CINTA KEPADA TANAH AIR


Upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 2015
di Pusat Jamaah Muslim Ahmadiyah Indonesia, Kampus Mubarak, Kemang-Bogor
(Foto oleh : Mln.Isa Mujahid Islam/Muballigh JAI Sindangbarang)



Oleh : Mln. Iman Mubarak Ahmad


Setiap Warga Negara tentu akan menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan negaranya, terlepas dari keyakinan agama apapun, Cinta kepada tanah air merupakan landasan utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Namun, dewasa ini, beberapa kelompok yang mengatasnamakan Agama Islam, telah membuat statement bahwa Islam tidak pernah mengajarkan cinta kepada tanah air, bahkan mereka dengan berani telah memberikan fatwa bahwa ‘Haram menghormati bendera!’.
Ada satu Hadits dari Rasulullah SAW bahwa :
حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الْإِيْمَا نِ
Cinta kepada tanah air adalah bagian dari iman”

Sebagian Ulama memandang Hadits ini Maudhu. Seperti pendapat dari Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf yang menulis di dalam buku “Hadits Lemah & Palsu Yang Populer di Indonesia”, dalam Bab Aqidah, hal.91-92, mengungkapkan bahwa Hadits tersebut Palsu. Beliau mengungkapkan bahwa sebagaimana dikatakan oleh ash-Shoghoni rahimahuLlaahu dalam al-Maudhu’at hlm.7 serta lainnya.
Ulama yang mengatakan Hadits tersebut Lemah dan Palsu, memiliki alasan tersendiri. Di antaranya, seperti pendapat Muhammad Nashiruddin Al-Albani atau yang biasa disebut Syaikh al-Albani rahimahuLllaahu. Beliau mengatakan: “Makna kata ini juga tidak benar, karena cinta tanah air itu seperti halnya cinta pada diri, harta dan lainnya. 
Semua itu merupakan insting manusia, yang seseorang tidak dipuji karena mencintainya, juga bukan merupakan konsekuensi keimanan, tidakkah engkau mengetahui bahwa semua manusia memiliki kecintaan ini, tanpa dibedakan apakah dia itu orang mukmin atau kafir?!” (Lihat adh-Dho’ifah : 36).
Namun jika kita menilik sejarah dengan pikiran yang adil, kita akan mengetahui bagaimana Nabi Muhammad Rasulullah SAW telah menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan negeri Arab, hingga beliau SAW bersabda bahwa : Hubbul ‘Arabi minal Iman - Cinta kepada Arab adalah bagian dari Iman”
Beliau SAW rela menjadi bulan-bulanan kaum Arab yang menentang dakwah beliau SAW. Apa yang beliau SAW telah lakukan adalah untuk mengangkat derajat bangsa Arab yang selama bertahun-tahun menjadi Bangsa yang dianggap lemah dan hina. 
Cukuplah pidato Hadhrat Ja’far r.a., seorang Sahabat Rasulullah SAW, di hadapan pemerintah Ethiopia, menjadi bukti yang kuat, bahwa memang benar Sang Rahmatun Lil ‘Alamin tersebut telah membuat revolusi yang luar biasa di tengah-tengah 'Bangsa penggembala domba'. 
Sekarang, kita bisa saksikan bagaimana bangsa Arab ini telah mewariskan blessing yang telah diperjuangkan oleh Junjungan Yang Mulia Sayyidina Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Allahumma sholli ‘alaa Muhammadin wa aali Muhammadin.
Di antara organisasi Islam yang hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia, Nahdlatul Ulama menjadi salah satu organisasi Islam yang senantiasa berpegang pada Hadits Hubbul Wathan Minal Iman dalam menjalani kehidupan sebagai warga negara Indonesia. 
Seperti yang diungkapkan oleh mantan Ketua Lesbumi PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Dr. KH.Zastrouw Al-Ngatawy, ketika menjawab pertanyaan yang diajukan oleh penulis terkait dengan pandangan Beliau mengenai Hadits Hubbul Wathan Minal-Iman,
Beliau menjelaskan :
“Kami memahami ungkapan Hubbul Wathan Minal Iman sebagai berikut: 
Tanah Air adalah tempat hidup dan mati seseorang, tempat beribadah, menjalankan Syariat Islam sebagai ekspresi keimanan pada Allah. Orang yang tidak punya Tanah Air akan sulit menjalankan Syariat, di dalam Tanah Air yang rebut dan penuh konflik akan sulit beribadah dengan tenang dan menjalankan keimanan dengan baik. 
Dengan demikian, mencintai Tanah Air hakekatnya adalah menjadi bagian dari Iman karena melalui Tanah Air, keimanan bisa teraktualisasi dengan baik.”
Jika kita melihat secara global, maka kita akan temukan satu organisasi Islam yang bergerak dalam menyampaikan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan mengunggulkan slogan Love For All, Hatred For None (Cinta Untuk Semua, Tiada Kebencian Bagi Siapapun), yaitu Jamaah Muslim Ahmadiyah Internasional. Lalu, bagaimana pandangan Jamaah Muslim Ahmadiyah Internasional terkait dengan patriotisme atau cinta kepada tanah air? 
Hadhrat Mirza Masroor Ahmad a.t.b.a. sebagai Imam Jamaah Muslim Ahmadiyah Internasional, Hadhrat Khalifatul Masih al-Khaamis a.t.b.a. pernah mengutip Hadits Hubbul Wathan Minal Iman dalam pidato beliau yang berjudul “Ajaran Islam Tentang Kesetiaan Dan Cinta Kepada Bangsanya” , yang Beliau sampaikan di Markas Besar Militer Koblenz, Jerman, pada tahun 2012, beliau bersabda :
“Saya ingin menyampaikan kepada anda, bahwa Nabi Muhammad s.a.w. sendiri yang mengajarkan bahwa “Cinta kepada tanah air adalah bagian dari iman”. Karenanya, patriotism yang tulus adalah suatu keharusan dalam Islam. Kecintaan sejati kepada Tuhan dan kepada Islam, mensyaratkan orang itu harus mencintai bangsanya sendiri. Hal ini sudah jelas, yaitu tidak ada pertentangan kepentingan antara seseorang yang mencintai Tuhan sekaligus cinta kepada negaranya. 

Cinta pada negara adalah bagian dari ajaran Islam, karenanya jelas bahwa setiap muslim harus berupaya kuat meraih loyalitas dengan standar tinggi terhadap negerinya, karena ini bermakna juga sebagai jalan menuju Tuhan untuk memperoleh kedekatan kepada-Nya. 

Oleh karena itu, tidak mungkin kecintaan seorang Muslim sejati kepada Allah bisa menjadi hambatan atau penghalang untuk mencegahnya dari menampilkan cinta sejati serta kesetiaan kepada negaranya.”

Perbedaan yang kita temui dalam pandangan mengenai Hadits Hubbul Wathan Minal Iman, tak perlu dipermasalahkan. Justru, kita harus bertanya pada diri kita sendiri : “Apa yang sudah kita berikan untuk tanah air ini?” Mari, mulailah dari sekarang kita sama-sama melakukan kerja nyata untuk tanah air kita tercinta sebagai implementasi dari Hadits Hubbul Wathan Minal Iman , cinta kepada Tanah Air adalah bagian dari keimanan.

islamdamai

Islam-damai.com adalah situs yang menyebarkan keindahan dan kedamaian Islam. Islam adalah agama cinta dan kasih sayang.

No comments:

Post a Comment