanya sampai usia 30 tahun.

Dan sesuai dengan janji Allah Ta’ala melalui Nabi Muhammad saw. bahwa di zaman akhir ini. Allah Ta’ala akan mempersatukan kembali umat ini melalui kedatangan Imam Mahdi dan Isa as. Allah Ta’ala telah memilih seorang hamba dari nabi suci Muhammad saw untuk menyempurnakan nubuatan ini. beliaulah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. Orang-orang yang beriman kepadanya telah memperlihatkan keteguhan iman, ketaatan dan amal sholeh pada pandangan Allah Ta’ala.

Dan, sesuai dengan janji-Nya, Allah Ta’ala kembali menegakan khilafah tengah-tengah orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala telah memilih Hadhrat Maulana Hakim Nuruddin ra, Hadharat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra. Hadhrat Mirza Nasir Ahmad rh. Hadhrat Mirza Tahir Ahmad rh dan Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba sebagai khalifah saat ini.

Alhamdulillah, khilafah yang mempersatukan kita di zaman akhir ini telah berusia 112 tahun. Semoga kita senantiasa menjadi orang-orang yang taat kepada Allah Ta’ala dan khilafah di zaman ini. sehingga khilafah ini akan terus ada hingga kiamat nanti. Aamiin.                   

No comments

Powered by Blogger.